Rumah
di Desa
Cerpen: ABA MARDJANI
WAJAH Catherine membinar ketika sore itu memperlihatkan
sebaris kalimat singkat di layar ponsel kepada suaminya. ‘Iya. Mama dan Papa akan datang besok’.
“Betulan?” Ahlan
tak mampu membendung rasa gembira yang menyesaki dadanya. Dilahapnya wajah istrinya. Ia
mendapati air bening di sudut mata kanan istrinya siap menetes seperti sisa
embun di pucuk-pucuk kamboja. “Kamu mau nangis?”
Catherine menerkam
tubuh suaminya. Memeluk erat seperti pasangan yang baru bertemu setelah
perpisahan lama. Ia sesenggukan menahan tangis. Di usia hampir setengah abad,
baru kali ini Catherine merasa benar-benar bahagia. Padahal ia yakin itu baru
awal dari kebahagiaan sesungguhnya manakala ibu dan ayahnya hadir mengunjungi
rumahnya esok hari sesuai janjinya.
“Kalimat sakti apa
yang kamu sampaikan kepada mama dan papa sehingga mereka akhirnya memutuskan
mau datang?” Ahlan melepaskan pelukan istrinya dan menikmati wajah istrinya
yang telah dibasahi air mata.
“Kubilang ‘aku
rindu mama dan papa’. Itu saja,” jawab Catherine dalam sengguknya.
Beberapa saat
keduanya terdiam sampai kemudian Ahlan berkata bersama embusan napasnya, “Maafkan
aku yang terpaksa membuatmu menderita selama ini.”
“Siapa bilang aku
menderita, Pa? Aku bahagia dengan pilihanku menikah denganmu dan memilih
tinggal di desa ini. Tidak ada yang salah. Kini, hal itu tak perlu kita bahas
lagi. Lebih baik kita mempersiapkan diri dengan kehadiran Papa dan Mama dari
kota.”
Ahlan mengecup
kening istrinya. “Tuhan menyayangi kita. Tuhan tak pernah berhenti memberi
kebahagiaan kepada kita. Waktu demi waktu,” katanya. Catherine mengangguk dan
meninggalkan suaminya sembari membawa sisa-sisa senyumnya. Waktu magrib hampir
tiba.
Ahlan duduk bersila
di bagian depan surau mungil yang asri di Desa Cibaresah selepas salat magrib.
Semilir angin malam mulai berkesiur membuat pucuk-pucuk pohon menari-nari
gemulai.
“Wajah Pak Ahlan
ceria betul malam ini,” Badrul membuka percakapan seraya melepas kopiah hitam
di kepalanya.
“Seperti orang
habis dapat lotre,” sambung Hasnul sambil mencabut sebatang rokok dan
menyulutnya seolah ingin mengusir rasa dingin yang mulai menjalari tubuhnya.
“Iya. Saya memang
sedang bahagia betul hari ini,” Ahlan membuka mulut dan menyapukan pandangannya
ke wajah Badrul, Hasnul, Saijan, dan Mundari yang duduk membentuk lingkaran di
kanan dan kirinya.
“Bagi-bagilah
kebahagiaannya, Pak,” Saijan merapikan topi kupluknya.
“Ibu dan ayah
mertua saya mau datang besok,” Ahlan memulai.
“Wah, harus
disambut meriah itu, Pak,” Hasnul dengan cepat menyambar kalimat Ahlan. “Saya
baru dengar kabar tentang kedua orang tua Bu Catherine...”
Ahlan tertawa
lebar. “Pak Hasnul bisa saja. Meriah bagaimana itu?”
“Ya meriahlah.
Pokoknya meriah. Serahkan saja sama saya, Pak. Maksud saya kepada kami. Pak
Ahlan tahu beres sajalah,” kata Mundari. Wajahnya nampak semringah.
Ahlan menarik napas.
Jauh di lubuk hatinya ia benar-benar bersyukur memiliki sahabat-sahabat di desa
seperti Badrul, Hasnul, Saijan, dan Mundari. Merekalah pelengkap kebahagiaan
hidup yang diperolehnya di Cibaresah, sebuah desa terpencil yang dipilihnya
untuk menerapkan segala ilmu pertanian yang diperolehnya dari sebuah perguruan
tinggi di Bogor. Pilihan yang sempat ditentang kedua orang tuanya sendiri.
Namun, pertentangan terbesar datang dari ayah
dan ibu Catherine, wanita berbeda fakultas dan tingkat yang disuntingnya.
Ahlan tak ingin
menyalahkan ayah dan ibu mertuanya ketika mereka melarang putrinya mengikuti
suaminya tinggal di sebuah desa terpencil.
“Aku ingin kamu
seperti kakak-kakakmu, kerja di kantor megah di ibu kota. Itulah tujuan Mama
dan Papa menyekolahkanmu tinggi-tinggi,” kata ibu mertuanya kepada Catherine
ketika hampir 20 tahun lalu mereka menghadap untuk mohon pamit.
Tak ada yang
benar-benar berubah pada Amalia dan Ibrahim ketika pagi itu, 20 tahun kemudian,
keduanya menyusuri sebuah jalan kecil menuju Desa Cibaresah. Mobil jip besar
itu membuat tubuhnya seperti menari-nari ke kiri dan ke kanan, ke depan atau ke
belakang. Sesekali tersembur serapah dari bibirnya.
“Nenek sudah renta.
Tak lama lagi mungkin nenek mati. Juga kakek,” ujar Amalia sembari melirik
suaminya yang duduk di samping sopir. Dua gadis belia dan tiga anak laki-laki
yang duduk di kursi belakang diam mendengarkan. “Nenek ingin mati di
tengah-tengah cucu-cucu nenek seperti kalian,” ia menoleh kepada kedua gadis
yang duduk mengapitnya di kursi tengah. “Juga semua anak nenek. Karena itu,
nenek akan paksa Ahlan membawa pulang Cathy ke kota. Mereka tidak layak tinggal
di desa terpencil seperti ini.”
Amalia berhenti
sesaat. Mobil terus berjalan pelan untuk menghindari lubang-lubang kecil dan
besar serta batu-batu kecil di jalan.
“Sampai sekarang
nenek masih tetap tidak habis mengerti dengan jalan pikiran Cathy, tante kalian
itu,” ia melanjutkan kalimatnya. “Nenek menyekolahkan anak-anak supaya hidup
enak di kota. Apa-apa serba gampang. Nenek ingin Cathy seperti si sulung Andre
yang hidup enak sebagai direktur bank, atau Johan si nengah yang sekarang malah
diangkat sebagai kepala cabang perusahaan ekspor impor. Apa kurangnya?”
Tak ada yang
bersuara.
“Gaji mereka besar,
fasilitas mobil, rumah, apa saja ada.”
“Tapi, Nek,”
seseorang dari kursi belakang menyahut.
“Tapi apa?” tanya
Amalia tanpa menoleh.
“Tapi hidup kan
tidak selalu harus sesuai keinginan nenek. Orang bisa punya pilihan sendiri
yang dianggapnya baik, Nek.”
Amalia tersenyum
nyinyir. “Kamu, Rifki, rupanya mulai keracunan tantemu.”
Tak ada sahutan.
“Nenek setuju
dengan kebebasan memilih, tapi harus yang masuk akal. Bukan tinggal di desa
terpencil seperti ini. Apa yang mereka cari? Kebahagiaan seperti apa yang
mereka kejar?”
Tak ada yang berani
menyahut. Juga Ibrahim suaminya.
Beberapa saat
kemudian, mobil jip besar itu sudah memasuki ujung Desa Cibaresah. Sebuah
tanjakan tinggi menunggu di ujung jalan di hadapan mereka. Umbul-umbul
warna-warni nampak di kiri dan kanan sepanjang jalan.
“Umbul-umbul apa
ini?” Ibrahim bersuara. “Apa ada upacara? Ada pesta desa?”
“Mungkin saja, Pa,”
Amalia menyahut. “Mungkin ada kunjungan lurah atau kepala desa. Biasa itulah.
Namanya di kampung. Lurah pun bisa seperti presiden. Dihormati dari ujung kaki
sampai ujung rambut.”
Selepas tanjakan,
seorang lelaki menghentikan laju mobil. “Mau ke mana, Pak?” laki-laki
berpakaian batik itu bertanya kepada Ibrahim.
“Ke rumah anak
saya...”
“Pak Ahlan dan Bu
Cathy?” laki-laki itu menyergah.
“Betul.”
“Kalau begitu,
ikuti saja jalan yang diberi umbul-umbul ini, Pak,” kata laki-laki itu seraya
menganggukkan hormat.
Umbul-umbul itu memang mengarah ke sebuah
rumah besar terbuat dari kayu dan bambu. Halamannya luas. Nampak asri dengan berbagai
tumbuhan berbunga indah.
Begitu semua
penumpang turun, Catherine segera menyergap ibunya. Berpelukan lama dan
memuntahkan semua air mata kerinduan yang terpendam lebih dari 20 tahun. Di
belakangnya menunggu suaminya, satu anak perempuan, dan dua anak laki-lakinya
yang beranjak remaja. Beberapa saat kemudian, orang-orang desa berkerumun
mengitari mereka. Hampir setengah jam upacara pelepas rindu itu berlangsung
sampai kemudian Catherine dan Ahlan membawa mereka memasuki teras rumah yang
juga sudah dipenuhi warga.
“Bapak-bapak dan
ibu-ibu serta saudara-saudara sekalian,” terdengar sebuah suara melalui pengeras
suara. “Izinkanlah saya selaku kepala desa di sini, nama saya Pak Sambusir, menyampaikan
ucapan selamat datang kepada orang tua Ibu Catherine dan Pak Ahlan...” ia
berhenti sesaat.
Lalu katanya lagi,
“Bapak Ibrahim dan Ibu Amalia yang saya hormati beserta cucu-cucunya yang
datang dari kota, beginilah desa kami. Masih terpencil memang. Tapi,
kesejahteraan tak pernah jauh dari kami. Di sini kami hidup saling tolong
menolong. Saling membantu satu sama lain.”
“Mengapa kami bisa
hidup sejahtera?” Kepala Desa Sambusir melemparkan pertanyaan. “Harus saya
katakan Pak Ibrahim dan Bu Amalia, semua ini berkat kerja keras Bu Cathy dan
Pak Ahlan yang datang ke desa ini 20-an tahun lalu. Merekalah yang membantu
kami tata cara irigasi yang benar, bercocok tanam yang baik, beternak dengan
tekun, semuanya. Hasilnya sekarang terasa. Kami hidup sejahtera. Hidup bahagia.
Kami tidak kekurangan pangan dan sandang. Kami memang tidak hidup mewah seperti
orang-orang di kota. Karena apa? Karena kami tidak mengejar kemewahan. Yang
kami cari adalah kebahagiaan hidup. Hidup sehat, taat beribadat, saling hormat
dan saling bantu sesama tetangga dan saudara...” Kepala Desa Sambusir berhenti
sejenak. Mengatur napasnya.
Tak ada yang
bersuara.
“Karena itu, Pak
Ibrahim dan Bu Amalia,” Sambusir melanjutkan kalimat setelah meneguk air putih
di depannya. “Kami sangat menghormati Pak Ahlan dan Bu Cathy lebih dari saudara
atau bahkan orang tua kami. Hal itu dapat dibuktikan dengan kehadiran hampir
semua warga di sini. Kami tinggalkan dan tanggalkan semua kesibukan kami hari
ini demi menghormati kedatangan Pak Ibrahim dan Bu Amalia. Orang tua mereka
berarti orang tua kami juga....”
Tak ada kata yang
bisa diucapkan Amalia dan Ibrahim. Rasa haru membalut dada keduanya seperti
awan yang membalut pucuk gunung. Mereka terharu melihat kebahagiaan Cathy dan
Ahlan bersama tiga anaknya yang nampak begitu sehat dan segar.
Tiga hari kemudian,
sopir yang mengantarkan mereka ke desa itu menemui Amalia yang tengah menyantap
hidangan sarapan pagi bersama-sama.
“Jam berapa kita
balik ke kota, Bu?” ia bertanya kepada Amalia.
“Balik ke kota?” ia
balik bertanya, nyaris tanpa ekspresi. “Siapa yang mau balik ke kota? Mungkin
cucu-cucuku saja yang pulang ke kota. Aku dan Bapak akan tetap tinggal di sini.
Sampai aku bosan. Kalau tidak bosan, ya seterusnya aku tinggal di sini. Betul
begitu kan, Pak?” Amalia melirik suaminya.
“Siapa takut?”
jawab Ibrahim. Tak ada keraguan dalam nada suaranya.
*Perigi, Tanah
Kusir, 13 Agustus 2013
0 komentar:
Post a Comment