Search This Blog

Saturday, June 11, 2011

ASHANTY


Cerpen: Aba Mardjani


Aku sama sekali gak habis pikir di zaman modern ini orang tuaku masih berani ngejodohin daku dengan seseorang yang sama sekali gak aku kenal. Lebih gak masuk akal lagi kabar itu disampaikan bundaku seminggu setelah aku kembali dari Singapura menyelesaikan pendidikanku di Communications and New Media di National University of Singapore.
          Kebayanglah betapa akan terpingkalnya sahabatku Fang Yin dari Cina yang amat bangga dengan arti namanya, hamparan rumput yang baunya harum semerbak. Atau Ming Ue. Amish, sahabatku yang datang dari India dan sempat nembak aku pun pasti akan terkekeh-kekeh sembari memperlihatkan gigi putihnya kalau dia sampai tahu aku, Ashanty, harus menikah dengan orang yang nggak kukenal. Amish, yang pernah bilang ‘I’m stuck on U’ dalam secarik kertas itu pasti juga bakal bilang, ‘U better chose me’.
          Jujur, selama stay di Singapura, gak ada cowok yang betul-betul deket sama aku. Penyebabnya, pertama, karena aku gak pingin punya cowok orang asing. Kedua, aku ingin cowokku seiman supaya kalaupun akhirnya nikah, gak jadi terlalu ngerepotin. Orangtuaku pun sangat tahu hal itu sehingga seminggu setelah aku pulang, bunda langsung nembak aku.
          “Mama punya liat-liatan, Shan. Anaknya ngganteng, baik, punya jabatan di kantornya, dan....masih bujangan tentunya,” kata bundaku waktu aku lagi enak-enaknya merhatiin burung gelatik jawa (bahasa ilmiahnya Padda oryzivora) peliharaan ayahku yang lincah di dalam sangkarnya.
          Aku langsung manyun dan ninggalin bundaku. Ketika kulirik, bunda sedang mengulum senyum. Aku sebel sekali. Tapi, aku tahu dosanya melawan ibu. Jadi, biar pun kesal, aku gak ingin berkata apa-apa. Yang pasti, aku tahu, dengan sikap seperti itu bundaku pun tahu kalau aku nggak suka dijodoh-jodohkan kayak begitu.
          Sikap bunda yang gak pernah lagi menyinggung persoalan itu justru bikin aku belingsatkan kayak cacing kena terik mentari. Di kamarku, pagi itu, aku sibuk mencari-cari siapa yang kira-kira bisa kujadikan tempat untuk curhat.
          Lalu, aku ingat Daniel. Dia lebih tua sekitar 5 tahun dari aku. Dulu dia tetanggaku. Cuma, waktu aku study di Singapura, keluarganya pindah ke Cibubur, sedangkan keluargaku tetap di kawasan Bintaro. Segera kubuka laptop, pasang modem, dan searching FB-nya Daniel. Ternyata tak sulit. Begitu ketemu, segera ku-add dan kirim pesan kepadanya. Kucantumkan juga nomor hp.  
          Keesokan harinya, Daniel menghubungiku.
          “Shan, gile! Lu udah pulang kampung rupanya!” kudengar dia berteriak. “Miss u so much!
          Senang juga aku mendengar suara Daniel, anak yang dulu sering melindungi aku dari anak-anak yang suka usil. Tanpa banyak basa-basi, kubilang saja aku pingin ketemu hari itu juga. Aku nggak mau ditunda-tunda lagi.
          “Oke...oke...Non. Tapi jangan siang inilah. Nanti malem kutunggu,” kata Daniel seraya nyebutin sebuah nama kafe di kawasan Kemang. Aku menurut saja.
          Malamnya, kami sudah duduk di sebuah sudut ruang. Jujur kuakui kekagumanku pada sosok Daniel. Tinggi 170-an. Putih. Necis. Wangi. Tapi, biar bagaimanapun, aku ke sini bukan untuk menjalin hubungan dengan Daniel. Dia kuanggap sebagai kakakku. Karena itu, sembari menyantap hidangan, segera kututurkan isi hatiku.
          Daniel ketawa-tawa setelah mendengar semua keluhanku.
          “Bagaimana kalau laki-laki itu ternyata gue?” dia menyodokku dengan pertanyaan yang segera bikin aku gelagapan. “Lu suka kan sama gue?”
          Untuk menutup kegugupan, aku pasang muka cemberut. Daniel makin ketawa-ketiwi.
          “Oke deh,” katanya setelah puas ketawa. “Nanti aku akan bicara sama bundaku. Kubilang bahwa kau tak ingin pasangan yang dijodohkan. Bahwa sekarang bukan jamannya lagi, bahwa....”
          “Sudah...sudah...” aku mencubit lengannya. “Pokoknya, bilang saja sama mama gue, gue lebih baik mokat daripada kawin dengan laki-laki yang dipilihin orangtua.”
          Daniel menarik tangannya, lalu pamit mau ke toilet. “Gue kebelet nih. Kebanyakan ketawa,” katanya seraya berlalu.
***
          “Windu!” Daniel menyebut nama adiknya di telepon di luar kafe.
          “Ada apa?” terdengar suara Windu.
          “Lu tau gak gue lagi ngobrol sama siapa?”
          “Di mana?”
          “Di kafe. Di Kemang.”
          “Nggak tahulah kalau lu gak nyebutin.”
          “Gue lagi ngobrol sama Ashanty, gadis yang mama impikan untuk jadi istri lu.”
          “Hah? Yang bener lu?”
          “Mendingan lu ke sini deh. Cakep gak ketulungan. Kalau lu gak mau, biar buat gua aja.”
          “Gile lu. Lu mau poligami?”
          Daniel ketawa-tawa. “Cepetan lu ke sini. Gue tunggu,” katanya seraya nutup telepon.*

No comments: