Search This Blog

Tuesday, April 19, 2011

Anak-Anak Tebing (1)


Anak-Anak Tebing

Pertama

“KABUUUUUR!”
Tanpa menunggu teriakan kedua dan ketiga dari Si Kurap Mukhlis, aku menyambar ‘harta benda’ milikku dan melompat serupa kijang mengikuti langkah-langkah panjang Si Dempul Jayadi, Jainudin Si Cabak, Rusli Yungyi, Si Cepot Halim, Rahmat, Yanto, Si Kampong Romli, Si Roy Rauf, dan entah siapa lagi. Tak ada yang berani menengok ke belakang dan menemukan sosok murka Wak Haji Loket yang hampir pasti tengah tertatih-tatih membawa tubuh kian rentanya untuk mengejar kami dengan golok terhunus di tangan kanannya dan tangan kirinya menyingsingkan kain sarungnya untuk memudahkan kaki-kaki ringkihnya berlari lengkap dengan sumpah serapahnya serupa lengking kereta tua.
            Medan gembur bertebing dengan kemiringan sekira 45 derajat sedalam sekitar 15m serta beberapa bagian diberi pagar setinggi dada sedikit menyulitkan kami untuk menyelamatkan diri dari kemungkinan kena amukan Wak Haji Loket. Namun, kami sudah sangat hafal ke arah mana kami harus berlari, di mana kami harus melompat, kapan harus bergulingan, dan kapan melodos dari lubang pagar penuh duri secang. Selama ini, Wak Haji Loket tak pernah bisa menangkap kami, bocah-bocah yang hampir setiap hari memancal pohon-pohon jambu monyetnya, memetik buah-buahnya. Untuk urusan berlari, Wak Haji Loket yang kutaksir sudah berusia 65 tahun jelas memang bukan padanan kami.
            “Mana Mukhlis? Si Acan?” aku bertanya di sebuah ceruk tanah sekira lima meter jaraknya dari empang Haji Sanusi yang di dalamnya selalu berenang-renang ratusan ikan mujair. Di tempat itulah kami biasa berkumpul setelah melewati Cepidit, istilah yang kami kenal turun-temurun, sebuah area seluas 10m x 10m berisi kuburan tua entah siapa.
            Si Kurap Mukhlis muncul dengan napas nyaris putus sebelum ada yang menjawab pertanyaanku. Sendirian. Tanpa Hasan, adiknya yang biasa kami panggil Acan. Bajunya tak lagi terkancing. Keringat berleleran di dadanya yang hampir sebagian dipenuhi kurap. “Mati, aku hampir kena serampang,” Mukhlis menjatuhkan tubuh lunglainya di sampingku.
            “Golok?”
            “Bukan. Potongan kayu bacang. Ujungnya berarang bekas dibakar. Kayaknya diambil dari tabunan di bawah pohon kokosan.”
            “Mana mungkin tega dia nyerampang Mukhlis dengan golok, Dul?” Rahmat menggaruk-garuk rambutnya yang agak gondrong sambil menatap aku. “Mukhlis kan masih keponakan Wak Haji Loket. Kalau sampai kena kan urusannya bisa berabe.”
            “Acan mana? Mana Si Acan?” Si Dempul Jayadi, memburu Mukhlis.
            “Jangan-jangan...” Mukhlis nampak berpikir. “Masih di atas pohon.”
            “Celaka!” Yanto mematahkan ranting rambutan di tangannya. “Bisa diremukkannya si Acan.”
            Nggak mungkin,” mulut Rahmat monyong. “Tenang saja, Lis? Wak Haji Loket memang galak. Tapi dia nggak gila. Nggak mungkin dia mencelakakan adikmu, Lis. Kalian ‘kan keponakan Wak Haji Loket.”
            “Belum tentu, Mat,” Rusli membantah. “Siapa tahu dia lagi kemasukan setan Cepidit? Lagi datang gilanya.”
            “Hus, jangan ngomong sembarangan lu!” sambar Rauf. “Percaya sama aku,” Rauf menenangkan Mukhlis yang nampak makin resah. “Paling nggak, Wak Haji Loket nggak dikenal suka makan orang.”
            Aku mengeluarkan harta bendaku. Maksudku, apa yang sudah kudapat dari kebun jambu monyet Wak Haji Loket. Lima buah jambu monyet yang ranum dan siap disantap. Jayadi dan Jainuddin adiknya, Halim, Rahmat, Yanto, Rusli, Rauf, juga ikut mengeluarkan ‘penghasilan’ mereka. Ada yang mendapatkan lima jambu monyet seperti aku, ada pula yang baru tiga buah dan dua buah. Sebagian jambu-jambu ini merupakan hasil petikan Acan.
            “Jatahku dua buah untuk Acan,” kataku. “Tapi, mana dia orangnya?”
            Mukhlis kembali nampak gelisah. Dia mengkhawatirkan sesuatu yang buruk terjadi pada adiknya yang memang biasa memancal pohon jambu monyet milik pamannya karena dia paling pandai memanjat pohon jambu monyet, terutama pohon yang besar yang tumbuh gagah di hook tebing, pohon yang akar-akarnya berpilin-pilin di atas tanah dan kerap jadi tempat kami bermain-main sembari bersenda-gurau.
            “Ayo kita cari,” ajak Si Kampong Romli.
            “Kamu berani?” Si Roy Rauf, memandangi adiknya.
            “Berani kalau kita semua pergi mencarinya,” tantang Kampong.
            “Biar abang saja yang pergi. Kamu pulang saja. Bantu emak mengisi bak mandi. Hari sudah mulai sore. Kalau emak sampai marah, kita semua jadi berabe.”
            “Kita semua?” aku mengernyitkan dahi.
            “Maksudku, aku dan adikku.”
            Meskipun dengan wajah merengut, Romli tak berani membantah kata-kata abangnya. Bersama matahari yang makin turun dan sinarnya terhalang berbagai jenis pepohonan di kampung kami, Romli meninggalkan kami. Langkahnya nampak begitu malas. “Cepat! Jangan letoy kayak Bang Dani!” Rauf membentak adiknya. Bang Dani yang dimaksudnya adalah laki-laki waria yang usianya kini kutaksir sudah 35 tahun. Nama lengkapnya Hamdani.
            Sekira Romli berjalan 10 meter, dengan sigap kami melompat meninggalkan tempat kami berkumpul. Kami harus menemukan Acan, yang kami yakin masih berada di atas pohon jambu monyet sejak Mukhlis berteriak meminta kami kabur untuk menyelamatkan diri.
*
            Sambil mengendap-endap takut bertemu Wak Haji Loket yang kami pastikan tengah megap-megap setelah gagal menangkap kami, kami kembali melangkah menuju pohon jambu monyet paling besar yang tumbuh gagah di atas tebing. Di bawahnya menganga empang milik Haji Juk, anak tertua Wak Haji Loket. Airnya hijau seperti perasan daun cingcau.
            “Ssst...” Halim memberi kami isyarat. Telunjuknya mengarah ke ujung barat jalan. Mata kami mengarah ke sana. Wak Haji Loket tengah bersandar di pohon kecapi yang tinggi menjulang sekira 20 meter. Tubuh Wak Haji Loket membungkuk. Mungkin sedang mengambil napas. Dalam hati aku kasihan juga. Tapi, berbuka puasa tanpa buah jambu monyet rasanya kurang lengkap. Jadi, biar pun selalu dilarang orang tua, kami tetap membandel. Seperti hari ini. Kami tetap mencuri jambu monyet di kebun Wak Haji Loket yang memang sangat banyak. Di kampung kami, Wak Haji Loket-lah yang paling banyak memiliki tanah. Ribuan meter jumlahnya. Sebagian di antaranya merupakan kawasan bertebing. Di bawahnya terhampar persawahan dengan gergumuk di tengah-tengahnya. Di sebelah timur, terdapat kampung Gandaria, kampung kakekku almarhum.
            Masih dari kejauhan, kami mencari-cari sosok Hasan yang kami yakini masih nangkring di atas pohon jambu monyet. Matahari makin terbenam di ufuk barat dan rerimbunan pohon kecapi, sawo, rambutan, kososan, melinjo, dan pohon timbul, membuat suasana makin gelap.
            “Itu Acan!” Si Yungyi Rusli berteriak tertahan. “Di cabang sebelah kanan.”
            Kami bernapas lega sekaligus kasihan melihat Hasan masih tertahan di atas pohon sementara hari kian gelap. Kami juga mengkhawatirkan dia terjatuh. Siapa tahu perutnya yang lapar karena puasa akan membuatnya lemas.
            “Ayo kita berdoa,” ajakku begitu saja.
            “Berdoa? Untuk apa?” Si Cepot Halim tak mengerti.
            “Berdoa supaya Wak Haji Loket segera pulang dan Hasan tahan di atas pohon,” kataku.
            “Betul juga, Dul,” Rahmat mendukungku. “Tapi, apa doanya?”
            “Baca fatihah saja. Baca alhamdu,” Rauf menyambung.
            “Setuju, Roy. Ayo kita baca fatihah,” kataku. “Tundukkan kepala, minta sama Tuhan dalam hati.”
            Kami pun menundukkan kepala dan khusyuk berdoa. Beberapa saat kemudian, kami melihat Wak Haji Loket meluruskan tubuhnya. Setelah menoleh ke kiri dan ke kanan --mungkin masih penasaran karena lagi-lagi gagal mendapatkan buruannya-- Wak Haji Loket melangkah pergi meninggalkan kebunnya. Kami pun bernafas lega. Tuhan agaknya benar-benar mengabulkan doa kami.
            “Turun, Can!” Mukhlis memberi isyarat supaya adiknya segera turun dari atas pohon. Tanpa diperintahkan dua kali, Hasan turun serupa berlari karena besarnya dahan-dahan pohon. Selain itu, ia juga sudah sangat hafal lekuk dan likunya.
            Masih dengan terengah, Hasan segera bergabung dengan kami. “Hampir saja, Can!” aku meninju punggungnya. Hasan senyum-senyum.
            “Sekarang kita bubar. Pulang ke rumah masing-masing,” kataku seraya memberinya dua buah jambu monyet yang tadi dipetiknya. Rahmat yang juga memegang lima jambu, memberinya pula dua buah.
            “Sudah, empat saja. Ayo kita bubar. Ini ‘kan hari pertama puasa. Kita harus berbuka puasa di rumah masing-masing,” katanya.
            “Jangan lupa, nanti kita kumpul pas tarawih di musholla Da’watul Khairat,” aku mengingatkan.
            “Beres,” jawab mereka serempak. Kami pun bubar.
*
            Selepas berbuka puasa, aku cuma bisa menghabiskan satu buah jambu monyet dari tiga yang kusimpan. Perutku rasanya seperti sudah hendak meledak karena kepenuhan makanan. Mulai dari sepiring nasi dengan lauk ayam goreng dan sayur santan bikinan ibu. Sebelumnya, segelas kolak ubi merah campur pisang dan tapai singkong sudah kujejalkan ke dalam perutku. Kalau tidak diteriakkan emak, mungkin segelas es buah juga sudah lewat dari kerongkonganku.
            “Makan nasi dulu, Dul!” hardik emak membuat gelas dalam genggamanku nyaris terjatuh. “Kalau belum makan nasi, jangan dulu makan yang lain-lain.”
            Tak sepenuhnya bisa kupatuhi titah emak karena sudah telanjur. Karena itu, aku hanya menyendok sedikit nasi supaya emak senang.
            Setelah menyudahi seluruh ritual berbuka puasa, laksana burung buru-buru aku terbang ke musholla Da’watul Khairat. Ternyata jamaah salat Magrib sudah bubar. Aku terpaksa salat sendirian dan karenanya rela terganggu oleh suara beduk yang ditabuh bertalu-talu oleh teman-temanku. Benar-benar memekakkan telinga. Aku sendiri jadi tak sabar ingin segera bergabung dengan mereka, menabuh beduk sampai waktu Isya datang.
            Si Dempul Jayadi yang sedang menabuh beduk ketika aku menyelesaikan salat Magribku. Iramanya mengasyikkan kalau Si Dempul yang melakukannya. Sesekali dia menghentak keras, sesekali lembut, pantatnya bergoyang-goyang. Si Cabak Jainuddin, adiknya, bertepuk-tepuk tangan. Si Yungyi Rusli menggetok-getok perut beduk dengan sebongkah batu bata merah. Percikannya terpental ke mana-mana. Di sebelahnya, Si Roy Rauf asyik mengadu-adu dua batu koral mengikuti irama pukulan beduk Jayadi.
            “Dilarang joget!” Si Cepot Halim berteriak. Kami mengerti. Meskipun dikenal bandel dan nakal, pantang bagi kami berjoget di lingkungan musholla. Soalnya, Bang Kasim, bapak Si Yanto, sering marah dan melemparkan bongkahan-bongkahan tanah kepada kami jika dia memergoki kami memukul beduk sambil berjoget-joget seperti di bawah panggung orkes dangdut. “Goyang-goyang sedikit bolehlah,” Halim menyambung. Kami mesem-mesem.
            “Gantian, Pul!” aku berteriak kepada Jayadi setelah bosan ikut mengetuk-ngetuk perut beduk yang terbuat dari drum bekas minyak tanah.
            Jayadi memberikan kedua pukulan beduk yang panjangnya sekira 30 cm dengan ujung berbentuk bulat seperti pentol korek api, kepadaku. Dengan penuh semangat, aku pun melanjutkan irama pukulan yang tadi dilakukan Jayadi. Kami kian bersemangat setelah satu per satu jamaah salat Isya dan Tarawih mulai berdatangan, terutama para gadis-gadis sebaya kami. Sambil terus memukul beduk, sesekali aku mencuri-curi pandang mencari sosok Tutik, gadis anak Pak Haji Mahruf yang sedang aku taksir. Tahi lalat di ujung lubang hidung sebelah kanannya membuat aku selama ini sering tak bisa tidur.
            Tapi, aku harus benar-benar berhati-hati. Jangan sampai Halim, abangnya Tutik, tahu kalau aku, yang hanya anak seorang tukang kayu, naksir adiknya. Bagaimanapun ada perbedaan cukup besar antara keluargaku dan keluarga Tutik. Bapaknya, Haji Mahruf, salah satu pegawai teladan di Perum Peruri di kawasan Blok M. Punya gaji bulanan dan karenanya rumahnya terbuat dari batu, sedangkan aku, bapakku hanyalah seorang pedagang keliling. Hampir setiap hari bapakku berkeliling kampung menjajakan furnitur terbuat dari kayu. Kadang kursi jongkot, kursi kebon, rak piring, dipan, atau penggilasan. Untungnya tidak seberapa dan karenanya hingga kini rumahku terbuat dari kayu dan dindingnya terbuat dari pagar anyaman bambu.
            “Hei! Berhenti!” kudengar sebuah teriakan dari dalam musholla. Bang Tong Ajis merapikan kopiah bututnya setelah tadi mengambil air wuduk. “Pukul beduk Isya!” dia menambahkan teriakannya.
            Rahmat serta-merta menyambar salah satu pukulan beduk dari tanganku. Dengan sekali dorong, tubuhku yang jauh lebih kecil terpental. Ketika aku masih menyerapah, Rahmat sudah memukul beduk pertanda waktu salat Isya sudah masuk: der...der...der-der. Empat kali. Dua yang pertama dengan jeda, sedangkan dua yang berikutnya dipukul berturutan tanpa jeda. Sesaat kemudian, Bang Tong Ajis sudah melolongkan azan. Suaranya melengking keras melalui toa, loud-speaker berbentuk corong bungkus kacang asin yang diikat di ujung sebuah bambu betung sangat tinggi di dekat mihrab musholla. Allahu Akbar....Allaaaaaahu akbar....!
            Kami pun berebutan mengambil air wudu pada beberapa keran yang baru 6 bulan lalu dipasang. Sebelumnya, kami mengambil wudu pada sebuah kolam berukuran 1,5m x 3m. Untuk berwudu, kami biasanya naik ke atas sisi kolam yang dibuat selebar sekitar 30cm. Kecuali berkumur yang airnya kami buang ke luar kolam, kami biasanya mencuci tangan dan membasuh bagian wudu lainnya, termasuk kaki, langsung ke dalam kolam. Tak ada yang merasa jijik karena kami memang tak perlu merasa jijik. Bahkan, kadang-kadang, kami saling main ciprat-cipratan air sembari berwudu.
            “Siapa imam tarawih malam kedua ini?” Cepot menyenggol aku ketika aku sedang disibukkan dengan kain sarungku yang kekenduran dan kerap melorot.
            “Haji Ikin. Engkongmu,” aku menjawab sekenanya.
            “Wah, lama dong. Bacaannya lambat,” Si Cepot Halim menggerutu. Dapat kupastikan, Cepot takkan mau mengikuti salat tarawih hingga selesai. Ia pasti minggat selepas 8 atau 10 rakaat. Ia takkan mampu bertahan hingga 20 rakaat.
            “Kenapa bukan Haji Tong Ak sih?” Cepot mengikutiku bersila di dekat jendela musholla. Haji Tong Ak yang dimaksudnya adalah Pak Haji Ishak. Kami biasa memanggil bapak Si Sumadi itu dengan Haji Tong Ak. Tong di sini merupakan kependekan dari Entong, panggilan untuk anak laki-laki di kampungku. Haji Tong Ak merupakan salah satu imam di musholla kami. Bacaannya cepat seperti sepeda motor balap. Anak-anak seperti aku lebih suka imam yang cepat bacaannya karena dengan begitu salat tarawih pun jadi cepat selesai dan kami bisa dengan segera berbondong-bondong ke rumah Halim untuk menyaksikan acara-acara televisi di TVRI.
            “Kan gantian, Pot,” aku tersenyum melihat Hasan muncul dengan kopiah hitam yang nampak terlalu besar untuk kepalanya. Acan mendekatiku dengan senyum-senyumnya yang nampak malu-malu seperti kebiasaannya.
            “Nanti filmnya apa ya?” Acan setengah berbisik kepada Halim.
            “Ivanhoe,” Si Dempul tahu-tahu sudah berada di sebelah kiriku.
            “Bukan. Hawaii...Hawaii Five O,” kataku. Lalu terbayang wajah Jack Lord sang pemeran detektif Honolulu bernama Steve McGarrett yang gesit yang mengungkap kejahatan dibantu Chin Ho Kelly yang dimainkan aktor tambun Kam Fong. Ada juga Kono Kalakaua yang diperankan Zulu. Ah, pokoknya serulah. Film Hawaii Five O yang diproduksi untuk menghormati Hawaii sebagai kota ke-50 Amerika Serikat itu merupakan salah satu film kegemaranku.
            “Dul! Sudah komat,” Si Cabak Jainuddin menarik bagian atas lengan kaos oblongku hingga melar. Aku menampar tangannya sambil menggerutu.
            “Anak-anak jangan bercanda,” kudengar suara Wak Haji Ikin getas.
            “Yang suka bercanda di luar saja!” bang Idris menambahkan
            Namun kami bisa diam di awal saja, hanya ketika Wak Haji Ikin memulai salat Isya dengan membaca surat Al Fatihah.
            “Aaaaaa.....miiiiiiin......” kami berteriak keras-keras begitu Wak Haji Ikin menyudahi surah Al Fatihah-nya. Setelah itu, suasana jadi seperti sulit dikendalikan. Ada yang cekikikan. Ada yang senggol-senggolan, ada yang pindah tempat, ada yang menendang ke belakang. Suasana makin kacau ketika Rahmat menyambar kopiah Yanto dan melemparkannya ke belakang. Yanto pun berlari mengambil kopiahnya. Begitu kembali ke barisan, dia mencomot kopiah Hasan dan melemparkannya ke barisan terdepan. Melihat hal itu, beberapa anak tak mampu menahan geli.
            Kekacauan berlanjut ketika ruku. Hasan mendorong pantat Rusli di depannya membuat kepala anak itu menyundul pantat bang Radin di depannya. Lalu, pada saat sujud, tangan-tangan jahil kami kembali beraksi menyambar sesuatu di balik kain sarung teman-teman yang bersujud di depan. Siapa pun yang tersambar pasti tersentak kaget karena kebanyakan kami tak mengenakan celana pendek atau celana dalam ketika bersembahyang. Yang paling kusukai adalah mencolek sesuatu yang menjendul dari balik kain sarung bang Dani. Soalnya jendulannya paling menonjol. Bang Dani sering marah-marah, tapi dia tak tahu kepada siapa harus meluapkan kemarahannya. Biasanya, setelah salat selesai, tak seorang pun berani berada persis di belakangnya. Siapa pun yang sudah menjawilnya, pasti langsung pindah ke tempat lain. Tinggallah bang Dani menyerapah-nyerapah sendirian sambil memainkan iris matanya ke kiri dan ke kanan. Dan, kami pun mencekikik tertahan.
*
            Halim yang paling dulu hilang sebelum salat tarawih berjalan 6 rakaat. Hal itu tentu saja membuat yang lain, termasuk aku, jadi gelisah. Kami ingin salat Isya dan Tarawih buru-buru selesai agar kami bisa segera nongkrong di depan pesawat televisi hitam putih seukuran 14 inci di rumah Halim. Ada film Hawaii Five O kegemaranku.
            Halim cengangas-cengenges ketika kami berbondong-bondong datang ke rumahnya, lengkap dengan selempang kain sarung masing-masing. O, rasanya aku sudah tak sabar ingin menyaksikan aksi Jack Lord, Kam Fong Chun, Al Harrington, Herman Wedemeyer dan Peggy Ryan.
            Namun, setelah film hendak dimulai, gambar di televisi tiba-tiba mengecil. Kian lama kian mengecil. Halim dengan cepat menggoyang-goyangkan kedua capit yang menjepit dua kepala accu di belakang pesawat televisi.
            “Setrum accu-nya habis, brengsek!” Halim berteriak. Kudengar adik-adiknya, termasuk Tutik yang sedang kutaksir-taksir, ikut mengomel-ngomel.
            “Kenapa tadi tidak disetrum sih?” Imas, adik Halim yang lainnya, cemberut.
            “Tadi ‘kan masih ada. Kirain masih cukup untuk malam ini,” kata Halim.
            Aku garuk-garuk kepala. Gambar di pesawat televisi 14 inci itu tinggal dua senti memanjang. Wajah para pemainnya meleyat-meleyot. Halim pun menekan tombol off pesawat televisinya.
            “Ayo ke musholla!” teriak Si Dempul. “Kita tadarusan saja!”
            Dan, kami pun berduyun-duyun kembali ke musholla dengan langkah-langkah lunglai.*

No comments: