Search This Blog

Thursday, September 2, 2010

ANGIN

Aba Mardjani

Angin

DALAM angin yang menderaikan rambut di dahimu, kerling matamu membuat hatiku luluh dan bersujud. Pekat hitam matamu memekat-hitamkan batinku.
*
Angin mendesau menampar-nampar wajahku ketika kupacu sepeda motorku menuju rumahmu di kencan kita pertama sesuai janji kita.
*
Kesiur angin yang mencandai dedaunan di depan rumahmu, juga kesiur bahagiaku menatap keteduhan pada wajahmu, pada senyummu, pada lembut suaramu.
*
Kurebahkan diri di ruang sempit kamarku malam itu ketika embusan angin berebutan masuk melewati kisi-kisi jendela. Indah senyummu mengantar lelapku.
*
Kubaca berita pagi. Angin beliung dan badai hujan melongsorkan bebukitan di sebuah desa dan menyudahi derita rakyat yang hidup dalam duka. Tak ada yang abadi.
*
Kutepis duka. Kupanggil angin. Ingin kusampaikan berita rinduku padamu. Hidup harus terus berjalan.
*
Minggu kedua kita duduk dalam sungkup dinginnya bioskop. Tapi, angin dari kursi sebelahmu itu melantakkan romantisme kita. Mualku nyaris memuntahkan pop corn dalam ceruk perutku.
*
Anginku lagi tak nyaman. Aku ingin absen dari kencan kita pekan ini.
*
Ingin kubawa kau dengan kapal pesiarku. Bercanda dengan angin di buritan kapal serba putih. Membaui wangi gerai rambutmu, menikmati desah kekagumanmu, di kapal pesiar impianku.
*
Tak ada embusan angin di lahat mendiang bundamu ketika kuhela azan dan iqamahku. Kau menitikkan air mata. Kutadahkan beningnya dengan sapu tanganku agar tak menodai tetanah kubur bundamu.
*
Kutambahkan angin pada roda sepeda motor bututku, sebelum kupacu dengan raungan suaranya menuju rumah di kencan kita di bulan ketiga. Aku disemangatkan oleh gincu tipis yang selalu kau oleskan pada tipis bibirmu.
*
Beliung angin mencengkeram pohon besar di ujung jalan. Rebah menutupi jalan. Banjir menggenang. Kutepikan sepeda motorku dan kubiarkan malam merayap melahap rinduku.
*
Aku tahu kau marah. Cintamu meleleh. Angin mengabarkan kau ingin benang putih antara kita pupus.
*
Pekan berikutnya kubonceng kau dengan sepeda motor bututku. Angin mempermainkan rambut pekatmu. Jangan nakal katamu ketika kurem dan bukit milikmu menerpa punggungku. Kau cubit pinggangku. Kau gigit punggungku.
*
Minggu kemarin kau bawa aku bicara politik. Politikus katamu seperti nelayan, yang berlayar sesuai arah angin. Aku diam saja. Politik tak pernah membuatku tergelitik.
*
Tiada angin tiada hujan, sontak kau kata ingin aku menikahimu segera.
*
Kutinggalkan kau sementara. Kukirim rinduku untukmu bersama angin yang melintas di sebuah rumah di sebuah dusun. Semoga rinduku rindumu pula.
*
Kau bilang, aku angin-anginan. Kadang mesra tak alang, kadang cuek tak kepalang.
*
Kuterima SMS darimu di rembang petang. Katamu: jangan jadi serupa layang-layang yang hidup dari angin.
*
Kukecup pualam di dahimu. Embus angin napasmu menembus dadaku. Cintaku padamu adalah gedebur ombak yang tiada kenal lelah.
*
Pada kesiur angin di bebukitan teh kita duduk berdempetan. Jemari lentikmu menunjuk puncak gunung. Tinggi sekali katamu. Kubilang, cintaku jauh lebih tinggi dari itu.
*
Belikan aku sesuatu, katamu. Kurogoh saku celanaku. Yang kutemukan cuma angin.
*
Empat hari lalu aku terpaksa masuk rumah sakit. Pelipisku terpaksa dijahit. Semuanya karena penjahat yang menggenggam celurit. Angin sabetannya melukakan pelipisku. Di sana kau lihat ada sobekan sedikit.
*
Kau duduk termangu menatap penuh harap. Matamu nanap. Tanganmu bersedekap. Embusan angin pendingin udara di atas pembaringanku membuat rambut di keningmu meriap.
*
Angin meniup sehelai daun Kamboja dan menyentuh jemari kaki indahmu ketika kita menziarahi makan bundamu. Selalu ada sengguk dukamu dan bulir-bulir mutiara dari kedua sudut liang matamu.
*
Dua hari kemudian kau sudah berteriak-teriak di stadion menyaksikan pertandingan sepakbola sambil mengipas-ngipaskan wajahmu yang kepanasan dan kubaui terpaan angin wangimu.
*
Negeri ini kaya, katamu. Rakyat bisa sejahtera. Sayang banyak pejabat dan petinggi negeri masuk angin. Moralnya sakit. Bergunung uang rakyat pun raib dibawa angin.
*
Kau minta aku menutup pintumu saat kita berdua dalam kamar. Banyak angin masuk, tambahmu.
*
Sekali waktu kau bertanya, apakah dalam surga ada angin? Ah, aku tak tahu. Aku belum pernah masuk ke sana. Ketika pelajaran agama di sekolah pun aku kerap bolos.
*
Kukirimkan SMS ini untukmu, enam bulan setelah kita menjalin kasih. Hari ini aku tak bisa datang di ulang tahunmu, tulisku. Aku masuk angin. Lalu kau balas: jangan datang-datang lagi. Kita putus.

Jakarta, April 2010

No comments: