Search This Blog

Wednesday, December 14, 2011

CINCIN PERAK BERMOTIF BURUNG HANTU


Cincin Perak Bermotif Burung Hantu


REDUP senja merayap seperti leleh lilin, perlahan, mengaduk-aduk perasaanku. Aku tak ingin lagi menunggu lebih lama datangnya waktu sesudah Isya dan segera menemukan diriku berada dalam pesta ulang tahun Meita. Ratusan kali, mungkin, kubaca lembar kertas yang ditempelkan Agusman, petugas harian Panti Manula Berbagi Kasih di papan pengumuman panti, pemberitahuan tentang perayaan ulang tahun Meita yang ke-66. Aku ingin memastikan diriku takkan melewati pesta kecil itu. Harinya, waktunya, tempatnya, dan tentu saja kado yang akan kupersembahkan bagi wanita itu.

            Bagiku, pertemuan kembali dengan Meita sungguh merupakan rencana Tuhan yang tak ingin kuterka bagaimana bagian penutupnya. Aku ingin kisahnya mengalir serupa embus angin atau bilur aliran air. Apakah pada bagian akhirnya aku akan menikah dengan perempuan yang dulu pernah kucintai dengan segenap raga dan jiwaku itu? Apakah Tuhan pada akhirnya mempertemukan kami pada saat tubuh kami sama-sama direntakan oleh waktu? Atau apakah kami akan tetap seperti selama ini, mencintai tanpa benar-benar memiliki setelah Meita pada akhirnya menikah dengan pria lain dan aku menikah dengan perempuan lain dengan alasan masing-masing?
            Meita datang ke panti ini enam bulan lalu, tiga tahun setelah aku menjadi penghuni. Dia mengagetkan aku ketika suatu sore aku sedang menikmati alamanda cokelat yang baru mekar di salah satu sudut halaman panti.
            “Erwan?” suara itu seperti tercekat karena diucapkan berbarengan dengan tolehan kepalaku setelah mendengar reranting patah di belakangku.
            “Mei?” Aku terperangah melihat sosok Meita berdiri di hadapanku dengan selendang sutra putih melingkar di lehernya. Dalam tempo sepersekian detik kucoba mengingat-ingat apa mimpiku semalam untuk pertemuan tak terduga sore ini? Ah, tak ada firasat atau mimpi apapun. Semuanya berjalan seperti biasa.
            Aku masih melihat jejak-jejak kecantikan pada jelaga pekat alis matanya. Juga jelita bulu matanya yang melindungi mata belonya. Dan senyumnya yang selalu tulus. Dan kehangatan yang menjalari tubuhku ketika kami kemudian berpelukan erat. Entah siapa yang mendului. Tahu-tahu kami sudah berpadu peluk sementara prenjak jantan dan betina berloncatan pada dahan-dahan bougenvile sambil bersuara bersisahutan begitu riangnya.
            Kehadiran Mei, panggilan sayangku puluhan tahun lalu untuknya, tentu saja mengubah hari-hari panjangku di panti ini. Dan kini, di hari ulang tahunnya yang ke-66, telah kusiapkan sebuah cincin perak dengan motif burung hantu buatan Korea --sebuah hadiah yang tidak mahal namun kuyakinkan diriku bahwa Meita akan sangat menyukainya-- karena aku amat kesemsem pada matanya yang belo namun dengan sorot yang sangat bersahabat dan teduh. Selalu meletup-letup gairahku tatkala berpilin kata dengan Meita bermenit-menit dan berjam-jam sembari duduk di pelataran panti yang diteduhkan rerimbun ketapang dan johar serta alamanda cokelat yang tengah mekar tertebar di berbagai sudut. Mata Meita yang selalu menyala gairah ketika dia menyimak kalimat-kalimat yang meluncur dari bibirku, membuatku seolah tak pernah kehabisan kata untuk membaginya cerita-cerita masa mudaku setelah kami berpisah. Sesekali Meita terkekeh seperti ingin memamerkan deretan giginya yang masih lengkap dan nampak sangat terawat. Kadang dia menertawakan cerita lucu yang kupaparkan, sesekali juga ironi kehidupan yang kujalani. Di usia senja kini, tak ada lagi ironi yang perlu disesali. Segala kepahitan hidup menjadi penggal-penggal sejarah yang justru terasa manis untuk dikenang dan diceritakan berulang-ulang tanpa sedikit pun rasa bosan.
Bagi kami, para manula yang terdampar di Panti Berbagi Kasih ini, Meita laksana mawar yang senantiasa menebar wewanginya. Dan hari ini, di ulang tahunnya yang ke-66, Meita sepakat untuk meresmikan hubungan kami sebagaimana layaknya anak-anak muda meresmikan hubungan mereka sebagai sepasang kekasih. Hubungan yang puluhan lalu terputus seperti curah hujan yang tiba-tiba berhenti.
Tentu saja warna-warni bunga bermekaran dalam dadaku. Senyum yang kutebar pada hari-hari menjelang hari penasbihan itu sungguh membuat enam sahabatku, para manula laki-laki, beriri hati. Lalu, melayanglah anganku pada masa puluhan tahun lampau, ketika pesta pertunanganku dengan Zuraida, istri yang sudah meninggalkanku untuk selamanya sejak tujuh tahun lampau. Suasananya tentulah sangat jauh berbeda karena aku masih jejaka dan gairah mudaku masih menyala-nyala bagai magma yang siap meledakkan lahar cintanya. Dan, Zuraida menerima cintaku dalam satu kesatuan kasih yang utuh sampai kemudian kami menikah dan berketurunan. Lahirlah Windoro, anak laki-lakiku yang amat cerdas. Lahirlah Windari, anak perempuanku yang tak kalah cerdas dari kakaknya. Perjalanan waktu yang kemudian membawa Windoro menikah dengan Britany, seorang gadis asal Bogota yang dikenalnya di kampus UCLA dan keduanya menikah dalam sebuah pesta yang unik di antara bahana air terjun yang sangat indah di State Park Air Terjun Niagara di Ontario. Setelah pernikahan itu, Win anakku bilang Brit memintanya menetap di sebuah apartemen yang mereka sewa di Antelop Valley di Greater Los Angeles. Hingga kini.
Windari yang memilih kuliah psikologi di Murdoch University di Perth, kemudian juga memilih tak kembali ke pangkuan kami setelah dia menikah dengan Lachlan. Dan kami harus merelakan dua buah hati yang kami besarkan dengan guyuran cinta itu pada akhirnya meninggalkan kami satu per satu. Tak ada yang perlu diratapi. Hidup selalu disarati kejutan-kejutan perubahan yang bisa sangat tak terduga dan tak kami harapkan. Termasuk juga ketika akhirnya aku memilih mendamparkan diriku di panti kini, bersama orang-orang seusiaku. Brit sempat memaksaku tinggal bersama mereka di Amerika. Lachlan juga sangat membuka pintunya bagi kehadiran tubuh rentaku setelah Zuraida wafat. Namun aku lebih suka tak membiarkan diriku menjadi beban anak-anakku, menantu-menantuku, atau cucu-cucuku. Biarlah Windoro bahagia bersama keluarganya tanpa harus mengurus diriku yang kian renta. Biarlah Windari bermandi senyum dan kebahagiaan bersama keluarganya di Perth tanpa harus pusing dengan keberadaanku. Cukuplah bagiku sesekali menjenguk mereka seperti kulakukan tahun lalu seraya Windari dan keluarganya membawaku menikmati kepak dan canda angsa hitam di Danau Monger setelah kami menikmati perjalanan sekitar satu jam menuju Fremantle. Sangat kunikmati saat-saat aku bersama kedua cucuku melempar remah-remah roti dan angsa hitam itu berebutan dengan burung-burung lain untuk mendapatkannya.
“Itu pilihan papa dan papa takkan menyesali atau menyalahkan kalian,” aku berkata ketika itu. “Kalian berhak menikmati kehidupan kalian sendiri dan membangun rumah tangga yang bahagia. Jika kalian merindukan aku, jika cucu-cucuku ingin bertemu, kalian bisa datang kapan saja.”
Sesekali mereka datang menjenguk aku. Bahagia selalu mengaliri darahku ketika punggung tanganku dicium Windoro dan istrinya, atau Windari dan suaminya, atau cucu-cucuku. Dan kali ini, untuk pesta ulang tahun pacarku, kukabarkan juga kepada mereka agar mereka tahu di panti ini ayah mereka kembali menemukan cinta seorang perempuan. “Jika berjodoh, kemungkinan kami akan menikah,” kutambahkan kalimat itu pada e-mail yang kukirimkan kepada mereka. “Kami ikut bahagia jika Papa juga bahagia dan yakin itu yang terbaik,” balas mereka. Sayangnya mereka menyebut tak mungkin bisa datang karena kesibukan masing-masing.
Tentu saja aku orang pertama yang hadir di aula panti yang sejak kemarin sudah disulap menjadi tempat yang amat indah dengan nuansa lavender, warna yang mencerminkan keanggunan dan sangat disukai Mei. Ada keharuan yang mengobrak-abrik dadaku menyadari Mei, melalui pilihan warna nuansa pestanya, seperti ingin mengungkapkan bahwa cinta yang pernah tumbuh di antara kami adalah cinta sejak mata kami saling bersirobok. Dan cinta itu hingga kini belumlah lekang. Masih menguarkan aroma wewanginya. Waktu, seberapa pun lamanya, tak berdaya meruapkan jentik-jentik cinta kami. Hanya dibutuhkan sedikit saja sentuhan untuk membuatnya bangkit.
“Sahabat-sahabatku terkasih,” Meita berdiri anggun di atas panggung dengan gaun senada warna keseluruhan nuansa pesta. Kukagumi bibirnya yang diberi warna nude ketika dia mengulas senyum seraya menebar pandang kepada seluruh tetamunya sebelum dia melanjutkan kalimatnya. “Ini hari yang sangat membahagiakan saya. Di pesta sederhana ulang tahun saya yang ke-66 ini, saya berada di tengah-tengah orang yang saya yakini memiliki ketulusan untuk saling berbagi dan menyayangi. Saya juga teramat bahagia karena di ruang ini, ada...” Mei menggantung kalimatnya. Dan aku menggeleng-gelengkan kepala untuk kenakalannya itu.
“Sahabat-sahabat saya pasti tahu siapa dia...” Mei melanjutkan kalimatnya seraya tatap mata belonya mengarah kepadaku. Ada tepuk tangan. Ada suit-suit. Ada dehem. Ada gumam. Semuanya menjadi satu.
“Ya, dialah Mas Erwan, Mas Erwanku yang tetap gagah,” Mei mengarahkan uluran tangannya kepadaku, seperti menarikku untuk melangkah ke atas panggung.
Aku pun melangkah, perlahan namun mantap. Di tangan kiriku telah kusiapkan sebuah cincin perak bermotif burung hantu yang kuyakini akan disukai Mei.
Kupeluk kekasihku di atas panggung. Kukecup kedua pipinya dan dahinya tanpa peduli pada bahana sorak-sorai para tetamu. Lalu, kuberikan cincin perak itu, memakaikannya di jari manis tangan kirinya. Suka cita memancar dari wajahnya bersama leler air bening dari dua kelopak matanya yang belo.
“Tak ada yang berubah ya,” Mei mendesah.
“Ya, kecuali usia dan kerentaan kita. Tapi cinta kita tak pernah renta,” katanya.
Mei seperti menahan ledakan tangis dan lahar air matanya. Dia memelukku begitu erat sampai kemudian kusadari Windoro dan Windari bersama istri dan suami dan anak-anak mereka berada di sekelilingku, sampai kudapati diriku berada dalam kungkung anak-anak dan cucu-cucu Mei. Semuanya menyatu dalam tepuk tangan riuh. Windoro dan Windari datang tanpa memberi tahu untuk memberi kejutan kepadaku sekaligus menggenapi bahagiaku.
Untuk kesekian kalinya, kupeluk begitu erat Mei. Ah, cinta memang bukan cuma hak miliki anak muda. Dia bisa bersemi dan terus memekarkan sayap-sayap kasihnya di mana saja  serta kapan saja.
Tanah Kusir, September 2010

No comments: