Search This Blog

Friday, January 21, 2011

Tia Sudah Tidur


Cerpen: Aba Mardjani

SADELI tergelagap dijagakan getar ponsel di saku celana dinasnya. Melirik jam dinding di pos jaga, Sadeli, dengan pepat matanya, melihat waktu menunjukkan pukul 01.30. "Siapa yang mengirimkan SMS?" ia membatin sembari merogoh saku untuk mengambil ponselnya. Sangat jarang dia menerima SMS di dini hari seperti ini.
"SANTIA", Sadeli membaca nama dalam monitor ponselnya. Itu nama putri bungsunya. Pasti terpencet, pikir Sadeli pula. Pada jam seperti ini Santia tentulah tengah tertidur lelap bersama Dini di kamarnya. Mungkin juga tengah dibuai mimpi mengejar kupu-kupu dengan kedua sayap hitam pekatnya seperti ceritanya kemarin. Tak seperti Dini kakaknya, Santia memang pecinta sejati kupu-kupu. Itu sebabnya dia tak pernah mau membunuh ulat yang sesekali ditemukannya di manapun. "Makin seram ulatnya, makin bagus kupu-kupunya," katanya suatu kali.
Sadeli membuka SMS itu. "PulaNG, YAh..." Sadeli membaca isi SMS itu.
Dahi Sadeli mengerut. Apa yang membuat mata kupu-kupu kecilnya itu belum terpejam? Mengapa dia tak juga lelap? Apakah karena purnama rembulan yang membuatnya enggan tidur? Ah, itu tak mungkin, batin Sadeli lagi seraya melirik Narto, sahabatnya berjaga di pintu masuk sebuah perkantoran itu, tengah berdiri di ujung pagar seperti tengah memeriksa sesuatu.
"Ada pa, Tia?" Sadeli membalas SMS itu, lalu menyambar permen di sudut pos jaga. Permen itu milik Narto yang selalu membawa permen sejak berhenti merokok. "To, minta permennya!" teriak Sadeli. Narto cuma menoleh. Meskipun cuma sebuah permen, Sadeli tak pernah memasukkan sesuatu yang bukan miliknya begitu saja ke dalam perutnya.
"TiA gaK bs bu bu," balas Santia menyebut dirinya tak bisa tidur.
"Ada apa, Nak?" balas Sadeli pula.
"Taqt. Kak Dini dah bu bu dulwn. KpALa TiA jg panas."
"Baca kulhu 3x, kulauzu birobil falak 1x, kulauzu birobbinnas 1x. Jangn lpa minm obat panas. Ada di dekat tv."
Beberapa saat Sadeli menunggu. Dia ingat seminggu yang lalu Bimo, tetangganya, meninggal dunia karena tabrakan. Pemabuk dan pemakai narkoba itu memang sering ngebut dengan sepeda motor 2-tak-nya. Letak rumah keluarga Bimo dan kontrakan Sadeli cuma berselisih satu rumah. Itukah yang membuat Santia ketakutan sehingga tak bisa tidur? Ketika tadi dia berangkat untuk bekerja, Santia juga mengaku kepalanya pusing dan suhu tubuhnya agak panas. Itu sebenarnya yang lebih mengkhawatirkan Sadeli dibandingkan ketakutan putrinya.
"AYh pUlaNg aja. Bu bu sama TiA..." Sadeli membuka lagi SMS balasan putrinya.
"Gak bsa, Nak... Ayah masih hrs kerja...
"Ayh plngnya kpn?"
"Pagi..."
Setelah itu, ponsel Sadeli tak bergetar lagi. Untuk mengusir rasa kantuk, Sadeli melangkah keluar dari pos jaganya dan menghampiri Narto.
"Ada apa, To ngejedok di sini?" dia bertanya.
"Nggak ada apa-apa," Narto menjawab, "Betawi lu nggak hilang-hilang juga ya, Del." Narto melangkah ke pos jaga sembari senyum-senyum.
Narto mengambil sebuah kursi dan membawanya ke luar pos jaga. Duduk di sana dia mendongak setelah menyelonjorkan kakinya, menatap cakrawala biru dengan purnama begitu indahnya. "Lihat, Del," katanya kepada Sadeli. "Kalau bohlamnya Tuhan, satu saja sudah bisa menerangi dunia."
"Maksudnya, To? Maksud lu bulan? Bulan-lah lu bilang bohlam. Ada-ada aja lu," suara Sadeli dari dalam pos jaga.
Narto tertawa. "Satu saja sudah begini terangnya ya. Bagaimana kalau dua?"
"Kalau bulan lu anggap bohlam, matahari itu apa?" Narto tak segera menjawab.
"Matahari itu biangnya bohlam," Sadeli yang melanjutkan kalimatnya sendiri. Narto membiarkan senyumnya merekah.
Selalu menyenangkan berkawan dengan Sadeli, pikir Narto. Sesekali dia dapatkan kelucuan tak terduga sebagai pengusir rasa bosan saat-saat harus berjaga berdua. Sekali waktu Sadeli menunjuk sebuah pohon mangga di ujung pelataran kantor yang tengah berbuah. "Mangga itu pasti manis, To," katanya tiba-tiba.
"Ya sudah pasti. Kau pun tahu karena sudah merasakannya waktu tahun kemarin berbuah," jawab Narto.
"Buah mangga itu manis karena daunnya besar-besar dan lebar-lebar," Sadeli terus berujar datar. "Nah, kalau yang daunnya kecil-kecil, itu asem."
"Nggak bisa begitu, Del. Pohon mangga itu ya tergantung jenisnya. Ada yang daunnya kecil-kecil, ada yang lebar-lebar dan panjang-panjang seperti itu."
"Itu sih gue juga tahu. Tapi, ciri buah mangga itu ya begitu. Kalau yang daunnya lebar-lebar itu manis. Kalau yang kecil-kecil daunnya, itu asem."
Beberapa saat Narto mencerna kalimat Sadeli. Sesaat kemudian dia sudah terbahak karena bisa dikecohkan oleh kalimat-kalimat Sadeli. Bahwa kenyataannya daun pohon mangga lebar-lebar, dan daun pohon asam kecil-kecil. Dan itu sama sekali tak ada kaitannya dengan rasa buah mangga itu sendiri jika dilihat dari jenis daunnya.
Menegakkan tubuhnya dari selonjor, Narto melihat Sadeli sedang diasyikkan dengan ponselnya.
"Gini hari SMS-an. Punya pacar kau, Del?" teriak Narto.
Sadeli tak menjawab. "Tia tidur sekarang ya" dia menulis di ponselnya. Sesaat kemudian dia menerima jawaban. "gAK ngantq. TiA taqt". Sadeli menulis lagi: "gini aja. Nanti ayah cba blng temen ayah, blh gak ayah pulng setngh jam lg". Segera muncul jawaban: "Kelmaan, Yah. Mngkn kalo ayh sampai rmah, TiA dah tidur."
Itu lebih bagus, suara hati Sadeli seraya membawa kursi lainnya dan mendudukinya di sebelah Narto.
"SMS siapa?" Narto mengajukan tanya tanpa menoleh.
"Anakku yang kecil. Katanya nggak bisa tidur. Takut karena minggu lalu tetanggaku tewas karena kecelakaan. Selain itu suhu badannya juga panas waktu tadi sore aku berangkat kerja."
"Lebih baik kau pulang, Del," sambut Narto sembari mempermainkan tongkat pemukul di pinggangnya.
"Nggak mungkinlah aku membiarkanmu kerja sendirian. Kalau ada sesuatu, aku akan ikut disalahkan."
"Ya, mudah-mudahan saja nggak ada apa-apa," Narto mendehem. "Siapa tahu anakmu memang membutuhkanmu."
"Sudahlah. Tia nggak apa-apa. Panas badannya pun nggak seberapa. Kalau ada apa-apa, istriku pasti nelpon."
"Dasar Betawi," Narto kembali berselonjor dan menutup wajahnya dengan topinya, kembali menikmati dirinya dalam dekapan dinginnya malam di rembang fajar.
"Kau sepertinya tak sayang dengan keluargamu, Del."
Sadeli ikut menyelonjorkan kaki. "Kalau nggak sayang keluarga, ngapain aku begadang di sini? Kita bekerja kan untuk memberi makan anak dan istri yang diamanahkan Tuhan kepada kita."
Narto tak menjawab. Dia justru tengah membayangkan dirinya menjadi Sadeli, anak Betawi yang kini tak memiliki apa-apa. Rumah pun kini mengontrak. Padahal, Sadeli mengaku kakek dan neneknya dulu memiliki tanah luas di beberapa tempat. Tanah-tanah itu kini habis karena dijual untuk segala keperluan. Membeli mobil yang kemudian dijual kembali setelah keuangan menipis, membeli peralatan elektronik, mengawinkan, hingga menunaikan ibadah haji. "Andaikan aku jadi Sadeli, aku akan menjual tanah untuk sekolah setinggi-tingginya," Narto membatin.
Tapi, seingat Narto, Sadeli pun mengaku pernah akan dimasukkan ke sebuah pesantren di Jawa Timur. Sayang dia menolak dan kini harus pasrah menjadi seorang Satpam di sebuah kantor.
"Nggak ada yang perlu disesalkan, To," kata Sadeli selalu. "Hidup itu sudah digariskan Tuhan. Garis gue mungkin sudah seperti ini. Jadi Satpam, dan berkawan dengan lu. Kemiskinan bukan kutukan, sama seperti kekayaan bukan sepenuhnya anugerah. Kaya, miskin, pintar, bodoh, semuanya ujian Tuhan. Kalau kita tetap mensyukuri apa yang kita punya sekarang, Tuhan akan menggantinya dengan yang terbaik nanti. Jadi, santai aja..."
Tapi, Sadeli sendiri tak bisa santai ketika pukul setengah enam pagi dia memanaskan sepeda motornya untuk pulang. Ada perasaan tak enak menyelinap dalam dadanya ketika dia ingat kalimat terakhir putrinya, "Kelamaan, Yah. Mngkn kalo ayah sampai rmah, TiA dah tidur." Lalu dia ingat Narto menyuruhnya untuk pulang karena khawatir putrinya membutuhkan kehadirannya. Jangan-jangan terjadi sesuatu pada Santia.
Sadeli memacu sepeda motornya, mendului semua kendaraan yang ada di depannya. Tak ada lagi rasa kantuk. Istrinya tentu akan sangat marah jika terjadi sesuatu pada Santia dan sebagai ayahnya dia seperti lepas tanggung jawab. Sepanjang perjalanan terbayang saja keceriaan putrinya, kecerewetannya, kenakalannya, kepintarannya mengaji, kepintarannya di sekolah, semuanya. Sadeli berjanji akan mengutuk dirinya sendiri dan takkan memaafkan kealpaannya jika memang terjadi sesuatu pada putrinya.
Sadeli tiba di rumahnya dalam waktu 20 menit atau 10 menit lebih cepat dari biasanya. Dia segera melepas napas leganya ketika tak ada tanda-tanda telah terjadi sesuatu pada putrinya. Ketika dia membuka pintu, Sadeli menemukan kedua putrinya tengah sibuk berdandan untuk berangkat ke sekolah. Setelah menyalami kedua putrinya, Sadeli segera berganti pakaian untuk mengantar Dini dan Santia ke sekolah.
"Betul Tia semalam ketakutan?" Sadeli bertanya dari mulut pintu kamar putrinya ketika Santia tengah membereskan buku-bukunya. Santia menoleh dengan wajah kosong.
"Ketakutan?" dia bertanya. Pada saat yang sama, Sadeli menemukan istrinya keluar dari kamar mandi dengan baju tidurnya. Sadeli juga masih bisa menemukan sisa-sisa bedak dan lipstik pada pipi dan bibir istrinya. Tahulah dia siapa sebenarnya yang mengirimkannya SMS dini hari tadi.***
Catatan:
Ngejedok = berdiam diri.
Cerpen ini dimuat di harian Suara Karya, Sabtu (22/1/2011)
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=271053
MY KITCHEN

Friday, January 14, 2011

Cerpen Dyah

Oleh: ABA MARDJANI

SESEKALI butir-butir mutiara menetes dari sudut mata cekung perempuan itu. Semilir angin mencandai ujung-ujung rambut sebahunya. Melambai-lambai seperti ujung-ujung daun padi muda yang terhampar hijau tak jauh dari tempat perempuan itu duduk. Matahari beranjak naik. Sinarnya menghangatkan pipi pucat perempuan itu, menerobos lewat sela-sela dedaunan.
Seorang perempuan tua, dengan kepala yang hampir seluruhnya ditumbuhi rambut putih mendekatinya dengan langkah yang nyaris tak terdengar, duduk di sampingnya. Sapu lidi di tangannya.
“Teh hangatmu sudah kau minum, Dyah?” perempuan tua itu bertanya sembari mengelus rambut halus perempuan di sisinya itu. Tanpa menunggu jawaban, dengan mata cadoknya perempuan tua itu ikut mengamati bocah laki-laki berusia empat tahun yang tengah berlari-larian bersama teman-temannya di hamparan rumput gajah yang tumbuh tebal seperti kasur. Bocah-bocah itu senang sekali berguling-guling di atasnya. Sembari menderaikan tawa renyah seperti ingin membagi kebahagiaannya pada orang-orang di sekitarnya. Tak pernah lelah. Kecuali sesekali masuk ke dalam rumah dan meneguk minuman dari kendi untuk mengusir dahaga.
“Kan Ibu sudah bilang, jangan terlalu sering kaubiarkan air matamu mengalir di depan anak itu, Mardyah. Jangan biarkan anak itu ikut bersedih.”
Perempuan itu, Mardyah namanya, tak menyahut. Ia seperti asyik menikmati nyanyi burung kutilang dari atas pohon kelapa, ditingkahi sahut-sahutan burung prenjak jantan dan betina sambil berkejar-kejaran di batang-batang pohon cecang * yang penuh duri halus. Mardyah selalu bisa menikmati berisik prenjak, burung sebesar jempol tangan yang suaranya selalu ramai. Prenjak yang kasmaran selalu bersuara bersahutan. Cemblik... cemblik... cerr.... cemblik... cemblik... cerrr... Begitu selalu.
“Dyah? Kau dengar Ibumu bicara?”
Bibir Mardyah mengulas senyum meronakan kegetiran hidup yang dijalaninya. Jauh di lubuk hatinya ia merasa seperti ada rongga yang kosong, sangat kosong dan begitu hampa. Seperti gua tanpa penghuni. Gelap.
“Dyah?”
“Ryan begitu ceria, Bu,” bibir Mardyah yang pucat tersenyum. Seperti dipaksakan. “Dia memang tak boleh tahu apa yang aku rasakan. Dia harus seperti itu. Ceria sepanjang hari.”
Mardyah menghela napas seperti ingin mengempas beban berat yang menindihnya selama ini. Kenangan terhadap Tio selalu saja datang dan bermain-main pada kedalaman ceruk matanya. Kenangan-kenangan itu terpilin erat seperti menyatu bersama aliran darah dan denyut nadi serta desah napasnya. Ia merasa Tio selalu ada di sampingnya sambil memandang keceriaan Ryan. Seperti juga pagi ini dan pagi-pagi sebelumnya dan sebelumnya lagi.
“Mengapa selalu saja terjadi, Bu?” Mardyah bertanya dalam gumam. Bibirnya tak kuasa menahan getaran, pelan seperti dawai diterpa angin. Pertanyaan yang sama yang selalu ia sampaikan kepada ibunya. Pertanyaan yang tak pernah berjawab. Pertanyaan yang selalu membuat ibunya ingin menangis. “Mengapa laki-laki yang dekat denganku, yang siap menjadi suamiku, selalu meninggalkanku dengan cara yang menyedihkan, Bu?”
Perempuan tua itu tak pernah kuasa menjawab. Tak punya jawab. Air bening mengalir dari matanya. Semilir angin berembus, menggoyang-goyang pohon kedondong yang daun-daunnya meranggas karena dikerat ulat.
Lalu melintas wajah Badrun yang gagah. Dialah cinta pertama Mardyah, kembang yang jadi rebutan pemuda-pemuda sedesa. Di usia Mardyah 19 dan Badrun 22, keduanya merencanakan pernikahan. Namun rencana itu dihancurkan oleh peristiwa duka yang menimpa Badrun. Pekerja yang ulet itu tewas tersengat listrik ketika tengah membetulkan aliran listrik yang rusak.
Dua tahun berkubang dalam duka, Mardyah kemudian menerima cinta Dorojatun, pemuda tetangga desa. Keuletan Mas D (begitu Mardyah memanggil kekasihnya) dalam bersaing dengan pemuda-pemuda setempat meluluhkan hati Mardyah. Mas D yang selalu santun dalam menghadapi setiap tantangan pemuda-pemuda setempat membuat mereka berbalik menghormatinya. Mereka merelakan bunga desa yang hampir meranggas itu dipetik pemuda lain desa.
Namun petaka itu kemudian datang, merenggut semua angan-angan indah yang mulai direnda Mardyah. Mas D mengalami kecelakaan dalam perjalanan dari rumahnya ke rumah kekasih hatinya. Tubuhnya ditemukan remuk tanpa nyawa di sebuah lereng bukit. Sepeda motornya rusak berat. Tapi hati Mardyah lebih remuk dari semuanya. Cintanya yang telah menemukan muaranya tiba-tiba seperti kehilangan pijakannya. Bunga-bunga yang semula tampak begitu indah begitu saja layu.
Dengan hati yang dibekukan oleh dua kegagalan cinta dengan cara menyedihkan itu Mardyah kemudian meninggalkan desanya. Menyusul kakaknya di kota dan bekerja di kantor suami kakaknya. Ia ingin menguruk duka laranya sedalam-dalamnya. Ia tak ingin lagi menghirup udara desanya yang telah menghadiahinya dua cinta yang lantak. Ia tak ingin memandangi bulir-bulir padi yang menguning di desanya karena di antara tarian pucuk-pucuk padi yang diembus angin itu selalu muncul wajah Badrun dan Mas D. Silih berganti. Tiada henti.
Dua tahun hati Mardyah membatu. Keras dan beku. Hanya kelucuan-kelucuan dan keluguan Ririn, keponakannya, yang mampu merekahkan senyumnya. Rasa lelah dan letihnya sepulang dari kerja selalu dapat terobati oleh sambutan Ririn yang manja. Dan Mardyah tak ingin ada orang lain di hatinya kecuali Ririn yang selalu menggemaskannya. Yang selalu memintanya membantu mengerjakan PR. Yang selalu ingin tidur di kamarnya tapi selalu dilarang Marsyah, ibunya.
“Tante Dyah kan mau istirahat, Rin. Jadi Ririn tidurnya di kamar Ririn sendiri saja,” kata kakaknya jika sedang membujuk anaknya. Dan selalu gagal.
Atas bujukan Marsyah pula Mardyah akhirnya coba membuka sedikit rongga di hatinya. Bagi Jamal teman sekantornya yang selalu mengantarnya pulang dengan sepeda motornya. Pada Sabtu malam ia juga mulai membiarkan Jamal datang ke rumah kakaknya untuk menemuinya. Ngobrol satu-dua jam. Senyum pun lebih sering meruap dari bibirnya. Bunga-bunga cinta yang hampir mati di kedalaman ceruk hatinya pelan-pelan mulai menggeliat. Namun tak urung dadanya berdebar-debar ketika suatu ketika Jamal mengatakan akan segera melamarnya. “Aku ingin kau jadi istriku. Ibu bagi anak-anakku,” kata Jamal menukik dan menghunjam ulu hatinya membuat Mardyah digelisahkan oleh rasa takut sesuatu akan terjadi pada Jamal. Seperti yang juga menimpa Badrun dan Mas D-nya.
Saat itu Mardyah ingin mengatakan saja apa yang telah terjadi pada dua orang yang ia cintai dan mencintainya dulu. Tapi mulutnya selalu saja terkunci. Ia tak punya keberanian untuk jujur. Ia juga takut ditertawakan seperti dilakukan kakaknya. “Itu kebetulan, Dyah. Mereka bukan jodohmu. Perpisahannya bisa karena apa saja. Jadi, berhentilah menyalahkan dirimu terus. Tidak ada perempuan pembawa sial. Kau berhak hidup bahagia selama kau berusaha. Jangan menyerah.”
Jamal kemudian memang membuktikan ucapannya. Ia mengutus kedua orang tuanya untuk melamar. Atas keinginan Mardyah pula lamaran tidak langsung kepada orang tuanya di desanya. Marsyah dan suaminya sementara bertindak selaku wakil orang tua Mardyah. Mardyah ingin segalanya berjalan pelan-pelan.
Tapi, duka itu datang dan datang lagi. Seperti air panas yang menyiram bunga-bunga cinta yang mulai tumbuh di dada Mardyah. Sepekan setelah prosesi lamaran itu, Jamal jadi korban salah sasaran pada sebuah peristiwa baku-tembak antara aparat kepolisian dan pencuri sepeda motor. Jamal rebah bersimbah darah. Dan bunga cinta di dada Mardyah pun rebah bersama tetes-tetes air mata dan sembab matanya.
Lagi-lagi Marsyah membesarkan hati adiknya. Bahwa jodoh, rezeki, dan maut, adalah misteri Ilahi. Bahwa manusia sebagai khalifah di Bumi tetap berkewajiban menjalani kehidupan dengan segala perniknya. Tak boleh ada kata putus asa. Apalagi menghujat Tuhan yang Esa dengan segala misterinya.
Tapi luka di dada Mardyah telanjur menganga. Ceruk di hatinya telah diluberi nestapa. Tak ada lagi rongga bagi bersemainya cinta. Apinya telah lama padam. Bunganya telah lama remuk-redam. Yang ia inginkan saat ini adalah kesendirian dalam gelap yang legam.
“Aku tidak ingin berumah tangga,” katanya getas kepada Marsyah ketika wanita yang gigih itu menyodorkan nama Tio, seorang duda. Istrinya wafat karena serangan jantung.
Ryan-lah yang pada akhirnya membangunkan cinta dalam dadanya. Bocah itu langsung bergelendotan dalam pangkuannya di kesemparan pertama pertemuan mereka. Tio, ayahnya, adalah seorang pria yang simpatik. Gampang tersenyum. Banyak humor meski pada awalnya ia tak mampu membuat kebekuan di hati Mardyah mencair.
Ryan pula yang menangis ketika ayahnya mengajaknya pulang. Ia tak ingin meninggalkan Mardyah. Ia tak ingin berpisah dan kelopak cinta di hati Mardyah pun akhirnya merekah. Seutas tali kasih pelan-pelan terjalin. Dan Mardyah pun menerima lamaran Tio, beserta doa-doa dalam tahajudnya yang khusyuk agar Tio bebar-benar menjadi suaminya. Agar tak ada lagi aral. Agar Tio terselamatkan dan terjauhkan dari segala peristiwa yang pernah dialami Badrun, Mas D, dan Jamal.
Tapi, ya ampun, musibah itu seperti belum bosan menghunjam hatinya. Tio, pria yang cintanya pelan-pelan mulai bersemayam di lubuk hatinya dikabarkan menjadi korban tewas dalam kecelakaan pesawat terbang di Yogyakarta. Tio memang pamit kepadanya untuk pergi ke kota kelahirannya dan minta restu dari kedua orang tuanya. Ia pergi setelah menitipkan Ryan kepadanya.
“Jangan nakal ya, Ryan selama ayah pergi,” kata Tio ketika itu. Bocah itu mengangguk senang. Baginya, bersama Mardyah itu menyenangkan.
“Dyah,” lamunan Mardyah terputus oleh sapa lembut ibunya. “Hapus air matamu. Ibu yakin kamu masih bisa hidup bahagia dengan pria yang mencintaimu. Yang penting sabar. Tawakal.”
“Ibu!” tiba-tiba Ryan berteriak seraya berlari ke arahnya. “Itu kapalnya!” anak itu menunjuk pesawat terbang yang tengah melintas di udara. Tampak begitu kecil. “Belati...belalti...sebental lagi ayah pulang...” bocah itu melonjak-lonjak kegirangan. Jakarta, Maret 2007

*Cecang, sejenis perdu berduri dan daunnya bulat halus, biasanya ditanam sebagai pembatas kebun.
*Cerpen ini pernah dimuat tabloid Nova.