Search This Blog

Saturday, July 16, 2011

Menunggu 100 Hari Kepengurusan PSSI

MASYARAKAT sepakbola Indonesia hampir pasti menyambut positif Kongres Luar Biasa PSSI yang digelar Komite Normalisasi PSSI di Solo, 9 Juli. Tanggal 9 Juli, karenanya, bisa jadi titik balik dari sejarah persepakbolaan Indonesia untuk maju dan berkembang sesuai keinginan masyarakatnya. Tanggal 9 Juli menjadi kongres ketiga dari tetralogi kongres PSSI dengan akhiran manis: KN dan peserta sidang sepakat menyukseskan Kongreslub, sepakat membentuk kepengurusan baru (11 komite eksekutif), sepakat merawat Liga Primer Indonesia (LPI).
Namun, disadari atau tidak, tanggal 9 Juli 2011 justru menjadi awal dari kerja keras dan kerja berat jajaran Ketua Umum (Djohar Arifin Husin) dan Wakil Ketua Umum (Farid Rahman) bersama 9 anggota Exco dan jajaran pengurus lain yang bakal segera dibentuk. Jika para pengurus baru ini benar-benar ikhlas bekerja demi kemajuan sepakbola Indonesia, niscaya mereka harus mengurangi jam tidur dan menguras otak dari menit ke menit, jam ke jam, dan hari ke hari. Setidaknya, jika meminjam istilah pemerintahan, kita bisa melihat sejauh mana masa depan sepakbola Indonesia akan berkembang, setelah 100 hari ke depan atau tepatnya 9 Oktober 2011. Jika seluruh komponen pengurus telah terbentuk dan sinergitas kerjanya terjalin rapi, maka kita bisa berharap sepakbola Indonesia memang bakal lepas landas untuk terus terbang tinggi. Bukan lepas landas untuk kembali menukik dan terjerembab.
Tentulah begitu banyak pekerjaan yang harus dibereskan pengurus baru PSSI ini dalam sedikitnya 100 hari ke depan. Yang paling dekat tentulah bagaimana membentuk tim nasional yang kuat menghadapi SEA Games 2011 dan babak kualifikasi Piala Dunia 2014. Medali emas sepakbola di SEA Games bagi bangsa Indonesia, bisa disebut barang wajib yang harus direbut. Artinya, ‘haram’ hukumnya kalau Indonesia cuma kebagian medali perak, apalagi perunggu, apalagi sampai ‘tepar’ seperti terjadi pada SEA Games 2009 di Laos (tersisih di babak penyisihan).
Di luar perburuan medali emas SEA Games dan mencari celah peluang lolos ke Piala Dunia, pekerjaan yang tak kalah penting adalah memutar kompetisi reguler mulai dari usia dini hingga senior, mulai dari amatir hingga profesional, pria dan wanita. Namun, sebelum pergelaran kompetisi, PSSI juga dihadang pada upaya bagaimana mempersatukan Liga Primer Indonesia ke dalam struktur kompetisi yang baku yang selama ini diselenggarakan PSSI. Ini tentu tak mudah karena tarik menarik ego dan juga aturan main.
Mengupayakan pertandingan yang bersih dari mafia wasit juga bukan pekerjaan enteng yang harus diupayakan pengurus baru PSSI kali ini. Ini warisan turun-temurun, bukan cuma sejak Nurdin Halid berkuasa di PSSI mulai 2003. Sepakbola di dunia manapun pasti takkan bisa maju jika pertandingan dapat dengan mudah dikendalikan oleh wasit.
Namun, yang juga perlu diingat, sebagai ‘mafia’, wasit tentu tak bisa bekerja sendirian. Ia melibatkan manajer, pemilik klub, dan ‘orang dalam’ PSSI sendiri. Ini sudah menyangkut mental umumnya bangsa Indonesia yang seolah ingin selalu menang tanpa kerja keras berarti. Pertanyaannya, mampukah pengurus baru PSSI meminimalkan terjadinya pertandingan yang terus direcoki tangan-tangan dekil?
Ini, baru sebagian kecil dari pekerjaan-pekerjaan berat Kabinet Djohar Arifin Husin. Sayangnya, dari beberapa langkah yang dapat dibaca yang dilakukan hari-hari ini, banyak pengamat menilai bukanlah langkah-langkah brilian. Bukan langkah-langkah atau kebijakan-kebijakan yang bervisi kemajuan sepakbola Indonesia di masa depan. Pemecatan orang-orang tertentu, penunjukan orang-orang tertentu, memperlihatkan Djohar bersama jajaran Exco-nya cuma tengah membagi-bagikan kue kepada orang-orang yang berjasa terhadapnya dan orang-orang dekatnya. Belum lagi di kantor PSSI hari-hari ini, konon, banyak ‘diserbu’ orang-orang yang mengincar jabatan fungsional tertentu.
Bukan juga langkah yang sepenuhnya salah. Bukan juga bermaksud merecoki. Semua hak Djohar dkk. Tapi, yang pasti, jika Djohar atau siapa pun, salah menempatkan orang, maka masa sepakbola Indonesia ke depan akan tetap peteng. Gulita.
Dan, jika itu yang terjadi, maka tetralogi kongres PSSI yang menguras tenaga, pikiran, biaya, dan waktu, akan sia-sia belaka.
Tulisan ini cuma sekadar mengingatkan. Selebihnya, hak pengurus baru PSSI untuk berbuat apa saja.

No comments: