Search This Blog

Wednesday, June 25, 2014

Novel: Istana Bawah Tanah (Bagian 5)

Luter tengah membaca buku komik di kamarnya ketika ia mendengar ayahnya memanggil. Ketika ia keluar, ia menemukan ayah dan ibunya duduk di ruang tamu. Seperti biasa, kedua kaki ayahnya berada di atas meja. Berselonjor. Di atas meja Luter melirik cangkir kopi. Isinya tinggal setengah. Artinya, sudah cukup lama ayah dan ibunya duduk berdua di sana.

Di luar, Luter mendengar suara-suara domba tengah digiring. Tentu di belakangnya ada Pucang, si pemilik domba yang tak pernah lelah mengawasi hewan-hewan peliharaannya. Hari hampir senja dan matahari yang lelah mulai mencari tempat peristirahatannya. Luter tahu, pada dasarnya matahari itu tak pernah benar-benar berhenti bersinar. Jika ia berhenti menyinari kampungnya, maka matahari itu memberi terang daerah lain atau negeri lain. Itu kata ayahnya. Jika di negerinya hari beranjak malam dan bintang-bintang beradu kerlip di ketinggian langit, maka daerah atau negeri lain hari beranjak siang. Begitulah selalu.

Pelan-pelan Luter meletakkan pantatnya di sisi ibunya. Luter selalu merasa nyaman di sisi ibunya, walaupun ayahnya pun tak pernah memukulnya sepanjang hidupnya –yang ini Luter tahu karena ayahnya bekas petinju.

“Bu,” Darkman memandang istrinya.

Kalimat itu cukup memberi isyarat agar ibunya pergi dari ruangan itu. Ester selalu paham nada suara dan makna tatapan mata suaminya. Jadi, ia pun beranjak pergi, meninggalkan Luter dan ayahnya. Luter merasa sedikit kesal karena ia merasa seperti seseorang yang kehilangan mainannya. Namun ia diam saja.

“Ayah ingin kamu hentikan semuanya,” Darkman memulai ucapannya. Suaranya tanpa tekanan.

“Maksud ayah?”

Darkman menarik kaki kanannya, menggaruk betisnya seolah ada sesuatu yang membuat kulitnya terasa gatal. Sembari kembali berselonjor, ia mengatakan, “rasanya ayah tak perlu menjelaskan. Opsir polisi Darkon dan Samun yang mencegatmu menjelaskan banyak hal kepada ayah.”

Luter menggaruk-garuk lengan kirinya meskipun ia tak benar-benar merasa gatal.

“Bagaimana ayah bisa tahu?”

“Ayah tahu. Itu saja. Tak perlu ayah jelaskan lagi.”

“Jadi?” Luter malah ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatnya.

“Hidup ini bisa menjadi sulit jika kita mempersulitnya. Jadi sederhana jika kita menginginkannya,” kata ayahnya.

“Ayah ingin mengatakan sesuatu yang mungkin sudah saatnya kamu tahu meskipun kamu sekarang baru kelas 9,” lanjut ayahnya ketika Luter kehilangan semangat dengan topik pembicaraan.

“Soal apa?”

“Sedikit masa lalu ayah.”

“Soal ayah bekas petinju?”

“Itu kamu sudah tahu.”

“Jadi?”

Darkman diam sesaat, seperti coba mengumpulkan bahan-bahan pembicaraan yang ingin ia sampaikan kepada anaknya. Pada titik ini, ia sebenarnya merasa ragu apakah ia ingin mengatakan apa yang ingin disampaikannya sore ini, atau membiarkannya tetap tersimpan sebagai rahasia.

“Ya, ayah memang ingin mengatakan satu hal, ayah tahu ada apa di balik lapangan tenis dan kolam renang di bukti itu,” Darkman akhirnya berkata dalam satu tarikan napas.

“Maksud ayah, ada sesuatu di bawahnya?” tanpa sadar Luter sudah berada di sisi ayahnya. Ia tak sadar telah melompat dari kursi tetap duduknya semula.

Darkman membelai rambut anaknya.

“Ayah benar-benar tahu?” segunung rasa penasaran membuncah dalam dada Luter.

“Tahu.”

“Apa itu, Yah?”

Darkman tertawa kecil. “Maaf ayah mengecewakanmu, ayah takkan mengatakan yang itu.”

“Maksudnya?”

“Ayah tahu ada sesuatu di sana, tapi sayangnya ayah tak ingin mengatakannya.”

Luter mendadak merengut. “Itu sama saja bohong dong, Yah. Ayah tahu, tapi ayah tak ingin mengatakannya.”

Darkman kembali tertawa kecil. Ia sendiri tak mengerti makna tawa kecilnya itu.

“Ayah mengatakan ini hanya untuk mengingatkanmu.”

“Mengingatkan?”

“Ya, ayah tak ingin kamu seperti ingin mencari tahu apa yang ada di sana. Biarkan saja mereka dengan dunia mereka. Dunia kita dan dunia mereka sangat berbeda. Mereka orang-orang tak tersentuh. Itu yang ayah tahu.”

“Terus?”

“Ayah ingin kamu hidup normal seperti teman-temanmu yang lain. Bermain galasin, layang-layang, gundu, petak umpet, atau yang lainnya. Tak usah melakukan sesuatu yang membuat mereka seperti terusik.”

Luter menyandarkan kepalanya pada dada ayahnya. Ia merasakan ayahnya bernapas teratur. Luter senang sekali rambutnya dibelai-belai ayahnya.

“Boleh aku bertanya satu lagi, Yah?”

“Boleh.”

“Dari mana ayah tahu?”

“Benar-benar mau tahu, atau sekadar mau tahu, atau iseng-iseng mau tahu?”

“Intinya tahu. Supaya aku nggak penasaran.”

“Ayah dulu bekerja di sana?”

“Betul? Kenapa ayah berhenti?”

Darkman kali ini benar-benar tertawa mendengar pertanyaan anaknya. “Tadi katanya cuma mau bertanya satu kali lagi.”

“Ah, ayah payah!”

Luter melompat dari pangkuan ayahnya, kemudian berlari kecil ia pergi menuju ke kamarnya di lantai dua rumah sederhana di desa itu.

“Ingat apa yang ayahmu bilang?” tanya ayahnya. Setengah berteriak.

“Nggak janji, Yah.”

“Apa?”

Luter sudah menghilang di balik pintu kamarnya. (Bersambung)

No comments: