Search This Blog

Monday, December 14, 2015

Kampung Perempuan

NURMA tak bisa menahan rasa heran dan geli membaca isi undangan peliputan yang siang itu ditemukannya tergeletak di meja kerjanya. Isinya, Peresmian Kampung Perempuan. Upacara peresmian dilakukan seorang bupati bernama Rahwani. Dari namanya, tentulah bupati ini juga seorang perempuan.

“Undangan dari mana, Bos?” Nurma duduk di hadapan meja redakturnya, meletakkan undangan di ujung meja.

“Kamu tak bisa baca?”

“Aneh. Peresmian Kampung Perempuan.”

“Lebih baik kamu cek mobil operasional yang bisa kamu gunakan untuk sampai di sana,” kata sang redaktur yang tampak sibuk mengedit sebuah naskah feature. “Jangan lupa, kamu bawa sendiri mobil itu. Tak usah pakai sopir Pak Idham. Laki-laki tak boleh masuk kampung itu. Fotografer juga kamu ajak Yuni saja. Jangan Mas Kumbang. Ngerti?”

Dua hari kemudian, tepat pukul tujuh pagi Nurma bersama Yuni sudah berada di ujung kampung dengan sebuah gapura besar bertuliskan ucapan Selamat Datang di Kampung Perempuan. Keduanya berhenti sesaat tanpa alasan di pinggir jalan.

“Kok berhenti?”

“Aku ingin istirahat sebentar.”

Dari kejauhan, sepintas Nurma dan Yuni memang tak melihat sosok laki-laki di dalam kampung itu. Satu dua penduduk nampak keluar masuk. Semuanya perempuan. Beberapa mobil juga nampak memasuki kampung itu. Mungkin tamu-tamu yang diundang pada peresmian kampung. Dan, semuanya perempuan.

“Apa betul isi kampung ini cuma perempuan, Nur?”

 “Kelihatannya begitu.”

“Bagaimana kalau mereka punya kebutuhan...”

“Kebutuhan apa?”

Yuni tersenyum. “Sebaiknya nanti itu kau tanyakan sendiri hal itu kepada Bu Bupati.”

Sesaat kemudian, Nurma melewati pintu gerbang kampung itu. Dua orang penjaga menghadang. Keduanya perempuan. Mereka meminta Nurma memperlihatkan undangan sebelum kemudian mengizinkan mereka masuk. Kepada Nurma kedua wanita penjaga itu juga menjelaskan tempat peresmian diadakan.

Nurma sengaja menjalankan mobilnya perlahan-lahan sambil melihat-lihat deretan rumah di pinggir jalan dan para penduduknya.

“Gila, Yun.”

“Apanya yang gila?”

“Rumah mereka besar-besar, megah-megah. Tak ada rumah sederhana. Semua nampaknya rumah mewah. Seperti istana malah.”

Yuni sibuk memotret deretan rumah yang dilewati. “Berarti tak ada penduduk miskin di sini. Dari mana mereka memperoleh uang untuk bisa membangun rumah-rumah megah ini? Rumah-rumah mereka lebih cocok disebut istana.”

Nurma tak menjawab. Dari kaca mobil yang sengaja diturunkan, embus angin sejuk menerobos. Aroma rerumputan begitu terasa. Kabut mulai menipis.

Pada pertengahan jalan, Nurma menepikan mobil. “Mau ngapain?”

Tanpa menjawab, Nurma turun dan melangkah mendekati seorang perempuan paruh baya yang tengah membuang bunga-bunga dan dedaunan layu di taman di depan rumah. “Aku ingin wawancara.”

Yuni mengintil di belakang Nurma.

“Selamat pagi, Ibu...” Nurma menyapa.

Perempuan itu berbalik. Melemparkan senyum kepada Nurma. Nurma terpana. Barisan gigi perempuan itu nampak dilapisi emas. Kuning berkilauan. Di kedua daun telinganya menggelantung anting berlian. Berkilau-kilau kala bergoyang.

Pada kedua lengan perempuan itu, Nurma juga melihat gelang emas berjajaran. Jari jemarinya juga dipenuhi cincin emas dengan mata berlian berkilau-kilau. Pada leher perempuan itu juga menggelantung beberapa kalung, masing-masing dengan mata yang berkilau-kilau.

Pada kedua kaki perempuan itu juga melingkar gelang-gelang emas yang berkilau-kilau.

“Ada apa, Nak?” perempuan itu bertanya. Suaranya menyadarkan Nurma dari keterpanaannya.

Yuni menjawil Nurma.

“Apakah ibu perempuan?” Nurma bertanya. Yuni mencubit pinggang Nurma.

Perempuan itu terkekeh. “Apa adik melihat aku seperti laki-laki?”

“Maksud saya, apakah ibu manusia?”

Yuni kembali mencubit pinggang Nurma.

Perempuan itu makin keras tertawa. “Apakah adik melihat aku seperti bukan manusia? Seperti hantu? Setan? Jin?”

“Jadi, kampung ini semua penduduknya seperti ibu?” Nurma tak memedulikan Yuni.

“Begitulah. Di sini memang tempat tinggal para perempuan. Tidak ada laki-laki. Dari anak-anak hingga nenek-nenek. Semuanya perempuan...”

“Bagaimana mungkin?” Yuni ikut penasaran.

“Semua serbamungkin di kampung ini, Nak?”

“Maksud kami, dari mana anak-anak itu lahir? Bukankah dibutuhkan juga seorang laki-laki?”

Perempuan itu melanjutkan kekehnya. “Tidak, Nak. Di sini laki-laki tidak dibutuhkan. Kami beranak-pinak tanpa laki-laki. Kami hamil tanpa laki-laki. Anak-anak yang lahir pun tak ada yang laki-laki. Semuanya perempuan.”

“Lalu?” Yuni makin penasaran. “Dari mana penduduk kampung ini bisa hidup mewah?”

“Tak usah heran, Nak. Kami punya orang tua kaya raya. Nenek moyang kami kaya raya. Harta kami turun-temurun tak pernah habis. Kami juga punya cadangan emas melimpah di banyak tempat di kampung ini. Di sini kami tak perlu bekerja keras. Kami hidup seperti dalam surga.”

Yuni dan Nurma saling berpandangan. Niat Nurma untuk berhenti sejenak jadi keterusan. Rasa penasaran mereka belum terpuaskan.

“Bagaimana jika...”

“Jika apa?”

“Misalnya ada penduduk dari kampung lain pindah ke kampung ini? Apakah mereka juga hidup mewah seperti penduduk asli di sini?”

“Itu dimungkinkan. Asal...”

“Asal apa?” Nurma yang bertanya.

“Gampang. Asal mau berpikir, bertindak, dan berperilaku seperti kami di sini...”

“Maksudnya?”

“Ya berpikir, bertindak, dan berperilaku perempuan....”

Tempat peresmian Kampung Perempuan berada di sebuah tanah lapang seluas lebih dari dua kali lapangan sepakbola. Seluruh lantai tempat peresmian dilapisi karpet tebal yang terasa empuk saat diinjak. Nurma dan Yuni mendapatkan diri mereka berada di tengah kerumunan ratusan wanita dengan pakaian serbamewah dengan perhiasan serbaberkilau.

Aroma wangi merebak dari mana-mana. Suara canda dan tawa menyeruak dari mana-mana. Juga dari berbagai jenis bunga yang ditempatkan di berbagai sudut berbentuk bulatan besar dengan variasi bunga aneka warna.

“Pastinya tak ada penduduk miskin di sini, Yun...” Nurma membisik Yuni.

Yuni tak menyahut. Asyik menatap segala sesuatu di sekitarnya. Pada gaun-gaun mewah yang dikenakan para perempuan di sekitarnya. Pada perhiasan mewah yang melengkapi penampilan mereka. Pada langit yang juga nampak membiru di pagi itu.

Keduanya terus melangkah mendekati panggung utama tempat peresmian Kampung Perempuan itu akan dilakukan. Keduanya berjalan di bawah atap putih khusus yang dibuat menuju panggung utama.

Beberapa saat kemudian, seorang wanita berdiri di atas panggung siap menggunting pita berwarna keemasan menandai peresmian Kampung Perempuan. Seluruh perempuan yang berada di tempat itu terdiam. Menunggu. Tak juga terdengar bunyi apapun kecuali hening.

Yuni membidikkan kameranya. Kamera otomatisnya segera mengatur cahaya, fokus, dan diafragma.

“Nur...”

“Kenapa?”

“Dia perempuan yang tadi kamu wawancarai...”

“Apa?” Nurma mempertajam matanya, memperhatikan lebih seksama wajah perempuan yang berdiri dengan anggunnya di atas panggung.

“Betul.”

“Jadi kita sudah mewawancarai bupatinya tadi. Siapa namanya?”

“Rahwani...”

Perempuan di atas panggung itu mengucapkan salam. “Saudari-saudariku sekalian,” ia mulai bicara. “Sebelum meresmikan Kampung Perempuan, kampung kita, saya ingin bercerita tentang wartawan yang tadi bertanya kepada saya.”

Ia berhenti sesaat. Melepaskan senyum dengan kilau gigi berliannya. “Pertanyaannya, apakah seseorang boleh menjadi penduduk Kampung Perempuan? Saya jawab, boleh saja. Bisa saja. Tapi, dia harus bisa berpikir, bertindak, dan berperilaku seperti kita di sini, seperti perempuan.”

“Ada yang ingin saya tambahkan,” katanya setelah berhenti seraya mengedarkan pandangannya kepada semua perempuan yang ada di sana. “Syarat berikutnya, dia harus tak mampu mendengar, tak mampu melihat, tak punya perasaan, tak punya rasa takut, tak punya rasa malu...”

Tepuk tangan segera menggemuruh. Nurma dan Yuni mengedarkan pandangannya kepada perempuan-perempuan di sekitarnya. Ia melihat perempuan-perempuan itu buta, mulut-mulut mereka terkatup, telinga mereka tak berongga.* diposting di Kompasiana, Desember 2015

Jakarta, 25 Maret 2014

No comments: