Search This Blog

Wednesday, June 25, 2014

Novel: Istana Bawah Tanah (Bagian 3)

MINGGU pagi selalu menjadi hari bebas untuk Luter. Ia boleh melakukan apa saja sesukanya. Tanpa kewajiban mencari kayu, atau merapikan taman di depan rumah seperti membuang bunga-bunga yang rontok atau ranting-ranting daun yang gugur.

Ia juga tak perlu pergi ke ladang jagung ayahnya karena pada hari Minggu ayahnya tak ingin mengeluarkan keringat di ladang. Pengawasan kebun seluruhnya diserahkan kepada Suspra dan Tamir. Pada hari lain, Luter mendapat tugas mengantarkan makanan untuk ayahnya bersama Suspra dan Tamir. Pada hari Minggu, Suspra dan Tamir harus membawa makanannya sendiri karena Darkman juga melarang Luter ke kebun.

Selalu menjadi kesenangan Luter naik ke dahan pohon tinggi di tengah hutan di lereng gunung dengan teropong di punggungnya. Dari atas ketinggian pohon ia bisa melihat jauh ke bawah, ke bukit Siguncang, bukit yang tak pernah bisa didekati siapa pun sejak di atasnya dibangun tiga lapangan tenis dan sebuah kolam renang.

Kata ayahnya, seorang konglomerat dan pejabat negeri membeli bukit itu dari pemerintah daerah untuk pembangunan lapangan tenis dan kolam renang. Pemerintah memberi izin sepanjang tidak digunakan untuk pembangunan vila.

“Namanya Riami,” kata ayahnya menyebut sepenggal nama sang pejabat dan konglomerat terpandang di kota.

“Riami apa?”

“Ayah tidak tahu. Untuk apa juga tahu? Tidak penting.”

Ketika itu Luter tak membayangkan seberapa banyak uang yang harus dibayarkan untuk membeli bukit yang diapit empat gunung tinggi di sekitarnya itu. Mungkin saja uangnya penuh sekamar orangtuanya. Belum lagi uang untuk membangun lapangan tenis dan kolam renang di atasnya.

“Jadi orang kaya itu enak ya, Yah...” kata Luter.

“Belum tentu. Banyak duit pun bukan tanpa masalah.”

“Tapi lebih baik punya masalah tapi banyak uang, dari pada banyak masalah tapi tak banyak uang...”

“Hus!”

Luter mengambil teropongnya. ‘It’s showtime,” katanya dalam hati, menirukan slogan pertandingan bola basket di sebuah benua nun jauh di sana. Sebuah senyum merekah dari bibirnya. Baginya, menyaksikan para pejabat, entah siapa saja mereka, menjadi hiburan bagi Luter.

Dari ayahnya ia tahu berapa ukuran sebuah lapangan tenis. Ayahnya memang pecinta olahraga. Sebelum menikah dengan ibunya, ayahnya pernah menjadi atlet tinju tingkat lokal. Ayahnya petinju kelas berat ringan. Tapi, Luter tak ingin jadi petinju seperti ayahnya dulu. Tubuhnya terlalu kerempeng. Lagi pula, kata ayahnya, di negerinya, seorang atlet kurang mendapat penghargaan dari pemerintah daerah apalagi dari pemerintah pusat. Begitu ia pensiun sebagai atlet, ia tak lagi tak punya waktu untuk memulai karier lain yang bisa menghasilkan uang, padahal hidup butuh makan dan untuk makan manusia membutuhkan uang.

Dan kini ia tengah ingin meneropong. Bukan meneropong masa depan, tapi meneropong sungguhan. Seperti dilakukannya setiap hari Minggu, hari di mana ia bisa benar-benar menjadi dirinya sendiri.

Dengan bantuan teropong itu Luter bisa melihat dengan agak jelas orang-orang dengan pakaian-pakaian bersih dan berwarna-warni lembut bermain tenis. Mereka tak cuma laki-laki. Ada juga perempuan. Laki-laki bermain melawan perempuan. Luter bisa menduga mereka tertawa-tawa, meskipun ia tak bisa mendengar suaranya. Jaraknya terlalu jauh.

Di ujung paling kiri, sejumlah orang tengah asyik berenang. Airnya berkecipakan. Luter membayangkan dirinya berada di sana. Mengayunkan raket tenis yang harganya mahal. Setelah lelah dan berkeringat, lalu nyemplung ke kolam renang. Bersama pula wanita-wanita cantik. Tubuh-tubuh mulus. Tanpa celak. Tanpa bekas luka. Lalu melintas wajah Sestina, gadis yang diincarnya. Apakah ia juga mulus? Ah, mudah-mudahan kulitnya pun mulus seperti gadis-gadis kota, Luter membatin.

Teropong terus digerakkan Luter. Ke sudut sebuah bangunan kecil di sudut lapangan tenis. Ia melihat beberapa lelaki kekar duduk-duduk di sana. Ia ingat, laki-laki seperti itulah yang membuang sesosok tubuh di semak-semak belukar di dalam hutan.

Ia kemudian mengalihkan teropongnya ke kolam renang. Sesosok tubuh berenang di tengah kolam. Tubuh seorang wanita jika dilihat dari posturnya. Beberapa saat lamanya Luter mengikuti gerakan renang wanita itu. Sampai kemudian ia menyentuh sisi kolam dan berbalik. Hm, tubuhnya indah sekali, pikir Luter. Ia berharap kelak tubuh Sestina pun akan seindah itu.

Dari sana, ia kembali meneropong sekelompok laki-laki kekar di sudut di belakang lapangan tenis. Kali ini, Luter merasa jantungnya berdetak. Dua laki-laki kekar itu nampak memegang teropong seperti dirinya. Keduanya seperti tengah meneropong ke arahnya. Agak lama juga Luter mengawasi mereka.

Lalu, mereka seperti mengambil sesuatu. Mengarahkan sesuatu ke arahnya. Detak jantung Luter makin keras ketika ia menyadari salah satu dari pria kekar itu tengah mengarahkan senjata ke arahnya. Ya, senjata. Luter dengan cepat melepaskan teropong yang talinya dikalungkannya di lehernya. Dengan cepat ia turun dari ketinggian pohon itu.

Ia kemudian mendengar suara letusan dari kejauhan. Sesat berikutnya ia mendengar sesuatu menerpa daun-daun pohon di dekatnya. Beberapa kali sesuai suara letusan dari kejauhan. Itu peluru, pikir Luter. Mereka benar-benar menembakkan senjata ke arahnya.

Luter makin cepat turun. Ia harus lari dari tempat itu karena siapa tahu satu atau dua dari orang-orang itu mengejarnya dengan motor-motor trail dan kemudian menangkapnya.

Luter terengah-engah ketika kakinya menjejakkan kaki di bawah pohon di lereng gunung itu. Ia kemudian memutuskan pulang dengan cara berjalan agak memutar. Tak lupa ia melemparkan di dalam hutan kaus hitam yang dikenakannya dan melangkah tergesa hanya dengan kaus kutang berwarna putih.

Sesat berikutnya ia sudah tiba di kebun jagung milik ayahnya dan menemukan Suspra tengah memeriksa jagung-jagung yang mulai membesar.

“Ah, tumben datang, Ter?” tanya Suspra tanpa menoleh.

Luter tak ingin buru-buru menjawab, khawatir Suspra menangkap suaranya yang bergetar.

“Ngapain ke mari?” Suspra, laki-laki berusia hampir 60 tahun itu kembali bertanya.

“Iseng saja, Om,” jawab Luter akhirnya.

Memetik dua buah jagung yang nampak ranum, Luter melanjutkan langkanya pulang. Ia masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang. Di luar, ia mendengar ayahnya tengah berbincang dengan seseorang. Luter mengintip dari gorden di ruang depan. Dadanya kembali bergemuruh melihat dua pria kekar bersama ayahnya.

Melihat postur tubuhnya, merekalah sahabat-sahabat Jonas. Merekalah orang-orang yang barusan diteropongnya. Kini, mereka dengan sangat cepat sudah berada di rumahnya. “Untung aku lewat belakang,” Luter membatin.

“Luter!” Luter mendengar ayahnya memanggilnya.

Luter tak segera menyahut.

“Ter! Luter!” ayahnya mengulangi panggilan.

“Ya, Yah!” Luter ragu-ragu membuka pintu.

Begitu ia keluar, kedua laki-laki kekar itu mengawasinya.

“Nah, kalian lihat, anakku ada di rumah. Nggak ke mana-mana,” kata ayahnya.

“Ada apa, Yah?” Luter bertanya kepada ayahnya. Seolah mengabaikan tatapan dua pasang mata yang tengah dihunjamkan ke arahnya.

“Tidak, tidak ada apa-apa. Ayah cuma ingin meyakinkan bahwa kau tak ke mana-mana. Sudah masuk sana!” ayahnya mengakhiri kalimatnya dengan sebuah perintah.

Luter buru-buru masuk.

Namun, dari dalam kamarnya sendiri, Luter kembali mengintip kedua pria tamu ayahnya itu. Luter melihat salah satu dari mereka menunjuk-nunjuk ayahnya sebelum pergi.

Sepeninggal kedua orang itu, ayahnya kembali mencarinya.

“Mana teropong itu, Ter?” tanya ayahnya.

Luter menunjuk ke dalam lemari di dalam kamarnya. Ayahnya mengambil teropong itu. Beberapa saat kemudian Luter mendengar suara berderak. Ayahnya menghancurkan teropong satu-satunya miliknya. (Bersambung)

No comments: