Search This Blog

Thursday, December 16, 2010

ES, AN INDONESIAN ARTIST DICTIONARY

Maia Estianty, PENYANYI, AKTRIS. NAMPAK selalu bersemangat, itulah yang nampak dari sosok Maia Estianty, penyanyi yang sebelumnya dikenal dengan nama Maia Ahmad ketika masih bersuamikan Ahmad Dhani, musisi grup band Dewa 19 yang juga rekan sesama SMA-nya di SMAN 2 Surabaya. Sebagai penyanyi, Maia juga piawai melawak dan karenanya sempat meramaikan pentas Extravaganza di TransTV. Di layar kaca, dia juga pernah tampil dalam serial OB di RCTI. Maia membentuk grup musik duo bernama Ratu bersama Pinkan Mambo pada 2003 setelah keduanya sama-sama pernah menjadi backing vocal Dewa 19. Album pertama mereka, Bersama, melambungkan nama mereka lewat lagu-lagu antara lain Aku Baik-Baik Saja, Salahkah Aku Terlalu Mencintaimu, dan Jangan Bilang Siapa-Siapa. Namun, kedudukan Pinkan kemudian digantikan Mulan Kwok melalui proses audisi setelah Pinkan memutuskan keluar dan bersolo karier mulai 2005. Tahun itu pula Maia merilis album kompilasi pertama bertajuk Ratu & Friends dengan single Teman Tapi Mesra dan Di Dadaku Ada Kamu. Album ini sukses di pasaran dengan penjualan 400 ribu kopi. Sukses itu disusul keterlibatan Maia membintangi produk iklan (beberapa di antaranya juga bersama grupnya). Pada 2006, Maia dan Mulan merilis album No. Satu, dengan lagu andalan Lelaki Buaya Darat, dan Dear Diary. Seperti album pertamanya bersama Mulan, album ini pun sukses dengan angka penjualan 500 ribu kopi hanya di pekan pertama. Namun, Mulan kemudian juga memutuskan cabut dari Maia di awal 2007. Vakum selama 1 tahun, Maia tampil kembali dengan formasi Duo Maia. Tahun itu pula Maia mulai diguncang berita kurang sedap seperti pembagian royalti oleh managemen Ratu yang dianggap Mulan kurang transparan. Masalah berikutnya adalah konflik rumah tangganya dengan Ahmad Dhani. Maia akhirnya bercerai dengan Dhani pada 23 September 2008. Dalam proses itu, Desember 2007, Maia menemukan pengganti Mulan, Mey Chan. Meski begitu, Dhani melarang Maia memakai nama Ratu. Karena masih terikat kontrak dengan Sony BMG, Maia terpaksa mencari nama lain, Duo Maia, untuk album barunya pada 2008. Album itu bertajuk Maia & Friends. Album ini mencetak single seperti Ingat Kamu dan E.G.P dan terjual lebih dari 300 ribu keping sekaligus menghasilkan penghargaan double platinum dari SONY BMG. Pada 2009 Duo Maia merilis album bertajuk Sang Juara dengan single seperti Pengkhianat Cinta, Serpihan Sesal, dan Sang Juara. Lagu Sang Juara  dinobatkan sebagai lagu wajib oleh Menteri Pemuda & Olahraga Indonesia, Adyhaksa Dault, dalam pertandingan-pertandingan serta kejuaraan yang diselenggarakan di Indonesia menggantikan lagu We Are The Champion yang dibawakan Queen. Dalam album itu, Maia yang juga menjadi produser grup vokal Pasto, menggaet artis Cinta Laura untuk berduet dalam lagu Penghianat Cinta. Prestasi lain ditorehkan Maia. Pada Mei 2009, lagu ciptaannya, TTM (Teman Tapi Mesra) dibeli salah satu grup di Swedia. Menggunakan irama yang sama, hanya berganti lirik dan judul, Dreaming Of The Time. Akhir November 2010, Maia dinobatkan sebagai duta anti kekerasan terhadap perempuan oleh Kementrian Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
BIOGRAFI – Nama lengkap: Maya Estianty. Nama pop: Maia Estianty. Kelahiran: Surabaya, 27 Januari 1976. Grup musik: MAIA (dulu RATU)  Masa aktif: Sejak 2003. Genre: Pop, Rock. Suami: Ahmad Dhani (bercerai 23 September 2008). Anak: Ahmad Al Gazali, El Jalaluddin Rumi, dan Abdul Qodir Jaelani. Pendidikan: SMPN 1 Surabaya, SMAN 2 Surabaya. Situsweb: maia.blogdetik.com.
Diskografi – Ratu: Bersama (2003), Ratu & Friends (2005), No. Satu (2006). Maia: Maia & Friends (2008), Sang Juara (2009)
Filmografi: Lantai 13 (bintang tamu, 2007), Oh My God (pemeran pendukung, 2008), Kata Maaf Terakhir (2009)
Acara Komedi: Extravaganza (2006 - 2007), OB (2007), Happy Sahur (2009)
Iklan TV: Honda Beat (2008), Dove (2009), Toyota Kijang Innova (bersama Chelsea Rezky, 2010)

ED, AN INDONESIAN ARTIST DICTIONARY


Teuku Edwin. presenter, Penyanyi. Edwin mengawali karier sebagai presenter. Dari sana pula ia bahkan juga terjun sebagai pemain film. Untuk urusan menyanyi, berkolaborasi dengan Jody Sumantri, Edwin membentuk grup Super Bedjo. Selain mengeluarkan album, duet ini juga kerap tampil baik dalam acara on air maupun off air. Karier seninya dilatari oleh pendidikannya di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) jurusan teater. Ia mendapatkan kesempatan dari Radio Prambors untuk berkreasi dalam kegiatan off air seperti Tenda Mangkal dan Pro Kamu. Edwin mendapat bantuan Jody, adik angkatannya di IKJ,  yang bertugas mengoordinasi artis untuk acara-acara off air. Berdua mereka juga mencetuskan ide-ide dan menggarap acara. Salah satunya adalah acara Pesta di Indosiar yang berjalan sukses karena didukung gaya mereka yang unik, kompak dan selalu ngocol. Itu sebabnya Harry ‘Boim’ de Fretes juga mengajak mereka memeriahkan serial komedi Hari Harimau. Edwin dan Jody juga merambah dunia nyanyi. Gue Ingin menjadi lagu mereka yang cukup terkenal. Di luar kebersamaannya dengan Jody, Edwin juga memandu acara Go Show berpasangan dengan Tamara Geraldine dan kuis Gol, Gol, Gol (3G). Teranyar, Edwin juga terlibat dalam film Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (2010). Edwin menikah dengan seorang model, Lia Novita, pada 3 Juni 2000 dan dikaruniai 2 orang anak, Cut Mala dan Cut Audrey.
BIOGRAFI – Nama lengkap: Teuku Edwin. Nama populer: Edwin. Kelahiran: Banda Aceh, 14 Juli 1970. Istri: Lia Novita. Anak: Cut Mala, Cut Audrey. Aktif: Sejak 1994.
FILMOGRAFI: Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (2010)

Sunday, December 12, 2010

AR - AN INDONESIAN FILM STAR DICTIOARY


A. Hamid Arief, AKTOR. Bagi generasi kelahiran 1960-an hingga 1980-an, boleh jadi sangat tak asing dengan sosok dan peran-peran pria kelahiran Jakarta pada tanggal 25 November 1924 ini. Peran-perannya sebagai orang Belanda seperti dapat disaksikan pada film Matjan Kemajoran (baca: Macan Kemayoran, 1965) dan Si Pitung (1970) bisa disebut sangat mengesankan para penonton saat itu. Berlatar belakang pendidikan Mulo, Hamid Arief dengan talenta alamnya mulai meramaikan panggung hiburan sebagai penyanyi di Orkes Lief Souvenier di Jakarta pada tahun 1940-an. Di orkes inilah, pertama kali ia mengenal Mak Uwok (Wolly Sutinah) yang juga tergabung sebagai penyanyi. Persahabatan keduanya berlangsung hingga hari tua mereka.Di tahun 1939 Hamid Arief  mulai menyanyi di Radio NIROM hingga ke RRI dengan nama samaran Kelana Jaya. Di tahun lima puluhan, bersama Bing Slamet, Toto Mugiarto, Benno Tatuhay dan lain-lain, ia pernah menjadi finalis Pemilihan Bintang Radio Jakarta. Kariernya di panggung sandiwara dimulai tahun 1942 dan tergabung dalam sandiwara Terang Bulan pimpinan The Teng Chun. Setahun kemudian ia pindah ke Bintang Surabaya pimpinan Fred Young dan selama tiga tahun pernah pula tergabung dalam Pantja Warna pimpinan Djamaluddin Malik (1945-1948).Aktor yang seangkatan dengan, antara lain, Sofia W.D, Fifi Young, dan Wolly Sutinah (Mak Wok), ini terjun ke dunia layar lebar kali pertama pada tahun 1948 lewat film ’Anggrek Boelan’. Setelah beberapa kali bermain sebagai pemeran pembantu, pada dekade 1952-1955, ia dipercaya menjadi pemain utama dalam beberapa film setelah dikontrak Golden Arrow (Panah Emas). Ia bahkan dianggap the golden boy Panah Emas. Film-film yang dibintanginya, kerap disutradarai Hu, Tan Sing Hwat, Lilik Sudjio, Lie Soen Bok, Nawi Ismail, dan Wim Umboh.
Hingga tahun 1980-an, Hamid Arief sudah membintangi sekitar dua ratus film –jumlah yang hampir pasti sulit disaingi bintang manapun, terutama bintang-bintang masa kini. Itu sebabnya Hamid Arief memperoleh penghargaan Surjosoemanto pada tahun 1988 dari Dewan Film Nasional. Selain bermain di layar lebar, Hamid Arief juga tetap menggeluti panggung sandiwara. Pada tahun 1971 ia membentuk dan memimpin grup sandiwara Komedia Jakarta dengan anggotanya antara lain terdiri atas Wolly Sutinah, Aminah Banowati, Syamsu, Ramelan, Alex A.S., Tetty S., D. Gunari dan Asep Suparman. Selain sebagai nama sebuah grup sandiwara, Komedia Jakarta juga dijadikannya nama perusahaan film, yakni, PT Komedia Jakarta Film, dan memproduksi tiga film, masing-masing Diana, Kembalilah Mama dan Dewi Malam. Ia kemudian juga dikenal orang lewat sinetron Rumah Masa Depan, berperan sebagai kakek (1984-1986 dan 1989).         Seperti juga kebanyakan aktor yang memulai kariernya lewat peran-peran kecil, Hamid Arief pun masih pendatang baru di masa keemasan Rd. Mochtar dan Rd. Soekarno alias Rendra Karno, dua orang bintang film tenar di era 1940 dan 1950-an. Setelah tampil sebagai aktor utama dalam film Menanti Kasih (1949), nama Hamid Arief baru diperhitungkan. Namun, fase itu tak berlangsung lama karena dia kembali bergumul dengan peran-peran yang kurang berarti. Itu sebabnya Hamid Arief akhirnya banting setir dan menemukan jatidirinya lewat genre komedi dan bergabung dengan bintang-bintang seperti S. Bagio dan Benyamin S.Sosok Hamid Arief yang ceplas-ceplos dapat dilihat, misalnya, pada film-film seperti Benyamin Biang Kerok (1972). Meski kerap mengeluarkan umpatan-umpatan seperti: “Bang***, Muke Gile, Setan Betul kepada Benyamin S atau Mansyur Syah, Hamid Arief mampu mengungkapkannya tanpa kesan vulgar. Selain itu, beberapa umpatan yang keluar dari bibir tipis berhiaskan kumis rapi itu, tanpa disadarinya sendiri, Hamid Arief ikut memopulerkan diksi-diksi khas Betawi yang kini banyak digunakan dalam serial televisi maupun layar lebar. Meskipun berjaya sebagai aktor tenar, kehidupan Hamid Arief jauh dari kesan glamor, terutama menjelang masa tuanya. Ia bahkan disebut-sebut tak memiliki rumah sendiri saat meninggal dunia pada tahun 1992, sama seperti juga bintang legendaris Tan Tjeng Bok yang wafat pada 1979. Sosok Hamid Arief layak menjadi panutan tak cuma bagi penonton, tapi juga bagi aktor-aktor film dan pemain sinetron masa kini serta siapa pun yang masih menghargai nilai-nilai moral dalam sebuah tayangan dan pertunjukan seni. Sayangnya, tv-tv Indonesia saat ini lebih suka menayangkan sinetron-sinetron yang kurang mendidik pemirsanya lewat perlawanan-perlawanan seorang anak kepada orangtuanya dan sejenisnya. Akan bagus juga untuk mengenang kepergian aktor sekaliber Hamid Arief, kita menyaksikan beberapa film yang pernah dibintanginya.Hamid Arief wafat pada 20 Desember 1992.

BIOGRAFI – Nama lengkap: Abdul Hamid Arif. Kelahiran: 15 November 1924. Wafat: Jakarta, 20 Desember 1992. Pekerjaan: Aktor. Masa aktif: 1948-1992. Pendidikan: MULO.
FILMOGRAFI: 1948 - Anggrek Bulan; 1949 - Aneka Warna, Harta Karun, Tjitra, Menanti Kasih; 1950 - Inspektur Rachman; 1951 - Bintang Surabaya, Di Tepi Bengawan Solo, Mirah Delimah, Surjani Mulia, Selamat Berdjuang, Masku!; 1952 - Tiga Benda Adjaib, Siapa Dia, Kekal Abadi, Si Mientje, Bermain Dengan Api; 1953 - Bawang Merah Bawang Putih, Harimau dan Merpati, Ratna Kumal, Empat Sekawan, Tiga Saudari, Pangeran Hamid, Burung Bitjara; 1954 - Bawang Merah Tersiksa, Klenting Kuning; 1955 - Dibalik Dinding, Rewel, Kasih Ibu; 1956 – Rini; 1957 - Konsepsi Ajah, Biola, Bintang Peladjar, Bermain Api; 1958 - Bunga dan Samurai, Wanita Indonesia; 1959 - Sekedjap Mata, Mutiara Jang Kembali, Habis Gelap Terbitlah Terang; 1960 - Ke Kota; 1961 - Limapuluh Megaton, Kamar 13, Notaris Sulami; 1962 - DKN 901; 1965 - Matjan Kemajoran; 1966 – Terpesona; 1969 - Nji Ronggeng, Matt Dower; 1970 - Samiun dan Dasima, Si Pitung; 1971 - Penunggang Kuda Dari Tjimande, Banteng Betawi, Pendekar Sumur Tudjuh, Ratna, Lisa, Kisah Fanny Tan, Djembatan Emas; 1972 - Samtidar, Romusha, Merintis Djalan Ke Sorga, Mereka Kembali, Pengantin Tiga Kali, Tiada Jalan Lain, Benyamin Biang Kerok, Desa di Kaki Bukit; 1973 - Patgulipat, Bapak Kawin Lagi, Biang Kerok Beruntung, Cukong Blo'on, Tendangan Maut, Benyamin Brengsek; 1974 - Kosong-Kosong Tiga Belas, Tetesan Air Mata Ibu, Bandung Lautan Api, Musuh Bebuyutan, Paul Sontoloyo, Ali Baba, Buaye Gile, Pilih Menantu, Dasar Rezeki, Pacar. Bajingan Tengik, Honour; 1975 - Traktor Benyamin, Samson Betawi, Benyamin Raja Lenong, Benyamin Koboi Ngungsi, Benyamin Tukang Ngibul; 1976 - Mustika Ibu, Hippies Lokal, Zorro Kemayoran, Gadis Simpanan, Oma Irama Penasaran, Tiga Janggo; 1977 - Cakar Maut, Raja Copet, Kembalilah Mama, Sorga, Diana, Akulah Vivian, Pembalasan Si Pitung, Gitar Tua Oma Irama, Saritem Penjual Jamu,  Sembilan Janda Genit, Penasaran; 1978 - Jurus Maut, Dewi Malam, Begadang, Tuyul; 1979 - Tuyul Eee Ketemu Lagi; 1980 - Goyang Dangdut, Begadang Karena Penasaran, Abizars, Darna Ajaib; 1981 - Manusia Berilmu Gaib, Manusia 6.000.000 Dollar, Gundala Putra Petir, Si Pitung Beraksi Kembali, Dukun Lintah; 1982 – Pengorbanan, Gadis Bionik, Sentuhan Kasih.

Saturday, December 11, 2010

AK - AN INDONESIAN FILM STAR DICTIONARY


Nya' Abbas Akup, SUTRADARA Nya Abbas Akup Lahir di Malang, Jawa Timur, 22 April 1932 dan wafat pada 14 Februari 1991 di umur 58 tahun. Ia seorang sutradara senior Indonesia yang terkenal akan karya-karyanya yang tidak sembarangan.Dalam perfilman nasional nama Nya Abbas Akup tak bisa dilupakan walaupun sineas kelahiran Malang berdarah Aceh ini tak pernah mendapatkan Piala Citra. Satu-satunya penghargaan yang pernah diraihnya adalah Piala Antemas untuk film terlaris 1978, Inem Pelayan Sexy dan Piala Bing Slamet untuk film komedi terbaik 1991, Boneka dari Indiana. Meski piala untuk Akup adalah penghargaan khusus--mirip sineas Alfred Hitchcock yang sepanjang kariernya juga tak pernah mendapat Piala Oscar--anak didik Usmar Ismail yang mengawali kariernya sebagai asisten sutradara dalam film Kafedo (1953) ini seperti kurang diakui juri Piala Citra lantaran penghargaan ini kebanyakan diraih oleh film-film drama. Walau filmnya berbobot dan sukses menghasilkan laba, sosok pendiam yang jauh dari kesan lucu ini seperti tenggelam dibandingkan nama besar Usmar Ismail, Syuman Djaya, Teguh Karya, Wim Umboh, Arifin C. Noer dan Asrul Sani. Salim Said, pengamat politik yang juga kritikus film, menjulukinya ‘tukang ejek nomor wahid’ atas kiprahnya ‘menampilkan sesuatu yang baru di tengah sejumlah komedi konyol gaya sandiwara’ (Pantulan Layar Putih, Pustaka Sinar Harapan, 1991). Bila untuk "Bapak Film Nasional" kita dapat menyebut Usmar Ismail, maka Nya Abbas Akup, layak disebut ‘Bapak Film Komedi Indonesia’. Ia memang pantas menyandangnya, lantaran generasi film komedi yang dipelopori pelawak kondang Bing Slamet, Benyamin S., Jalal, Ateng, sampai duet Kadir-Doyok--yang pertama kali dipertemukan dalam film Cintaku di Rumah Susun (1987)--lahir dari tangannya. Akup juga dinilai menyegarkan aspek bertutur film komedi di tengah komedi konyol slapstick. Hampir semua sub genre film komedi juga disentuh Akup. Sebutlah Drakula Mantu (1974, a.ka. Benyamin Kontra Drakula) yang menyajikan horor komedi. Dalam Tiga Buronan (1957) ada black comedy dan komedi aksi. Sedangkan di Bing Slamet Koboi Cengeng (1974) ada parodi ketika di masa itu Indonesia sedang tergila-gila pada popularitas film koboi Django, Lone Ranger dan Bonanza. Lalu ada komedi musikal Dunia Belum Kiamat (1971) sampai kritik sosial dalam Inem Pelayan Sexy (1976) yang menjadi masterpiece-nya. Tak hanya itu, Akup pun punya penerus. Ia adalah Ucik Supra, sutradara film Rebo dan Roby dan Badut-Badut Kota yang dapat disebut sebagai penerus film komedi kritik sosial. Sayang Ucik muncul di zaman terpuruknya perfilman nasional sehingga ia kurang produktif. Film terbarunya, Panggung Pinggir Kali (2004), yang meski bukan komedi, masih sedikit menyimpan gereget dengan kritiknya. Karier Akup dimulai sebagai asisten sutradara di Perfini pada 1952, kemudian penulis skenario film 1954 dan menjadi sutradara film sejak 1954 hingga 1991.
Filmografi: Heboh (1954), Djuara 1960 (1956), Tiga Buronan (1957), Jendral Kancil (1958), Langkah-Langkah di Persimpangan (1965), Tikungan Maut (1966), Nenny (1968), Mat Dower (1969), Dunia Belum Kiamat (1971), Catatan Harian Seorang Gadis (1972), Ambisi (1973), Bing Slamet Koboi Cengeng (1974), Ateng Minta Kawin (1974), Drakula Mantu (1974), Tiga Cewek Badung (1975), Inem Pelayan Sexy (1976), Karminem, Inem Pelayan Sexy II, Inem Pelayan Sexy III (1977), Kisah Cinta Rojali dan Zuleha (1979), Gadis (1980), Koboi Sutra Ungu (1981), Apanya Dong (1983), Semua Karena Ginah (1985), Cintaku di Rumah Susun (1987), Kipas-Kipas Cari Angin (1989), Boneka Dari Indiana (1990).

Friday, December 10, 2010

AF - AN INDONESIAN ARTIST DICTIONARY

Farouk AFERO, AKTOR Nama lengkapnya Farouk Achmad bin Asgar Ali. Ia kelahiran Pandori Bali, Pakistan, 4 Juli 1939, mengenyam pendidikan di Islamic High School di Lahore, Pakistan (tidak lulus). Nama Afero diperoleh Farouk saat dia aktif sebagai petinju amatir. Sebagai aktor film-film layar lebar Indonesia, masa aktif Farouk adalah 1964 hingga 2003. Karier Farouk di film layar lebar Indonesia dimulai dengan bermain dalam film Ekspedisi Terakhir yang dibintangi Ratno Timoer, Dicky Zulkarnaen, dan Soekarno M. Noer pada 1964. Nama Farouk mulai tenar ketika dia tampil dalam film Bernafas Dalam Lumpur (1970), di mana dia memainkan tokoh jahat lewat peran germo Rais yang begitu kejam menganiaya watunas (WTS) molek yan diperankan Suzanna. Hampir sepanjang kariernya Farouk memang memainkan peran-peran antagonis. Aktor pembantu Terbaik diraih Farouk pada FFI 1976 dalam Laila Majenun (1975)arahan sutradara Sjumandajaya. Setelah bermain dalam hampir 100 film belakangan, Farouk juga tampil dalam banyak sinetron, antara lain dalam Ujang & Aceng (1996). Duren-Duren, Abunawas, Biang Kerok dan terakhir masih ikut mendukung Melodi Cinta 2 (sebagai ayah Denny Malik).
Farouk wafat pada 13 April 2003) karena kanker paru-paru yang diderita selama setahun. “Lepas dari kepribadiannya yang eksentrik, dia adalah pemain yang baik, disiplin, dan enggak hanya memikirkan perannya. Dia juga berpikir agar film yang dimainkannya bisa sukses,” ungkap Dedi ketika melayat.
BIOGRAFI – Nama lengkap: Farouk Achmad bin Asgar Ali. Kelahiran: Pandora Bali, Pakistan, 4 Juli 1939 (wafat 13 April 2003). Istri: Bibi Maryam (almh). Uke Octarina (istri kedua). Anak: Lima laki-laki dan satu perempuan antara lain Farid Achmad dan Facrio.
FILMOGRAFI: Ekspedisi Terakhir (1964), Segenggam Tanah Perbatasan (1965), Madju Tak Gentar (1965), Hantjurnya Petualang (1966), Sendja Di Djakarta (1967), Kasih Diambang Maut (1967, Sembilan (1967), Djakarta-Hongkong-Macao (1968), Laki-Laki Tak Bernama (1969), Orang-orang Liar (1969), Noda Tak Berampun (1970), Bernafas Dalam Lumpur (1970), Tuan Tanah Kedawung (1970), Dibalik Pintu Dosa (1970), Matinja Seorang Bidadari (1971), Tjinta Di Batas Peron (1971), Biarkan Musim Berganti (1971), Kekasihku Ibuku (1971), Air Mata Kekasih (1971), Si Gondrong (1971), Tiada Maaf Bagimu (1971), Matinja Seorang Bidadari (1971), Lorong Hitam (1971), Intan Berduri (1972), Ratu Ular (1972), Mutiara dalam Lumpur (1972), Lingkaran Setan (1972), Takkan Kulepaskan (1972), Tjintaku Djauh Di Pulau (1972), Kabut Bulan Madu (1972), Ibu Sejati (1973), Si Manis Jempatan Ancol (1973), Akhir Sebuah Impian (1973), Percintaan (1973), Kutukan Ibu (1973), Jimat Benyamin (1973), Si Rano (1973), Cucu (1973), Perempuan (1973), Setitik Noda (1974), Batas Impian (1974), Atheis (1974), Ratapan dan Rintihan (1974), Pacar (1974), Krisis X (1975), Laila Majenun (1975), Liku-Liku Panasnya Cinta (1976), Si Doel Anak Modern (1976), Ganasnya Nafsu (1976), Pendekar (1976), Liku-Liku Panasnya Cinta (1976), Pengakuan Seorang Perempuan (1976), Bungalo Di Lereng Bukit (1976), Kampus Biru (1976), Selangit Mesra (1977), Si Doel Anak Modern (1977), Rahasia Perkawinan (1978), Bulu-Bulu Cendrawasih (1978), Kuda-Kuda Binal (1978), Kabut Sutra Ungu (1979), Milikku (1979) Karena Dia (1979), Ach Yang Benerrr... (1979), Cantik (1980), Fajar yang Kelabu (1981), Gadis Marathon (1981). Tapak-Tapak Kaki Wolter Monginsidi (1982), Bernafas Dalam Lumpur (1991).
SINETRON: Ujang & Aceng (1996), Duren-Duren, Abunawas, Biang Kerok dan Melodi Cinta 2.