Search This Blog

Wednesday, January 11, 2012

Aku Bukan Pendendam




Wahid menikmati usia senjanya di desa. Dalam sungkup dingin udara pegunungan seraya menghitung titimangsa dari hari ke hari. Saban hari dia membuka kelopak matanya pada saat orang lain terasyik dalam buai lelap dengan mimpi masing-masing. Saban pagi dia menjejakkan kaki-kaki rapuhnya pada tetanahan dan rerumputan serta lelumutan di seputar rumahnya yang sederhana. Memandangi manik-manik embun di dedaunan jaran, secang, dan ketapang serta rerumputan teki. Menikmati kicau cerokcokan di mangar-mangar dan dahan-dahan kelapa, lalu melompat pada perdah-perdah ketapang, lalu berkejaran satu sama lain.

            Dan ketika mentari menyapa alam dengan sinarnya yang merah dari ufuk timur, Wahid pun duduk manis pada kursi terbuat dari anyaman bambu bikinan anak-anaknya. Di sana dia menghitung keriput kulitnya sembari menunggu cucu-cucunya datang menghadapnya. Mencium tangannya yang dingin sebelum meninggalkannya untuk berangkat ke sekolah atau bermain. Sesudah itu, ketika matahari perkasa mendaki bebukitan di ujung persawahan dengan pepadian yang siap berbuah, Wahid memasuki kamarnya. Kembali bersujud dan melinangkan air mata. Setelah itu dia keluar dari kamarnya bersama bebauan kopi bikinan istrinya membelai lubang hidungnya.
            “Kau sudah melupakannya, bukan?” Mutmainah istrinya sesekali mengajukan pertanyaan yang sama setelah dia menyelesaikan ritual paginya. Seperti juga pagi ini.
Wahid menyunggingkan senyum pada bibirnya, sembari menatap birunya langit dan bangau-bangau berjingkat-jingkat di antara pepadian di sawah.
“Aku bukanlah pendendam,” katanya.
“Tapi hatimu sakit,” kilah Mainah.
“Aku bukanlah pendendam,” ia mengulang jawabannya.
Mainah tersenyum di bibirnya, namun tersedu di hatinya. Laki-laki yang dibanggakannya ini masih saja bergupak dalam kubang duka. Masih saja tersekat dalam semak luka. Tanpa bisa melepaskan diri. Padahal peristiwa itu terjadi puluhan tahun lampau ketika dia masih duduk sebagai orang kedua dalam jajaran sebuah kementerian di ibukota.
Awalnya, Wahid menerima kedatangan dua orang tamu penting setelah dia menyelesaikan salat zuhurnya. Tamu itu terdiri atas seorang lelaki dan seorang perempuan. Penting karena keduanya memang orang penting dalam jajaran partai yang juga diusung atasannya. Kedua orang itu membawa sebuah amplop besar yang dia sendiri belum tahu apa isinya. Wahid baru benar-benar mengetahui isinya setelah tiga orang petugas dari sebuah komisi yang bertugas membasmi korupsi menyusul di belakang kedua tamu pentingnya. Ketiga petugas itu membuktikan bahwa Wahid nyata-nyata menerima suap untuk proyek pembangunan gedung olahraga. Dalam amplop besar itu tersusun dengan rapi sebuah cek bernilai miliaran rupiah, ditambah lagi berupa mata uang dolar Amerika, dolar Australia, dan puluhan juta rupiah.
Wahid tergugu bersama leleran keringat yang mengalir deras di dahinya. Dia tak bisa membantah. Dia juga tak bisa mengelak ketika empat anggota kepolisian membawanya keluar dari ruangannya yang sejuk di kantornya bersama seluruh isi barang bukti di atas mejanya.
Hingga waktu asar datang, Wahid masih mendekam dalam tahanan kepolisian. Seorang polisi mengawalnya ketika dia melangkah ke masjid kantor polisi untuk menunaikan salat.
“Ehm, selama ini ke mana saja, Pak?” Wahid mendengar seseorang dengan kamera menggantung di lehernya menyapa. Nadanya begitu mengejek. Dia menoleh. “Kok baru sekarang sembahyangnya? Sudah berapa tahun tidak pernah sembahyang, Pak? Selama ini sibuk dengan proyek-proyek, Pak, sehingga tak sempat sembahyang?”
Wahid serta-merta lunglai. Di kursinya ia terduduk lemah dengan kepala tertunduk. Air matanya berleleran tanpa bisa dicegah. Kalimat itu benar-benar bagai godam yang memalu-malu seluruh kekuatannya. Kalimat itu bagai menyembilu hatinya menjadi irisan-irisan pipih yang menyakitkan.
Seingatnya, Wahid tak pernah menerima uang melebihi gaji bulanannya. Seingatnya, ia menggunakan mobil sedan mewah milik kantornya hanya untuk keperluan-keperluan dinas. Seingatnya, dia selalu pergi ke kantor dan pulang ke rumahnya hanya dengan mobil van sederhana miliknya. Seingatnya, dia hanya memiliki sebuah rumah sederhana di kawasan pinggiran kota. Seingatnya, anak-anaknya tetap berada di desa, menempati rumah keluarga warisan kedua orang tuanya. Seingatnya, dia tak pernah berkeinginan mengalirkan darah-darah haram dalam tubuhnya, istrinya, dan anak-anaknya. Seingatnya, dia juga hanya memiliki sebuah rekening tempat dia menyimpan dan mengambil gaji bulanannya. Seingatnya, dia juga tak pernah meninggalkan salat bahkan satu kali pun. Tapi, mengapa Tuhan tiba-tiba mengutus seseorang untuk menghujatnya sedemikian rupa? Apakah Tuhan tengah tertidur?
“Itu ujian, Pak. Itu ujian, Pak,” Mainah mengingatkan suaminya. Kalimat yang sama juga diucapkannya setelah suaminya menjalani hukuman, setelah Wahid kehilangan jabatannya, setelah dia kehilangan kehormatannya, harga dirinya, kebanggaannya, segalanya.
“Bapak tidak pernah sendirian. Ada begitu banyak orang yang bersimpati, meskipun mereka cuma bisa terdiam. Bapak juga masih memiliki aku, memiliki anak-anak, memiliki cucu, yang tetap membanggakan Bapak. Kami yang mengetahui Bapak luar dan dalam,” kata Mainah ketika membawa pulang suaminya ke kampung halaman mereka di sebuah desa terpencil di kaki sebuah gunung. Di mana kunang-kunang masih bisa dijumpai, dan manik-manik embun pagi masih setia menemani. “Yang penting Bapak tidak pernah berhenti mensyukuri segala  nikmat Tuhan. Harta dunia tak berarti apa-apa bagi kami, Pak. Kami ikhlas mengikuti jalan yang bapak pilih. Bapak imam dalam keluarga kita.”
Namun, hingga puluhan tahun kemudian, kalimat-kalimat yang diucapkan seseorang dengan kamera menggantung di lehernya itu tak benar-benar bisa pupus dari benak Wahid. Sesekali muncul begitu saja membuat Wahid kerap kembali tersuruk dan tersungkur dalam duka.
*
Ganjar, laki-laki itu, melangkah mendaki dalam sengal-sengal napasnya.  Tekadnya sudah bulat, meminta maaf kepada seseorang bernama Wahid yang tinggal di sebuah desa terpencil di kaki gunung. Bergunung rasa sesal dibawanya serta. Dia benar-benar menyesali ucapannya beberapa tahun lalu. Masih terngiang kata-kata yang diucapkannya kepada Wahid. “Ehm, selama ini ke mana saja, Pak? Kok baru sekarang sembahyangnya? Sudah berapa tahun tidak pernah sembahyang, Pak? Selama ini sibuk dengan proyek-proyek, Pak, sehingga tak sempat sembahyang?”
Setiap kali melangkah, Ganjar berharap bisa bertemu Wahid. Dia berharap pria itu masih hidup dan memberinya sepotong kata maaf. Ganjar tak ingin Wahid pergi membawa dosa-dosa dirinya setelah dia diperanjatkan oleh sebuah berita di semua koran ibukota beberapa waktu lalu: Wahid Dinyatakan Tak Terbukti Bersalah.
Alangkah lancangnya aku telah menuduh pasti bersalah seseorang yang sebenarnya aku sama sekali tak tahu menahu, Ganjar membatin. Benar hampir semua pejabat di negeri ini terlibat dalam korupsi, kolusi, dan nepotisme. Namun, hampir semua tidaklah berarti semuanya. Ada satu dua pengecualian. Dan Wahid salah satu pengecualian itu, sedangkan Ganjar telah menyamaratakan semuanya.
Di sebuah tebing, Ganjar yang letih dan sedih terduduk pada sebuah batu berbalut lumut. Menunduk. Meleleh air matanya bila mengingat kelancangannya. Dalam dekap lelap dan semilir angin yang membuat dedaunan menari, Ganjar bermimpi bertemu Wahid. Laki-laki renta itu memberinya sebuah pelukan lembut dan baris-baris kata maaf yang melegakan dadanya. “Aku bukanlah pendendam,” kata Wahid.
Ganjar menyungging senyum.
*
Di sebuah pagi berkabut susu, Wahid tiba-tiba merindukan pria itu, laki-laki dengan kamera menggantung di lehernya. Masih ingatkah dia pada kalimat penuh duri yang keluar begitu saja dari rerongga mulutnya? Tahukah dia betapa kalimat itu telah menggodam dan menyayat hati dan perasaannya menjadi serpih-serpih kecil? Di manakah pria itu kini?
“Pak....Pak...” seseorang menghampiri Wahid dalam gegas dan wajah dipenuhi butir keringat.
“Ada apa, Dani?” Wahid memandang pemuda bernama Dani itu.
“Kami...kami menemukan mayat di tebing sana!” Dani menunjuk ke sebuah arah. “Seseorang dengan kamera model lama di lehernya. Apakah dia tamu bapak?”
Wahid mengulas senyum. “Aku bukan polisi, Dani. Mengapa kamu tidak melapor ke kantor polisi saja?”
“Maksud saya...mungkin bapak kenal...”
“Mungkin aku kenal, mungkin juga tidak. Tapi, yang pasti, aku tidak punya janji bertemu kepada siapa pun hari kini, dalam sepekan kemarin, atau sepekan kemudian. Jadi, kamu laporkan saja ke kantor polisi,” kata Wahid.
Dani meluncur menuruni tebing. Wahid memandangi punggung pemuda itu sampai menghilang di balik tebing berikutnya. Dia lalu kembali ke kamarnya, menyanjung kebesaran Tuhan.
Dalam doa dia berucap, “Aku bukanlah pendendam, Tuhan.” Jakarta, Mei 2011




No comments: