Search This Blog

Saturday, November 12, 2011

Din



Din terbaring. Lunglai. Ingin aku katakan betapa aku menyayanginya. Namun dokter Subhan yang merawatnya  mengingatkan agar aku tak mengatakan sesuatu pun. Din masih terlalu lemah bahkan untuk membalas senyuman sekalipun.

            Tak mampu juga kugambarkan bagaimana perasaanku melihat Julio duduk tafakur di sisi Din. Diam-diam kupanjatkan syukur kepada Tuhan karena Din sudah menemukan pria yang mencintainya apa adanya. Baru dua pekan kemarin dia mengatakan sendiri kepadaku dan Mas Ediwan suamiku. “Saya mencintai Din. Saya ingin menjadikan Din ratu di rumah saya jika diizinkan. Mohon maaf saya belum bisa membawa kedua orang tua saya untuk mengajukan lamaran secara resmi sebagaimana seharusnya. Situasinya belum memungkinkan.”
            Din tertunduk ketika itu. Aku cuma berani menebak-nebak ombak seperti apa yang berkecamuk di dalam dadanya. Kupahami kalaupun Din harus bersusah payah menahan tetes air mata dari sudut-sudut matanya. Kalimat itu seharusnya cukup diucapkan Julio di hadapan Mas Ediwan dan Mbak Rien, ibu kandung Din sendiri. Namun, atas permintaan Mbak Rien, Julio juga mengungkapkan hal yang sama di hadapan aku bersama Mas Ediwan. Julio tentu tak mengerti alasan sebenarnya mengapa Mbak Rien meminta begitu, kecuali aku, Mbak Rien sendiri, dan Mas Ediwan. Bahkan Din pun tidak.
            Kini laki-laki itu dengan setia mendampingi Din yang terbaring lunglai dengan beberapa bagian tubuhnya terbalut perban di rumah sakit. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih meskipun kata dokter Subhan, Din tidak mengalami luka dalam serius –sesuatu yang begitu aku syukuri. Din juga belum tahu kalau kecelakaan itu sudah merenggut Mbak Rien, perempuan yang sudah mengandungnya selama sembilan bulan meskipun secara genetis Din adalah anakku sendiri.
            Hidup bagi Din seperti berubah begitu cepat. Ketika menjalani pendidikannya di Fakultas Bisnis dan Ekonomi di Universitas Melbourne, dia menemukan Julio, mahasiswa asal Filipina yang juga kuliah di universitas yang sama namun Julio dari Fakultas Arsitektur, Pembangunan, dan Perencanaan. Kesamaan visi meskipun keduanya berbeda bangsa membuat mereka dengan cepat menjadi akrab dan kudengar dari Mas Ediwan bahwa Din mantap pada pria pilihannya itu. Dalam waktu yang mungkin takkan terlalu lama lagi keduanya merencanakan pernikahan setelah segala perbedaan latar belakang keyakinan dapat dipersamakan.
            “Cuma satu yang masih mengganjal,” kata Mas Ediwan kepadaku menjelaskan ‘situasinya yang belum memungkinkan’ seperti kata Julio. Kubiarkan Mas Ediwan meneruskan kalimatnya. “Ibu Julio kurang setuju anaknya menikah dengan seorang gadis anak dari seorang wanita yang merupakan istri kedua. Apalagi mereka juga memiliki perbedaan lain yang memerlukan waktu untuk bisa mendapatkan titik temu.”
            “Normal,” aku berkata singkat dan Mas Ediwan mengulum senyumnya.
            Andaikan aku pada posisi ibu Julio, aku mungkin akan mengambil sikap yang kurang lebih sama, terutama dalam hubungannya dengan kehidupan rumah tangga kami. Yang mungkin tak dipahami orang kebanyakan, juga ibu Julio, adalah perbedaan keluarga kami dibandingkan keluarga kebanyakan dan betapa hubungan aku dan Mbak Rien yang begitu baik. Bagiku, Mbak Rien adalah wanita dengan hati bak pualam. Putih hatinya melebihi putihnya salju. Wajahnya, sorot matanya, tak pernah tertutup halimun. Selalu kulihat kejujuran dan ketulusan. Hingga kini belum kutemukan perempuan semulia Mbak Rien.
            Dialah yang meminta Mas Ediwan menikah lagi karena tak juga memiliki anak setelah hampir 10 tahun berumah tangga. Padahal, sebagai pemilik sebuah perusahaan tambak di beberapa tempat, Mas Ediwan memerlukan penerus dari darah dagingnya sendiri yang bisa dia percayai seratus persen. Mbak Rien juga yang memberi restu kepada Mas Ediwan ketika dia memilih aku –sekretarisnya di kantor pusat-- sebagai istrinya yang kedua.
“Istriku bilang kamu baik, taat beribadah, bisa menjaga diri dan kehormatan. Namamu, Fatima, adalah nama putri nabi. Namamu mencerminkan kebaikanmu lewat tutur katamu dan perilakumu. Istriku sama sekali tak meragukanmu sebagai wanita tempat aku membagi kasihku,” kata Mas Ediwan setelah kami menikah.
            Mbak Rien juga yang memperlihatkan kebahagiaan yang begitu tulus ketika mengetahui aku hamil. Suka cita yang tulus pula kudapatkan ketika Azra anak laki-laki kami lahir dengan sehat dan selamat. Juga ketika Zahra anak perempuan kami lahir empat tahun kemudian sampai kemudian Mbak Rien meminta aku datang ke rumahnya setelah Zahra berusia tiga tahun.
            “Ini permohonan aku, dik Fa,” kata Mbak Rien setelah berbasa-basi. Aku tak bisa menebak-nebak apa yang akan keluar dari mulut Mbak Rien. Namun, dari wajahnya yang tak pernah menyimpan dusta, aku yakin memang ada sesuatu yang sangat penting.
            “Mas Ed sudah memberimu dua anak yang cakep-cakep,” kata Mbak Rien seraya mengambil tempat duduk di sebelahku dan menggenggam lima jari tangan kananku dengan sangat erat. Kuhirup wangi tubuhnya. Dengan perbedaan usia hanya 10 tahun di antara kami, aku melihat Mbak Rien memang masih sangat segar. “Sekarang, aku ingin meminta sesuatu darimu.”
            Tanpa kusadari dadaku berdebar-debar. Pikiran-pikiran buruk melintas silih berganti dalam kepalaku. Apakah Mbak Rien akan meminta aku dan Mas Ediwan bercerai? Apakah setelah itu Mbak Rien akan mengambil kedua anakku? Atau apakah Mbak Rien akan meminta cerai dari Mas Ediwan karena dia merasa tak lagi berguna sebagai seorang istri? Segera kuhapus dahiku yang terasa berkeringat.
            “Tapi, dik Fa,” Mbak Rien melangkah dan duduk di kursi di hadapanku. “Ini tak ada hubungannya dengan imbal jasa atas izinku kepada Mas Ed untuk menikahimu. Pikiran ini pun baru muncul dua tahun setelah Zahra lahir. Jadi, jangan kamu pikir ini bagian dari skenarioku ketika aku memberikan izin kepada Mas Ed.”
            Aku sungguh masih tak mengerti ke mana Mbak Rien akan membawaku lewat percakapan-percakapan pembuka ini. Aku jadi merasa tersiksa sendiri. Aku ingin Mbak Rien mengungkapkan langsung apa keinginannya. Namun aku tak memiliki keberanian untuk mendesaknya. Kubiarkan dia mempermainkan perasaanku dan mengaduk-aduk rasa penasaranku.
            “Apa yang ingin kusampaikan ini sama sekali belum kuceritakan kepada Mas Ed. Ini baru antara aku dan dik Fa. Antara dua perempuan yang mencintai laki-laki yang sama.”
            Mbak Rien lagi-lagi menghentikan kata-katanya. Kucoba tatap matanya. Coba mengukur sesuatu yang kutahu tak bisa diukur. Dia tersenyum penuh arti. Kuakui, wanita yang usianya lebih tua 10 tahun dibandingkan aku ini memang memiliki pesonanya sendiri.
            “Bagimu, ini permintaan yang bisa ringan dan bisa berat bergantung dari sudut mana kamu memandangnya, dik,” dia melanjutkan setelah menyibak gorden di ruang tengah tempat kami berada. “Kupertimbangkan selama setahun, sudah kutanyakan kepada para ahli kedokteran dan para ustaz. Secara kesehatan, ini takkan ada pengaruhnya. Secara agama, ini juga bukan perbuatan terlarang.”
            Aku makin dibuat bingung oleh arah pembicaraan Mbak Rien. Lelah juga rasanya aku menebak-nebak.
            “Baiklah aku katakan saja langsung, dik Fa,” katanya setelah menarik napas. “Seperti kukatakan tadi, Mas Ed sudah memberimu dua anak yang cakep-cakep. Selama ini, anakmu kuanggap anakku juga. Namun, sebagai perempuan, aku merasa belum sempurna jika belum menikmati sakitnya saat-saat melahirkan anak. Kini, aku pun ingin memiliki anak dari Mas Ed, anak yang keluar dari rahimku sendiri.”
            Aku masih belum bisa menebak poin terakhir yang ingin disampaikan Mbak Rien. Yang aku tahu, seperti kata Mas Ed, Mbak Rien memang perempuan baik hati yang sayangnya tak bisa memiliki anak.
            “Jadi, inilah permintaanku, dik,” kata Mbak Riena akhirnya sekaligus memaksaku menahan napas. Dengan suara datar, tegas dan tak tersendat-sendat Mbak Rien meminta kesediaanku memberikan sel telurku dan mempersatukannya dengan sperma Mas Ed dalam sebuah tabung dan kemudian mencangkokkannya dalam rahimnya sendiri. “Jadi, pada dasarnya anak yang akan lahir nanti anakmu juga, namun dia keluar dari rahimku. Dan yang lebih penting, ini juga tak terlarang karena aku toh istri Mas Ed juga,” Mbak Rien menutup kalimatnya.
            Meski disampaikan dengan suara datar, permintaan itu tetap sangat mengagetkanku. Tak pernah kuduga kalimatnya akan berakhir pada titik di mana aku seperti raja catur yang terkapar karena skak-mat. Berkali-kali aku meyakinkan Mbak Rien apakah dia sedang bersungguh-sungguh dengan permintaannya atau tidak, dan berkali-kali pula dia mengangguk.
            “Namun, aku takkan memaksamu, dik. Ini permohonanku. Sebagai seorang perempuan yang ingin merasakan bagaimana perjuangan saat-saat melahirkan. Aku berharap kau mempertimbangkannya masak-masak. Cuma satu pesanku, kamu hanya boleh mengatakannya kepada Mas Ed bila pada akhirnya kamu setuju. Bila kamu tidak setuju, sebaiknya ini tetap jadi rahasia kita berdua. Dan, bila kamu setuju, biarlah ini jadi rahasia kita bertiga dan para dokter yang membantu kita,” Mbak Rien menarik napas seperti telah melepaskan beban yang menindih batinnya.
            Hampir tiga bulan aku meminta waktu kepada Mbak Rien. Kumanfaatkan waktu tiga bulan itu untuk berpuasa setiap Senin dan Kamis, kulakukan istikharah dan tahajud untuk meminta petunjuk Tuhan. Namun, dari semua itu, tak kudapatkan keraguan sedikit pun. Sebaliknya dari hari ke hari aku malah makin bersemangat untuk membantu Mbak Rien, wanita yang telah ikhlas membagi cintanya dengan aku.
            Mas Ediwan-lah yang kemudian terkaget-kaget begitu kami menyampaikan keinginan itu kepadanya. “Berikan waktu Mas seminggu. Mas mau bertemu Ustadz Furqon dulu,” katanya pada akhirnya.
            Bayi tabung itu pada akhirnya lahir dengan selamat pada dua puluh dua tahun lalu. Seorang bayi perempuan dengan kulit putih bersih seperti kulitku. Beratnya 3,1 kg dengan panjang 49 senti. Mas Ediwan memberinya nama Dini Mawadina. Tak ada yang tahu kalau kepanjangan kata Mawadina itu mengandung unsur dari ujung namaku, nama Mas Ediwan, dan Mbak Rien. Dini memang lahir atas nama cinta kami bertiga. Dengan melihatnya sekilas saja dapat kukatakan bayi itu lebih mirip aku daripada Mbak Rien. Itu juga yang dikatakan Azra dan Zahra. “Aneh ya, Ma,” kata Azra ketika kami kembali dari rumah sakit waktu itu. “Wajahnya mirip banget sama wajah Mama.”
            Nggak penting dia mirip siapa,” aku mengulas senyum.
            “Ajaib juga ya setelah sekian lama tak bisa memiliki anak, Mama Rien akhirnya bisa punya anak,” Zahra menyambung. “Mama Rien pasti senang sekali.”
            “Tuhan itu Maha Kuasa. Tuhan bisa melakukan apapun bahkan sesuatu yang mungkin tak terpikirkan oleh kita,” aku menimpali.
            “Papa senang nggak Ma?” Azra menyambung.
            “Pasti senang dong. Cinta papa kepada kita pun pasti akan berkurang.”
            “Hus!” aku menyergah kalimat Zahra. “Jangan pernah berpikir negatif kepada papamu. Kalian dan Din pasti akan mendapatkan cinta yang sama. Berbahagialah kalian memiliki papa dan papa seperti kami dan Mama Rien.”
            “Ya deh...” Zahra merebahkan kepalanya di sandaran kursi mobil seraya tangannya meraih remote CD Player mobil dan mengalunlah lagu If kesayangannya.
            Seperti harapanku, Mas Ediwan memang tak banyak berubah dengan kelahiran Din. Selalu kusyukuri perjalanan rumah tanggaku yang jauh dari prahara. Semuanya terjadi karena kami selalu mau menerima kekurangan dan menghargai kelebihan-kelebihan satu sama lain. Pusatnya tentulah Mbak Rien yang begitu ikhlas berbagi kasih sejak awal aku dan Mas Ediwan membentuk rumah tangga baru.
            “Sekarang yang kuinginkan adalah melihat Din menikah,” kata Mbak Rien suatu kali.
            Namun, Mbak Rien ternyata takkan bisa menyaksikan Din jika kelak dia menikah dengan Julio karena sepekan lalu kami menguburkan jasadnya setelah kecelakaan yang merenggut nyawanya dan membuat Din kini terbaring lemah. Din sendiri yang menyetir mobil ketika kecelakaan itu terjadi di jalan tol dalam perjalanan pulang dari sebuah vila milik kami di kawasan Puncak di Jawa Barat. Hingga kini, Din pun belum tahu kalau ibu yang sudah melahirkannya takkan lagi bersama-samanya untuk selamanya.
            Mas Ediwan duduk di kursi kosong di sisi Julio tanpa suara.
            “Maafkan saya Om karena menolak permintaan Din untuk mengantarkannya ke Puncak,” suara Julio nyaris tak terdengar.
            “Tak ada yang perlu disalahkan, Lio,” kata Mas Ediwan. “Semuanya sudah tercatat dan terjadi sesuai takdir. Kamu tak boleh menyalahkan dirimu sendiri.”
            “Begitu kesehatan Din pulih, saya berjanji akan menikahinya, Om. Itu bukan karena pesan Mama Rien, tapi karena saya memang mencintainya.”
            “Ibumu?”
            “Mama menyerahkan semuanya kepada saya, Om.”
            Mas Ediwan memutar duduknya menghadap Julio.  Tapak tangan kirinya jatuh di punggung sebelah kanan Julio. “Kalau begitu, mulai sekarang, jangan panggil saya Om. Call me Papa Ed.”
            Kulihat Julio terperangah. Seperti juga aku yang sama sekali tak menduga Mas Ediwan akan melakukan hal itu.
            Maraming salamat, Papa Ed,” Julio mengucapkan terima kasihnya dalam bahasa Tagalog.
Keterharuan menyesaki dadaku begitu kulihat Julio mencium tangan suamiku tergopoh-gopoh. Buru-buru aku keluar dari ruang rumah sakit itu untuk menumpahkan segenap rasa yang bergumpal di dadaku. *
Tanah Kusir, Mei 2010


No comments: