Search This Blog

Wednesday, February 22, 2012

Cerpen Andini


Andini

Sintya merasa sebilah belati sangat lancip dan tajam langsung menghunjam tepat pada jantungnya. Sesuatu yang selama ini dikhawatirkannya akhirnya benar-benar terjadi: kehamilan Andini.

            “Aku benar-benar telah gagal sebagai wanita, sebagai istri, dan sebagai ibu,” Sintya meratap sendirian di ruang kamarnya setelah Andini mengaku sudah terlambat hampir dua bulan. Lalu apa kata Ferdi, suaminya, nanti? Dia tentu akan marah besar karena sebagai istri dan ibu, Sintya tak berhasil mendidik Andini dengan baik. Ferdi memang merestui hubungan Andini dan Antoni, namun dia tentu takkan membiarkan keduanya menikah cepat dan lebih-lebih karena kecelakaan.
            Tak ada yang salah pada diri Antoni. Tubuhnya atletis. Kulit putih. Tampan. Bekerja sebagai teknisi yunior di sebuah perusahaan penerbangan swasta dengan penghasilan lebih dari cukup. Dia juga santun. Tak pernah terlibat narkoba dan minuman keras. Sebagai laki-laki dia idaman.
            Selama ini Sintya memang satu-satunya penghuni rumah itu yang tak merestui hubungan Andini dan Antoni. Karena dia tahu siapa Antoni. Satu-satunya kesalahan Antoni cuma karena dia memiliki ayah bernama Barja.
***
            “Ibuku marah besar, Ton,” Antoni mendengar suara Andini lewat telepon.
            “Wajar,” Antoni menjawab sambil terus memeriksa berkas-berkas di hadapannya.
            “Kamu kok seperti tanpa beban? Kamu nggak khawatir?” Andini memprotes.
            Antoni tertawa ringan. “Orang tua mana yang tak marah mendengar putrinya hamil? Itu melanggar aturan agama manapun. Kau pun akan melakukan hal yang sama jika kelak anak kita mengalami hal yang sama...”
            “Hus!” Andini memotong. “Anak kita?” Andini menyambung sesaat berikutnya. “Memangnya kamu yakin kita akan menikah?”
            Antoni kembali tertawa. “Yakin. Aku juga yakin kamu akan harakiri bila kutinggalkan,” Antoni mengakhiri kalimatnya dengan suara tawa.
            Udah ah. Jangan tertawa terus. Aku harus melakukan apa?”
            Nggak ada yang harus kamu lakukan kecuali menunggu. Lihat saja apa yang akan terjadi dalam beberapa hari berikutnya.”
            Andini menutup teleponnya bersamaan dengan dering telepon di atas mejanya. Dari Meme, atasannya di sebuah perusahaan multifinance. “Din, tolong periksa lagi laporan keuangan ya. Aku melihat ending balance-nya masih belum pas,” suara Meme singkat.
            “Oke bos!” jawab Andini lugas.
***
Ferdi menyudahi kemarahannya dengan tarikan napas dalam. Duduk di hadapannya, Sintya sama sekali tak berani mengangkat kepalanya.
            “Andini dan Antoni harus segera dinikahkan,” katanya.
            Bagi Sintya, kalimat itu menjadi sebuah vonis mematikan yang tak bisa dielakkannya. Segunung sesal menyumbat pernapasannya membuatnya tersengal. Ingin dikatakannya kepada suaminya siapa Antoni agar pernikahan itu tak pernah terjadi. Tapi, jika penjelasan itu sampai dikeluarkannya, sangat mungkin Ferdi akan membunuhnya. Atau mencampakkannya ke liang paling busuk sementara dia hanya bisa meratap dan pasrah.
            Laki-laki mana yang mau mendengar penjelasan perselingkuhan istrinya dengan pria lain? Suami mana yang secara ikhlas mau menerima kenyataan bahwa putrinya adalah anak hasil hubungan gelap istrinya dengan laki-laki lain?
            Sintya merebahkan tubuhnya di sofa di ruang depan setelah suaminya melangkah ke luar dan pergi entah ke mana. Wajah Barja, laki-laki yang telah melenakannya bermain-main dalam benaknya. Sintya melenguh membuang rasa sesalnya namun dia tak bisa mencampakkan kenyataan bahwa pada akhirnya dia baru bisa hamil setelah hampir empat tahun menikah. Dan itu terjadi setelah Barja mampu meluluhkan benteng pertahanan kesetiaannya pada Ferdi suaminya.
***
            Sintya yang membuat pertemuannya dengan Barja terjadi di suatu tempat setelah dia gagal menemukan cara untuk membatalkan pernikahan putrinya dengan Antoni. Dia sempat berpikir untuk melakukan perbuatan nekat dengan cara membunuh Andini atau Antoni agar perkawinan itu tak pernah terjadi. Namun dia tak cukup punya keberanian untuk melakukannya. Sintya merasa tak cukup punya latar belakang dan motivasi untuk bertindak seperti itu. Jika kelak dia tertangkap, polisi tentu akan terus mencecarnya dengan berbagai cara untuk mendapatkan alasan tindakannya. Dan dia tak cukup punya keberanian untuk berkata jujur. Sintya tetap ingin rahasianya dan Barja tetap jadi milik mereka berdua.
            “Yang aku inginkan pernikahan itu tak pernah terjadi,” ucap Sintya lugas.
            Barja menatap lekat mata wanita di hadapannya. “Kau tahu, tak ada yang bisa kita lakukan untuk mencegah perkawinan Dini dan Toni. Upaya-upaya itu tidak taktis. Itu justru akan membuat mereka penasaran dan ingin tahu alasan sebenarnya.”
            Kegalauan bergulung-gulung di dada Sintya. “Tapi mereka sedarah. Kaulah ayah mereka. Dini anak biologismu. Itu tak bisa dibantah.”
            “Tapi itu tak akan mengubah apapun. Kurasa kita cuma bisa pasrah pada kenyataan. Biarkan mereka menikah dan kita lihat apa yang terjadi nanti.”
            “Risikonya bisa sangat fatal, Barja.”
            Barja tersenyum getir. “Setidaknya rahasia kita tetap jadi rahasia kita. Orang lain mungkin cuma bisa menebak-nebak.”
***
Sintya didera rasa lelah luar biasa ketika dia harus memaksakan diri mengumbar senyumnya kepada setiap tamu yang datang ke pesta pernikahan Andini dan Antoni. Belum pernah dia merasa selelah itu. Sepanjang pesta berlangsung dia harus terus bersikap manis kepada semua orang, famili, sanak saudara, tetangga, dan teman-teman yang datang untuk memberi restu.
            Tak pernah terbayangkan semua ini pada akhirnya terjadi. Ingin rasanya Sintya mati saja agar penderitaannya berakhir. Atau ingin dia waktu berputar balik ke masa remajanya agar dia bisa menjalani kehidupannya dengan lurus dan tak pernah membiarkan laki-laki lain menjamah tubuhnya selain suaminya sendiri. Mungkin dia memang takkan memiliki anak dari Ferdi karena kemandulannya. Tapi dia bisa mengadopsi anak dari salah satu panti asuhan di kota ini. Itu bisa jadi lebih baik daripada memiliki anak kandung namun dari pria lain yang bukan suaminya sendiri.
            Kini, di balik gaun anggun yang dikenakannya, Sintya justru merasa menjadi wanita paling kotor di seantero dunia. Dia berdosa kepada Tuhan karena tak mematuhi ajaran-ajaran-Nya. Dia merasa sangat berdosa kepada suaminya karena telah melakukan pengkhianatan yang pasti takkan termaafkan bila suaminya sampai tahu.
            Di ujung sana, Sintya melihat Titik, istri Barja, dengan suka cita membalas ucapan selamat dari tamu-tamunya. Senyumnya lepas. Tawanya sumringah. Alangkah bahagianya jika dia menjadi Titik. Dia pastilah kini merasa menjadi perempuan paling sempurna. Seorang ibu yang bisa mengantarkan anaknya ke jenjang pendidikan tertinggi dan memiliki pekerjaan dengan penghasilan sangat memadai. Kebahagiaan Titik kini disempurnakan karena dia bisa mengantarkan sang anak ke pelaminan dengan Andini, seorang gadis cantik dengan pendidikan tinggi dan pekerjaan yang juga menjanjikan masa depan gemilang.
            ‘Mengapa Tuhan tidak menjadikan aku Titik saja, dan Titik menjadi aku,’ pikir Sintya.
***
            Titik tengah bersilonjor melepaskan penatnya ketika pesta perkawinan Antoni dan Andini berakhir. Telepon genggamnya berbunyi.
            “Tik,” Titik mendengar seseorang langsung menyebut namanya.
            “Siapa ini?”
            “Gusman.”
            Titik menarik napas.
            “Mau apa kamu?” dia bertanya sambil melihat sekeliling. Dia sendirian di tempat itu.
            “Ingin kuucapkan selamat atas perkawinan Antoni. Anak kita.”
            Titik terdiam. Ada sedikit debar di dadanya. Dia merasa seperti ada seseorang yang tengah mengawasinya walaupun kenyataannya tak ada siapa pun di sana. Terbayang wajah Gusman, laki-laki yang dicintainya sejak duduk di bangku SMA dan kemudian berhasil menceburkannya ke kubang dosa sebulan sebelum pernikahannya dengan Barja.
            “Kuharap ini yang terakhir kali kau menghubungi aku,” kata Titik dengan hati teriris. Diakuinya, Gusman adalah laki-laki yang telah mencuri hatinya dan hingga kini dia tak berhasil merebutnya kembali.
            Titik mendengar tawa kecil Gusman. “Ya, ini yang terakhir. Aku tak ingin mengusik kebahagiaanmu.”
            Dan, Titik pun menutup telepon itu. Lalu menghapus bintik keringat yang tiba-tiba menyembul di dahinya.


No comments: