Search This Blog

Saturday, April 30, 2011

Kanoman Palace


Keraton Kanoman
Keraton Kanoman sebagai pusat peradaban Kesultanan Cirebon, merupakan satu dari 4 keraton menyusul terjadinya perselisihan di antara keturunan para raja. Tiga keraton lainnya adalah Keraton Kasepuhan, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Keprabon. Keraton ini sekaligus juga jadi lambang kebesaran Islam di Jawa Barat dan tidak lepas dari kiprah Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) yang menyebarkan Islam di Jawa Barat. Keraton Kanoman menjadi salah satu jejak peninggalan Sunan.
Keraton Kanoman masih taat memegang adat-istiadat dan pepakem, di antaranya melaksanakan tradisi Grebeg Syawal, setelah Idul Fitri dan berziarah ke makam Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Cirebon Utara.

Prasasti tahun berdirinya Keraton Kanoman terdapat pada pintu Pendopo Jinem yang menuju ke ruangan Prabayaksa. Pada pintu itu terpahat gambar angka Surya Sangkala dan Candra Sangkala, yang berarti Keraton tersebut didirikan pada tahun 1510 Saka atau 1588 Masehi. Kraton ini dibangun oleh Sultan Badaruddin (keturunan ke-7 dari Sunan Gunung Jati) yang memisahkan diri dari Kesultanan utama Cirebon karena berbeda pendapat dengan saudaranya mengenai siapa yang berhak menjadi ahli waris Kesultanan Cirebon.
Sebagaimana umumnya keraton di Jawa, Bangunan Keraton Kanoman seluruhnya menghadap ke utara. Di luar bangunan Kraton terdapat sebuah bangunan bergaya Bali yang disebut dengan Balai Manguntur yang terbuat dari batu merah. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat kedudukan Sultan apabila menghadiri Upacara seperti apel prajurit atau menyaksikan pemukulan gamelan Sekaten pada tanggal 8 Maulid dan lain-lain.
Keraton Kanoman juga mempunyai museum dengan pintu-pintu berukir. Koleksi terpenting museum ini adalah Kereta Perang Paksi Naga Liman dan Kereta Jempana dengan bentuk mirip seperti kereta pada Keraton Kasepuhan, Kereta yang terdapat di Keraton Kanoman ini diklaim sebagai yang kereta yang lebih tua. Bahkan kereta yang disebut-sebut merupakan duplikat dari kereta yang terdapat di Keraton Kanoman. Koleksi museum lainnya adalah aneka senjata seperti keris dan tombak, gamelan dan lain-lain.
Museum yang terdapat di Keraton Kanoman ini tidak memiliki jadwal kunjungan yang teratur. Pengunjung yang datang ke sini harus melapor dan mengisi buku tamu dan pemandu akan membukakan pintu museum dan menemani pengunjung berjalan mengelilingi museum.

Jenis: Keraton, Istana
Berdiri: 1588
Pendiri: Sultan Badaruddin
Lokasi: Cirebon
Jarak: 257km dari Jakarta
Perkayaan Sumber antara lain dari:
Read more: http://www.wisatanesia.com/2010/06/keraton-kanoman.html#ixzz1JCzp7DMB
http://matabuderfly.blogspot.com/2010/04/mande-manguntur-istana-kanoman-cirebon.html
http://id.merbabu.com/keraton/keraton_kanoman_cirebon.html
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2004/09/06/SEL/mbm.20040906.SEL87195.id.html
http://finunu.wordpress.com/2011/03/22/keraton-cirebon-2-istana-masa-lampau/




Wednesday, April 27, 2011

Waterfall Simonang-monang North Sumatera


AIR Terjun Simonang-monang terletak di wilayah perbukitan Desa Padang Pulau, Kecamatan Bandar Pulau sekitar 50km arah barat daya Kota Kisaran, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara – sekitar 1,5 jam berkendaraan dengan roda 2 atau 4 karena kondisi jalan yang belum memungkinkan kendaraan dapat melaju dengan kecepatan normal. Selain itu, belum banyak petunjuk yang menjadi pegangan calon pengunjung dan karenanya bisa saja orang tersesat.
 
            Air Terjun Simonang-monang tidak terlalu tinggi namun lumayan lebar dengan batu-batu besar dan arus yang deras. Mandi-mandi di dalamnya akan membuat badan serasa dipijat-pijat.

Jenis: Air Terjun
Berdiri:
Pendiri:
Lokasi: Desa Padang Pulau, Kisaran, Asahan
Jarak: 50k dari Kota Kisaran
Perkayaan Sumber antara lain dari:
Read more: http://www.wisatanesia.com/2010/07/air-terjun-simonang-monang.html#ixzz1KlUkdaD0
http://www.wisatanesia.com/2010/07/air-terjun-simonang-monang.html
http://adinblog.wordpress.com/2009/05/11/air-terjun-simonang-monang/
http://sites.google.com/site/wisataairterjun/sumatera-utara/air-terjun-simonang-monang---padang-pulau
http://griyawisata.com/index.php/2011042324614/sumatera-island/air-terjun-simonang-monang/menu-id-81.html

Waterfall Simonang-monang, North Sumatera

Air Terjun Simonang-monang
AIR Terjun Simonang-monang terletak di wilayah perbukitan Desa Padang Pulau, Kecamatan Bandar Pulau sekitar 50km arah barat daya Kota Kisaran, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara – sekitar 1,5 jam berkendaraan dengan roda 2 atau 4 karena kondisi jalan yang belum memungkinkan kendaraan dapat melaju dengan kecepatan normal. Selain itu, belum banyak petunjuk yang menjadi pegangan calon pengunjung dan karenanya bisa saja orang tersesat.


            Air Terjun Simonang-monang tidak terlalu tinggi namun lumayan lebar dengan batu-batu besar dan arus yang deras. Mandi-mandi di dalamnya akan membuat badan serasa dipijat-pijat.

Jenis: Air Terjun
Berdiri:
Pendiri:
Lokasi: Desa Padang Pulau, Kisaran, Asahan
Jarak: 50k dari Kota Kisaran
Perkayaan Sumber antara lain dari:
Read more: http://www.wisatanesia.com/2010/07/air-terjun-simonang-monang.html#ixzz1KlUkdaD0
http://www.wisatanesia.com/2010/07/air-terjun-simonang-monang.html
http://adinblog.wordpress.com/2009/05/11/air-terjun-simonang-monang/
http://sites.google.com/site/wisataairterjun/sumatera-utara/air-terjun-simonang-monang---padang-pulau
http://griyawisata.com/index.php/2011042324614/sumatera-island/air-terjun-simonang-monang/menu-id-81.html

Monday, April 25, 2011

Mount Seulawah, Aceh Besar, Indonesia

Gunung Seulawah Aceh Besar
Gunung Seulawah Agam terletak di Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Gunung ini merupakan gunung aktif yang kaya dengan berbagai flora dan fauna seperti harimau sumatera (panthera tigris sumatraensis), kedih (presbytis thomasi), burung rangkong (buceros rhinocerous), dan jamur (fungi) berbagai spesies serta satwa lainnya. 

Tinggi Gunung Seulawah Agam adalah 1809,8 mdpl. Gunung ini mempunyai dua kawah, Kawah Heutz dan Kawah Simpago. Gunung Seulawah Agam merupakan jenis gunung Stratovolcano. Menurut rencana, Seulawah Agam dan kembarannya, Seulawah Inong , akan dijadikan kawasan konservasi untuk mengurangi perambahan kayu.
Data dari kegempaan pada 1 September 2010 menunjukkan Gunung Seulawah Agam peningkatan secara fluktuatif, walaupun secara visual aktivitas ini tidak menampakkan gejala peningkatan signifikan. Namun, berita 15 September 2010 menyebutkan, gempa vulkanik yang menandai aktivitas gunung ini mulai reda. Lalu, berita 23 Oktober 2010 menyebutkan statusnya diturunkan menjadi normal.
Menurut data (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMG), masa istirahat Gunung Seulawah Agam adalah 136 tahun dan terpanjang adalah 239 tahun. Erupsi terakhir terjadi pada kawah parasit pada 12-13 Januari 1839.

Jenis: Gunung
Ketinggian: 1.809,8 meter
Lokasi: Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam.
Pegunungan:   Bukit Barisan
Letusan terakhir: 1839
Perkayaan sumber antara lain dari:
http://www.wisatanesia.com/2010/05/gunung-seulawah-aceh-besar.html#ixzz1KFF9relU
http://www.wisatanesia.com/2010/05/gunung-seulawah-aceh-besar.html
http://hotlinenow.blogspot.com/2010/09/gunung-seulawah.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Seulawah_Agam
http://www.mediaindonesia.com/read/2010/09/15/168565/76/20/Aktivitas-Gunung-Seulawah-Agam-Menurun
http://www.greenradio.fm/news/latest/4203-status-gunung-seulawah-agam-normal-
http://zharaura-lovers.blogspot.com/2011/02/berita-tentang-gunung-seulawah-agam.html


Sunday, April 24, 2011

How to Find a Title

How to Find a TitleBox2
by Amanda Hampson

You've finished your novel and revised it 9,000 times. It's ready to make its weary way to a publisher. Only one hitch, you don't have a title that rocks.

Creative lightening strikes and you wake up one morning with a song in your heart and realise it's perfect title for your book: Those Were the Days. It feels just right. All your friends think it is fabbo. It absolutely encapsulates the theme of your novel, which is set around a school reunion. It has a comfortable familiar feel to it - yes!

The Olive SistersOnly problem is that it actually sucks.

Fiction titles are really difficult because the commercial reality is that it's not a creative interpretation of the essence of your story. It's the name of your product and an essential part of the packaging.

Illustrating my point is the product name: 'Crunchy Nut Cornflakes'.

We get from the 'title' that it's fun in a noisy crunchy way. It's nutty too - a little bit mad. It's not a serious bowel-moving chaff type product. More for people who want to jazz up their morning with a frivolous, delicious cereal.

Let's check out the blurb:

"Kellogg's Crunchy Nut is so ludicrously tasty! Delicious, sun-ripened flakes of corn, drizzled in smooth, clear honey and encrusted with handfuls of chopped nuts to give you the simply irresistible taste of Kellogg's Crunchy Nut."

Okay, it's corn, honey & nuts but also ludicrous, smooth, clear, sun-ripened, drizzled, encrusted and (apparently) irresistible.

So, let's take a completely pragmatic view: the book title is designed to market a wad of paper (or digital version) and differentiate it from thousands of other similar products . What is written on that wad of paper is only relevant in so much as the packaging needs appeal to the 'right' reader - which is why publishers are so genre conscious.

The reason my invented title Those Were the Days sucks (my opinion only, it's not an exact science) is that it is old-fashioned, vague, alludes to something that is lost or has already taken place, like we missed the best part. It lacks a noun. It's old hat.

My original title for The Olive Sisters was Wild Olives but something similar was published in the meantime and so I submitted 20+ possible titles to my publisher and we picked The Olive Sisters which - as it turns out - is a rocking title. It has Google exclusivity. It's memorable. The title has humans in it and I guess people like things to do with olives.

So, let's get back to your title. Think about your genre, who will your story appeal to?

Research all the titles published in your genre in the last six months. Styles of titles go in and out of fashion. If a couple of single word titles go off big time (Twilight) it starts a trend. You can't guess or even keep up with the trend but you can try to come up with a title that is intriguing, memorable, original and will reach out to your particular readers.

A publisher may change your title but a great title can help you get a publisher. As one publisher put it: 'A dreary title doesn't bode well for the contents.' It's important.

Get out there, do the research and find that crunchy, nutty, ludicrous, sun-ripened, drizzled, encrusted, irresistible and unforgettable title.

Amanda Hampson is the author of The Olive Sisters and Two for the Road and runs workshops and mentor programmes at www.thewriteworkshops.com

Lake Situ Gede Bogor


Danau Situ Gede Bogor
Danau Situ Gede Bogor, merupakan danau kecil (semacam setu atau telaga) di Kelurahan Situ Gede, Bogor Barat, Kota Bogor. Letaknya di tepi Hutan Dramaga, yakni hutan penelitian milik Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan. Panorama hutan Cifor dengan tanaman perkebunan karet ditunjang suasana di lokasi yang masih tenang dan asri merupakan potensi yang sangat menjual bagi promosi wisata setu.

 Dulu, di tengah danau terdapat sebuah gundukan menyerupai pulau kecil yang banyak dihuni berbagai burung air. Tidak jauh dari lokasi Situ Gede, terdapat pula dua buah anak danau yang merupakan bagian dari Situ Gede, yaitu Situ Leutik, Situ Panjang dan Situ Burung. Warga sekitar meyakini ketiga situ tersebut bila diamati secara seksama seperti berbentuk kujang, senjata khas masyarakat Jawa Barat. Sayang kini Situ Leutik telah menghilang. Situ Burung sendiri berada di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor.
Lokasi wisata ini berada kurang lebih 10 km dari pusat Kota Bogor, atau sekitar 3 km di utara Terminal Bubulak. Situ Gede sebetulnya berdekatan, atau berada dalam satu sistem dengan beberapa situ yang lain di dekatnya.  Tidak berapa jauh dari danau ini terdapat Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR, Center for International Forestry Research; dan ICRAF, The World Agroforestry Center), Stasiun Klimatologi atau BMKG Dramaga dan Kampus IPB Dramaga
Telaga memiliki luas sekitar 6ha dan merupakan tempat rekreasi harian bagi warga Bogor. Para pengunjung dapat berperahu, memancing, atau berjalan-jalan di kerimbunan hutan. Danau dan hutan ini pun kerap digunakan sebagai lokasi pembuatan film dan sinetron. Saat menjelang bulan puasa, biasanya juga diadakan acara ‘Ubek Setu’ atau menangkap ikan dengan cara terjun beramai-ramai ke danau.
Untuk mencapai lokasi danau, bagi mereka yang datang dari arah Kota Bogor bisa langsung melalui jalan Gunung Batu-Terminal Bubulak-Situ Gede. Warga Jakarta dan Cibinong dapat melalui Jalan Sholeh Iskandar-Yasmin-Terminal Bubulak. Danau Situ Gede juga difungsikan sebagai irigasi pertanian dan perkebunan masyarakat sekitar.

Jenis: Danau
Lokasi: Kelurahan Situ Gede, Bogor Barat, Kota Bogor
Luas: 6 hektare
Jarak: 10km dari Kota Bogor

Perkayaan sumber antara lain dari:
http://id.wikipedia.org/wiki/Situ_Gede
http://bagja2000.multiply.com/journal/item/23
http://www.kotabogor.go.id/index.php?Itemid=101&id=3841&option=com_content&task=view
http://www.indonesiaindonesia.com/f/15061-situ-gede-salah-satu-potensi-wisata/
http://www.potlot-adventure.com/wp-content/uploads/2009/01/situgede.jpg

Saturday, April 23, 2011

Reservoir Keuliling Aceh Besar

Waduk Keuliling Aceh Besar
Waduk Keuliling Aceh Besar, sebagai waduk pertama dan terbesar di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, terletak di Desa Lam Leuot, Kec. Kuta Cot Glie (dulu Indrapuri), Aceh Besar. Jarak dari Kota Banda Aceh hingga ke lokasi waduk 35km ke arah Medan.
 
 Waduk ini diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama 12 proyek rehabilitasi dan rekonstruksi serta infrastruktur lainnya di Provinsi NAD pada Februari 2009 setelah dibangun sejak 2000dan selesai pada 2008. Waduk yang dibangun dengan tipe zonal dimanfaatkan untuk pengembangan areal persawahan di daerah Irigasi Keuliling Hulu dan Irigasi Keuliling Hilir sekaligus menyuplai kekurangan air di daerah Irigasi Krueng Aceh Extension dan Krueng Jreue. Pembangunan waduk di atas tanah tegalan ini menelan biaya Rp 258 miliar dari APBN.
 Jumlah areal persawahan yang dapat diairi seluas 4.790,5 ha. Dengan adanya pasokan air tambahan juga akan menunjang peningkatan areal sawah tadah hujan menjadi sawah beririgasi teknis yaitu daerah irigasi Keuliling seluas 1.053ha dan daerah irigasi Keuliling Hulu 578ha. Karena itu, selain untuk meningkatkan keamanan terhadap banjir, waduk ini dibuat untuk mendukung program swasembada pangan khususnya beras, meningkatkan pendapatan daerah, meningkatkan produksi tani dan menciptakan lapangan kerja di kawasan pembangunan waduk, meningkatkan penyediaan air baku untuk kebutuhan pada masa mendatang serta pelestarian lingkungan dan pariwisata.
Bendungan tersebut dikelilingi oleh hamparan bukit-bukit kecil dengan panorama alam sangat indah sehingga layak untuk dikunjungi. Bendungan yang memiliki usia guna sampai 50 tahun itu lebih mirip sebuah sungai alami dengan kejernihan air luar biasa. Wilayah hutan dan sawah di sekitar waduk dengan kontur tanah perbukitan yang landai ini bisa dilalui kendaraan roda empat dan roda dua tanpa kesulitan yang berarti.
Selain keindahan airnya, waduk juga memiliki bermacam-macam ikan yang akan terus dipelihara dan ditingkatkan variasinya dengan menaburkan bermacam-macam benih ikan yang bermanfaat bagi masyarakat. Di tengah waduk terdapat sebuah pulau yang dapat dikunjungi menaiki speedboat fiberglass.
            Pada 2010, memperingati Hari Bumi Ke-40, 22 April, Yayasan Bumiku Hijau (Yabumi) bekerja sama dengan Pemkab Aceh Besar, menanam 10.000 pohon di kawasan waduk. Jenis pohon yang ditanam antara lain trembesi, mahoni, ketapang, dan bunot.

Jenis: Waduk
Pembangunan: 2000 - 2008
Lokasi: Desa Lam Leuot, Kec. Kuta Cot Glie (dulu Indrapuri), Aceh Besar.
Ketinggian: 624m
Jarak: 35km dari Kota Banda Aceh
Pengelola:
Tinggi di Atas Dasar Sungai: 25 m
Panjang Puncak: 689,50 m
Lebar Puncak: 8 m

Perkayaan sumber antara lain dari:

Castle Willem II Ungaran, Indonesia

Benteng Willem II Ungaran

Benteng Willem II Ungaran disebutkan dibuat Belanda pada 1786. Benteng ini menjadi situs wisata sejarah yang amat penting untuk di kunjungi. Benteng Willem II Ungaran merupakan saksi penyerahan Pulau Jawa oleh seorang sultan kepada pemerintah kolonial Belanda.
            Benteng yang berlokasi di sisi jalan raya Semarang-Solo di depan Gedung DPRD Ungaran ini dapat berfungsi sebagai landmark Kota Ungaran.
Sejumlah tokoh menyebutkan nama benteng pada awalnya adalah Benteng Oenarang dan bukan Benteng Willem II. Karena itu, banyak tokoh sejarah di Semarang menginginkan nama benteng dikembalikan ke nama awal. Nama Willem II mengesankan benteng ini lebih muda dibandingkan Benteng Willem I di Ambarawa, sementara berdasarkan sejumlah petunjuk, Willem II justru lebih dulu dibangun dibandingkan Willem I.
            Menurut sumber ini, Benteng Oenarang dibangun pada 1712 (bukan 1786), sedangkan Benteng Willem I diperkirakan dibangun pada tahun 1800-an. Sumber lain menyebutkan, Benteng Willem II dibangun pada 1740-1742 saat terjadi Perang Cina. Gubernur Jenderal Baron van Imhoff pernah dirawat di benteng ini karena serangan pasukan Surakarta pada 1742.
Pada 1826 benteng ini diserang pasukan Diponegoro dari arah Rembang dan hampir jatuh ke tangan pasukan Kiyai Mojo setelah dikepung selama dua pekan. Pada Agustus 1830 benteng digunakan sebagai tempat menahan Pangeran Diponegoro selama tiga hari setelah ditangkap di Magelang sebelum dibawa menumpang kapal Pollux di Semarang untuk diadili ke Batavia (Jakarta)
.           Sejak April 2011 benteng ini mulai direnovasi untuk dijadikan sebagai pusat kegiatan masyarakat. Selain itu, benteng ini juga akan dijadikan sebagai pusat penelitian sejarah, museum, ruang pamer, seminar, kegiatan kesenian, dan perpustakaan. Renovasi melibatkan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jateng.

Benteng Willem II Ungaran
Jenis: Benteng
Berdiri: 1786
Pendiri: Belanda
Lokasi: Ungarann
Jarak: 35km dari Kota Ambarawa

Perkayaan sumber:

Friday, April 22, 2011

Waterfall Curug Luhur


CURUG Luhur adalah objek wisata air terjun di Kecamatan Ciomas, Bogor. Tingginya 624 m. Curug dengan dua air terjun sejajar ini terletak di Gunung Salak sekitar 70 km di selatan Jakarta atau sekitar 20km dari Kota Bogor. Jarak dari Curug Nangka sekitar 1-2km.
Tersedia angkutan umum untuk mendatangi curug ini karena lokasinya persis di samping jalan raya Bogor-Gunung Salak Endah. Jalan menuju lokasi curug terbuat dari semen. Ada limpahan air yang mengalir deras pada dinding tanah dengan ketinggian sekira 2m ketika pengunjung mendekati lokasi curug.
Awalnya, Curug Luhur hanya memiliki satu air terjun. Namun, penduduk sekitar membuat cabang baru pada aliran sungai dan membelokkannya dan terciptalah air terjun baru. Panoramanya pun jadi semakin indah. Arus air di curug ini kuat dan cukup berbahaya. Demikian pula di bawahnya terdapat pusaran air yang kuat dan dapat menyeret orang ke dalamnya. Selain itu, Curug Luhur juga memiliki beberapa kolam buatan dan airnya disengaja melimpah dan berbunyi khas.
            Pengunjung dari Jakarta, dapat keluar di Bukit Sentul, berbelok ke kiri dan masuk ke Perumahan Bukit Sentul. Setelah itu, belok kanan setelah melewati Balai Budaya dan masuk ke jalan desa menuju Bojong Koneng dan tiba di kantor Kepala Desa (sekira 3km). Mobil pribadi jenis sedan dapat diparkir di Kantor Kepala Desa atau di SD Bojongkoneng. Untuk kendaraan jenis jip bisa berbelok ke kiri dan ber-offroad ria menuju lokasi curug. Untuk masuk ke lokasi Curug Luhur, pengunjung biasanya dikutip warga sekitar Rp 3.500 per orang.
Daerah ini juga terkenal karena menghasilkan nanas yang manis dan kering serta durian rancamaya.
Jenis: Air Terjun
Lokasi: Gunung Salak, Ciomas, Bogor
Ketinggian: 624m
Jarak: 70km dari Kota Jakarta
Pengelola: PT Curug Luhur Indah Paradise
Perkayaan sumber:

Tuesday, April 19, 2011

Anak-Anak Tebing (1)


Anak-Anak Tebing

Pertama

“KABUUUUUR!”
Tanpa menunggu teriakan kedua dan ketiga dari Si Kurap Mukhlis, aku menyambar ‘harta benda’ milikku dan melompat serupa kijang mengikuti langkah-langkah panjang Si Dempul Jayadi, Jainudin Si Cabak, Rusli Yungyi, Si Cepot Halim, Rahmat, Yanto, Si Kampong Romli, Si Roy Rauf, dan entah siapa lagi. Tak ada yang berani menengok ke belakang dan menemukan sosok murka Wak Haji Loket yang hampir pasti tengah tertatih-tatih membawa tubuh kian rentanya untuk mengejar kami dengan golok terhunus di tangan kanannya dan tangan kirinya menyingsingkan kain sarungnya untuk memudahkan kaki-kaki ringkihnya berlari lengkap dengan sumpah serapahnya serupa lengking kereta tua.
            Medan gembur bertebing dengan kemiringan sekira 45 derajat sedalam sekitar 15m serta beberapa bagian diberi pagar setinggi dada sedikit menyulitkan kami untuk menyelamatkan diri dari kemungkinan kena amukan Wak Haji Loket. Namun, kami sudah sangat hafal ke arah mana kami harus berlari, di mana kami harus melompat, kapan harus bergulingan, dan kapan melodos dari lubang pagar penuh duri secang. Selama ini, Wak Haji Loket tak pernah bisa menangkap kami, bocah-bocah yang hampir setiap hari memancal pohon-pohon jambu monyetnya, memetik buah-buahnya. Untuk urusan berlari, Wak Haji Loket yang kutaksir sudah berusia 65 tahun jelas memang bukan padanan kami.
            “Mana Mukhlis? Si Acan?” aku bertanya di sebuah ceruk tanah sekira lima meter jaraknya dari empang Haji Sanusi yang di dalamnya selalu berenang-renang ratusan ikan mujair. Di tempat itulah kami biasa berkumpul setelah melewati Cepidit, istilah yang kami kenal turun-temurun, sebuah area seluas 10m x 10m berisi kuburan tua entah siapa.
            Si Kurap Mukhlis muncul dengan napas nyaris putus sebelum ada yang menjawab pertanyaanku. Sendirian. Tanpa Hasan, adiknya yang biasa kami panggil Acan. Bajunya tak lagi terkancing. Keringat berleleran di dadanya yang hampir sebagian dipenuhi kurap. “Mati, aku hampir kena serampang,” Mukhlis menjatuhkan tubuh lunglainya di sampingku.
            “Golok?”
            “Bukan. Potongan kayu bacang. Ujungnya berarang bekas dibakar. Kayaknya diambil dari tabunan di bawah pohon kokosan.”
            “Mana mungkin tega dia nyerampang Mukhlis dengan golok, Dul?” Rahmat menggaruk-garuk rambutnya yang agak gondrong sambil menatap aku. “Mukhlis kan masih keponakan Wak Haji Loket. Kalau sampai kena kan urusannya bisa berabe.”
            “Acan mana? Mana Si Acan?” Si Dempul Jayadi, memburu Mukhlis.
            “Jangan-jangan...” Mukhlis nampak berpikir. “Masih di atas pohon.”
            “Celaka!” Yanto mematahkan ranting rambutan di tangannya. “Bisa diremukkannya si Acan.”
            Nggak mungkin,” mulut Rahmat monyong. “Tenang saja, Lis? Wak Haji Loket memang galak. Tapi dia nggak gila. Nggak mungkin dia mencelakakan adikmu, Lis. Kalian ‘kan keponakan Wak Haji Loket.”
            “Belum tentu, Mat,” Rusli membantah. “Siapa tahu dia lagi kemasukan setan Cepidit? Lagi datang gilanya.”
            “Hus, jangan ngomong sembarangan lu!” sambar Rauf. “Percaya sama aku,” Rauf menenangkan Mukhlis yang nampak makin resah. “Paling nggak, Wak Haji Loket nggak dikenal suka makan orang.”
            Aku mengeluarkan harta bendaku. Maksudku, apa yang sudah kudapat dari kebun jambu monyet Wak Haji Loket. Lima buah jambu monyet yang ranum dan siap disantap. Jayadi dan Jainuddin adiknya, Halim, Rahmat, Yanto, Rusli, Rauf, juga ikut mengeluarkan ‘penghasilan’ mereka. Ada yang mendapatkan lima jambu monyet seperti aku, ada pula yang baru tiga buah dan dua buah. Sebagian jambu-jambu ini merupakan hasil petikan Acan.
            “Jatahku dua buah untuk Acan,” kataku. “Tapi, mana dia orangnya?”
            Mukhlis kembali nampak gelisah. Dia mengkhawatirkan sesuatu yang buruk terjadi pada adiknya yang memang biasa memancal pohon jambu monyet milik pamannya karena dia paling pandai memanjat pohon jambu monyet, terutama pohon yang besar yang tumbuh gagah di hook tebing, pohon yang akar-akarnya berpilin-pilin di atas tanah dan kerap jadi tempat kami bermain-main sembari bersenda-gurau.
            “Ayo kita cari,” ajak Si Kampong Romli.
            “Kamu berani?” Si Roy Rauf, memandangi adiknya.
            “Berani kalau kita semua pergi mencarinya,” tantang Kampong.
            “Biar abang saja yang pergi. Kamu pulang saja. Bantu emak mengisi bak mandi. Hari sudah mulai sore. Kalau emak sampai marah, kita semua jadi berabe.”
            “Kita semua?” aku mengernyitkan dahi.
            “Maksudku, aku dan adikku.”
            Meskipun dengan wajah merengut, Romli tak berani membantah kata-kata abangnya. Bersama matahari yang makin turun dan sinarnya terhalang berbagai jenis pepohonan di kampung kami, Romli meninggalkan kami. Langkahnya nampak begitu malas. “Cepat! Jangan letoy kayak Bang Dani!” Rauf membentak adiknya. Bang Dani yang dimaksudnya adalah laki-laki waria yang usianya kini kutaksir sudah 35 tahun. Nama lengkapnya Hamdani.
            Sekira Romli berjalan 10 meter, dengan sigap kami melompat meninggalkan tempat kami berkumpul. Kami harus menemukan Acan, yang kami yakin masih berada di atas pohon jambu monyet sejak Mukhlis berteriak meminta kami kabur untuk menyelamatkan diri.
*
            Sambil mengendap-endap takut bertemu Wak Haji Loket yang kami pastikan tengah megap-megap setelah gagal menangkap kami, kami kembali melangkah menuju pohon jambu monyet paling besar yang tumbuh gagah di atas tebing. Di bawahnya menganga empang milik Haji Juk, anak tertua Wak Haji Loket. Airnya hijau seperti perasan daun cingcau.
            “Ssst...” Halim memberi kami isyarat. Telunjuknya mengarah ke ujung barat jalan. Mata kami mengarah ke sana. Wak Haji Loket tengah bersandar di pohon kecapi yang tinggi menjulang sekira 20 meter. Tubuh Wak Haji Loket membungkuk. Mungkin sedang mengambil napas. Dalam hati aku kasihan juga. Tapi, berbuka puasa tanpa buah jambu monyet rasanya kurang lengkap. Jadi, biar pun selalu dilarang orang tua, kami tetap membandel. Seperti hari ini. Kami tetap mencuri jambu monyet di kebun Wak Haji Loket yang memang sangat banyak. Di kampung kami, Wak Haji Loket-lah yang paling banyak memiliki tanah. Ribuan meter jumlahnya. Sebagian di antaranya merupakan kawasan bertebing. Di bawahnya terhampar persawahan dengan gergumuk di tengah-tengahnya. Di sebelah timur, terdapat kampung Gandaria, kampung kakekku almarhum.
            Masih dari kejauhan, kami mencari-cari sosok Hasan yang kami yakini masih nangkring di atas pohon jambu monyet. Matahari makin terbenam di ufuk barat dan rerimbunan pohon kecapi, sawo, rambutan, kososan, melinjo, dan pohon timbul, membuat suasana makin gelap.
            “Itu Acan!” Si Yungyi Rusli berteriak tertahan. “Di cabang sebelah kanan.”
            Kami bernapas lega sekaligus kasihan melihat Hasan masih tertahan di atas pohon sementara hari kian gelap. Kami juga mengkhawatirkan dia terjatuh. Siapa tahu perutnya yang lapar karena puasa akan membuatnya lemas.
            “Ayo kita berdoa,” ajakku begitu saja.
            “Berdoa? Untuk apa?” Si Cepot Halim tak mengerti.
            “Berdoa supaya Wak Haji Loket segera pulang dan Hasan tahan di atas pohon,” kataku.
            “Betul juga, Dul,” Rahmat mendukungku. “Tapi, apa doanya?”
            “Baca fatihah saja. Baca alhamdu,” Rauf menyambung.
            “Setuju, Roy. Ayo kita baca fatihah,” kataku. “Tundukkan kepala, minta sama Tuhan dalam hati.”
            Kami pun menundukkan kepala dan khusyuk berdoa. Beberapa saat kemudian, kami melihat Wak Haji Loket meluruskan tubuhnya. Setelah menoleh ke kiri dan ke kanan --mungkin masih penasaran karena lagi-lagi gagal mendapatkan buruannya-- Wak Haji Loket melangkah pergi meninggalkan kebunnya. Kami pun bernafas lega. Tuhan agaknya benar-benar mengabulkan doa kami.
            “Turun, Can!” Mukhlis memberi isyarat supaya adiknya segera turun dari atas pohon. Tanpa diperintahkan dua kali, Hasan turun serupa berlari karena besarnya dahan-dahan pohon. Selain itu, ia juga sudah sangat hafal lekuk dan likunya.
            Masih dengan terengah, Hasan segera bergabung dengan kami. “Hampir saja, Can!” aku meninju punggungnya. Hasan senyum-senyum.
            “Sekarang kita bubar. Pulang ke rumah masing-masing,” kataku seraya memberinya dua buah jambu monyet yang tadi dipetiknya. Rahmat yang juga memegang lima jambu, memberinya pula dua buah.
            “Sudah, empat saja. Ayo kita bubar. Ini ‘kan hari pertama puasa. Kita harus berbuka puasa di rumah masing-masing,” katanya.
            “Jangan lupa, nanti kita kumpul pas tarawih di musholla Da’watul Khairat,” aku mengingatkan.
            “Beres,” jawab mereka serempak. Kami pun bubar.
*
            Selepas berbuka puasa, aku cuma bisa menghabiskan satu buah jambu monyet dari tiga yang kusimpan. Perutku rasanya seperti sudah hendak meledak karena kepenuhan makanan. Mulai dari sepiring nasi dengan lauk ayam goreng dan sayur santan bikinan ibu. Sebelumnya, segelas kolak ubi merah campur pisang dan tapai singkong sudah kujejalkan ke dalam perutku. Kalau tidak diteriakkan emak, mungkin segelas es buah juga sudah lewat dari kerongkonganku.
            “Makan nasi dulu, Dul!” hardik emak membuat gelas dalam genggamanku nyaris terjatuh. “Kalau belum makan nasi, jangan dulu makan yang lain-lain.”
            Tak sepenuhnya bisa kupatuhi titah emak karena sudah telanjur. Karena itu, aku hanya menyendok sedikit nasi supaya emak senang.
            Setelah menyudahi seluruh ritual berbuka puasa, laksana burung buru-buru aku terbang ke musholla Da’watul Khairat. Ternyata jamaah salat Magrib sudah bubar. Aku terpaksa salat sendirian dan karenanya rela terganggu oleh suara beduk yang ditabuh bertalu-talu oleh teman-temanku. Benar-benar memekakkan telinga. Aku sendiri jadi tak sabar ingin segera bergabung dengan mereka, menabuh beduk sampai waktu Isya datang.
            Si Dempul Jayadi yang sedang menabuh beduk ketika aku menyelesaikan salat Magribku. Iramanya mengasyikkan kalau Si Dempul yang melakukannya. Sesekali dia menghentak keras, sesekali lembut, pantatnya bergoyang-goyang. Si Cabak Jainuddin, adiknya, bertepuk-tepuk tangan. Si Yungyi Rusli menggetok-getok perut beduk dengan sebongkah batu bata merah. Percikannya terpental ke mana-mana. Di sebelahnya, Si Roy Rauf asyik mengadu-adu dua batu koral mengikuti irama pukulan beduk Jayadi.
            “Dilarang joget!” Si Cepot Halim berteriak. Kami mengerti. Meskipun dikenal bandel dan nakal, pantang bagi kami berjoget di lingkungan musholla. Soalnya, Bang Kasim, bapak Si Yanto, sering marah dan melemparkan bongkahan-bongkahan tanah kepada kami jika dia memergoki kami memukul beduk sambil berjoget-joget seperti di bawah panggung orkes dangdut. “Goyang-goyang sedikit bolehlah,” Halim menyambung. Kami mesem-mesem.
            “Gantian, Pul!” aku berteriak kepada Jayadi setelah bosan ikut mengetuk-ngetuk perut beduk yang terbuat dari drum bekas minyak tanah.
            Jayadi memberikan kedua pukulan beduk yang panjangnya sekira 30 cm dengan ujung berbentuk bulat seperti pentol korek api, kepadaku. Dengan penuh semangat, aku pun melanjutkan irama pukulan yang tadi dilakukan Jayadi. Kami kian bersemangat setelah satu per satu jamaah salat Isya dan Tarawih mulai berdatangan, terutama para gadis-gadis sebaya kami. Sambil terus memukul beduk, sesekali aku mencuri-curi pandang mencari sosok Tutik, gadis anak Pak Haji Mahruf yang sedang aku taksir. Tahi lalat di ujung lubang hidung sebelah kanannya membuat aku selama ini sering tak bisa tidur.
            Tapi, aku harus benar-benar berhati-hati. Jangan sampai Halim, abangnya Tutik, tahu kalau aku, yang hanya anak seorang tukang kayu, naksir adiknya. Bagaimanapun ada perbedaan cukup besar antara keluargaku dan keluarga Tutik. Bapaknya, Haji Mahruf, salah satu pegawai teladan di Perum Peruri di kawasan Blok M. Punya gaji bulanan dan karenanya rumahnya terbuat dari batu, sedangkan aku, bapakku hanyalah seorang pedagang keliling. Hampir setiap hari bapakku berkeliling kampung menjajakan furnitur terbuat dari kayu. Kadang kursi jongkot, kursi kebon, rak piring, dipan, atau penggilasan. Untungnya tidak seberapa dan karenanya hingga kini rumahku terbuat dari kayu dan dindingnya terbuat dari pagar anyaman bambu.
            “Hei! Berhenti!” kudengar sebuah teriakan dari dalam musholla. Bang Tong Ajis merapikan kopiah bututnya setelah tadi mengambil air wuduk. “Pukul beduk Isya!” dia menambahkan teriakannya.
            Rahmat serta-merta menyambar salah satu pukulan beduk dari tanganku. Dengan sekali dorong, tubuhku yang jauh lebih kecil terpental. Ketika aku masih menyerapah, Rahmat sudah memukul beduk pertanda waktu salat Isya sudah masuk: der...der...der-der. Empat kali. Dua yang pertama dengan jeda, sedangkan dua yang berikutnya dipukul berturutan tanpa jeda. Sesaat kemudian, Bang Tong Ajis sudah melolongkan azan. Suaranya melengking keras melalui toa, loud-speaker berbentuk corong bungkus kacang asin yang diikat di ujung sebuah bambu betung sangat tinggi di dekat mihrab musholla. Allahu Akbar....Allaaaaaahu akbar....!
            Kami pun berebutan mengambil air wudu pada beberapa keran yang baru 6 bulan lalu dipasang. Sebelumnya, kami mengambil wudu pada sebuah kolam berukuran 1,5m x 3m. Untuk berwudu, kami biasanya naik ke atas sisi kolam yang dibuat selebar sekitar 30cm. Kecuali berkumur yang airnya kami buang ke luar kolam, kami biasanya mencuci tangan dan membasuh bagian wudu lainnya, termasuk kaki, langsung ke dalam kolam. Tak ada yang merasa jijik karena kami memang tak perlu merasa jijik. Bahkan, kadang-kadang, kami saling main ciprat-cipratan air sembari berwudu.
            “Siapa imam tarawih malam kedua ini?” Cepot menyenggol aku ketika aku sedang disibukkan dengan kain sarungku yang kekenduran dan kerap melorot.
            “Haji Ikin. Engkongmu,” aku menjawab sekenanya.
            “Wah, lama dong. Bacaannya lambat,” Si Cepot Halim menggerutu. Dapat kupastikan, Cepot takkan mau mengikuti salat tarawih hingga selesai. Ia pasti minggat selepas 8 atau 10 rakaat. Ia takkan mampu bertahan hingga 20 rakaat.
            “Kenapa bukan Haji Tong Ak sih?” Cepot mengikutiku bersila di dekat jendela musholla. Haji Tong Ak yang dimaksudnya adalah Pak Haji Ishak. Kami biasa memanggil bapak Si Sumadi itu dengan Haji Tong Ak. Tong di sini merupakan kependekan dari Entong, panggilan untuk anak laki-laki di kampungku. Haji Tong Ak merupakan salah satu imam di musholla kami. Bacaannya cepat seperti sepeda motor balap. Anak-anak seperti aku lebih suka imam yang cepat bacaannya karena dengan begitu salat tarawih pun jadi cepat selesai dan kami bisa dengan segera berbondong-bondong ke rumah Halim untuk menyaksikan acara-acara televisi di TVRI.
            “Kan gantian, Pot,” aku tersenyum melihat Hasan muncul dengan kopiah hitam yang nampak terlalu besar untuk kepalanya. Acan mendekatiku dengan senyum-senyumnya yang nampak malu-malu seperti kebiasaannya.
            “Nanti filmnya apa ya?” Acan setengah berbisik kepada Halim.
            “Ivanhoe,” Si Dempul tahu-tahu sudah berada di sebelah kiriku.
            “Bukan. Hawaii...Hawaii Five O,” kataku. Lalu terbayang wajah Jack Lord sang pemeran detektif Honolulu bernama Steve McGarrett yang gesit yang mengungkap kejahatan dibantu Chin Ho Kelly yang dimainkan aktor tambun Kam Fong. Ada juga Kono Kalakaua yang diperankan Zulu. Ah, pokoknya serulah. Film Hawaii Five O yang diproduksi untuk menghormati Hawaii sebagai kota ke-50 Amerika Serikat itu merupakan salah satu film kegemaranku.
            “Dul! Sudah komat,” Si Cabak Jainuddin menarik bagian atas lengan kaos oblongku hingga melar. Aku menampar tangannya sambil menggerutu.
            “Anak-anak jangan bercanda,” kudengar suara Wak Haji Ikin getas.
            “Yang suka bercanda di luar saja!” bang Idris menambahkan
            Namun kami bisa diam di awal saja, hanya ketika Wak Haji Ikin memulai salat Isya dengan membaca surat Al Fatihah.
            “Aaaaaa.....miiiiiiin......” kami berteriak keras-keras begitu Wak Haji Ikin menyudahi surah Al Fatihah-nya. Setelah itu, suasana jadi seperti sulit dikendalikan. Ada yang cekikikan. Ada yang senggol-senggolan, ada yang pindah tempat, ada yang menendang ke belakang. Suasana makin kacau ketika Rahmat menyambar kopiah Yanto dan melemparkannya ke belakang. Yanto pun berlari mengambil kopiahnya. Begitu kembali ke barisan, dia mencomot kopiah Hasan dan melemparkannya ke barisan terdepan. Melihat hal itu, beberapa anak tak mampu menahan geli.
            Kekacauan berlanjut ketika ruku. Hasan mendorong pantat Rusli di depannya membuat kepala anak itu menyundul pantat bang Radin di depannya. Lalu, pada saat sujud, tangan-tangan jahil kami kembali beraksi menyambar sesuatu di balik kain sarung teman-teman yang bersujud di depan. Siapa pun yang tersambar pasti tersentak kaget karena kebanyakan kami tak mengenakan celana pendek atau celana dalam ketika bersembahyang. Yang paling kusukai adalah mencolek sesuatu yang menjendul dari balik kain sarung bang Dani. Soalnya jendulannya paling menonjol. Bang Dani sering marah-marah, tapi dia tak tahu kepada siapa harus meluapkan kemarahannya. Biasanya, setelah salat selesai, tak seorang pun berani berada persis di belakangnya. Siapa pun yang sudah menjawilnya, pasti langsung pindah ke tempat lain. Tinggallah bang Dani menyerapah-nyerapah sendirian sambil memainkan iris matanya ke kiri dan ke kanan. Dan, kami pun mencekikik tertahan.
*
            Halim yang paling dulu hilang sebelum salat tarawih berjalan 6 rakaat. Hal itu tentu saja membuat yang lain, termasuk aku, jadi gelisah. Kami ingin salat Isya dan Tarawih buru-buru selesai agar kami bisa segera nongkrong di depan pesawat televisi hitam putih seukuran 14 inci di rumah Halim. Ada film Hawaii Five O kegemaranku.
            Halim cengangas-cengenges ketika kami berbondong-bondong datang ke rumahnya, lengkap dengan selempang kain sarung masing-masing. O, rasanya aku sudah tak sabar ingin menyaksikan aksi Jack Lord, Kam Fong Chun, Al Harrington, Herman Wedemeyer dan Peggy Ryan.
            Namun, setelah film hendak dimulai, gambar di televisi tiba-tiba mengecil. Kian lama kian mengecil. Halim dengan cepat menggoyang-goyangkan kedua capit yang menjepit dua kepala accu di belakang pesawat televisi.
            “Setrum accu-nya habis, brengsek!” Halim berteriak. Kudengar adik-adiknya, termasuk Tutik yang sedang kutaksir-taksir, ikut mengomel-ngomel.
            “Kenapa tadi tidak disetrum sih?” Imas, adik Halim yang lainnya, cemberut.
            “Tadi ‘kan masih ada. Kirain masih cukup untuk malam ini,” kata Halim.
            Aku garuk-garuk kepala. Gambar di pesawat televisi 14 inci itu tinggal dua senti memanjang. Wajah para pemainnya meleyat-meleyot. Halim pun menekan tombol off pesawat televisinya.
            “Ayo ke musholla!” teriak Si Dempul. “Kita tadarusan saja!”
            Dan, kami pun berduyun-duyun kembali ke musholla dengan langkah-langkah lunglai.*

MY KITCHEN

Sunday, April 17, 2011

Barbara Brooks: Writing a Life

Barbara Brooks: Writing a LifeInterview

Barbara Brooks has published short stories, Leaving Queensland, as well as essays, and a biography, Eleanor Dark: a Writer's Life. Her work has been published in the UK, USA, Asia and Europe. This week, Barbara reflects on the process of writing her first full-length creative non-fiction work: her biography of Eleanor Dark.

Eleanor DarkWriters love notebooks, a friend said, giving me one with a William Morris cover for my birthday. I've given up on journals, but I keep notebooks, workbooks, for my non-fiction based projects. A series of them, different sizes and colours, handmade, spiral bound or stitched, sitting in a bookcase. When I started writing the Eleanor Dark biography, I already had a bulging workbook. It was a large red and black Chinese notebook, and inside I'd written lists of people we had talked to and people we wanted to talk to, lists of books to read, pages of notes and quotes, and ideas for an application for a Literature Board grant. Inside the cover I had tucked in a folded piece of paper Judith had written on. Judith Clark worked on the biography with me, initially as a researcher, but she made a substantial contribution to the ideas and content of the book. We had been doing interviews - with Eleanor's husband Eric Dark (he was 97), their son Michael and his wife Jill, as well as friends from Katoomba like John Apthorpe, and writer colleagues like Kylie Tennant. And we were reading Eleanor's books and the papers in the Mitchell Library. We had collected a mass of information, and there was much more to come.

That piece of folded paper was a crucial one. We needed to start thinking of ways to organise the information. For a biography, you need a chronology, a timeline, even if you don't write a strictly chronological account. We needed to understand the relationships between events in Eleanor Dark's life, the context and possible causes. We needed a way in. So Judith began to sketch out a rough list of different stages of Eleanor Dark's life - childhood, 1930s, 1940s and 1950s and so on. I added topics like starting writing, the novels of the 30s, the war, going bush, the Queensland years.

So we created a timeline, and in this case it was a lifeline. Judith created a kind of database of dates, quotes and information, one we could access by date and by subject. As I wrote, I created other smaller and more detailed chronologies for different sections of the book, or even individual chapters. Later I sat in the Mitchell looking at the manuscript of Sun Across the Sky, the novel Eleanor Dark published in 1937. It was a story about a doctor in a coastal town in NSW in the 1930s who falls in love with an artist, and the conflict between a life that values the imagination, the lives of the Christopher Brennan poet figure and the woman artist, and the life of the developer Gormley who wants progress and profit. The events of the novel take place in one day.

Barbara Brooks
Barbara Brooks
In March 1993, after a day in the Mitchell Library, one of many, sitting at the long wooden table, surrounded by boxes of Eleanor Dark's letters and manuscripts, diaries and book contracts, I wrote in my notebook:

Sitting in the Mitchell looking at the original ms of Sun Across the Sky and her double page charts - chronology of the day, hour by hour from dawn to 7pm, with all the characters listed in columns, what they're doing and thinking. Then another chart that's a chronology of the character's lives.

My notebook was full of lists and small chronologies, scribbled diagrams and crazy paving paths, with connecting arrows shooting across the pages, where I tried to nut out structure and flow. Now I'd found that Eleanor Dark had done something similar, in order to keep track of her characters.

That piece of paper with Judith's notes and my scribbles had been the beginning of the way in to my starting writing. In order to write the biography, I had to learn how to get on top of a large mass of material, and shape it. I wanted to shape it into something like a story. Not something with a chapter on her life and one on each of her books. That first rough division of the life into stages gave us a way in. But the next question was: how could I find the thread to follow, how could I create a narrative? Doris Lessing reflects in her memoir, Under My Skin, about writing a life story: a novel is a plot, she says, a life is not a plot, a life is just a sprawl of incidents. That was the next challenge.

Barbara Brooks will teach a six-week course on Writing Creative Non-Fiction at the NSW Writers' Centre starting Sunday 8 May.
----

Sunday, April 3, 2011

Deb Abela: On Writing for Kids


Deborah Abela is the author of fifteen novels for 8-12 year olds: the Jasper Zammit (Soccer Legend) series, which she wrote with Johnny Warren, The Remarkable Secret of Aurelie Bonhoffen and the Max Remy Superspy series which is published in over six countries around the world.

This week Jacqui Dent catches up with her about writing for a young audience, developing characters and getting unstuck.

Deb AbelaJD: Why do you write for kids?
DA: I love it...but it started as an accident. After studying Communications at UTS, I was keen to work in adult TV drama...after a good dose of begging just about anyone I met, I was given a job by John Edwards and Sandra Levy, producers at Southern Star production house. It was a brilliant introduction to writing for TV but after my first stint, I was offered a job at Network TEN, where I worked in the script department. I worked there for a year before being offered a job as Assistant Producer/Writer of a kids' TV show. It was then I had my first taste of writing for kids and I loved it! I left the show in 2001 and have been writing kids' novels ever since.

What are three things you need to be aware of writing for a young audience?
While I was writing for Cheez TV I learnt a few very valuable tips about writing for kids.
  • Look kids in the eye .... kids will know the second you are being condescending or talking down to them.
  • Save the lectures for the uni students. Tell a story first, whatever kids learn or take away from your story, will follow.
  • Be kid focussed - let the kids lead the plot and action!

I've been working with these pointers in my novels too and I've had lots of fun with them.

How do you judge which age group your story would suit?
Ohhh that is hard ... in fact, I've noticed in writing for kids over the last ten years, that a twelve-year-old today is very different to what a twelve-year-old wanted ten years ago. I don't usually think about age when I start writing....I just try to write an engaging story, with unique characters kids want to hang around ... the judging of the age group may well come down to your publisher.

Aurelie BonhoffenWhat are three reasons kids' manuscripts get rejected by publishers?
I'm sure this differs for each publisher but over the years I have heard a few reasons, some of which are:
  • They've heard it all before.
  • It is too condescending to kids - a lecture rather than a story
  • There is no real hook that makes the work really stand above other submissions
Having said that, the work may be similar to something they have just signed up, or their list has a hole that isn't going to be satisfied by your work, no matter how well written it is ... timing is so crucial and that is something that is mostly out of your hands.

How do you create an authentic voice for your young characters?
I have to sit with my characters for a very long time before they begin to come to life. Peter Carey calls it an osteopathic click....that wonderful moment when your character comes to life for you. It is magic. At this point, I out my characters in a situation and I watch them act ... I hear them talk, I laugh at their jokes and feel for them when they're sad. It takes time to get to know someone and it is the same for my characters ... but also I love it when they surprise me ... when they say or do something I hadn't seen coming.

When you get stuck writing you ... ?
Go for a bike ride, pick up a book, go back to the project, go to another project, go to the fridge, try again, go for another bike ride (this is great thinking time) but as my good friend and teach Catherine Heiner says, just sit down and do it. If I stay with it, the story and work will come to life, sometimes when I'm at my most exasperated. Stay with it, believe in your work and be realistic about where it is working and where perhaps it needs a little more love and care and hard work from you. Happy writing!

Deb Abela is teaching her one-day course Writing for Kids at the Centre on Sunday 17 April.