Search This Blog

Monday, December 12, 2011

Haji Dun


CERPEN

Aba Mardjani

AKU masih terlalu muda untuk mengingat peristiwa itu secara rinci dan berturutan. Yang dapat kuingat, malam itu, hampir 30 tahun lalu, Cibaresah sontak dilanda gempar. Diawali dengan teriakan kesakitan Haji Dun. Seperti teriakan kematian. Dan, laksana gema,  teriakannya segera disambut para tetangga. Ada yang membawa obor. Ada yang membawa lampu senter. Ada yang mengusung lampu petromaks. Rumah Haji Dun pun riuh rendah. Aku sendiri ikut keluar rumah dan coba melihat apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, orang-orang dewasa melarang anak-anak seperti aku mendekat.
            Keesokan harinya baru kudengar ceritanya. Itu pun
cuma sepotong-sepotong. Ada yang bilang semalam Haji Dun hendak dibunuh orang. Ia dicegat pembunuhnya di belakang rumahnya begitu ia selesai berak di empang kecil di belakang rumahnya. Cerita itu dilengkapi oleh yang lain. Haji Dun sengaja dicegat setelah buang air besar karena pada saat itu ia menanggalkan semua jimat kekebalan tubuhnya. Dalam keadaan normal, Haji Dun tak mungkin dicolek. Jangankan pakai benda tajam, peluru pun tak mampu melukai tubuhnya. Kata orang, ia memang sakti. Selain itu, ia pun pandai silat Cimande. Buktinya, dalam keadaan tanpa jimat pun orang tak berhasil membunuhnya. Cuma bibirnya yang somplak kena tebasan golok si pembunuh.
            Buktinya kulihat sendiri beberapa belas hari setelah lukanya sembuh. Kebetulan, ia akrab dengan ayahku. Hampir setiap hari ia datang ke rumah untuk ngobrol ngalor-ngidul dengan ayah. Saat itulah kulihat sendiri bibirnya tak lagi sempurna. Ada bagian yang hilang pada bibir bawahnya. Kabarnya, Haji Dun sendiri yang sengaja membuang bagian yang tertebas golok itu. Karena itu ia menyelempangkan handuk kecil di pundaknya untuk melap air liurnya yang selalu keluar dari mulutnya. Dan, tentu saja orang-orang yang merasa jijik selalu menghindarinya. Tapi, celakanya, seringkali ia datang ke rumah kami sembari membawa makanan. Kadang-kadang singkong rebus. Sesekali ubi rebus. Pernah juga ia membawa roti cawang. Kepadaku, bocah 12 tahunan yang untuk melihatnya pun sering harus mencuri curi pandang, ia baik. Karena itu, setiap kali datang dan kebetulan melihatku, ia selalu membagi makanannya kepadaku. Dan aku tak boleh menolak seperti pesan ayah. "Jangan bikin Wak Haji  Tersinggung," kata ayahku. Biasanya, sehabis menerima  makanan darinya, aku selalu pergi menjauh dan kemudian membuang makanan itu tanpa sepengetahuannya. Tapi, tentu, setelah di depan matanya aku menggigit sedikit makanan pemberiannya untuk memberikan kesan bahwa aku tak merasa jijik dengannya dan dengan makanan yang diberikannya.
            Dari ibu kudapatkan cerita tentang Haji Dun. Kata ibu, Haji Dun itu tukang santet yang amat jago. Siapa pun yang pernah menyakitinya atau anggota keluarganya akan disantet. Ada yang mati mendadak. Ada yang sakit bertahun tahun dulu untuk kemudian mati. Tergantung keinginannya saja. 
            Dari situ kemudian dapat kusimpulkan, Haji Dun memang sengaja dicegat orang untuk dibunuh. Alasannya pasti karena dendam. Nyawa harus dibayar dengan nyawa. Untungnya, kata ibuku, Haji Dun selalu baik dengan ayahku. Mungkin karena ayah pandai mengambil hatinya. Atau karena memang tak ada sesuatu yang hebat pada ayah yang membuat Haji Dun merasa tersaingi.
            Di lain waktu, kudengar cerita lain lagi. Dari bisik-bisik, kuperoleh berita bahwa Haji Dun dibacok oleh Mandar, keponakan nenekku. Kabarnya, Sunita, anak Mandar, meninggal karena santet Haji Dun. Sunita disantet setelah menolak cinta Kampra, cucu Haji Dun. Aku tak tahu siapa yang membawa berita itu. Aku juga tak tahu apakah berita itu benar atau salah. Aku tak pernah berani bertanya kepada Mandar karena ia bukan kanak-kanak seperti aku. 
            Di waktu lain, beredar lagi berita dari mulut ke mulut bahwa Haji Dun dibunuh oleh Dirun, jago silat di Cibaresah. Alasannya, Dirun sakit hati karena seringkali diejek Haji Dun. Kabarnya, Haji Dun sering mengajak Dirun berkelahi untuk membuktikan ilmu silat siapa sebenarnya yang lebih tinggi. 
            Pada akhirnya aku tak tahu siapa sebenarnya yang telah mencoba membunuh Haji Dun. Sampai kemudian Haji Dun sendiri wafat karena sakit, misteri itu tetap tak terungkap. Ayahku pun tak pernah bercerita soal itu kepadaku sampai ia wafat dua tahun lalu. 
***
            Malam itu, hampir tiga puluh tahun kemudian setelah upaya pembunuhan Haji Dun, aku ngobrol dengan Haji Aspar, suami kakak ibuku pada tahlilan dua tahun meninggalnya ayahku.  Aku sendiri tak tahu siapa yang mulai membuka percakapan tentang Haji Dun. Malam itu, setelah bubaran acara tahlilan, cuma ada aku, ibuku, Haji Aspar, dan istrinya. 
            "Haji Dun sudah terlalu banyak makan korban," kata Haji Aspar sembari menyedot rokoknya. Ia lalu menyebut nama orang-orang yang pernah disantet Haji Dun. Sebagian ada yang kukenal. Saat itu pula ibu menyebut nenekku pun meninggal karena guna-guna Haji Dun. Ada semacam batu di perut bagian kiri nenek. Dari dokter sampai dukun tak ada yang mampu menyembuhkan penyakit nenek. Kesalahan nenek, kata ibuku, cuma karena mengajar mengaji Qur'an seorang murid yang awalnya menjadi murid istri Haji Dun. 
            Mendengar cerita itu aku benar-benar geram tanpa bisa berbuat apa-apa. Karena itu kusyukuri peristiwa upaya pembunuhan itu. Andaikan berhasil, tentulah kampung kami akan menjadi aman. 
            Selain nenekku, banyak lagi orang di Cibaresah yang mati secara tak wajar. Ibuku bisa dengan hafal menyebut nama-nama mereka.
            Usaha pembunuhan itu, kata pamanku itu kemudian, dilakukan oleh sekomplotan orang. Ia lantas menyebut nama Haji Mani sebagai penggagas. Kesabaran Haji Mani habis karena Haji Dun juga mengguna-gunai Sabra, satu-satunya anak Haji Mani. Haji Mani pula yang menugaskan Jalu, Manur, Kubro, dan Sakim, untuk mencari dana dari orang-orang yang setuju dengan rencana jahat itu. Uang itu dipergunakan untuk membayar tim pembunuh. Tim terdiri atas Haji Aspar, Sapa, dan Sanir. Beberapa nama yang disebut pamanku itu sudah lama meninggal dunia dan sebagian lainnya sudah amat renta.
            "Kesepakatannya waktu itu, bilamana terdengar ada orang yang berteriak, nggak boleh ada yang keluar rumah. Sayang, Haji Dun beraknya baru pukul 7 malam. Akibatnya, orang lain yang tadinya tidak kami perhitungkan, malah datang untuk membantu. Jadi, begitu banyak yang datang, kami pun buru-buru kabur karena takut ketahuan."
            "Yang mula-mula ditebas itu lehernya. Tapi, Haji Dun ngeles sambil meruntuk. Sabetan berikutnya ke arah pinggang. Tapi goloknya menghajar daun pintu dapur. Haji Dun waktu itu sudah hampir masuk ke dalam rumahnya," kata pamanku melanjutkan ceritanya.  
            "Siapa yang bertugas membacok itu, Cang?" aku bertanya.
            "Ya, Ncang lu  sendiri," sahut istri pamanku yang saat itu sebenarnya asyik ngobrol dengan ibuku.
            Ibuku tak tampak terkejut. "Sudah bertobat?" tanya ibuku sembari mesem-mesem.
            Haji Aspar pamanku ikut mesem-mesem.*
            

No comments: