Search This Blog

Sunday, December 4, 2011

HARI PERTAMA PANDU

Cerpen: Aba Mardjani


Tiur baru saja berangkat di hari pertamanya mengenyam bangku sekolah. Surtini melepas keberangkatan anak pertamanya dengan perasaan lega. Pada akhirnya banting tulang perah keringat selama ini membuahkan hasil.

“Jadi hari ini, Mak?”
Surtini menoleh, melihat Pandu, anak laki-lakinya, menggosok-gosok mata pada sinar matahari pagi yang menerobos dari lubang pintu yang sedikit terkuak.
“Jadi.”
“Betul, Mak?”
“Betul. Tapi tergantung kamu juga.”
“Kok gitu, Mak?”
“Betul. Kamu nggak akan merengek, kan?”
Pandu menggeleng.
“Kamu nggak akan mengeluh capek, kan?”
Pandu menggeleng.
“Kalau begitu, cepat mandi sana!”
Bocah berusia lima tahun itu meloncat berdiri. Menyambar handuk lusuh di sudut kamar. Berdesakan dengan pakaian-pakaian bersih dan kotor. Sesaat kemudian, tubuh bocah itu sudah hilang dari pandangan mata Surtini.
“Pandu!” bocah itu menoleh. “Mandi? Tumben pagi-pagi sudah mau mandi?” Ican menegur bocah itu. Takjub melihat wajah ceria Pandu.
“Mau pergi, Pan?” Ican menggilas puntung rokok dengan sandal jepit lusuhnya.
“Iya!” teriak bocah itu. Tanpa menoleh.
“Pergi ke mana, Pan?”
“Ikut Emak, dong!”
“Ke mana?”
“Pokoknya ikut!”
“O.”
Pandu terus saja melangkah. Sesekali melompat meningkahi bebatuan atau timbunan sampah pada jalan agak menurun. Ican menggeleng-geleng kepala. Menahan kegemasannya melihat kelakuan anak itu.
Di bantaran sungai di tempat Pandu biasa mandi atau dimandikan ibunya, sudah banyak orang beraktivitas. Beberapa perempuan mencuci pakaian-pakaian kotor. Beberapa lainnya mencuci piring dan berbagai jenis perabotan rumah tangga. Beberapa pria asyik berjongkok pada kakus-kakus sembari asyik mengepulkan asap rokok. Angan mereka mungkin tengah terbang entah di mana. Pada saat melamun, setiap manusia memang bisa terbang.
Pandu juga menangkap suara bersahut-sahutan tawa genit, banyolan-banyolan konyol, atau caci-maki. Pandu tak peduli.
Pandu mulai menyendok air. Mengguyurkan ke tubuh kecilnya yang kini telanjang bulat.
“Aih, ini bocah gini hari sudah mandi. Mau ke mana, Pandu?”
Pandu menoleh. Mbak Sri terus menggerus pakaian-pakaian kotornya pada papan penggilasan kayu. Tubuhnya terangguk-angguk.
“Kata Emak, aku harus mandi,” kata Pandu. Melanjutkan mandinya.
“Tumben? Mau ke mana?” Mbak Sri berhenti mencuci. Menatap kilau air pada punggung Pandu.
“Jalan-jalan.”
“Wah, hebat, Pandu. Bapakmu yang pergi meninggalkan Emakmu sudah pulang? Sudah bosan dia dengan pelacur sialan itu?”
Pandu menggeleng. Tak sepenuhnya mendengar kalimat terakhir Mbak Sri.
“Jadi dari mana Emakmu punya uang untuk membawamu jalan-jalan?”
Pandu menggeleng.
“Jalan-jalan seperti orang kaya itu kan perlu uang, Pandu. Dari mana Emakmu punya uang?”
Pandu menggeleng.
Mbak Sri juga menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu melanjutkan kegiatannya.
“Ya sudahlah, sesukamulah, Pandu.”
“Lagian kayak nggak tahu aja,” Mbak Rien yang tengah mencuci piring di sebelahnya, menyikut Mbak Sri.
“Nggak tahu apa? Memangnya?”
“Maksudnya jalan-jalan ya itu...”
“O.”
Pandu kembali mandi.
Sandi muncul ketika Pandu hampir menyelesaikan kegiatan mandinya. Usianya sekira dua tahun lebih tua di atas Pandu.
“Wah hebat, Pandu mandi lebih dulu dari aku,” katanya.
“Kata Emak aku harus segera mandi.”
“Memangnya kamu mau ke mana?”
“Ikut Emak.”
“Ke mana?”
“Jalan-jalan. Keliling-keliling.”
“O.”
Pandu memandang Sandi.
Sandi senyum-senyum.
“Kamu kuat?”
“Kan anak laki. Kuat.”
“Kamu tidak akan merengek-rengek?”
“Anak laki nggak boleh cengeng.”
“Siapa bilang?”
“Emak.”
“Tapi kamu akan capek.”
“Biarin.”
“Kamu akan kehausan.”
“Aku akan bawa air di botol.”
“Kamu akan kepanasan.”
“Bawa koran untuk menutupi kepalaku.”
Sandi menggaruk-garuk kepalanya.
“Tiur kakakmu mana?”
“Sekolah.”
“Sekolah?”
“Iya.”
“Emakmu punya uang untuk menyekolahkan kakakmu?”
“Punya.”
“Dari mana uangnya?”
“Tanya saja Emakku.”
Sandi menggaruk punggungnya.
“Tiur sekolah di SD?”
“Iya.”
“SD mana? Negeri? Swasta?”
Pandu menggeleng. “Nggak tahu. Pokoknya sekolah.”
Di rumah, Surtini sudah selesai berpakaian. Dua bungkus plastik teh hangat tergeletak di atas pesawat televisi kecil yang tak pernah lagi menyala. Dua bungkus roti seribuan juga ada di sana.
“Ke mana, Pandu?” Surtini bertanya dalam hati.
Ia menarik daun pintu terbuat dari empat bilah papan. Melongokkan kepalanya. Pandu muncul setengah berlari ketika Surtini hampir melangkahkan kaki untuk mencari.
“Mandinya kok lama, Pandu?”
“Emak marah?”
“Bukan marah. Emak tanya.”
“Di tempat mandi dan di jalan pun banyak yang nanya Pandu, Mak.”
“Tanya apa?”
“Kenapa aku mandinya pagi-pagi sekali. Mau ke mana aku hari ini.”
“Ya, sudah. Cepat berpakaian. Bagus kalau masih banyak yang tanya ini-itu. Mereka sayang sama kamu.”
Pandu melempar handuknya. Menyambar celana dalam yang karetnya sudah longgar. Mengambil celana pendeknya berwarna coklat. Menarik kaos berwarna merah yang bagian lehernya sudah membesar.
“Sarapan dulu, Pandu,” Surtini memberikan roti dan teh hangat dalam plastik.
Tanpa bersuara, Pandu menerima pemberian ibunya. Menggigit ujung plastik teh dan menyedot isinya. Sesaat kemudian, mulutnya sudah disesaki roti seribuan.
“Betul kamu mau ikut?”
Pandu mengangguk.
“Mengapa?”
“Kan di rumah nggak ada kak Tiur. Aku nggak mau ditinggal sendirian di rumah.”
“Cuma itu alasannya?”
Pandu menggeleng.
“Jadi?”
“Aku ingin bantu-bantu Emak.”
“Kamu masih terlalu kecil.”
“Biarin.”
“Emak takut kamu tidak kuat.”
“Pandu anak laki kan, Mak. Pandu kuat.”
“Baiklah.
Surtini menyambar pengail terbuat dari besi panjang. Ujungnya lancip serupa kail raksasa. Setelah menutup pintu dan menyangkutkan kawat penguncinya, dia menyambar karung lusuh di samping gubuk kontrakannya.
“Siap?” sekali lagi Surtini bertanya kepada anaknya seraya membetulkan topi lusuh di kepalanya.
“Ayo, Mak.”
Sesaat kemudian, Pandu sudah melangkah di belakang ibunya. Sesekali ia berlari mengejar ibunya yang melangkah agak cepat. Satu demi satu gelas-gelas dan botol-botol plastik bekas minuman tenggelam dalam karung di punggungnya.
“Mak...” Pandu menyedot cairan di lubang hidungnya.
“Ya?” Tini menjawab tanpa menoleh kepada Pandu yang berjalan mulai tertatih di belakangnya.
“Kalau setiap hari bekerja begini...”
“Ya?”
“Apakah kita bisa?”
“Bisa apa?”
“Aku dan Mbak Tiur bisa sekolah?”
“Bisa. Buktinya sekarang Mbak Tiur sudah sekolah.”
Pandu menyedot lagi cairan dalam lubang hidungnya.
“Aku bisa punya sepeda seperti anak-anak gedong sebelah pagar tembok itu?”
“Bisa.”
Pandu berjingkrak.
“Hore! Kalau nanti sudah punya sepeda...”
“Mau apa kamu?”
“Aku mau mencari Bapak. Aku kangen Bapak.”
Tanah Kusir, Juli 2011

No comments: