Search This Blog

Tuesday, June 17, 2014

Novel: Istana Bawah Tanah (Bagian 1)

SEBUAH ranting kecil dan kering jatuh tepat di dahi Luter. Ia melompat bangun karena baru saja bermimpi seekor ular jatuh di atas kepalanya. Gelagapan ia mengibas-ngibaskan kepala untuk membuang ular kecil yang terasa masih berada di atas kepalanya. Sesaat kemudian ia baru menyadari hari hampir gelap dan ia masih berada di tengah hutan di atas gunung. Tak ada lagi jejak sinar matahari. Sorotnya terhalang gunung.

Luter menyerapahi dirinya karena terlalu lelap tertidur di hutan padahal ia tahu ibunya tengah menunggu ia pulang membawa kayu-kayu kering untuk memasak. Rasa kantuk dan lelah membuatnya coba memejamkan mata sejenak di bawah sebatang pohon pinus. Kayu-kayu kering yang sudah dikumpulkannya teronggok tak jauh dari ujung kakinya. Ketika itu matahari baru condong ke barat dan ia yakin bisa segera pulang sebelum waktu ashar tiba.

Tapi, kini hari hampir gelap. Luter yakin ibunya akan marah besar karena kelalaiannya. Ia merutuk-rutuk sembari membereskan kayu-kayu kering yang sudah dikumpulkannya. Ia ingin segera tiba di rumah dan siap menerima kemarahan ibunya. Atau ayahnya.

Namun, sesaat kemudian telinganya mendengar suara-suara aneh dari balik rerimbun lebat hutan di belakangnya. Luter kembali duduk dan berdiam diri. Ia ingin memastikan suara itu bukan suara hewan liar yang mungkin saja masih tersisa di hutan itu dan sangat mungkin akan memangsanya.

Kengerian melintas dan mengaliri darah dalam tubuh Luter. Dalam usia 14, ia tentu tak mungkin bisa bertahan jika yang datang adalah seekor harimau yang kerap mencari makan di malam hari.

“Sudah,  gali...”

Luter bernapas lega. Itu suara manusia. Tapi siapa?

Pelan-pelan ia bangkit untuk mencari tahu siapa mereka. Mengendap-endap ia coba mendekat. Terus mendekat. Susah payah ia menghindari kakinya dari kemungkinan menginjak sesuatu yang akan menimbulkan suara.

Dari celah-celah rerimbun hutan Luter melihat dua pria dewasa berdiri. Satu orang lainnya terdengar menggali. Suara cangkul terdengar dengan jelas. Luter menahan napas. Ia tak ingin ketahuan tengah mengintai. Ia tak ingin tertangkap karena ia juga tahu mereka bukan orang-orang yang dikenalnya di kampungnya. Postur tubuh mereka dari belakang nampak jelas bukan orang asli kampungnya.

Cukup lama Luter menunggu. Membiarkan hari makin gelap. Luter benar-benar tak berani bergerak.

“Ayo tanam. Kubur,” Luter mendengar suara lagi.
Lalu, ia melihat sesosok tubuh, ya sosok tubuh, diceburkan ke dalam lubang. “Buk!” Luter mendengar suaranya seiring dengan rasa takut yang kian mencengkamnya.

“Sudah. Uruk!” terdengar suara lagi.

Kini, ketiga orang itu nampak tergesa-gesa menguruk tubuh tak berdaya yang barusan diceburkan. Luter tetap diam. Bergeming dalam rasa takut yang menjadi-jadi.

“Sekarang beri ranting-ranting,” terdengar lagi perintah.

Terdengar suara-suara ranting-ranting pohon ditebang. Luter tak lagi berani mengintai. Ia cuma duduk dalam diam. Tubuhnya terasa gemetar.

“Beres?”

“Beres, Bos!”

“Coba periksa di sekitar sini. Jangan-jangan ada yang lihat.”

Luter ingin kencing mendengar perintah itu. Ia siap-siap kabur untuk menghindari penangkapan. Jika tertangkap, Luter yakin ketiga orang itu tak sungkan membunuhnya.

“Nggak mungkinlah, Bos. Gelap begini. Mana ada orang kampung keliaran di hutan.”

“Lu yakin? Ya sudah. Ayo balik!”

Luter menyapukan kedua tangan pada dadanya. Mengusir rasa tegang ketika kesejukan hutan dan rambat malam tak mampu mengusir butir-butir keringat dingin yang membasahi sekujur tubuhnya.

*

Pulang dari sekolah, Luter mengambil radio transistor kecil. Tangannya menari-nari mencari gelombang stasiun radio yang sekiranya menyiarkan berita orang hilang. Siang ini ia tak ingin mendengar lagu-lagu.

Tapi, ia tak mendapatkan apa yang dicarinya sampai ibunya masuk ke dalam bilik kecil kamarnya.

“Cari apa to, Ter?”

“Nggak, Mak.”

“Aneh. Pindah-pindah terus. Tumben.”

Sesaat kemudian, ibunya kembali dengan sepiring nasi untuknya. Dengan sepotong lauk berupa ikan sepat goreng kering. Tak ada sayur.

“Terima kasih, Mak.”

“Segera makan, nanti keburu dingin. Setelah itu sholat. Sholat jangan ditinggalkan. Biar hidup susah, kita harus selalu bersyukur. Banyak orang yang lebih susah dari kita.”

“Iya, Mak.”

“Habis itu cari kayu kering lagi. Besok kan Jumat. Nggak boleh ke hutan. Jadi hari ini saja ke hutannya.”

“Iya, Mak.”

*

Pada hari ketiga, Luter bergegas masuk ke dalam hutan. Meski dadanya dipenuhi rasa takut, ia tak bisa menghalangi kakinya untuk melangkah ke tempat di mana ia menemukan tiga laki-laki kekar yang sebelumnya menguburkan sesuatu. Luter ingin memastikan sesuatu itu apa. Setelah tiga hari menimbang-nimbang dan mengumpulkan keberanian, Luter tak ingin menunda-nunda untuk mendapatkan jawaban yang diinginkannya.

Beberapa saat kemudian ia sudah tiba di tempat tiga pria bertubuh kekar menguburkan sesosok tubuh. Luter memeriksa. Ia melihat tanah merah. Tanpa gundukan. Ditutupi ranting-ranting.

Luter menyibak ranting-ranting itu. Bau tanah merah menerobos lubang hidungnya. Dengan cangkul kecil yang tadi dibawanya dari rumah ia mulai menggali. Ia ingin memastikan sosok tubuh yang dikubur di dalamnya. Ia masih berpikir dan berharap sosok tubuh itu adalah seekor hewan.

Matahari makin condong di barat ketika galiannya sudah sedalam 40 sentimeter. Samar-samar ia mencium bau busuk dari pori-pori tanah. Luter menahan rasa mualnya dengan naik dan duduk sesaat sambil mengeringkan butir-butir keringat yang mengganggu penglihatannya.

Namun, sesaat kemudian, ia membatalkan upayanya terus menggali ketika samar-samar ia mendengar ada suara-suara aneh mendekat. Dengan sigap ia menyambar baju, sepatu, dan cangkulnya. Bergegas ia pergi meninggalkan tempat itu.

Berlari sekencang yang dapat dilakukannya. Menerabas rerimbun hutan yang sangat dikenalnya. Berlari sejauh yang dapat dilakukannya. Ia belum tahu siapa yang datang, tapi ia tak mau mengambil risiko dengan berada di dekat-dekat situ.
Tiga lelaki muncul beberapa saat kemudian. Mereka terperangah melihat galian yang ditinggalkan Luter. Dengan teliti mereka memeriksa.

“Gila. Seseorang coba menggali.”

“Siapa?”

“Jangan-jangan dia sempat memergoki kita.”

“Belum tentu. Siapa tahu binatang.”

“Binatang apa? Singa? Beruang? Mana mungkin?”

“Kita harus tahu siapa atau apa yang melakukannya.”

“Ayo kita cari!”

“Kita menyebar di tiga arah.”

(Sambungannya menyusul)
*
Maaf, pelaku diubah neh...

No comments: