Search This Blog

Friday, January 14, 2011

Cerpen Dyah

Oleh: ABA MARDJANI

SESEKALI butir-butir mutiara menetes dari sudut mata cekung perempuan itu. Semilir angin mencandai ujung-ujung rambut sebahunya. Melambai-lambai seperti ujung-ujung daun padi muda yang terhampar hijau tak jauh dari tempat perempuan itu duduk. Matahari beranjak naik. Sinarnya menghangatkan pipi pucat perempuan itu, menerobos lewat sela-sela dedaunan.
Seorang perempuan tua, dengan kepala yang hampir seluruhnya ditumbuhi rambut putih mendekatinya dengan langkah yang nyaris tak terdengar, duduk di sampingnya. Sapu lidi di tangannya.
“Teh hangatmu sudah kau minum, Dyah?” perempuan tua itu bertanya sembari mengelus rambut halus perempuan di sisinya itu. Tanpa menunggu jawaban, dengan mata cadoknya perempuan tua itu ikut mengamati bocah laki-laki berusia empat tahun yang tengah berlari-larian bersama teman-temannya di hamparan rumput gajah yang tumbuh tebal seperti kasur. Bocah-bocah itu senang sekali berguling-guling di atasnya. Sembari menderaikan tawa renyah seperti ingin membagi kebahagiaannya pada orang-orang di sekitarnya. Tak pernah lelah. Kecuali sesekali masuk ke dalam rumah dan meneguk minuman dari kendi untuk mengusir dahaga.
“Kan Ibu sudah bilang, jangan terlalu sering kaubiarkan air matamu mengalir di depan anak itu, Mardyah. Jangan biarkan anak itu ikut bersedih.”
Perempuan itu, Mardyah namanya, tak menyahut. Ia seperti asyik menikmati nyanyi burung kutilang dari atas pohon kelapa, ditingkahi sahut-sahutan burung prenjak jantan dan betina sambil berkejar-kejaran di batang-batang pohon cecang * yang penuh duri halus. Mardyah selalu bisa menikmati berisik prenjak, burung sebesar jempol tangan yang suaranya selalu ramai. Prenjak yang kasmaran selalu bersuara bersahutan. Cemblik... cemblik... cerr.... cemblik... cemblik... cerrr... Begitu selalu.
“Dyah? Kau dengar Ibumu bicara?”
Bibir Mardyah mengulas senyum meronakan kegetiran hidup yang dijalaninya. Jauh di lubuk hatinya ia merasa seperti ada rongga yang kosong, sangat kosong dan begitu hampa. Seperti gua tanpa penghuni. Gelap.
“Dyah?”
“Ryan begitu ceria, Bu,” bibir Mardyah yang pucat tersenyum. Seperti dipaksakan. “Dia memang tak boleh tahu apa yang aku rasakan. Dia harus seperti itu. Ceria sepanjang hari.”
Mardyah menghela napas seperti ingin mengempas beban berat yang menindihnya selama ini. Kenangan terhadap Tio selalu saja datang dan bermain-main pada kedalaman ceruk matanya. Kenangan-kenangan itu terpilin erat seperti menyatu bersama aliran darah dan denyut nadi serta desah napasnya. Ia merasa Tio selalu ada di sampingnya sambil memandang keceriaan Ryan. Seperti juga pagi ini dan pagi-pagi sebelumnya dan sebelumnya lagi.
“Mengapa selalu saja terjadi, Bu?” Mardyah bertanya dalam gumam. Bibirnya tak kuasa menahan getaran, pelan seperti dawai diterpa angin. Pertanyaan yang sama yang selalu ia sampaikan kepada ibunya. Pertanyaan yang tak pernah berjawab. Pertanyaan yang selalu membuat ibunya ingin menangis. “Mengapa laki-laki yang dekat denganku, yang siap menjadi suamiku, selalu meninggalkanku dengan cara yang menyedihkan, Bu?”
Perempuan tua itu tak pernah kuasa menjawab. Tak punya jawab. Air bening mengalir dari matanya. Semilir angin berembus, menggoyang-goyang pohon kedondong yang daun-daunnya meranggas karena dikerat ulat.
Lalu melintas wajah Badrun yang gagah. Dialah cinta pertama Mardyah, kembang yang jadi rebutan pemuda-pemuda sedesa. Di usia Mardyah 19 dan Badrun 22, keduanya merencanakan pernikahan. Namun rencana itu dihancurkan oleh peristiwa duka yang menimpa Badrun. Pekerja yang ulet itu tewas tersengat listrik ketika tengah membetulkan aliran listrik yang rusak.
Dua tahun berkubang dalam duka, Mardyah kemudian menerima cinta Dorojatun, pemuda tetangga desa. Keuletan Mas D (begitu Mardyah memanggil kekasihnya) dalam bersaing dengan pemuda-pemuda setempat meluluhkan hati Mardyah. Mas D yang selalu santun dalam menghadapi setiap tantangan pemuda-pemuda setempat membuat mereka berbalik menghormatinya. Mereka merelakan bunga desa yang hampir meranggas itu dipetik pemuda lain desa.
Namun petaka itu kemudian datang, merenggut semua angan-angan indah yang mulai direnda Mardyah. Mas D mengalami kecelakaan dalam perjalanan dari rumahnya ke rumah kekasih hatinya. Tubuhnya ditemukan remuk tanpa nyawa di sebuah lereng bukit. Sepeda motornya rusak berat. Tapi hati Mardyah lebih remuk dari semuanya. Cintanya yang telah menemukan muaranya tiba-tiba seperti kehilangan pijakannya. Bunga-bunga yang semula tampak begitu indah begitu saja layu.
Dengan hati yang dibekukan oleh dua kegagalan cinta dengan cara menyedihkan itu Mardyah kemudian meninggalkan desanya. Menyusul kakaknya di kota dan bekerja di kantor suami kakaknya. Ia ingin menguruk duka laranya sedalam-dalamnya. Ia tak ingin lagi menghirup udara desanya yang telah menghadiahinya dua cinta yang lantak. Ia tak ingin memandangi bulir-bulir padi yang menguning di desanya karena di antara tarian pucuk-pucuk padi yang diembus angin itu selalu muncul wajah Badrun dan Mas D. Silih berganti. Tiada henti.
Dua tahun hati Mardyah membatu. Keras dan beku. Hanya kelucuan-kelucuan dan keluguan Ririn, keponakannya, yang mampu merekahkan senyumnya. Rasa lelah dan letihnya sepulang dari kerja selalu dapat terobati oleh sambutan Ririn yang manja. Dan Mardyah tak ingin ada orang lain di hatinya kecuali Ririn yang selalu menggemaskannya. Yang selalu memintanya membantu mengerjakan PR. Yang selalu ingin tidur di kamarnya tapi selalu dilarang Marsyah, ibunya.
“Tante Dyah kan mau istirahat, Rin. Jadi Ririn tidurnya di kamar Ririn sendiri saja,” kata kakaknya jika sedang membujuk anaknya. Dan selalu gagal.
Atas bujukan Marsyah pula Mardyah akhirnya coba membuka sedikit rongga di hatinya. Bagi Jamal teman sekantornya yang selalu mengantarnya pulang dengan sepeda motornya. Pada Sabtu malam ia juga mulai membiarkan Jamal datang ke rumah kakaknya untuk menemuinya. Ngobrol satu-dua jam. Senyum pun lebih sering meruap dari bibirnya. Bunga-bunga cinta yang hampir mati di kedalaman ceruk hatinya pelan-pelan mulai menggeliat. Namun tak urung dadanya berdebar-debar ketika suatu ketika Jamal mengatakan akan segera melamarnya. “Aku ingin kau jadi istriku. Ibu bagi anak-anakku,” kata Jamal menukik dan menghunjam ulu hatinya membuat Mardyah digelisahkan oleh rasa takut sesuatu akan terjadi pada Jamal. Seperti yang juga menimpa Badrun dan Mas D-nya.
Saat itu Mardyah ingin mengatakan saja apa yang telah terjadi pada dua orang yang ia cintai dan mencintainya dulu. Tapi mulutnya selalu saja terkunci. Ia tak punya keberanian untuk jujur. Ia juga takut ditertawakan seperti dilakukan kakaknya. “Itu kebetulan, Dyah. Mereka bukan jodohmu. Perpisahannya bisa karena apa saja. Jadi, berhentilah menyalahkan dirimu terus. Tidak ada perempuan pembawa sial. Kau berhak hidup bahagia selama kau berusaha. Jangan menyerah.”
Jamal kemudian memang membuktikan ucapannya. Ia mengutus kedua orang tuanya untuk melamar. Atas keinginan Mardyah pula lamaran tidak langsung kepada orang tuanya di desanya. Marsyah dan suaminya sementara bertindak selaku wakil orang tua Mardyah. Mardyah ingin segalanya berjalan pelan-pelan.
Tapi, duka itu datang dan datang lagi. Seperti air panas yang menyiram bunga-bunga cinta yang mulai tumbuh di dada Mardyah. Sepekan setelah prosesi lamaran itu, Jamal jadi korban salah sasaran pada sebuah peristiwa baku-tembak antara aparat kepolisian dan pencuri sepeda motor. Jamal rebah bersimbah darah. Dan bunga cinta di dada Mardyah pun rebah bersama tetes-tetes air mata dan sembab matanya.
Lagi-lagi Marsyah membesarkan hati adiknya. Bahwa jodoh, rezeki, dan maut, adalah misteri Ilahi. Bahwa manusia sebagai khalifah di Bumi tetap berkewajiban menjalani kehidupan dengan segala perniknya. Tak boleh ada kata putus asa. Apalagi menghujat Tuhan yang Esa dengan segala misterinya.
Tapi luka di dada Mardyah telanjur menganga. Ceruk di hatinya telah diluberi nestapa. Tak ada lagi rongga bagi bersemainya cinta. Apinya telah lama padam. Bunganya telah lama remuk-redam. Yang ia inginkan saat ini adalah kesendirian dalam gelap yang legam.
“Aku tidak ingin berumah tangga,” katanya getas kepada Marsyah ketika wanita yang gigih itu menyodorkan nama Tio, seorang duda. Istrinya wafat karena serangan jantung.
Ryan-lah yang pada akhirnya membangunkan cinta dalam dadanya. Bocah itu langsung bergelendotan dalam pangkuannya di kesemparan pertama pertemuan mereka. Tio, ayahnya, adalah seorang pria yang simpatik. Gampang tersenyum. Banyak humor meski pada awalnya ia tak mampu membuat kebekuan di hati Mardyah mencair.
Ryan pula yang menangis ketika ayahnya mengajaknya pulang. Ia tak ingin meninggalkan Mardyah. Ia tak ingin berpisah dan kelopak cinta di hati Mardyah pun akhirnya merekah. Seutas tali kasih pelan-pelan terjalin. Dan Mardyah pun menerima lamaran Tio, beserta doa-doa dalam tahajudnya yang khusyuk agar Tio bebar-benar menjadi suaminya. Agar tak ada lagi aral. Agar Tio terselamatkan dan terjauhkan dari segala peristiwa yang pernah dialami Badrun, Mas D, dan Jamal.
Tapi, ya ampun, musibah itu seperti belum bosan menghunjam hatinya. Tio, pria yang cintanya pelan-pelan mulai bersemayam di lubuk hatinya dikabarkan menjadi korban tewas dalam kecelakaan pesawat terbang di Yogyakarta. Tio memang pamit kepadanya untuk pergi ke kota kelahirannya dan minta restu dari kedua orang tuanya. Ia pergi setelah menitipkan Ryan kepadanya.
“Jangan nakal ya, Ryan selama ayah pergi,” kata Tio ketika itu. Bocah itu mengangguk senang. Baginya, bersama Mardyah itu menyenangkan.
“Dyah,” lamunan Mardyah terputus oleh sapa lembut ibunya. “Hapus air matamu. Ibu yakin kamu masih bisa hidup bahagia dengan pria yang mencintaimu. Yang penting sabar. Tawakal.”
“Ibu!” tiba-tiba Ryan berteriak seraya berlari ke arahnya. “Itu kapalnya!” anak itu menunjuk pesawat terbang yang tengah melintas di udara. Tampak begitu kecil. “Belati...belalti...sebental lagi ayah pulang...” bocah itu melonjak-lonjak kegirangan. Jakarta, Maret 2007

*Cecang, sejenis perdu berduri dan daunnya bulat halus, biasanya ditanam sebagai pembatas kebun.
*Cerpen ini pernah dimuat tabloid Nova.

No comments: