Search This Blog

Tuesday, September 14, 2010

MISTERI ALUNI

Oleh: Aba Mardjani

ALUNI memunguti bunga-bunga yang berserakan itu. Menyatukannya dengan bunga-bunga di atas tanah merah makam ibunya. Merapikannya dengan lembut seperti
ketika ia membelai sekujur tubuh renta ibunya ketika wanita itu terbaring lunglai oleh deraan penyakit. Sekuat tenaga ia membendung desakan air bening yang setiap saat siap membobol tanggul di sudut-sudut sembab matanya. Ia tak ingin tetes air matanya membasahi tanah makam ibunya dan membebani langkah ibunya di alam keabadian. Di sisinya Subhan suaminya membelai punggungnya, memberinya rasa tabah. Alisia, putri bungsunya menggelendot di punggung suaminya. Alida, Alung, Alin, dan Alan dengan sabar menungguinya dari kejauhan.
“Ayo pulang, bunda,” seruak Alisia dalam keheningan sore itu. Angin lembut berembus memberi kesejukan pada dada Aluni. Aroma bunga menebar. Matahari sore sedikit bersembunyi di balik mendung yang bias.
“Sabar, sayang,” Subhan memenangkan gadis berkulit putih dengan rambut diikat kuncir kuda itu. “Sebentar lagi kita pulang.”
Setelah itu Subhan kembali membelai punggung istrinya. Tak ada sepotong kata keluar dari bibirnya. Ia biarkan keheningan menyungkup. Ia tahu sejuta sesal menggumpal dalam dada istrinya. Aluni begitu terpukul oleh kepergian ibunya, satu-satunya orangtua yang dikenalnya. Sejak kecil ia tak pernah menikmati kasih sayang seorang ayah. Aluni bahkan sama sekali tak tahu siapa ayahnya. Sampai ibunya wafat. Ibunya pergi membawa rahasia hidupnya yang sangat ingin diketahui Aluni.
“Waktu aku kecil ibu mengatakan ayah pergi merantau ke negeri seberang,” Aluni bercerita sekali waktu. “Tapi, ketika ayah tak kunjung pulang dan aku terus menanyakan di mana ayah, ibu mengatakan ayah meninggal dunia di perantauan. Ibu bahkan pernah mengadakan acara tahlilan di rumah kami untuk mendoakan arwah ayah. Tapi aku akhirnya tahu bahwa itulah cara ibu agar aku tak lagi menanyakan sosok Ayah.”
Aluni tak pernah tahu mengapa ibunya tak ingin ia tahu siapa ayahnya. Padahal ia cuma ingin tahu laki-laki seperti apa ayahnya. Ia memang mendengar dari sana-sini perihal kisah cinta ibunya. Ayahnya pergi meninggalkan ibunya begitu tahu ibunya hamil sebelum keduanya menikah. Pergi entah ke mana. Ada yang mengatakan hubungan cinta mereka tak direstui orang tua ayahnya, seorang konglomerat di kotanya. Ayahnya kemudian disekolahkan ke luar negeri. Dan kekecewaan membawa ibunya pergi ke kota lain. Kota tempat di mana mereka kini tinggal.
Ada juga yang mengatakan ayahnya, pria yang menyemai benih dalam rahim ibunya, memang sengaja meninggalkan ibunya karena jatuh cinta kepada wanita lain. Selebihnya, Aluni tak ingin lagi mendengar tentang apa dan bagaimana ayahnya. Ia hanya ingin mendengar cerita yang sebenarnya dari ibunya. Ia ingin tahu pria seperti apa yang begitu dicintai ibunya sampai-sampai rela membiarkan hidup dalam kesendirian. Ia ingin mendengar penuturan ibunya tentang sosok laki-laki yang membuat ibunya rela menjadi ibu sekaligus ayah baginya. Rela membesarkannya seorang diri sembari menyembunyikan rasa malu jauh di kedalaman hatinya..
Namun semua harapan itu, segala keinginan itu, kini sia-sia belaka. Hilang tanpa bekas. Seperti air hujan yang kalis di daun talas. Seperti embun yang pelan-pelan meruap diterpa sinar matahari. Ibunya pergi membawa misteri terbesar dalam hidup Aluni. Ibunya benar-benar tak ingin ia tahu siapa ayahnya. Dan Aluni menyesal karena tak tahu mengapa ibunya memilih bersikap seperti itu.
“Sudah, bunda?” Subhan bertanya kepada istrinya. Membelah sepi. Suaranya penuh kehati-hatian. “Hormati pilihan ibu. Mungkin ibu menganggap itulah yang terbaik. Penyesalan bisa membuat batinmu lebih menderita. Keikhlasan akan membuatmu lapang menerima segalanya.”
Aluni menggenggam tangan suaminya erat. Tak ada kata. Dalam hati ia syukuri mendapatkan suami Subhan, pria dengan kasih sayang seperti mata air yang tak pernah henti mengalirkan kesejukan. pria yang mau menerima dirinya sebagaimana adanya.
“Apapun kita harus bangga punya ibu seperti mendiang, bunda. Ia tegar, kokoh, tapi penuh kelembutan.”
Nyaris menangis, Aluni kian erat menggenggam tangan suaminya.
***
Pria tua itu duduk di kejauhan. Di depan sebuah makam entah makam siapa. Tapi, di balik kacamata hitamnya, mata sendunya menatap segala gerak-gerik Aluni. Beberapa kali ia menyeka matanya, menghapus bulir air bening yang begitu saja keluar. Air mata yang tak pernah bisa mengurangi dukanya. Air mata yang keluar tanpa bisa menghapus penyesalannya. Air mata yang juga sama sekali tak bisa menghapus segala kenangan dengan wanita yang kini terbaring dalam kubur yang sedang dihadapi Aluni.
Dalam diri Aluni ia melihat sosok wanita yang beberapa puluh tahun lalu sangat ia cintai dan hingga kini masih tetap dicintainya. Wanita yang terpaksa ditinggalkannya hanya karena ia harus memenuhi keinginan ayahnya untuk menikah dengan perempuan lain. Wanita yang harus dicampakkannya hanya karena ia wanita biasa dan bukan dari kalangan berada. Kepasrahan wanita itu membuatnya merasa begitu berdosa. Perjuangan wanita itu membesarkan anak yang lahir dari benih cinta mereka membuat pria itu benar-benar tak berdaya dalam sesal berkepanjangan. Keikhlasan wanita itu membesarkan Aluni membuat pria itu benar-benar tak bisa membebaskan diri dari rasa bersalah tanpa maaf.
Sekali dalam hidupnya ia beranikan diri bertemu dengan wanita yang begitu dikasihinya seraya mengungkapkan keinginannya untuk menyambung benang yang telah putus. Ia temukan wanita itu setelah ia juga pindah ke kota yang sama.
“Tak perlu lagi,” tolak wanita itu. “Kau sudah punya keluarga sendiri. Kau sudah hidup bahagia. Aku tak ingin mengusik kebahagiaan keluargamu.”
“Tak ada lagi sisa cinta di hatimu untukku?”
Wanita itu terdiam. Sesangging senyum terulas di bibir merahnya.
“Cinta yang membuat aku ikhlas membesarkan Aluni, anak kita,” katanya dalam terawang kosong matanya.
“Aluni namanya,” pria itu bergumam. “Tahukah ia siapa ayahnya?”
Wanita itu terdiam beberapa saat. “Aku tak ingin ia tahu,” katanya pelan. “Aku tak ingin ia membencimu. Itu akan menjadi dosa baginya. Biarlah hidupmu sebagai misterinya.”
Pria itu menarik nafas. Ia tak tahu harus menerima kenyataan itu sebagai kegembiraan atau kedukaan.
“Asal kau tahu saja, hingga kini cintaku hanya untukmu,” kata pria itu dalam sekali helaan nafas. “Aku siap mengorbankan keluargaku sekarang demi mewujudkan cita-cita kita dulu. Aku sekarang pria dewasa yang berani memilih apa yang aku yakin baik untuk hidupku. Hidup kita. Hidupku selama ini penuh dengan penderitaan batin. Setiap saat aku bergulat dengan rasa sesal bahwa aku telah menghancurkan hati dan hidup seorang perempuan yang aku cintai. Setiap waktu batinku menangis.”
Sesangging senyum getir melintas di bibir wanita itu. “Tak boleh ada korban hanya demi secuil kebahagiaanku yang pasti juga takkan abadi. Tak boleh ada lagi hati yang hancur hanya karena kau ingin menghapus rasa bersalahmu. Bagiku kau sudah kumaafkan. Lebih dari itu, lukaku sudah lama sembuh. Aku hidup bahagia bersama Aluni. Aku tak ingin membagi kebahagiaan ini dengan orang lain. Juga dengan dirimu.”
Pria itu buru-buru menghapus bulir air bening di matanya. Di kejauhan ia melihat Aluni dan suaminya bangkit. Diikuti seorang bocah. ‘Ia cucuku,’ pria itu memendam tangis di hatinya.
Dengan langkah pelan Aluni meninggalkan kubur ibunya. Pria itu kemudian melihat empat remaja belia memapas Aluni. ‘Mereka pasti juga cucu-cucuku,’ pria itu kembali membatin. Sekuat tenaga ia menahan raung tangisan sesal yang menyesaki dadanya.
“Yah, kalau kuburan kakek di mana?” tiba-tiba saja bocah dalam gendongan Subhan bertanya, menerpa telinga pria itu ketika mereka melintas tak jauh dari tempat pria itu duduk seolah sedang berdoa bagi arwah makam di hadapannya.
Tak segera berjawab.
“Kok pada diam sih?” bocah itu seperti protes.
“Kubur kakek tidak di sini, Alisia,” Subhan menjawab.
“Di mana dong?”
“Kata nenek, kakek meninggalnya di luar negeri. Jadi, kuburnya pun di luar negeri. Bukan di sini.”
“Kasihan ya kakekku. Coba kalau di sini, Alis ingin kakek dikuburkan di sebelah kubur nenek. Biar masuk surga bersama-sama. Iya kan, Yah?”
Tak ada yang menjawab.
Pelan-pelan pria itu kemudian bangkit meninggalkan tempat duduknya dengan hati seperti tercabik. Pelan-pelan pula ia lantas melangkah mendekati tanah merah tempat di mana wanita yang begitu dicintainya dibaringkan dan kini sendirian. Sesaat kemudian ia telah duduk di dekat pemakaman itu. Beberapa saat ia membisu. Menyatu dalam senyap.
“Aku minta maaf atas segala dosaku kepadamu,” kata pria itu kemudian dalam duduknya. “Doaku semoga kau bahagia di sana.”
Dalam sisa sinar matahari sore itu, pria itu kemudian mendatangi kepala TPU yang sedang bersiap-siap pulang. Dengan setengah memaksa pria itu kemudian mengajak kepala TPU itu ke makam baru, makam wanita yang begitu dicintainya.
“Saya pesan kubur tepat di sebelah makam ini,” kata pria itu begitu keduanya tiba seraya menunjuk sebidang tanah kosong persis di sebelah kubur wanita itu.
“Untuk kapan, Pak?” tanya kepala TPU.
“Saya tidak tahu kapan saya akan dipanggil Tuhan.”
“Maksud Bapak, Bapak pesan untuk Bapak sendiri?”
Pria itu mengangguk.
“Maaf, Bapak siap membayar sewa makam seperti seolah-olah makam itu sudah terisi?”
Pria itu kembali mengangguk.
“Kalau begitu, administrasinya saya siapkan besok. Hari ini sudah terlalu sore.”
“Pesan saya cuma satu, jangan pernah menguburkan jasad lain di tempat yang telah saya pesan ini. Kalau itu terjadi, saya akan menuntut.”
“Tidak akan. Saya berjanji,” kata kepala TPU mantap untuk kemudian pergi meninggalkan pria itu.
Pria itu kembali duduk di ujung makam itu. “Kita memang tak pernah hidup bersama di dunia. Tapi, setidaknya, aku akan terus membuktikan cintaku dengan meminta dikuburkan di sebelahmu. Aku berharap dengan begitu kita bisa hidup bersama di alam sana,” gumam pria itu. Nyaris tak terdengar.
Tanah Kusir, medio Januari 2007

No comments: