Search This Blog

Wednesday, June 25, 2014

Novel: Istana Bawah Tanah (Bagian 2)

ESTER tengah menutup kepalanya dengan kerudung hitam, melengkapi gaun serbahitam yang dikenakannya ketika Luter memasuki rumah dari sekolah.
“Melayat ke mana, Bu?” Luter bertanya sembari melepas sepatu yang sudah terasa lengket di kakinya.

“Om Jon...Om Jonas,” jawab ibunya.

“Om Jonas? Siapa yang meninggal?” Luter meneruskan tanya.

“Ya dia yang meninggal,” kata ibunya.

“Kenapa katanya? Sakit apa?”

“Simpang siur. Ada yang bilang jatuh dari pohon tinggi. Ada yang bilang dibunuh lantas jenazahnya dibuang di hutan.”

“Kau mau ikut?” ibunya melanjutkan.

“Untuk apa?”

“Kau kan kenal. Meskipun rumahnya agak jauh, tapi kau kan kenal. Dia orang baik. Banyak membantu orang, meskipun tidak terlalu kaya. Ibu pikir kau ingin lihat wajahnya untuk terakhir kalinya.”

“Baiklah. Aku ikut. Bapak?”

“Bapakmu sudah duluan.”

*

Luter berdiri tepat di sisi kanan ibunya ketika perempuan 50-an tahun itu berdiri di sisi peti jenazah.

Luter dengan jelas melihat bekas jahitan pada pipi jenazah selebar 15 sentimeter. Luter tak bersuara apa-apa. Bernapas pun hati-hati. Ia cuma memandang dengan perasaan campur aduk. Melintas begitu saja dalam benaknya bayangan ketika ia menghantamkan bagian tajam cangkul kecilnya ke pipi laki-laki yang berada di hadapannya kini.

“Luter!” teriak laki-laki itu ketika itu. “Anak setan!” ia memekik sebelum tubuhnya melayang jatuh dari ketinggian 20-an meter dari atas pohon.

Terry, istri Jonas membiarkan air matanya terus mengalir. Duduk lunglai di sisi jenazah suaminya yang sebentar lagi akan dikubur dan takkan lagi bersamanya selamanya. Sejumput rasa iba diam-diam menyelinap dalam hati Luter. Rasa sesal juga mengaduk-aduk dadanya.

Luter mengikuti langkah ibunya menghampiri Terry. Ia memeluk perempuan itu dengan erat.

“Sabar, semuanya sudah dalam kehendak yang kuasa,” Luter mendengar ibunya memberi suntikan semangat.

“Iya...aku sabar...” Terry menyahut. “Aku berharap pembunuhnya ditangkap. Diberi hukuman berat.”

Luter tak bereaksi. Membiarkan dirinya mematung di sisi ibunya. Ia tak berani menatap wajah perempuan yang tengah dirundung duka itu.

“Setiap kejahatan pasti ada balasannya, Ter. Pasti,” kata ibunya.

Ketika keduanya keluar, Luter tak melihat sosok ayahnya.

*

Menjelang sore Darkman pulang ke rumahnya dengan pakaian kotor penuh tanah. Ia baru pulang dari menguburkan jenazah Jonas.

Luter asyik di meja belajar dengan buku pelajaran bahasa Inggris. Ia mendapat tugas tampil di depan kelas sambil menceritakan kisah seorang anak yang jahat dan kemudian menjadi anak yang baik dalam bahasa Inggris. Ada bagian-bagian yang belum dihafalnya. Luter tak ingin Sestina kecewa karena ia tak hafal. Luter ingin gadis yang ditaksirnya itu bangga akan dirinya.

Selesai mandi dan membersihkan tubuh, Darkman menuju ruang tamu dan meminta istrinya membuatkannya kopi panas.

“Luter!” Luter agak tersentak mendengar panggilan ayahnya. Ia segera menutup buku pelajaran dan bergegas menghampiri ayahnya.

“Ada apa, Yah?” Luter bertanya sembari melemparkan pantatnya di kursi di hadapan ayahnya.

“Ndak begitu penting juga. Ayah cuma ingin bertanya,” Darkman menghirup kopi panasnya.

“Soal?”

“Kemarin kamu ke hutan?”

“Iya,” Luter menjawab dengan setengah suara. Ia mulai bertanya-tanya ke mana arah pembicaraan ayahnya.
“Kamu bawa cangkul kecil juga?”

“I...iya...” Luter merasa ada hentakan-hentakan gemuruh kecil di dadanya.

“Untuk apa?” tanya ayahnya. Tanpa memandangnya.

“Tidak untuk apa-apa. Cuma...”

“Cuma apa?”

“Apa itu penting, Yah?”

“Bisa penting, bisa juga tidak.”

“Maksud ayah?”

“Makanya kamu jawab saja.”

“Aku menemukan lubang gangsir, jangkrik besar. Aku penasaran dan ingin menggalinya...” jawab Luter ragu-ragu.

“Benar begitu?”

“Benar, Yah?”

“Kenapa kamu kemudian mencuci cangkul itu begitu bersih?”

“Apa salah?”

“Tidak. Ayah cuma tanya. Siapa tahu kamu punya alasan khusus.”

“Tidak juga. Cuma ingin cangkul itu bersih saja.”

Darkman mengambil gelas kopinya. “Ya, sudah. Belajar lagi sana.”

*

Bayangan wajah Jonas kembali melintas dalam benak Luter ketika ia coba memejamkan matanya.

Diawali ketika ia memergokinya berada di atas ketinggian pohon sekitar 20-an meter. Jonas takkan menemukannya andai saja tak ada ranting pohon yang jatuh dan kemudian mengenai kepalanya. Ketika ia menoleh ke atas pohon, ia melihat Luter dan membujuknya turun.

“Kau rupanya anak nakal,” katanya. “Ayo turun. Aku tidak akan menyakitimu. Aku cuma ingin tanya sesuatu.”

Luter gemetar di atas pohon. Rasa takut memenuhi seluruh rongga dadanya. Ia yakin Jonas, meskipun dikenalnya dan mengenalnya, akan melakukan sesuatu yang mungkin tak pernah dibayangkannya. Karena itu ia membiarkan dirinya tetap berada di atas pohon.

Setelah lama menunggu, Jonas akhirnya ikut memanjat pohon untuk memaksanya turun. Meskipun usianya sudah hampir setengah abad, otot-ototnya begitu kekar dan ia nampak dengan mudah naik mendekati Luter.

“Tak usah takut, Luter. Aku kenal kamu. Kamu kenal aku. Aku tahu ayahmu. Kita bertetangga,” katanya sambil terus naik.

“Aku ingin tahu apakah kamu yang menggali-gali di sana?” ia bertanya. Dan terus naik.

Dalam tubuh gemetar, Luter tak menjawab. Sampai kemudian tangannya menyambar kakinya.

“Ayo turun, Luter,” ia seperti membujuk. “Percayalah, aku tidak akan menyakitimu. Apa kau pikir aku pembunuh?”

Luter bertahan. Sesaat kemudian, tangan itu menarik kakinya dengan keras. Luter tetap bertahan. Kedua tangannya mendekap batang pohon dengan erat. Ketika tarikan tangan Jonas makin keras, Luter mengambil cangkul kecil yang disangkutkannya di ikat pinggangnya. Dengan cepat ia menghantamkan bagian tajam cangkul itu ke wajah Jonas. Laki-laki itu memekik keras.

“Luter!” teriak laki-laki itu ketika itu. “Anak setan!” ia memekik sebelum tubuhnya melayang jatuh dari ketinggian 20-an meter dari atas pohon.

Sesaat kemudian Luter mendengar suara tubuh berdebum. Beradu dengan tanah. Tak bergerak-gerak lagi.

“Ter,” tiba-tiba Luter menemukan ayahnya sudah berada di sisinya. “Ayah tahu apa yang kamu lakukan kemarin siang itu. Ayah tahu cangkulmulah yang menghantam pipi si Jonas. Sekarang, lupakan peristiwa itu supaya kamu dapat tidur. Ini tetap jadi rahasia kita berduua.”

Ayahnya mendekap tubuhnya. Luter merasa hatinya damai.

No comments: