Search This Blog

Wednesday, February 12, 2014

House in the Village



Rumah di Desa

Cerpen: ABA MARDJANI

WAJAH Catherine membinar ketika sore itu memperlihatkan sebaris kalimat singkat di layar ponsel kepada suaminya. ‘Iya. Mama dan Papa akan datang besok’.

“Betulan?” Ahlan tak mampu membendung rasa gembira yang menyesaki  dadanya. Dilahapnya wajah istrinya. Ia mendapati air bening di sudut mata kanan istrinya siap menetes seperti sisa embun di pucuk-pucuk kamboja. “Kamu mau nangis?”
Catherine menerkam tubuh suaminya. Memeluk erat seperti pasangan yang baru bertemu setelah perpisahan lama. Ia sesenggukan menahan tangis. Di usia hampir setengah abad, baru kali ini Catherine merasa benar-benar bahagia. Padahal ia yakin itu baru awal dari kebahagiaan sesungguhnya manakala ibu dan ayahnya hadir mengunjungi rumahnya esok hari sesuai janjinya.
“Kalimat sakti apa yang kamu sampaikan kepada mama dan papa sehingga mereka akhirnya memutuskan mau datang?” Ahlan melepaskan pelukan istrinya dan menikmati wajah istrinya yang telah dibasahi air mata.
“Kubilang ‘aku rindu mama dan papa’. Itu saja,” jawab Catherine dalam sengguknya.
Beberapa saat keduanya terdiam sampai kemudian Ahlan berkata bersama embusan napasnya, “Maafkan aku yang terpaksa membuatmu menderita selama ini.”
“Siapa bilang aku menderita, Pa? Aku bahagia dengan pilihanku menikah denganmu dan memilih tinggal di desa ini. Tidak ada yang salah. Kini, hal itu tak perlu kita bahas lagi. Lebih baik kita mempersiapkan diri dengan kehadiran Papa dan Mama dari kota.”
Ahlan mengecup kening istrinya. “Tuhan menyayangi kita. Tuhan tak pernah berhenti memberi kebahagiaan kepada kita. Waktu demi waktu,” katanya. Catherine mengangguk dan meninggalkan suaminya sembari membawa sisa-sisa senyumnya. Waktu magrib hampir tiba.
Ahlan duduk bersila di bagian depan surau mungil yang asri di Desa Cibaresah selepas salat magrib. Semilir angin malam mulai berkesiur membuat pucuk-pucuk pohon menari-nari gemulai.
“Wajah Pak Ahlan ceria betul malam ini,” Badrul membuka percakapan seraya melepas kopiah hitam di kepalanya.
“Seperti orang habis dapat lotre,” sambung Hasnul sambil mencabut sebatang rokok dan menyulutnya seolah ingin mengusir rasa dingin yang mulai menjalari tubuhnya.
“Iya. Saya memang sedang bahagia betul hari ini,” Ahlan membuka mulut dan menyapukan pandangannya ke wajah Badrul, Hasnul, Saijan, dan Mundari yang duduk membentuk lingkaran di kanan dan kirinya.
“Bagi-bagilah kebahagiaannya, Pak,” Saijan merapikan topi kupluknya.
“Ibu dan ayah mertua saya mau datang besok,” Ahlan memulai.
“Wah, harus disambut meriah itu, Pak,” Hasnul dengan cepat menyambar kalimat Ahlan. “Saya baru dengar kabar tentang kedua orang tua Bu Catherine...”
Ahlan tertawa lebar. “Pak Hasnul bisa saja. Meriah bagaimana itu?”
“Ya meriahlah. Pokoknya meriah. Serahkan saja sama saya, Pak. Maksud saya kepada kami. Pak Ahlan tahu beres sajalah,” kata Mundari. Wajahnya nampak semringah.
Ahlan menarik napas. Jauh di lubuk hatinya ia benar-benar bersyukur memiliki sahabat-sahabat di desa seperti Badrul, Hasnul, Saijan, dan Mundari. Merekalah pelengkap kebahagiaan hidup yang diperolehnya di Cibaresah, sebuah desa terpencil yang dipilihnya untuk menerapkan segala ilmu pertanian yang diperolehnya dari sebuah perguruan tinggi di Bogor. Pilihan yang sempat ditentang kedua orang tuanya sendiri.
Namun, pertentangan terbesar datang dari ayah dan ibu Catherine, wanita berbeda fakultas dan tingkat yang disuntingnya.
Ahlan tak ingin menyalahkan ayah dan ibu mertuanya ketika mereka melarang putrinya mengikuti suaminya tinggal di sebuah desa terpencil.
“Aku ingin kamu seperti kakak-kakakmu, kerja di kantor megah di ibu kota. Itulah tujuan Mama dan Papa menyekolahkanmu tinggi-tinggi,” kata ibu mertuanya kepada Catherine ketika hampir 20 tahun lalu mereka menghadap untuk mohon pamit.
Tak ada yang benar-benar berubah pada Amalia dan Ibrahim ketika pagi itu, 20 tahun kemudian, keduanya menyusuri sebuah jalan kecil menuju Desa Cibaresah. Mobil jip besar itu membuat tubuhnya seperti menari-nari ke kiri dan ke kanan, ke depan atau ke belakang. Sesekali tersembur serapah dari bibirnya.
“Nenek sudah renta. Tak lama lagi mungkin nenek mati. Juga kakek,” ujar Amalia sembari melirik suaminya yang duduk di samping sopir. Dua gadis belia dan tiga anak laki-laki yang duduk di kursi belakang diam mendengarkan. “Nenek ingin mati di tengah-tengah cucu-cucu nenek seperti kalian,” ia menoleh kepada kedua gadis yang duduk mengapitnya di kursi tengah. “Juga semua anak nenek. Karena itu, nenek akan paksa Ahlan membawa pulang Cathy ke kota. Mereka tidak layak tinggal di desa terpencil seperti ini.”
Amalia berhenti sesaat. Mobil terus berjalan pelan untuk menghindari lubang-lubang kecil dan besar serta batu-batu kecil di jalan.
“Sampai sekarang nenek masih tetap tidak habis mengerti dengan jalan pikiran Cathy, tante kalian itu,” ia melanjutkan kalimatnya. “Nenek menyekolahkan anak-anak supaya hidup enak di kota. Apa-apa serba gampang. Nenek ingin Cathy seperti si sulung Andre yang hidup enak sebagai direktur bank, atau Johan si nengah yang sekarang malah diangkat sebagai kepala cabang perusahaan ekspor impor. Apa kurangnya?”
Tak ada yang bersuara.
“Gaji mereka besar, fasilitas mobil, rumah, apa saja ada.”
“Tapi, Nek,” seseorang dari kursi belakang menyahut.
“Tapi apa?” tanya Amalia tanpa menoleh.
“Tapi hidup kan tidak selalu harus sesuai keinginan nenek. Orang bisa punya pilihan sendiri yang dianggapnya baik, Nek.”
Amalia tersenyum nyinyir. “Kamu, Rifki, rupanya mulai keracunan tantemu.”
Tak ada sahutan.
“Nenek setuju dengan kebebasan memilih, tapi harus yang masuk akal. Bukan tinggal di desa terpencil seperti ini. Apa yang mereka cari? Kebahagiaan seperti apa yang mereka kejar?”
Tak ada yang berani menyahut. Juga Ibrahim suaminya.
Beberapa saat kemudian, mobil jip besar itu sudah memasuki ujung Desa Cibaresah. Sebuah tanjakan tinggi menunggu di ujung jalan di hadapan mereka. Umbul-umbul warna-warni nampak di kiri dan kanan sepanjang jalan.
“Umbul-umbul apa ini?” Ibrahim bersuara. “Apa ada upacara? Ada pesta desa?”
“Mungkin saja, Pa,” Amalia menyahut. “Mungkin ada kunjungan lurah atau kepala desa. Biasa itulah. Namanya di kampung. Lurah pun bisa seperti presiden. Dihormati dari ujung kaki sampai ujung rambut.”
Selepas tanjakan, seorang lelaki menghentikan laju mobil. “Mau ke mana, Pak?” laki-laki berpakaian batik itu bertanya kepada Ibrahim.
“Ke rumah anak saya...”
“Pak Ahlan dan Bu Cathy?” laki-laki itu menyergah.
“Betul.”
“Kalau begitu, ikuti saja jalan yang diberi umbul-umbul ini, Pak,” kata laki-laki itu seraya menganggukkan hormat.
Umbul-umbul itu memang mengarah ke sebuah rumah besar terbuat dari kayu dan bambu. Halamannya luas. Nampak asri dengan berbagai tumbuhan berbunga indah.
Begitu semua penumpang turun, Catherine segera menyergap ibunya. Berpelukan lama dan memuntahkan semua air mata kerinduan yang terpendam lebih dari 20 tahun. Di belakangnya menunggu suaminya, satu anak perempuan, dan dua anak laki-lakinya yang beranjak remaja. Beberapa saat kemudian, orang-orang desa berkerumun mengitari mereka. Hampir setengah jam upacara pelepas rindu itu berlangsung sampai kemudian Catherine dan Ahlan membawa mereka memasuki teras rumah yang juga sudah dipenuhi warga.
“Bapak-bapak dan ibu-ibu serta saudara-saudara sekalian,” terdengar sebuah suara melalui pengeras suara. “Izinkanlah saya selaku kepala desa di sini, nama saya Pak Sambusir, menyampaikan ucapan selamat datang kepada orang tua Ibu Catherine dan Pak Ahlan...” ia berhenti sesaat.
Lalu katanya lagi, “Bapak Ibrahim dan Ibu Amalia yang saya hormati beserta cucu-cucunya yang datang dari kota, beginilah desa kami. Masih terpencil memang. Tapi, kesejahteraan tak pernah jauh dari kami. Di sini kami hidup saling tolong menolong. Saling membantu satu sama lain.”
“Mengapa kami bisa hidup sejahtera?” Kepala Desa Sambusir melemparkan pertanyaan. “Harus saya katakan Pak Ibrahim dan Bu Amalia, semua ini berkat kerja keras Bu Cathy dan Pak Ahlan yang datang ke desa ini 20-an tahun lalu. Merekalah yang membantu kami tata cara irigasi yang benar, bercocok tanam yang baik, beternak dengan tekun, semuanya. Hasilnya sekarang terasa. Kami hidup sejahtera. Hidup bahagia. Kami tidak kekurangan pangan dan sandang. Kami memang tidak hidup mewah seperti orang-orang di kota. Karena apa? Karena kami tidak mengejar kemewahan. Yang kami cari adalah kebahagiaan hidup. Hidup sehat, taat beribadat, saling hormat dan saling bantu sesama tetangga dan saudara...” Kepala Desa Sambusir berhenti sejenak. Mengatur napasnya.
Tak ada yang bersuara.
“Karena itu, Pak Ibrahim dan Bu Amalia,” Sambusir melanjutkan kalimat setelah meneguk air putih di depannya. “Kami sangat menghormati Pak Ahlan dan Bu Cathy lebih dari saudara atau bahkan orang tua kami. Hal itu dapat dibuktikan dengan kehadiran hampir semua warga di sini. Kami tinggalkan dan tanggalkan semua kesibukan kami hari ini demi menghormati kedatangan Pak Ibrahim dan Bu Amalia. Orang tua mereka berarti orang tua kami juga....”
Tak ada kata yang bisa diucapkan Amalia dan Ibrahim. Rasa haru membalut dada keduanya seperti awan yang membalut pucuk gunung. Mereka terharu melihat kebahagiaan Cathy dan Ahlan bersama tiga anaknya yang nampak begitu sehat dan segar.
Tiga hari kemudian, sopir yang mengantarkan mereka ke desa itu menemui Amalia yang tengah menyantap hidangan sarapan pagi bersama-sama.
“Jam berapa kita balik ke kota, Bu?” ia bertanya kepada Amalia.
“Balik ke kota?” ia balik bertanya, nyaris tanpa ekspresi. “Siapa yang mau balik ke kota? Mungkin cucu-cucuku saja yang pulang ke kota. Aku dan Bapak akan tetap tinggal di sini. Sampai aku bosan. Kalau tidak bosan, ya seterusnya aku tinggal di sini. Betul begitu kan, Pak?” Amalia melirik suaminya.
“Siapa takut?” jawab Ibrahim. Tak ada keraguan dalam nada suaranya.
*Perigi, Tanah Kusir, 13 Agustus 2013

No comments: