Search This Blog

Wednesday, December 21, 2011

BELATUNG


Cerpen: ABA MARDJANI


Laku Sandra tiba-tiba saja jadi begitu memualkan. Mendadak dia menyusupkan wajah. Pelukan dan cengkeram kuku-kuku pada jari-jari tangan mungilnya menembus gaunku membuat aku hampir tidak dapat melangkah begitu kami keluar dari mobil dan aku siap berbelanja di sebuah pasar tradisional.

            “Ada apa, Ndra?” aku bertanya, menahan riak-riak galau di dada. “Kamu takut apa?”
            Gadis itu bungkam. Tetap menyembunyikan wajah serupa cacing kena papar sinar matahari. Kedua tangannya masih membelenggu langkahku. Aku coba berjongkok dan susah payah mengangkat wajahnya. Terpejam erat matanya setelah sesaat mencoba membuka. Aku terpaksa mendekapnya dan merasakan degup kencang dadanya. Beberapa saat berdiri dan sejumlah orang mulai memerhatikanku, aku membawa gadisku yang baru berusia delapan tahun itu melangkah memasuki pasar.
            Di dalam pasar, ancaman dan bujukan sama tak mempan. Sandra mengerut ketakutan. Beberapa saat kemudian menangis dan minta dibawa pulang. Aku tak memberiku pilihan lain.
            Di dalam mobil, belai pendingin udara tak langsung menghapus bintik-bintik keringatnya. Kini, aku jadi ketakutan.
            “Kita ke dokter kalau kamu sakit,” kucoba menenangkan dia seraya membelai rambutnya sambil mataku terus mengawasi jalan di hadapanku. “Kamu sakit, sayang?”
            Sandra menggeleng perlahan. Pekat iris matanya menatapku. Kuraba dadanya. Pelan-pelan dia mulai nampak tenang.
            “Kamu tidak sakit?” aku merasa lebih tenang. Kubatalkan niat menghubungi suamiku yang sesaat muncul. Aku tak ingin mengganggunya untuk urusan yang sebenarnya bisa kuatasi sendiri. “Tapi, mengapa tadi kamu seperti ketakutan?”
            Aku menginjak pedal gas lebih dalam begitu ruang di depanku longgar. Kuhela napas dan membuangnya sekaligus untuk mengusir remah-remah galau di dadaku. “Okelah kalau Ndra belum mau menjawab. Nggak apa-apa,” aku melanjutkan, membiarkan Sandra asyik dengan dirinya sendiri. “Mungkin nanti di rumah Ndra bisa ngomong.”
            Inah tergopoh muncul begitu aku memasukkan mobil ke dalam garasi. “Kok cepat sekali, Bu?” dia bertanya sambil menarik Sandra keluar dari dalam mobil.
            Nggak jadi belanjanya, Inah.”
            “Memangnya kenapa, Bu? Macet ya? Pasarnya tutup? Atau uang ibu ketinggalan?”
Aku cuma memberinya senyuman untuk berondongan pertanyaannya. “Nanti kita beli makanan jadi saja, Inah,” kataku kemudian setelah mendorong pintu mobil dan melangkah ke dalam rumah.

***

Pengakuan Sandra membuat mataku terbeliak.
“Bunda,” ia berkata, mengawalinya agak takut-takut. “Aku tadi melihat ular. Ada yang besar sekali, ada yang kecil...”
“Di pasar tadi?” aku memenggal ceritanya. Gadisku mengangguk pelan. “Mana mungkin di pasar ada ular, Ndra? Kamu....”
“Betul, Bunda,” Sandra kini yang mencegat ucapanku.
“Pasar itu tempat orang berdagang, anakku,” kubelai lagi rambutnya. “Ada yang jual sayur-mayur, kebutuhan rumah tangga, jual perhiasan, peralatan sekolah, pakaian, mainan...”
“Aku juga tahu, Bunda,” Sandra kembali memutus kalimatku, “tapi....”
“Apa?” kucoba menekan suaraku agar tak terdengar sebagai orang yang tak sabaran dan aku memang siap mendengar lanjutan ceritanya.
“Di sana aku melihat banyak sekali binatang, Bunda. Bukan cuma ular....”
“Apa?”
“Selain ular ada juga babi, anjing, kera, kambing, banyak sekali, Bunda. Hampir di mana-mana. Aku juga melihat orang-orang kecil dengan kepala besar. Aku takut sekali, Bunda.”
Aku memberinya senyuman. Bagaimanapun aku tak ingin membantahnya, meskipun bagiku hal itu sangat tidak masuk akal.
“Lalu, apa yang dilakukan binatang-binatang itu, Ndra?” aku malah jadi penasaran.
“Mmm, sama seperti penjual lainnya, Bunda. Binatang-binatang itu juga berdiri di dekat barang-barang yang ada di depannya.”
Susah payah aku menahan tawa. “Binatang-binatang itu juga berjualan maksudmu?”
Putriku mengangguk. “Bunda percaya?”
Kuhela napas. Kupermainkan mata. “Bagaimana ya? Apa Bundamu harus percaya?”
“Ya terserah Bunda saja.”
“Tapi, Ndra masih berani kalau misalnya hari Minggu depan kita ke pasar lagi?”
Anakku menggeleng.
“Kalau begitu, bagaimana mungkin Bunda mau percaya? Bagaimana kalau hari Minggu depan kita ke pasar lagi, lalu Ndra tunjukkan kepada Mama yang mana ularnya, keranya, babinya....” kugantung kalimatku untuk menanti reaksinya.
Sandra nampak menimbang-nimbang.
“Bagaimana ya?” ia seolah bertanya kepada dirinya sendiri.
“Binatang-binatang itu tidak garang, bukan? Mereka kan tidak menggigit kamu, tidak...”
“Ya, tidak, Bunda.”
“Kalau begitu, hari Minggu depan kita ke pasar lagi. Setuju?”
Putriku mengangguk berat.

***

Meskipun disaput rasa khawatir, hari Minggu berikutnya kubawa Sandra kembali ke pasar. Kusyukuri kali ini dia benar-benar tak lagi memperlihatkan rasa takutnya yang luar biasa seperti pekan sebelumnya. Sesekali dia berjingkrak terkejut ketika seorang pedagang tiba-tiba menegurnya, mengajaknya bersalaman, atau menjawil pipinya.
“Kenapa kamu?” aku bertanya ketika dia berlari dan kemudian seperti coba menyembunyikan dirinya sesudah seorang pedagang menjawil pipi. Dia tak menjawab.
Sekali waktu, Sandra juga nampak begitu akrab dengan salah seorang pedagang membuat aku justru merasa khawatir dan memberinya isyarat dengan mataku agar dia menjauh. Pada pedagang berikutnya, dia juga nampak asyik berada di belakang membuat si pedang sendiri merasa risih. Namun, pada kali berikutnya, Sandra juga tak berani mendekat sambil terus menekan hidungnya dan membiarkan aku berhadapan sendirian dengan si pedagang. Karena itu, sambil terus berbelanja, dadaku dipenuhi berbagai pertanyaan. Apa saja sebenarnya yang sedang dilihat putriku? Apakah di pasar ini berkeliaran hewan-hewan seperti yang dikatakannya?
Aku mengajak Sandra pulang setelah kedua tanganku dipenuhi barang-barang kebutuhan dapur.
“Akhirnya...” Sandra mengempaskan tubuhnya di kursi mobil di sebelahku. Seolah beban berat yang mengimpitnya tiba-tiba saja sirna.
“Kok akhirnya?” aku bertanya sambil menarik sabuk pengaman. “Pakai sabuk pengamanmu, Nak.”
“Akhirnya aku bebas, Bunda,” katanya. Tangannya menjemba tisu dan menggosok-gosokkannya pada dahinya.
“Bebas dari apa? Apakah kamu masih melihat banyak binatang?” aku penasaran.
Sandra mengangguk.
“Tadi aku kaget sekali, Bunda, waktu pipiku dijawil sama...”
“Sama...”
“Itu tadi kera, Bunda. Aku takut kuku-kukunya melukai pipiku.”
Aku ingin tertawa. Setelah berdiam sesaat, kuajukan lagi pertanyaan, “kalau yang satu tadi, yang kamu kelihatannya sangat akrab?”
Sandra nampak agak kemalu-maluan.
“Kok senyam-senyum begitu?” aku jadi penasaran karena dia tak segera menjawab.
“Kalau yang itu anjing, Bunda. Aku kan suka sama anjing. Dan dia baik sekali,” Sandra akhirnya menjawab.
Tawaku hampir pecah.
“Nah, kalau yang kamu terus berada di belakangnya? Itu apa?”
“Mmm, kalau yang itu ular besar yang baik, Bunda. Aku sering melihat di televisi ular besar yang jadi mainan. Jadi, aku tidak takut.”
Tawaku benar-benar meledak. Kegelianku membuncak, menumpuk. Susah payah kutahan. Aku tak ingin di matanya seperti orang yang meremehkannya dan menganggapnya tengah membual.
“Lalu, tadi Bunda lihat juga kamu menjauhi seorang pedagang sambil menutup hidungmu. Nah, yang itu apa?”
Sandra mempermainkan kedua belah bibirnya. “Itu....itu...babi hutan, Bunda. Dia mendengus-dengus. Busuk sekali baunya....”
Akhirnya tawaku pecah berderai. Ketika kuhentikan buncak kegelianku saat berikutnya, kudapatkan Sandra tengah cemberut. Dia lalu menyambar telepon genggamku dan menghubungi ayahnya.
“Ayah sedang apa?” dia bertanya. Sesaat kemudian dia mengoceh lagi. Mengulangi cerita yang baru saja dia katakan kepadaku. Sesekali dia terdiam. Sesekali dia cemberut. Sesekali nampak marah.
“Ah, ayah payah,” katanya ketika mobil berbelok ke sebuah rumah makan. Aku memang berniat membeli makanan jadi untuk makan siang hari ini. “Ayah sama saja seperti Bunda, tidak percayaan,” katanya seraya menutup telepon dan meletakkannya begitu saja di pangkuannya. Namun, ketika aku selesai memarkir kendaraan, telepon itu berdering. Buru-buru Sandra mengambilnya dan memberikannya kepadaku. “Dari ayah,” katanya dengan wajah masih disaput cemberut.
Kudengar suara sisa-sisa tawa suamiku. Ia lalu menceritakan ulang apa saja yang baru saja dikatakan putrinya sendiri. Kudengarkan sambil tetap duduk di kursi mobil. Mesin masih kunyalakan.
“Jadi, apa pendapat ayah?” aku bertanya setelah suamiku selesai bicara.
“Aku tak punya pendapat. Tidak ingin berpendapat,” jawab suamiku. “Biarkan saja Ndra berpendapat seperti itu, sesuai dengan apa yang mungkin benar-benar dilihatnya. Bisa saja benar, bisa saja semacam halusinasi atau ilusi. Atau apapunlah. Dia masih kanak-kanak. Dia mungkin saja punya kemampuan melihat yang berbeda seperti kita, melihat dengan tanda petik. Kalau memang benar seperti apa yang dilihatnya, ya itulah dunia. Penuh dengan segala pernak dan perniknya. Tak usah terlalu dipikirkan. Sekarang sedang di mana?”
“Di depan sebuah rumah makan. Bunda mau beli makanan jadi. Inah sedang kurang enak badan,” aku menjawab.
“Mmm, nanti malam Ayah akan bawa makanan jadi juga untuk makan malam. Pukul delapan mungkin Ayah sudah tiba di rumah. Hati-hati ya,” kata suamiku yang terpaksa bekerja pada hari Minggu untuk membereskan beberapa tugas yang belum diselesaikannya pada hari Sabtu.
Terik matahari serasa memanggang ketika aku dan Sandra keluar dari mobil. Sandra berlari ke dalam rumah makan langganan kami untuk menghindari panggangan sinar matahari. Aku menyusul di belakangnya.

***

Seperti katanya, suamiku tiba di rumah sekitar pukul delapan malam sambil membawa sejumlah tentengan di tangannya. Inah buru-buru menyambar dan membawanya ke meja makan. Sandra dengan cepat menarik tangan ayahnya untuk menemaninya mengerjakan PR seperti kebiasaannya.
“Yah!” aku sedikit berteriak ketika makan malam selesai disiapkan Inah. “Makan malam sudah siap!”
Suamiku muncul beberapa saat kemudian.
“Mana, Ndra?” aku bertanya kepadanya.
“Tengah membereskan buku-bukunya,” jawab suamiku seraya menarik kursi.
Lima menit kemudian putriku muncul untuk ikut makan malam. Sandra tak pernah melewatkan saat-saat makan malam bersama karena ayahnya kerap melucu sambil makan. Aku sebenarnya tidak begitu suka dengan kebiasaan suamiku, tapi aku tak bisa tak suka pada apa yang sangat disukai putriku.
 “Jangan dimakan dulu, Ayah!” dia setengah menjerit tiba-tiba. Berdiri terpaku di ujung meja. Aku dan suamiku tergagap. Dan diam. Menunggu.
“Itu bukan nasi, Yah,” katanya kemudian.
“Lho, jadi ini apa?”
“Belatung!”   Tanah Kusir, 270311









           

No comments: