Search This Blog

Monday, November 7, 2011

Markonah Binti Marjunet





“Markonah binti Marjunet...”
Mulut Dadang bergerak. Tanpa suara.
Tak ada gerakan. Tanpa getaran. Dadang justru merasakan getaran dalam dadanya. Tak biasanya seperti ini.
“Markonah binti Marjunet...”

Dadang kembali menyebut nama itu. Dengan dada yang makin bergetar. Menanti tanpa sabar. Menatap dengan mata kian nanar. Di terik matahari yang membakar. Namun pelampung kailnya bergeming, kecuali gerakan-gerakan kecil karena embusan angin yang mencandai permukaan air. Dadang juga sama sekali tak merasakan ada getaran pada tangannya yang terus menggenggam erat joran antena miliknya.
“Markonah binti Marjunet...”
Untuk yang ketiga kalinya Dadang menyebut nama itu. Disertai dengan doa agar seekor ikan emas menyambar umpan pada mata kailnya. Ia merindukan ikan-ikan yang menggelepar. Namun, nanar matanya tak menangkap adanya getaran pada pelampung berwarna kuning cerah agak 7 meter di hadapannya. Waktu terus berjalan terasa begitu lambat seiring dengan tubuhnya yang makin dijalari butiran-butiran keringat serupa kristal.
Dadang memutar reel pancingnya pelan-pelan. Sesaat kemudian dia memeriksa mata kailnya. Umpan yang dipasangnya masih ada pada tempatnya. Dadang dengan cepat memeriksa pelampungnya. Selembar bulu yang ditempelkannya dengan bantuan selotip juga masih berada di sana. Sejurus kemudian, sambil pura-pura memeriksa benang kailnya, Dadang juga masih menemukan selembar bulu hitam sepanjang sekira 2 cm yang ditempatkannya di dekat ring di ujung jorannya. Dan dia tak perlu memeriksa selembar bulu hitam yang ketiga karena dia memasangnya di pegangan jorannya.
“Hups!”Dadang mengusir rasa galau di dadanya ketika dia melemparkan mata kailnya ke arah yang lain setelah gagal mendapatkan seekor pun di tempat yang pertama. Dadang berharap dengan menggeser sasaran pancingannya dia akan kembali mendapatkan tuah dari ketiga bulu yang dia pasang pada kailnya. Seperti yang sudah-sudah. Sekilas dia melirik Pak Darmaga Setiawan, salah seorang kaya di ibukota yang selalu memakai jasanya pada saat acara lomba memancing seperti saat ini. Dadang menangkap kegelisahan pada wajah Pak Darmaga setelah pada setengah jam pertama dia belum juga menangkap seekor ikan pun.
“Markonah binti Marjunet...”
Dadang kembali membisikkan nama itu lewat gerakan bibirnya. Seperti biasanya, tanpa seorang pun menyadarinya. Namun, dia kembali menanti dengan sia-sia. Tak seekor ikan pun menyentuh mata kailnya. Pelampungnya masih berdiri tegak tanpa gerak. Tangannya yang sudah sangat terlatih memegang joran juga tak merasakan adanya getaran.
“Mana tuah pancinganmu, Dang?” Asep menyindir tanpa menoleh ketika dia menarik seekor ikan emas berwarna kehitaman dengan berat sekitar 1 kg. Ikan itu meronta-ronta. Namun, dengan sekali tarik, ikan itu sudah berpindah ke tangan Asep dan dia dengan cepat memasukkannya ke tempat penampungan ikan di sebelahnya. Setelah itu, Asep memasang umpan baru dan dengan cepat pula melemparkan mata kailnya ke tengah tambak.
Dadang tak menjawab. Membiarkan sindiran Asep ditelan angin. Namun Dadang tahu sindiran itu juga didengar para pemancing lain yang duduk diam di tempatnya masing-masing.
“Markonah binti Marjunet...”
Untuk kesekian kalinya Dadang membisikkan nama itu. Tanpa hasil apapun. Dan dia mulai pasrah. Juga ketika Darmaga menghampirinya. “Mungkin ini hari sial saya, Pak Darma. Saya minta maaf,” kata Dadang sebelum Darmaga Setiawan berkata apa-apa.
***
Pagi-pagi sekali Dadang sudah meninggalkan rumahnya di Bogor untuk menemui Mona, wanita penjaja cinta di sebuah tempat di Kota Sukabumi. Sepanjang perjalanan itu terbayang saja wajah Mona. Kulitnya yang kuning langsat. Matanya yang bulat dengan retina hitam pekat. Alis matanya yang lebat. Hidungnya yang mancung sangat. Ah, andaikan ekonomi dan keuangannya berlipat, mau rasanya Dadang mengangkat wanita itu dari jerat mucikari yang menjerumuskannya ke lembah laknat.
Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam hati Dadang. Apakah perempuan itu masih berada di tempat yang sama seperti ketika tiga tahun lalu dia menemuinya? Apakah Mona masih secantik dulu dan karenanya masih jadi primadona di sana? Jangan-jangan dia sudah meninggal dunia atau menikah. Kedua hal itulah yang dipantangkannya. Tuah ketiga bulu di tangan Dadang akan sirna begitu saja jika perempuan pemuas nafsu laki-laki hidung belang itu meninggal dunia, atau ada laki-laki yang menjadikan dia sebagai istri. Pantangan lain yang kemungkinan baru terjadi dalam waktu lama adalah hanya ketika Mona sudah tak lagi jadi primadona. Dadang menepis kemungkinan itu karena usia Mona saat ini baru 24 tahun. Dadang hafal betul tanggal kelahiran Mona karena dia melihatnya sendiri melalui KTP perempuan itu.
Tiga tahun jadi terasa begitu singkat buat Dadang. Dia merasa belum puas menikmati hasil jerih payah dan pengorbanannya tiga tahun lalu ketika dia harus mencari dan menemukan perempuan paling cantik dan paling jadi primadona sebagai pemuas nafsu laki-laki. Itulah pesan pertama yang didapatnya ketika dia meminta jampi-jampi pelaris pekerjaan sampingannya sebagai pemancing ikan.
Mona nama perempuan itu setelah Dadang menghabiskan waktunya hampir dua bulan mencari primadona pelacuran ke sana kemari. Dia memang teramat cantik untuk jadi seorang pelacur murahan di tempat itu, Dadang membatin ketika pertama kali berhasil menemui perempuan itu. Dadang tak ingat lagi jadi laki-laki ke berapa yang menanti pelayanan Mona. Yang dia ingat malam itu dia cuma mengajak perempuan itu bercakap-cakap hampir satu jam. Mona senang sekali karena menerima bayaran tanpa melakukan pekerjaan berarti. Waktu berbincang-bincang dengan Dadang juga jadi waktu istirahat sangat berharga bagi Mona yang diharuskan mucikarinya untuk terus memacu gairah laki-laki hidung belang.
“Sering-sering saja, Kang,” kata perempuan itu di telinga Dadang ketika melepas kepergian Dadang dari kamarnya. Sejumput cubitan didaratkan Mona di pinggang Dadang membuatnya sedikit menggelinjang. Berdesir juga darah kelelakiannya. Namun dia buru-buru meninggalkan tempat itu.
Pada pertemuan kedua di pekan berikutnya, Dadang berhasil melihat KTP milik Mona. Tertera nama Markonah binti Marjunet. Usianya baru 21 tahun. Selanjutnya, seperti  juga alasan-alasan pelacur lain, Markonah berada di tempat itu karena ekonomi. Kehidupan miskin ayahnya di sebuah desa terpencil di Jawa Barat membuat dia tak bisa melanjutkan sekolah hingga perguruan tinggi. Begitu dia tumbuh dewasa dan kecantikannya mekar sementara dia memiliki banyak adik dan ayahnya makin tak berdaya karena usia rentanya, Markonah pun mengambil jalan pintas.
Setelah merasa cukup dekat dengan perempuan itu dan sudah diperbolehkan menyebut nama Mona dengan Onah, Dadang pun mengutarakan maksud sebenarnya. Mata Markonah mendelik. “Kang Dadang minta bulu...” Markonah ragu-ragu melanjutkan kalimatnya. “Tidak boleh, Kang. Akang ada-ada saja. Kenapa bukan rambut saya saja, Kang? Atau bulu mata, bulu alis, bulu hidung, atau bulu ketiak pun boleh. Jangan bulu yang itu.” Markonah menyudahi tuturnya dengan kuluman senyum.
Dadang pun tersenyum.
“Lagi pula buat apa sih, Kang? Nanti saya dikemat jadi bini Akang atau  jadi nggak laku lagi di sini. Atau mati,” Markonah menyambung.
“Akang buat pelaris memancing saja,” kata Dadang setelah berpikir sesaat. “Pokoknya Onah tidak perlu takut mati, Akang kawini, atau tidak laris lagi. Kalau perlu, Akang kasih KTP Akang dan kita bikin perjanjian.”
“Maksud Akang?” tanya Markonah setelah terkikik genit oleh penjelasan Dadang.
“Kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Onah, Onah bisa menuntut Akang, atau mencari Akang dan meminta pertanggung jawaban Akang.”
Onah akhirnya setuju. Namun dia masih keberatan jika Dadang melihat dengan mata kepala sendiri proses dia mencabut tiga lembar bulu yang diinginkan Dadang berasal dari tempat rahasia itu.
“Akang cuma mau memastikan bulu itu dicabut dari situ. Bulu-bulu itu juga harus tercabut dengan akar-akarnya dan langsung Akang periksa. Waktu dicabut, bulu itu tidak boleh putus. Itu saja, Onah. Percaya sama Akang, Akang tidak akan berbuat apa-apa sama Onah. Apa selama ini Akang pernah berlaku kasar ke Onah?”
“Memang belum pernah sih. Nyolek aja nggak,” Onah tersenyum. Tak pernah terlintas dalam pikirannya dia akan menemukan laki-laki seperti Dadang yang sama sekali seolah tak tergiur oleh kecantikan wajah dan tubuh sintalnya. “Tapi, siapa tahu itu cuma taktik Akang?”
Dadang melepas tawanya.
“Bayarannya, Kang?”
“Akang bayar sesuai permintaan Onah saja. Akang tidak menawar. Lima ratus ribu Akang bayar lunas.”
Markonah menatap laki-laki di hadapannya. “Bagaimana sih Kang, kok bulu gituan bisa buat pelaris?” dia bertanya penasaran. Kembali menahan kikiknya.
Dadang tersenyum. “Kalau yang itu biar jadi rahasia Akang. Yang penting buat Onah, apapun yang Akang lakukan terhadap bulu itu, tidak akan berpengaruh apa-apa bagi Onah.”
“Baiklah kalau itu yang Akang mau,” Markonah binti Marjunet akhirnya pasrah seraya menarik tangan Dadang dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Dengan ketiga lembar bulu itulah Dadang kemudian menikmati kesuksesannya sebagai pemancing bayaran. Dia merekatkan ketiga bulu itu masing-masing pada pegangan jorannya, pada ujung joran berdekatan dengan ring dan satu lagi pada pelampungnya. Setiap kali dia membisikkan nama Markonah binti Marjunet, seekor ikan segera menyambar mata kailnya.
Banyak pemancing lain yang penasaran dan mencoba joran Dadang lengkap dengan benang dan mata kailnya. Namun, tanpa mantra Markonah binti Marjunet, tak seekor ikan pun mampu mereka tangkap. Joran itu hanya bisa memperlihatkan kesaktiannya di tangan Dadang dan Dadang tentu saja tak memberikan rahasia mantranya kepada siapa pun.
***
Dadang melihat mucikari yang biasa dipanggil Mama Santi itu di teras tempat tinggalnya. Wanita lebih paruh baya itu tengah asyik membaca koran dengan sebatang rokok di tangannya.
“Untuk apa kamu datang?” perempuan itu bertanya setelah menoleh sekilas begitu Dadang duduk tak jauh dari tempat duduknya. Suaranya ketus dan tak bersahabat. Namun, Dadang sangat yakin, andai saat itu dia melemparkan segepok uang, sikap wanita ini akan berubah 180 derajat.
“Mencari Mona, Mama,” jawab Dadang.
Seperti tak mendengar kata-kata Dadang, perempuan itu terus membaca. Asap rokok sesekali mengepul melalui bibirnya yang siang itu sudah memerah dengan gincu murahan.
“Apa Mona masih di sini, Mama?” Dadang bertanya karena tak sabar menunggu kalimat Mama Santi.
Mama Santi masih saja diam.
“Mama Santi,” Dadang mengusik ketenangan perempuan itu.
“Mona sudah jadi bini orang. Perempuan tidak tahu diri itu sudah pergi meninggalkan aku. Puas kamu? Sudah pergi sana,” kata Mama Santi tanpa menoleh.
Ketika meninggalkan perempuan itu, Dadang tak benar-benar tahu bagaimana perasaannya. Dia senang karena Mona ternyata masih hidup meskipun dia sempat menduga kemungkinan Mona sudah meninggal dunia. Namun, dia juga merasa masygul karena ternyata Mona sudah menikah membuat tuah ketiga lembar bulu di tangannya hilang begitu saja. Terbayang perjuangan berikutnya untuk mendapat tiga bulu lain dari perempuan pelacur lain sebagai penggantinya.
Beberapa perempuan anak buah Mama Santi meledek Dadang ketika dengan lunglai dia meninggalkan tempat itu. “Cari siapa, Kang? Siang-siang begini? Sudah gak tahan, Kang? Sama saya saja, Kang,” kata salah satu dari mereka. Dadang cuma membalas dengan senyuman.
“Kang Dadang kan? Pasti cari Mona,” sambung yang lain.
Mendengar nama itu disebut, Dadang menghentikan langkahnya dan menghampiri mereka.
“Akang memang mencari Mona. Sayang dia sudah menikah,” kata Dadang kemudian.
“Ya ialah, Kang. Dia cantik, dan ada Pak Darma yang mau menjadikan dia sebagai bini simpenan. Itu lebih baik. Saya pun mau jadi bini Pak Darma kalau dia mau. Kalau situ mau, saya juga mau.”
Dadang menatap perempuan yang baru saja menyebut nama Darma.
“Siapa katamu? Pak Darma? Darma siapa?”
“Siapa lagi kalau bukan Pak Darmaga Setiawan. Itu, juragan tajir yang sering datang kemari, Kang.”
Dadang menahan rasa terkejutnya. Dia meninggalkan tempat itu membawa rasa lunglainya. Wajah Darmaga Setiawan berkelebat dalam benaknya. Bagaimana mungkin mantra kailnya justru mengenai pria itu?
Tanah Kusir, Maret 2010

No comments: