Search This Blog

Wednesday, May 1, 2013



DALAM upaya terus meningkatkan kualitas SSB (Sekolah Sepakbola) sebagai kawah candradimuka pesepakbola andal di masa depan, Ketua Umum ASSBI (Asosiasi Sekolah Sepakbola Indonesia), Taufik Jursal Effendi, terus melakukan langkah-langkah konkret. Salah satunya adalah membuat standar sekolah sepakbola Indonesia yang berafiliasi ke ASSBI.
Jadi,  jika Anda ingin mendirikan SSB, atau ingin mengetahui sejauh mana kualitas SSB yang ingin anak Anda masuki, maka perhatikan beberapa batasan SSB berikut ini.
Dalam konsep ASSBI, SSB di Indonesia terdiri atas tiga kategori: bina bola; SBI (Sekolah Bola Indonesia) bintang 1, 2, dan 3; dan Akademi Sepakbola Indonesia.
Bina Bola merupakan klub yang membina pemain namun belum memenuhi standar persyaratan minimal yakni SBI Bintang 1.
SBI Bintang 1 terdaftar di Komda ASSBI dan ASSBI Pusat dengan lapangan layak pakai, memiliki manajemen kepengurusan baik, fasilitas latihan tersedia, sudah berjalan sedikitnya 3 tahun, minimal punya 2 kategori usia, jadwal latihan tertata baik (jumlah pemain tak melebihi 23 dalam sebuah latihan), rasio pemain-pelatih 20:1. Selain itu, staf pelatih harus berlisensi D dan bersertifikat P3K dengan gaji Rp 1,2 juta hingga Rp 1,7 juta (4 kali latihan per pekan) plus pelatih kiper. Biaya pendaftaran maksimal Rp 350 ribu per siswa, biaya bulanan maksimal Rp 100 ribu per bulan. Untuk pemain U-12 bermain 4v4 hingga 7v7.
SBI Bintang 2 memiliki persyaratan kurang lebih sama dengan sejumlah perbedaan antara lain sudah terbukti berjalan selama 7 tahun dan rasio pemain-pelatih 15:1. Pelatih kepala juga harus berlisensi C dengan staf berlisensi D plus pelatih kiper. Gaji pelatih berkisar antara Rp 2,2 juta hingga Rp 3,2 juta per bulan (5 kali latihan). Biaya pendaftaran tak lebih dari Rp 750 ribu dan biaya bulanan maksimal Rp 300 ribu.
SBI Bintang 3 juga harus terdaftar di ASSBI, utamanya pusat untuk kemudian direkomendasikan terdaftar di PSSI. Selain lapangan yang harus sangat bagus, manajemen juga sangat rapi. Tersedia tenaga fisio, dokter, dan rumah sakit meski bentuknya bisa saja kerja sama. Rasio pemain-pelatih 10:1, selebihnya harus ada asisten. Gaji pelatih antara serendah-rendahnya Rp 3,8 juta dengan 6 kali latihan per pekan. Lisensi pelatih kepala harus B AFC dan C untuk para asisten. Pelatih kiper juga harus bersertifikat. Selain fasilitas latihan standar, harus juga tersedia kamar ganti, mini bus, dan lainnya. SSB Bintang 3 juga harus terbukti eksis selama 10 tahun. Pendaftaran maksimal Rp 2,5 juta dan biaya bulanan maksimal Rp 1 juta.
Akademi, secara umum, hampir sama dengan persyaratan SBI Bintang 3. Bedanya, akademi justru tidak menarik biaya dari siswa alias gratis karena didanai sponsor dan pemain-pemainnya merupakan siswa dengan status kontak serta siap dijual ke klub-klub yang membutuhkan pemain.


No comments: