Search This Blog

Wednesday, June 25, 2014

Novel: Istana Bawah Tanah (Bagian 4)

KOMANDAN polisi Desa Bukit Siguncang Gyorgi gerah. Selembar kertas berukuran besar tergeletak di atas mejanya. Di atas kertas itu tertera gambar yang dibuat asal-asalan serupa peta.
“Saya menemukan titik-titik yang mencurigakan ada dalam hutan Bukit Siguncang. Kalau Bapak sempat, sudilah Bapak periksa. Saya khawatir seseorang atau sekelompok orang menguburkan mayat-mayat di sana. Untuk sementara, saya menemukan tujuh titik...”

Demikian bunyi surat itu.

“Darkon!” ia memanggil seseorang. Setengah berteriak.

“Ya, Ndan!” seorang polisi lain masuk. “Siap!”

“Kau tahu siapa yang mengirimkan surat ini, Kon?” tanya si komandan polisi.

“Tidak, Ndan.”

“Kau mencurigai seseorang?”

“Belum, Ndan.”

“Coba kau lihat baik-baik, periksa baik-baik. Setelah itu, pikirkan langkah apa yang mungkin kita lakukan.”

“Siap, Ndan,” opsir Darkon memerhatikan isi kertas yang disodorkan kepadanya.

Keduanya tak bersuara.

“Sudah?” Komandan Gyorgi bertanya.

“Sudah, Ndan.”

“Laksanakan!”

“Siap, Ndan!”

*

Luter melangkah sendirian setelah melepas Sestina di sebuah kelokan jalan sebelumnya. Tas sekolah di punggungnya terasa kian berat ketika kaki-kaki kecilnya menapaki jalan mendaki.

Ketika ia kemudian menemukan jalan mendatar, Luter mendengar namanya dipanggil dua orang opsir polisi. Di dekat mereka berdiri sebuah sepeda motor trail yang biasa digunakan di daerah berbukit-bukit.

“Ke sini, Luter!”

Luter menghampiri tanpa perasaan apa-apa. Semilir angin sedikit menyejukkan tubuhnya pada terik siang yang terasa menyengat.

“Ada apa?”

Darkon memberikan selembar kertas yang tadi diserahkan Komandan Gyorgi kepadanya.

“Apa ini?” Luter bertanya. Ia merasakan ada getar di dadanya.

“Coba perhatikan,” opsir polisi yang satu bersuara. Tanpa memandang Luter.

Luter mengambil kertas itu. Membuka dan memerhatikan isinya.

“Kau yang bikin, bukan?” pertanyaan opsir Darkon langsung menghunjam.

“Bikin apa? Ini?”

“Nggak usah pura-pura, Luter.”

“Mengapa kalian pikir aku yang bikin?”

“Tidak ada anak lain yang sepertimu.”

“Kalian memfitnah.”

Kedua opsir polisi itu tersenyum sinis.

“Apakah ayahmu tidak pernah mengingatkanmu?”

“Soal apa?”

“Jangan pernah bermain api...”

“Apa maksud kalian sebenarnya?”

“Boleh lihat isi tasmu?” Darkon menyambar tas di punggung Luter.

Luter mempertahankan properti miliknya dengan cara berlari memutar. Darkon terus berusaha mengambil tas sekolah Luter. Namun, keriuhan itu segera terhenti ketika tiba-tiba Darkman menghentikan sepeda motornya di sana.

Dengan sigap ia menyambar krah baju bagian belakang Darkon. Sebuah tinju siap dilayangkannya. Opsir polisi satunya sigap memegangi tangan Darkman.

“Sabar! Sabar! Tenang! Tenang!” ia berteriak.

Darkman melepaskan jenggutannya. Darkon merapikan pakaiannya. Ia merutuk-rutuk.

“Apapun urusan kalian dengan anakku, hadapi aku dulu,” Darkman berkecak pinggang. Matanya tajam menghunjam, memandang berpindah-pindah kepada dua opsir polisi di hadapannya.

“Kuingatkan, jangan pernah sentuh anakku. Bilang kepada Gyorgi!”

Kedua opsir polisi itu terdiam. Keduanya tahu, sebagai bekas petinju, satu pukulan Darkman akan membuat mereka langsung terkapar.

“Pergi sekarang!” Darkman membentak.

Dengan cepat, kedua opsir polisi pergi. (Bersambung)

No comments: