Search This Blog

Saturday, September 4, 2010

BIDADARI DARI DESA


Bidadari dari Desa

Rabu, 12 November 2008 | 23:15 WIB

www.TPGImages

Cerpen: Aba Mardjani


BAGI Ratri, langit di Cibaresah selama sebulan ini selalu saja biru. Bagi gadis kecil itu, langit di Cibaresah adalah padang angkasa luas tempat karnaval awan-awan yang tak pernah jemu dinikmatinya setiap hari. Gumpalan kapas yang putihnya amat kemilau itu seakan tak pernah bosan memamerkan segala keindahannya yang mengagumkan. Langit Cibaresah seakan tak pernah memperlihatkan kepekatannya. Kalaupun langit itu menangis, air matanya selalu luruh di malam hari saat seluruh warga dibuai lelap.

Itu pun berupa tempias halus atau gerimis. Seingat Ratri, sejak bulan lalu, tak pernah ada hujan lebat di kampungnya. Langit seolah telah kehabisan airnya. Sama seperti Ratri yang tak mampu lagi mengalirkan air mata di kala ia menangis di malam yang sepi dalam dekapan dingin kampungnya.

Sebulan lalu kebahagiaan gadis berusia 7 tahun itu direnggut alam yang seolah murka. Bapak dan emak serta Giwo kakaknya pergi untuk selama-lamanya bersama luruhnya lereng bukit akibat pohon-pohon ditebangi warga secara serampangan. Sejak itu, tak ada lagi tempat bagi Ratri untuk mengadu dan berkeluh kesah.

Tak ada bapaknya yang selalu pulang dari kebun dengan seikat jagung muda di tangannya. Tak ada lagi ibu, wanita yang tak pernah kehabisan dongeng-dongeng indah atau terkadang lucu menggelikan. Dongeng-dongeng yang selalu dirindukan Ratri saat waktu tidur tiba. Tak ada lagi Giwo yang selalu berada di depannya bila ia disakiti teman bermainnya, laki-laki atau perempuan.

Ratri ingat sekali peristiwa setelah magrib kelabu itu. Ia tengah belajar mengaji di sebuah rumah tak jauh dari rumahnya. Sendirian karena Giwo membandel ketika disuruh ibunya pergi mengaji bersama Ratri. Ia bilang mau menyusul belakangan. Tiba-tiba ia dikagetkan oleh suara gemuruh. Lalu orang-orang berlarian menuju lokasi rumahnya yang telah tertimbun tanah longsor. Mereka berupaya menolong. Sebisanya. Dengan peralatan seadanya. Sambil terus berdoa dan berharap semoga orang-orang yang tertimbun tanah yang menggunung itu bisa diselamatkan.

Tapi bapak dan emak serta kakaknya tak lagi terselamatkan. Ratri menangis sekerasnya. Menjerit sekencangnya. Membelah kegelapan Cibaresah. Ia berharap orang-orang yang dicintainya terbangun mendengar lengkingan tangisnya. Ia berharap orang-orang yang selama ini menyayangi dan melindunginya bukanlah jasad-jasad yang kini terbujur kaku.

Tak ada yang bisa mencegah ketika Ratri kemudian menghabiskan hari-harinya di pekuburan bapak, emak, serta Giwo kakaknya. Di sana ia menemukan dunia baru. Dunia yang damai dalam terpaan angin lembut di bawah payung rindangnya pepohonan. Di sana ia bisa bermain masak-masakan sembari berceloteh sendirian. Tanpa rasa lelah dan bosan. Di sana ia kadang-kadang bermain boneka-bonekaan terbuat dari gumpalan kain bekas sembari sesekali cekikikan. Berada di antara pekuburan keluarganya Ratri tak lagi merasa sendirian.

Untuk makan Ratri tak pernah pusing. Setiap hari selalu ada warga yang membawakannya makanan. Apa saja. Dan Ratri memakan semua yang disuguhkan. Untuk tidur di malam hari pun Ratri tak pernah risau. Ia bisa membuang lelahnya dan kemudian lelap di mana ia suka tanpa ada yang tega melarang. Setiap balai-balai terbuat dari bambu yang ada di hampir semua teras rumah penduduk adalah tempat yang nyaman baginya. Dan, begitu kokok ayam jantan terdengar ditingkahi suara cerewet burung-burung prenjak yang kelaparan, ia membuka matanya.

Sama seperti pagi ini, ketika ia membuka matanya di balai-balai Pak Somad yang letaknya tak seberapa jauh dari kompleks pekuburan wakaf itu. Laki-laki setengah tua itu membelai rambut Ratri yang kusut karena tak pernah kena air dan disisir. Sepiring singkong rebus sudah tersedia di sampingnya. Aroma sedapnya membuat caping hidung Ratri kembang kempis.
"Ayo makan. Perutmu pasti kosong, Rat."

Pak Somad adalah tukang bersih-bersih kuburan yang setiap hari, tanpa diminta, dan tanpa bayaran, menjaga serta mengawasi Ratri. Ia yang selalu mengingatkan Ratri untuk beristirahat dari bermain bila matahari telah tergelincir dan sinarnya tumpah di pekuburan orangtuanya. Sesekali Ratri menurut. Sesekali ia seperti sama sekali tak mendengar suara Pak Somad dan terus bermain sampai matahari benar-benar menyelinap di balik perbukitan.

"Sudah hampir sebulan kamu begini, Rat," Pak Somad seolah bergumam. "Sayang sekali kamu tak mau diambil sebagai anak oleh Pak Jaya yang kaya raya itu."

Ratri terus menyantap singkong mentega berwarna gading itu. Matanya terus menatap pekuburan ketiga anggota keluarganya.
"Oya, hari ini Pak Somad dengar orang-orang kota yang sedang membuat film seram yang nantinya mau dimasukkan ke televisi itu akan datang lagi. Ini hari yang terakhir. Bagaimana menurutmu, Rat?"

Ratri tak menjawab. Terus mengunyah singkong. Diam-diam Pak Somad mengamati wajah gadis kecil di hadapannya itu. Diam-diam ia mengagumi garis kecantikan pada wajah bocah itu. Andaikan ia hidup bersama orang berharta dan berkecukupan, Pak Somad membatin, tentulah Ratri bakal terlihat amat cantik. Sayang ia tak bisa dibujuk untuk menuruti keinginan Pak Jaya, begitu Pak Somad mengenalnya, yang siap membawa Ratri ke kota jika ia bersedia. Pak Jaya adalah salah satu pemain film yang sangat ramah dengan para penduduk setempat.

Sekitar pukul sembilan pagi serombongan orang dengan pakaian serba indah datang lagi ke kompleks pekuburan wakaf itu. Seperti juga kemarin, kini pun para wanita-wanita jelitanya datang dengan wajah bening seperti tanpa bekas noda. Senyum mereka sumringah. Tak ada yang jelek di mata Pak Somad membuatnya tak mampu berkedip.

Yang mengherankan Pak Somad, hari ini tiba-tiba Ratri jadi berubah begitu ceria. Ia tanpa ragu-ragu mengungkap kekagumannya pada kecantikan wanita-wanita itu.

"Mereka cantik sekali. Wajah mereka bening. Kayak bidadari," katanya di telinga Pak Somad membuat Pak Somad terperangah. Belum pernah ia melihat Ratri seceria itu.
"Saya pun ingin seperti mereka."

Pak Somad agak terkejut. Dipandanginya wajah gadis itu. Wajah yang polos dengan gurat-gurat kecantikannya yang tak terawat. "Ratri bisa seperti mereka kalau Ratri mau," katanya dengan hati-hati. Ia masih menerka-nerka isi hati Ratri. "Bukankah sudah saya katakan bahwa Pak Jaya ingin mengambilmu sebagai anak? Kamu tinggal bilang ya, maka semuanya akan beres."

Tanpa diduga, Ratri mengangguk pelan membuat Pak Somad berjingkrak gembira. Saat itu juga jauh di lubuk hatinya melintas bayangan seorang bidadari cantik dari desa Cibaresah bernama Ratri yang kemudian menjadi terkenal. Agak tergopoh-gopoh ia kemudian menemui Pak Jaya. Laki-laki simpatik itu tengah istirahat di bawah pohon.

"Apa saya tak salah dengar?" laki-laki dengan kumis tebal itu memandangi wajah Pak Somad.
"Kalau benar begitu, besok saya jemput. Pak Somad bisa membantu Ratri membereskan segala sesuatunya."

***

Malam itu Ratri duduk sendirian di gubuk Pak Somad. Seperti malam-malam sebelumnya, malam itu pun langit memamerkan kebiruannya. Awan-awan putih yang bergumpal bagai cendawan berjalan beriringan.

Pada diamnya melintas kembali dalam benak Ratri tentang para bidadari yang tadi siang tampil untuk terakhir kalinya di desanya. Orang-orang menyebut bidadari-bidadari itu bintang film. Ia kemudian tersenyum. Terbayang wajah Pak Jaya, laki-laki yang sangat baik yang ingin membawanya ke kota.

Pelan-pelan Ratri lalu melangkah menuju pekuburan tempat ayah dan ibunya serta Giwo kakaknya berbaring. Di sana air matanya meleleh.

"Maafkan aku, emak, bapak, dan kak Giwo," suara Ratri pelan. "Besok aku akan pergi ke kota. Tapi, aku berjanji akan selalu datang menjenguk emak, bapak, dan kak Giwo."

Sepi menyungkup. Ratri menarik napas. "Malam ini, aku akan tidur di sini. Aku ingin minum dan mandi embun bersama bunda, bapak, dan kak Giwo."

Ratri merebahkan tubuhnya di sela-sela ketiga makam itu. Tanpa alas apa-apa. Dalam telentang ia pandangi birunya langit dan putihnya awan. Udara dingin membuat tubuhnya agak menggigil. Tapi Ratri tak peduli. Untuk terakhir kali sebelum meninggalkan Cibaresah, ia ingin betul-betul berada di dekat orang-orang yang dicintainya. Ia tak ingin meninggalkan mereka begitu saja. Beberapa saat kemudian, ketika embun bening mulai turun, mata Ratri pun terpejam.

***

Di pagi buta keesokan harinya Pak Somad menangis sekeras-kerasnya sambil memeluk Ratri. Tubuh itu telah lunglai. Di mata Pak Somad seluruh tubuh Ratri tampak begitu bening. Belum pernah ia melihat Ratri sebening itu. Ia bahkan lebih bening dibandingkan para bintang film yang kemarin berdatangan ke pemakaman itu. Ratri benar-benar telah menjelma menjadi seorang bidadari.

September 2005/Oktober 2008

1 comment:

DAPUR ABA said...

CERPEN SAYA DI KOMAS.COM