Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Tuesday, May 30, 2017


Cerpen Aba Mardjani

DI Dusun Cibaresah nama Badrun kondang bukan karena ia orang terpandang. Ia dikenal sebagai laki-laki paruh baya yang ke mana-mana kedua bibirnya selalu berkomat-kamit melafazkan salawat nabi. Allaahumma sholli ‘ala sayyidinaa Muhammad wa’alaa aalihii waashabihii ajma’iin...

Tak ada yang tahu sejak kapan Badrun selalu bersalawat seperti itu. Di tengah-tengah kebun, ketika tengah mencangkul untuk menanam pohon-pohon singkong, ia bersalawat. Di jalan, ketika pergi ke suatu tempat untuk suatu keperluan, ia bersalawat dengan kepala lebih banyak tertunduk. Pada keramaian, ketika mengunjungi pesta perkawinan kerabat, tetangga, atau sahabat, ia lebih suka bersalawat dibandingkan mengobrol dengan orang-orang di sekitarnya. Karena itu, juga tak ada yang tahu berapa jumlah salawat yang meluncur dari mulutnya setiap hari. Badrun pun tak pernah menghitung.

“Saya tidak tahu cara menghitung berapa kali saya bersalawat karena jumlahnya juga tidak penting, yang penting ikhlasnya,” katanya apabila ada yang bertanya.

Badrun dan istrinya tinggal tak jauh dari sebuah mesjid tua di sudut dusun. Tiga anaknya tak lagi tinggal bersamanya sejak menikah dan berumah tangga. Rumahnya terlalu kecil untuk ditempati lebih banyak dari dua orang karena hanya terdapat satu kamar tidur, satu ruang tamu, dan satu kamar mandi. Tak ada ruang khusus untuk salat.

Setiap hari dan setiap waktu Badrun melaksanakan salat di mesjid. Ia selalu datang sebelum seseorang selesai melantunkan azan. Ia sendiri tak pernah melantunkan azan karena ia mengaku suaranya tak bagus. Ia juga tak pernah mau jika diminta menjadi imam karena ia bilang tak hafal surah-surah yang harus dibaca.

Setiap hari Jumat, Badrun mendatangi masjid jauh lebih awal untuk salat Jumat. Ia sudah berada di sudut kanan masjid sebelum siapa pun datang. Setelah melaksanakan salat sunah tahiyatul masjid, Badrun pun seperti biasa tertunduk serupa patung dengan mulut tak pernah henti bersalawat. Ia baru berhenti ketika seseorang melakukan azan, lalu melaksanakan salat sunah qobliyah Jumat dua rakaat dan kembali tertunduk melafazkan salawat. Lalu berhenti lagi pada azan kedua dan menyimak khutbah Jumat.

Namun, ada yang berbeda pada Jumat kali ini. Para pengurus masjid tanpa sepengetahuan Badrun yang asyik dengan salawatnya, tengah kebingungan karena imam dan khatib Jumat tak satu pun hadir sementara waktu untuk salat Jumat tinggal hitungan menit. Ustadz Salman, ketua masjid yang biasanya jadi pengganti imam dan khatib yang berhalangan hadir pun tak ada di tempat. Ustadz Salman kabarnya tengah sakit dan tak bisa meninggalkan tempat tidurnya.

“Siapa mau menggantikan jadi imam dan khatib,” Abdul Razak, merbot mesjid bertanya kepada Saleh, sekretaris masjid. Saleh menggeleng. “Pak Saleh saja,” lanjut Abdul Razak.

“Tidak...tidak...jangan saya,” kata Saleh tergeragap.

“Lalu siapa?”

Abdul Razak dan Saleh mengedarkan pandang kepada para jamaah yang sudah berada di dalam masjid. Berharap menemukan sosok yang kemungkinan layak menjadi badal khatib dan imam sekaligus. Namun keduanya hanya menemukan orang-orang yang sama yang setiap Jumat datang untuk salat sebagai makmum. Tak ada yang nampak layak didudukkan di mimbar.

“Kalau begitu...” kata Abdul Razak putus asa.

“Jangan...jangan saya...” Saleh memandang Abdul Razak dengan wajah memelas.

“Maksud saya....Badrun saja.”

Keduanya kemudian memandang Badrun yang duduk sudut kanan masjid dengan wajah tertunduk dan mulut terus berkomat-kamit melafazkan salawat.

“Saya setuju. Ya, Badrun saja,” wajah Saleh nampak semringah.

Keduanya pun melangkah mendekati Badrun. Saleh berada di sebelah kiri Badrun dan Abdul Razak berjongkok di sebelah kanan. Keduanya berbisik di telinga Badrun.

“Badrun, tolonglah. Kamu sekali ini jadi badal khatib dan imam. Pengganti imam dan khatib yang hari ini tidak juga kelihatan. Waktu salat hampir tiba. Tiga menit lagi,” bisik Saleh.

“Badrun, kamu kelihatan cocok. Kamu alim orangnya. Tidak neko-neko. Setiap saat bersalawat. Buktikan sekali ini saja bahwa kamu memang layak jadi imam dan khatib Jumat,” Abdul Razak menambahkan.

Sesaat kemudian terdengar azan pertama didengungkan. Keduanya duduk di kiri dan kanan Badrun hingga azan selesai.

Badrun gemetar. “Tidak. Tidak. Aku tak bisa apa-apa. Aku tak tahu apa-apa,” Badrun mengelak.

“Kamu pasti bisa, Drun. Kamu pasti bisa.”

“Tidak.”

Namun, Badrun tak bisa mengelak ketika Abdul Razak dan Saleh sepakat memegang bahu kanan dan kiri Badrun seraya membawanya ke mimbar Jumat begitu azan pertama selesai. Sesaat setelah berdiri di atas mimbar, Badrun masih nampak kebingungan.

“Ucapkan salam, Drun. Salam,” kata Saleh.

Badrun yang kebingungan makin gemetar ketika melihat semua mata jamaah Jumat memandangnya. Tanpa pikir panjang, ia kemudian mengucapkan salam. Suaranya gemetar. Tertahan di tenggorokannya.

Bilal pun berdiri seraya melantangkan azan kedua. Badrun duduk di atas mimbar. Seperti patung. Untuk kali pertama orang melihat mulut Badrun tak berkomat-kamit.

Badrun memang tak tahu harus berbuat apa. Ia tak bisa apa-apa. Kalau pun harus berkhotbah, Badrun tak tahu harus membahas masalah apa. Ia tak hafal ayat-ayat Al-Quran sebagai pembuka khutbah. Ia tak hafal hadits-hadits yang biasa dibawakan para khatib saat berkhotbah. Ia berharap bilal tak segera selesai melantunkan azannya. Untuk kali pertama ia menyadari, sangat tak mudah menjadi khatib.

Badrun masih mematung ketika bilal menyelesaikan azan.

Saleh dan Abdul Razak yang duduk persis di depannya bersuit kecil untuk meminta Badrun segera memulai khotbahnya. Badrun tak menoleh. Tetap menunduk. Ia tak punya keberanian berdiri dan menyadari begitu banyak pasang mata yang akan memandangnya.

“Badrun. Ayo cepat khotbahnya,” Saleh akhirnya buka suara.

Ketika akhirnya Badrun berdiri, Saleh dan Abdul Razak pun merasa lega. Namun, keduanya benar-benar terkejut ketika Badrun mengangkat kain sarung yang dikenakannya tinggi-tinggi lalu tergopoh-gopoh melompat turun dari atas mimbar. Tak cuma itu, Badrun juga dengan terburu-buru keluar dari masjid.

“Hei, Badrun! Mau ke mana kamu?” Saleh berteriak. Tangannya gagal menghentikan langkah Badrun. Ia terpaksa mengikuti Badrun untuk mencegahnya keluar. Abdul Razak membuntuti.

Jamaah salat Jumat lain keheranan melihat ulah Badrun. Namun, seperti mendapat komando entah dari mana dan dari siapa, mereka pun mengejar Badrun yang dengan segera sudah berada di luar masjid. Badrun makin cepat berlari. Para Jamaah juga berlari mengikuti Badrun dari belakang. Masjid tua dan ringkih itu pun kosong. Tak seorang pun tersisa.

Beberapa saat kemudian, semua jamaah masjid benar-benar terkejut mendengar suara berdebum keras dan berderak-derak di belakang mereka. Ketika semua menoleh, mereka mendapatkan masjid sudah roboh, serata tanah.

“Masjid roboh...masjid roboh....” teriak mereka serempak.

“Masya Allah. Bayangkan jika kita tidak keluar mengikuti si Badrun.”

“Ya, bayangkan.”

“Kita semua sudah jadi mayat.”

“Tubuh kita tertimbun.”

“Innalillahi wainna ilaihi roojiuun...”

“Alhamdulillah. Kita selamat berkat si Badrun.”

“Ya, karena Badrun. Mana Badrun? Mana Badrun?”

Mereka mencari-cari Badrun. Namun yang dicari sudah tak kelihatan batang hidungnya. Badrun bersembunyi di kamar rumahnya. Ketakutan. Gemetar. Ia benar-benar tak ingin orang datang ke rumahnya dan memaksanya kembali ke masjid untuk melanjutkan tugasnya sebagai khatib.

“Bilang aku tak ada di rumah jika ada yang mencari aku,” katanya kepada istrinya.

Tanah Kusir, Juni 2016

Pengirim:

Monday, December 14, 2015

NURMA tak bisa menahan rasa heran dan geli membaca isi undangan peliputan yang siang itu ditemukannya tergeletak di meja kerjanya. Isinya, Peresmian Kampung Perempuan. Upacara peresmian dilakukan seorang bupati bernama Rahwani. Dari namanya, tentulah bupati ini juga seorang perempuan.

Wednesday, February 22, 2012


Andini

Sintya merasa sebilah belati sangat lancip dan tajam langsung menghunjam tepat pada jantungnya. Sesuatu yang selama ini dikhawatirkannya akhirnya benar-benar terjadi: kehamilan Andini.

            “Aku benar-benar telah gagal sebagai wanita, sebagai istri, dan sebagai ibu,” Sintya meratap sendirian di ruang kamarnya setelah Andini mengaku sudah terlambat hampir dua bulan. Lalu apa kata Ferdi, suaminya, nanti? Dia tentu akan marah besar karena sebagai istri dan ibu, Sintya tak berhasil mendidik Andini dengan baik. Ferdi memang merestui hubungan Andini dan Antoni, namun dia tentu takkan membiarkan keduanya menikah cepat dan lebih-lebih karena kecelakaan.
            Tak ada yang salah pada diri Antoni. Tubuhnya atletis. Kulit putih. Tampan. Bekerja sebagai teknisi yunior di sebuah perusahaan penerbangan swasta dengan penghasilan lebih dari cukup. Dia juga santun. Tak pernah terlibat narkoba dan minuman keras. Sebagai laki-laki dia idaman.
            Selama ini Sintya memang satu-satunya penghuni rumah itu yang tak merestui hubungan Andini dan Antoni. Karena dia tahu siapa Antoni. Satu-satunya kesalahan Antoni cuma karena dia memiliki ayah bernama Barja.
***
            “Ibuku marah besar, Ton,” Antoni mendengar suara Andini lewat telepon.
            “Wajar,” Antoni menjawab sambil terus memeriksa berkas-berkas di hadapannya.
            “Kamu kok seperti tanpa beban? Kamu nggak khawatir?” Andini memprotes.
            Antoni tertawa ringan. “Orang tua mana yang tak marah mendengar putrinya hamil? Itu melanggar aturan agama manapun. Kau pun akan melakukan hal yang sama jika kelak anak kita mengalami hal yang sama...”
            “Hus!” Andini memotong. “Anak kita?” Andini menyambung sesaat berikutnya. “Memangnya kamu yakin kita akan menikah?”
            Antoni kembali tertawa. “Yakin. Aku juga yakin kamu akan harakiri bila kutinggalkan,” Antoni mengakhiri kalimatnya dengan suara tawa.
            Udah ah. Jangan tertawa terus. Aku harus melakukan apa?”
            Nggak ada yang harus kamu lakukan kecuali menunggu. Lihat saja apa yang akan terjadi dalam beberapa hari berikutnya.”
            Andini menutup teleponnya bersamaan dengan dering telepon di atas mejanya. Dari Meme, atasannya di sebuah perusahaan multifinance. “Din, tolong periksa lagi laporan keuangan ya. Aku melihat ending balance-nya masih belum pas,” suara Meme singkat.
            “Oke bos!” jawab Andini lugas.
***
Ferdi menyudahi kemarahannya dengan tarikan napas dalam. Duduk di hadapannya, Sintya sama sekali tak berani mengangkat kepalanya.
            “Andini dan Antoni harus segera dinikahkan,” katanya.
            Bagi Sintya, kalimat itu menjadi sebuah vonis mematikan yang tak bisa dielakkannya. Segunung sesal menyumbat pernapasannya membuatnya tersengal. Ingin dikatakannya kepada suaminya siapa Antoni agar pernikahan itu tak pernah terjadi. Tapi, jika penjelasan itu sampai dikeluarkannya, sangat mungkin Ferdi akan membunuhnya. Atau mencampakkannya ke liang paling busuk sementara dia hanya bisa meratap dan pasrah.
            Laki-laki mana yang mau mendengar penjelasan perselingkuhan istrinya dengan pria lain? Suami mana yang secara ikhlas mau menerima kenyataan bahwa putrinya adalah anak hasil hubungan gelap istrinya dengan laki-laki lain?
            Sintya merebahkan tubuhnya di sofa di ruang depan setelah suaminya melangkah ke luar dan pergi entah ke mana. Wajah Barja, laki-laki yang telah melenakannya bermain-main dalam benaknya. Sintya melenguh membuang rasa sesalnya namun dia tak bisa mencampakkan kenyataan bahwa pada akhirnya dia baru bisa hamil setelah hampir empat tahun menikah. Dan itu terjadi setelah Barja mampu meluluhkan benteng pertahanan kesetiaannya pada Ferdi suaminya.
***
            Sintya yang membuat pertemuannya dengan Barja terjadi di suatu tempat setelah dia gagal menemukan cara untuk membatalkan pernikahan putrinya dengan Antoni. Dia sempat berpikir untuk melakukan perbuatan nekat dengan cara membunuh Andini atau Antoni agar perkawinan itu tak pernah terjadi. Namun dia tak cukup punya keberanian untuk melakukannya. Sintya merasa tak cukup punya latar belakang dan motivasi untuk bertindak seperti itu. Jika kelak dia tertangkap, polisi tentu akan terus mencecarnya dengan berbagai cara untuk mendapatkan alasan tindakannya. Dan dia tak cukup punya keberanian untuk berkata jujur. Sintya tetap ingin rahasianya dan Barja tetap jadi milik mereka berdua.
            “Yang aku inginkan pernikahan itu tak pernah terjadi,” ucap Sintya lugas.
            Barja menatap lekat mata wanita di hadapannya. “Kau tahu, tak ada yang bisa kita lakukan untuk mencegah perkawinan Dini dan Toni. Upaya-upaya itu tidak taktis. Itu justru akan membuat mereka penasaran dan ingin tahu alasan sebenarnya.”
            Kegalauan bergulung-gulung di dada Sintya. “Tapi mereka sedarah. Kaulah ayah mereka. Dini anak biologismu. Itu tak bisa dibantah.”
            “Tapi itu tak akan mengubah apapun. Kurasa kita cuma bisa pasrah pada kenyataan. Biarkan mereka menikah dan kita lihat apa yang terjadi nanti.”
            “Risikonya bisa sangat fatal, Barja.”
            Barja tersenyum getir. “Setidaknya rahasia kita tetap jadi rahasia kita. Orang lain mungkin cuma bisa menebak-nebak.”
***
Sintya didera rasa lelah luar biasa ketika dia harus memaksakan diri mengumbar senyumnya kepada setiap tamu yang datang ke pesta pernikahan Andini dan Antoni. Belum pernah dia merasa selelah itu. Sepanjang pesta berlangsung dia harus terus bersikap manis kepada semua orang, famili, sanak saudara, tetangga, dan teman-teman yang datang untuk memberi restu.
            Tak pernah terbayangkan semua ini pada akhirnya terjadi. Ingin rasanya Sintya mati saja agar penderitaannya berakhir. Atau ingin dia waktu berputar balik ke masa remajanya agar dia bisa menjalani kehidupannya dengan lurus dan tak pernah membiarkan laki-laki lain menjamah tubuhnya selain suaminya sendiri. Mungkin dia memang takkan memiliki anak dari Ferdi karena kemandulannya. Tapi dia bisa mengadopsi anak dari salah satu panti asuhan di kota ini. Itu bisa jadi lebih baik daripada memiliki anak kandung namun dari pria lain yang bukan suaminya sendiri.
            Kini, di balik gaun anggun yang dikenakannya, Sintya justru merasa menjadi wanita paling kotor di seantero dunia. Dia berdosa kepada Tuhan karena tak mematuhi ajaran-ajaran-Nya. Dia merasa sangat berdosa kepada suaminya karena telah melakukan pengkhianatan yang pasti takkan termaafkan bila suaminya sampai tahu.
            Di ujung sana, Sintya melihat Titik, istri Barja, dengan suka cita membalas ucapan selamat dari tamu-tamunya. Senyumnya lepas. Tawanya sumringah. Alangkah bahagianya jika dia menjadi Titik. Dia pastilah kini merasa menjadi perempuan paling sempurna. Seorang ibu yang bisa mengantarkan anaknya ke jenjang pendidikan tertinggi dan memiliki pekerjaan dengan penghasilan sangat memadai. Kebahagiaan Titik kini disempurnakan karena dia bisa mengantarkan sang anak ke pelaminan dengan Andini, seorang gadis cantik dengan pendidikan tinggi dan pekerjaan yang juga menjanjikan masa depan gemilang.
            ‘Mengapa Tuhan tidak menjadikan aku Titik saja, dan Titik menjadi aku,’ pikir Sintya.
***
            Titik tengah bersilonjor melepaskan penatnya ketika pesta perkawinan Antoni dan Andini berakhir. Telepon genggamnya berbunyi.
            “Tik,” Titik mendengar seseorang langsung menyebut namanya.
            “Siapa ini?”
            “Gusman.”
            Titik menarik napas.
            “Mau apa kamu?” dia bertanya sambil melihat sekeliling. Dia sendirian di tempat itu.
            “Ingin kuucapkan selamat atas perkawinan Antoni. Anak kita.”
            Titik terdiam. Ada sedikit debar di dadanya. Dia merasa seperti ada seseorang yang tengah mengawasinya walaupun kenyataannya tak ada siapa pun di sana. Terbayang wajah Gusman, laki-laki yang dicintainya sejak duduk di bangku SMA dan kemudian berhasil menceburkannya ke kubang dosa sebulan sebelum pernikahannya dengan Barja.
            “Kuharap ini yang terakhir kali kau menghubungi aku,” kata Titik dengan hati teriris. Diakuinya, Gusman adalah laki-laki yang telah mencuri hatinya dan hingga kini dia tak berhasil merebutnya kembali.
            Titik mendengar tawa kecil Gusman. “Ya, ini yang terakhir. Aku tak ingin mengusik kebahagiaanmu.”
            Dan, Titik pun menutup telepon itu. Lalu menghapus bintik keringat yang tiba-tiba menyembul di dahinya.


Wednesday, December 21, 2011


Cerpen: ABA MARDJANI


Laku Sandra tiba-tiba saja jadi begitu memualkan. Mendadak dia menyusupkan wajah. Pelukan dan cengkeram kuku-kuku pada jari-jari tangan mungilnya menembus gaunku membuat aku hampir tidak dapat melangkah begitu kami keluar dari mobil dan aku siap berbelanja di sebuah pasar tradisional.

            “Ada apa, Ndra?” aku bertanya, menahan riak-riak galau di dada. “Kamu takut apa?”
            Gadis itu bungkam. Tetap menyembunyikan wajah serupa cacing kena papar sinar matahari. Kedua tangannya masih membelenggu langkahku. Aku coba berjongkok dan susah payah mengangkat wajahnya. Terpejam erat matanya setelah sesaat mencoba membuka. Aku terpaksa mendekapnya dan merasakan degup kencang dadanya. Beberapa saat berdiri dan sejumlah orang mulai memerhatikanku, aku membawa gadisku yang baru berusia delapan tahun itu melangkah memasuki pasar.
            Di dalam pasar, ancaman dan bujukan sama tak mempan. Sandra mengerut ketakutan. Beberapa saat kemudian menangis dan minta dibawa pulang. Aku tak memberiku pilihan lain.
            Di dalam mobil, belai pendingin udara tak langsung menghapus bintik-bintik keringatnya. Kini, aku jadi ketakutan.
            “Kita ke dokter kalau kamu sakit,” kucoba menenangkan dia seraya membelai rambutnya sambil mataku terus mengawasi jalan di hadapanku. “Kamu sakit, sayang?”
            Sandra menggeleng perlahan. Pekat iris matanya menatapku. Kuraba dadanya. Pelan-pelan dia mulai nampak tenang.
            “Kamu tidak sakit?” aku merasa lebih tenang. Kubatalkan niat menghubungi suamiku yang sesaat muncul. Aku tak ingin mengganggunya untuk urusan yang sebenarnya bisa kuatasi sendiri. “Tapi, mengapa tadi kamu seperti ketakutan?”
            Aku menginjak pedal gas lebih dalam begitu ruang di depanku longgar. Kuhela napas dan membuangnya sekaligus untuk mengusir remah-remah galau di dadaku. “Okelah kalau Ndra belum mau menjawab. Nggak apa-apa,” aku melanjutkan, membiarkan Sandra asyik dengan dirinya sendiri. “Mungkin nanti di rumah Ndra bisa ngomong.”
            Inah tergopoh muncul begitu aku memasukkan mobil ke dalam garasi. “Kok cepat sekali, Bu?” dia bertanya sambil menarik Sandra keluar dari dalam mobil.
            Nggak jadi belanjanya, Inah.”
            “Memangnya kenapa, Bu? Macet ya? Pasarnya tutup? Atau uang ibu ketinggalan?”
Aku cuma memberinya senyuman untuk berondongan pertanyaannya. “Nanti kita beli makanan jadi saja, Inah,” kataku kemudian setelah mendorong pintu mobil dan melangkah ke dalam rumah.

***

Pengakuan Sandra membuat mataku terbeliak.
“Bunda,” ia berkata, mengawalinya agak takut-takut. “Aku tadi melihat ular. Ada yang besar sekali, ada yang kecil...”
“Di pasar tadi?” aku memenggal ceritanya. Gadisku mengangguk pelan. “Mana mungkin di pasar ada ular, Ndra? Kamu....”
“Betul, Bunda,” Sandra kini yang mencegat ucapanku.
“Pasar itu tempat orang berdagang, anakku,” kubelai lagi rambutnya. “Ada yang jual sayur-mayur, kebutuhan rumah tangga, jual perhiasan, peralatan sekolah, pakaian, mainan...”
“Aku juga tahu, Bunda,” Sandra kembali memutus kalimatku, “tapi....”
“Apa?” kucoba menekan suaraku agar tak terdengar sebagai orang yang tak sabaran dan aku memang siap mendengar lanjutan ceritanya.
“Di sana aku melihat banyak sekali binatang, Bunda. Bukan cuma ular....”
“Apa?”
“Selain ular ada juga babi, anjing, kera, kambing, banyak sekali, Bunda. Hampir di mana-mana. Aku juga melihat orang-orang kecil dengan kepala besar. Aku takut sekali, Bunda.”
Aku memberinya senyuman. Bagaimanapun aku tak ingin membantahnya, meskipun bagiku hal itu sangat tidak masuk akal.
“Lalu, apa yang dilakukan binatang-binatang itu, Ndra?” aku malah jadi penasaran.
“Mmm, sama seperti penjual lainnya, Bunda. Binatang-binatang itu juga berdiri di dekat barang-barang yang ada di depannya.”
Susah payah aku menahan tawa. “Binatang-binatang itu juga berjualan maksudmu?”
Putriku mengangguk. “Bunda percaya?”
Kuhela napas. Kupermainkan mata. “Bagaimana ya? Apa Bundamu harus percaya?”
“Ya terserah Bunda saja.”
“Tapi, Ndra masih berani kalau misalnya hari Minggu depan kita ke pasar lagi?”
Anakku menggeleng.
“Kalau begitu, bagaimana mungkin Bunda mau percaya? Bagaimana kalau hari Minggu depan kita ke pasar lagi, lalu Ndra tunjukkan kepada Mama yang mana ularnya, keranya, babinya....” kugantung kalimatku untuk menanti reaksinya.
Sandra nampak menimbang-nimbang.
“Bagaimana ya?” ia seolah bertanya kepada dirinya sendiri.
“Binatang-binatang itu tidak garang, bukan? Mereka kan tidak menggigit kamu, tidak...”
“Ya, tidak, Bunda.”
“Kalau begitu, hari Minggu depan kita ke pasar lagi. Setuju?”
Putriku mengangguk berat.

***

Meskipun disaput rasa khawatir, hari Minggu berikutnya kubawa Sandra kembali ke pasar. Kusyukuri kali ini dia benar-benar tak lagi memperlihatkan rasa takutnya yang luar biasa seperti pekan sebelumnya. Sesekali dia berjingkrak terkejut ketika seorang pedagang tiba-tiba menegurnya, mengajaknya bersalaman, atau menjawil pipinya.
“Kenapa kamu?” aku bertanya ketika dia berlari dan kemudian seperti coba menyembunyikan dirinya sesudah seorang pedagang menjawil pipi. Dia tak menjawab.
Sekali waktu, Sandra juga nampak begitu akrab dengan salah seorang pedagang membuat aku justru merasa khawatir dan memberinya isyarat dengan mataku agar dia menjauh. Pada pedagang berikutnya, dia juga nampak asyik berada di belakang membuat si pedang sendiri merasa risih. Namun, pada kali berikutnya, Sandra juga tak berani mendekat sambil terus menekan hidungnya dan membiarkan aku berhadapan sendirian dengan si pedagang. Karena itu, sambil terus berbelanja, dadaku dipenuhi berbagai pertanyaan. Apa saja sebenarnya yang sedang dilihat putriku? Apakah di pasar ini berkeliaran hewan-hewan seperti yang dikatakannya?
Aku mengajak Sandra pulang setelah kedua tanganku dipenuhi barang-barang kebutuhan dapur.
“Akhirnya...” Sandra mengempaskan tubuhnya di kursi mobil di sebelahku. Seolah beban berat yang mengimpitnya tiba-tiba saja sirna.
“Kok akhirnya?” aku bertanya sambil menarik sabuk pengaman. “Pakai sabuk pengamanmu, Nak.”
“Akhirnya aku bebas, Bunda,” katanya. Tangannya menjemba tisu dan menggosok-gosokkannya pada dahinya.
“Bebas dari apa? Apakah kamu masih melihat banyak binatang?” aku penasaran.
Sandra mengangguk.
“Tadi aku kaget sekali, Bunda, waktu pipiku dijawil sama...”
“Sama...”
“Itu tadi kera, Bunda. Aku takut kuku-kukunya melukai pipiku.”
Aku ingin tertawa. Setelah berdiam sesaat, kuajukan lagi pertanyaan, “kalau yang satu tadi, yang kamu kelihatannya sangat akrab?”
Sandra nampak agak kemalu-maluan.
“Kok senyam-senyum begitu?” aku jadi penasaran karena dia tak segera menjawab.
“Kalau yang itu anjing, Bunda. Aku kan suka sama anjing. Dan dia baik sekali,” Sandra akhirnya menjawab.
Tawaku hampir pecah.
“Nah, kalau yang kamu terus berada di belakangnya? Itu apa?”
“Mmm, kalau yang itu ular besar yang baik, Bunda. Aku sering melihat di televisi ular besar yang jadi mainan. Jadi, aku tidak takut.”
Tawaku benar-benar meledak. Kegelianku membuncak, menumpuk. Susah payah kutahan. Aku tak ingin di matanya seperti orang yang meremehkannya dan menganggapnya tengah membual.
“Lalu, tadi Bunda lihat juga kamu menjauhi seorang pedagang sambil menutup hidungmu. Nah, yang itu apa?”
Sandra mempermainkan kedua belah bibirnya. “Itu....itu...babi hutan, Bunda. Dia mendengus-dengus. Busuk sekali baunya....”
Akhirnya tawaku pecah berderai. Ketika kuhentikan buncak kegelianku saat berikutnya, kudapatkan Sandra tengah cemberut. Dia lalu menyambar telepon genggamku dan menghubungi ayahnya.
“Ayah sedang apa?” dia bertanya. Sesaat kemudian dia mengoceh lagi. Mengulangi cerita yang baru saja dia katakan kepadaku. Sesekali dia terdiam. Sesekali dia cemberut. Sesekali nampak marah.
“Ah, ayah payah,” katanya ketika mobil berbelok ke sebuah rumah makan. Aku memang berniat membeli makanan jadi untuk makan siang hari ini. “Ayah sama saja seperti Bunda, tidak percayaan,” katanya seraya menutup telepon dan meletakkannya begitu saja di pangkuannya. Namun, ketika aku selesai memarkir kendaraan, telepon itu berdering. Buru-buru Sandra mengambilnya dan memberikannya kepadaku. “Dari ayah,” katanya dengan wajah masih disaput cemberut.
Kudengar suara sisa-sisa tawa suamiku. Ia lalu menceritakan ulang apa saja yang baru saja dikatakan putrinya sendiri. Kudengarkan sambil tetap duduk di kursi mobil. Mesin masih kunyalakan.
“Jadi, apa pendapat ayah?” aku bertanya setelah suamiku selesai bicara.
“Aku tak punya pendapat. Tidak ingin berpendapat,” jawab suamiku. “Biarkan saja Ndra berpendapat seperti itu, sesuai dengan apa yang mungkin benar-benar dilihatnya. Bisa saja benar, bisa saja semacam halusinasi atau ilusi. Atau apapunlah. Dia masih kanak-kanak. Dia mungkin saja punya kemampuan melihat yang berbeda seperti kita, melihat dengan tanda petik. Kalau memang benar seperti apa yang dilihatnya, ya itulah dunia. Penuh dengan segala pernak dan perniknya. Tak usah terlalu dipikirkan. Sekarang sedang di mana?”
“Di depan sebuah rumah makan. Bunda mau beli makanan jadi. Inah sedang kurang enak badan,” aku menjawab.
“Mmm, nanti malam Ayah akan bawa makanan jadi juga untuk makan malam. Pukul delapan mungkin Ayah sudah tiba di rumah. Hati-hati ya,” kata suamiku yang terpaksa bekerja pada hari Minggu untuk membereskan beberapa tugas yang belum diselesaikannya pada hari Sabtu.
Terik matahari serasa memanggang ketika aku dan Sandra keluar dari mobil. Sandra berlari ke dalam rumah makan langganan kami untuk menghindari panggangan sinar matahari. Aku menyusul di belakangnya.

***

Seperti katanya, suamiku tiba di rumah sekitar pukul delapan malam sambil membawa sejumlah tentengan di tangannya. Inah buru-buru menyambar dan membawanya ke meja makan. Sandra dengan cepat menarik tangan ayahnya untuk menemaninya mengerjakan PR seperti kebiasaannya.
“Yah!” aku sedikit berteriak ketika makan malam selesai disiapkan Inah. “Makan malam sudah siap!”
Suamiku muncul beberapa saat kemudian.
“Mana, Ndra?” aku bertanya kepadanya.
“Tengah membereskan buku-bukunya,” jawab suamiku seraya menarik kursi.
Lima menit kemudian putriku muncul untuk ikut makan malam. Sandra tak pernah melewatkan saat-saat makan malam bersama karena ayahnya kerap melucu sambil makan. Aku sebenarnya tidak begitu suka dengan kebiasaan suamiku, tapi aku tak bisa tak suka pada apa yang sangat disukai putriku.
 “Jangan dimakan dulu, Ayah!” dia setengah menjerit tiba-tiba. Berdiri terpaku di ujung meja. Aku dan suamiku tergagap. Dan diam. Menunggu.
“Itu bukan nasi, Yah,” katanya kemudian.
“Lho, jadi ini apa?”
“Belatung!”   Tanah Kusir, 270311









           

PEMASUKAN :
tgl 27 Feb 2019
1.Masjid =Rp.250.000
2.Tromol =Rp.173.000
Jumlah =Rp.423.000

PENGELUARAN :
Ta'lim =Rp.179.000
SALDO Rp.244.000
Bendahara
1.Ali Agus
2.Basri Arbain

Ketua Majlis
Mahyuddin Hanafi




Total Pageviews

Video Majlis AlAbror

Popular

Buku Tamu

Sahabat