Search This Blog

Thursday, December 16, 2010

ES, AN INDONESIAN ARTIST DICTIONARY

Maia Estianty, PENYANYI, AKTRIS. NAMPAK selalu bersemangat, itulah yang nampak dari sosok Maia Estianty, penyanyi yang sebelumnya dikenal dengan nama Maia Ahmad ketika masih bersuamikan Ahmad Dhani, musisi grup band Dewa 19 yang juga rekan sesama SMA-nya di SMAN 2 Surabaya. Sebagai penyanyi, Maia juga piawai melawak dan karenanya sempat meramaikan pentas Extravaganza di TransTV. Di layar kaca, dia juga pernah tampil dalam serial OB di RCTI. Maia membentuk grup musik duo bernama Ratu bersama Pinkan Mambo pada 2003 setelah keduanya sama-sama pernah menjadi backing vocal Dewa 19. Album pertama mereka, Bersama, melambungkan nama mereka lewat lagu-lagu antara lain Aku Baik-Baik Saja, Salahkah Aku Terlalu Mencintaimu, dan Jangan Bilang Siapa-Siapa. Namun, kedudukan Pinkan kemudian digantikan Mulan Kwok melalui proses audisi setelah Pinkan memutuskan keluar dan bersolo karier mulai 2005. Tahun itu pula Maia merilis album kompilasi pertama bertajuk Ratu & Friends dengan single Teman Tapi Mesra dan Di Dadaku Ada Kamu. Album ini sukses di pasaran dengan penjualan 400 ribu kopi. Sukses itu disusul keterlibatan Maia membintangi produk iklan (beberapa di antaranya juga bersama grupnya). Pada 2006, Maia dan Mulan merilis album No. Satu, dengan lagu andalan Lelaki Buaya Darat, dan Dear Diary. Seperti album pertamanya bersama Mulan, album ini pun sukses dengan angka penjualan 500 ribu kopi hanya di pekan pertama. Namun, Mulan kemudian juga memutuskan cabut dari Maia di awal 2007. Vakum selama 1 tahun, Maia tampil kembali dengan formasi Duo Maia. Tahun itu pula Maia mulai diguncang berita kurang sedap seperti pembagian royalti oleh managemen Ratu yang dianggap Mulan kurang transparan. Masalah berikutnya adalah konflik rumah tangganya dengan Ahmad Dhani. Maia akhirnya bercerai dengan Dhani pada 23 September 2008. Dalam proses itu, Desember 2007, Maia menemukan pengganti Mulan, Mey Chan. Meski begitu, Dhani melarang Maia memakai nama Ratu. Karena masih terikat kontrak dengan Sony BMG, Maia terpaksa mencari nama lain, Duo Maia, untuk album barunya pada 2008. Album itu bertajuk Maia & Friends. Album ini mencetak single seperti Ingat Kamu dan E.G.P dan terjual lebih dari 300 ribu keping sekaligus menghasilkan penghargaan double platinum dari SONY BMG. Pada 2009 Duo Maia merilis album bertajuk Sang Juara dengan single seperti Pengkhianat Cinta, Serpihan Sesal, dan Sang Juara. Lagu Sang Juara  dinobatkan sebagai lagu wajib oleh Menteri Pemuda & Olahraga Indonesia, Adyhaksa Dault, dalam pertandingan-pertandingan serta kejuaraan yang diselenggarakan di Indonesia menggantikan lagu We Are The Champion yang dibawakan Queen. Dalam album itu, Maia yang juga menjadi produser grup vokal Pasto, menggaet artis Cinta Laura untuk berduet dalam lagu Penghianat Cinta. Prestasi lain ditorehkan Maia. Pada Mei 2009, lagu ciptaannya, TTM (Teman Tapi Mesra) dibeli salah satu grup di Swedia. Menggunakan irama yang sama, hanya berganti lirik dan judul, Dreaming Of The Time. Akhir November 2010, Maia dinobatkan sebagai duta anti kekerasan terhadap perempuan oleh Kementrian Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
BIOGRAFI – Nama lengkap: Maya Estianty. Nama pop: Maia Estianty. Kelahiran: Surabaya, 27 Januari 1976. Grup musik: MAIA (dulu RATU)  Masa aktif: Sejak 2003. Genre: Pop, Rock. Suami: Ahmad Dhani (bercerai 23 September 2008). Anak: Ahmad Al Gazali, El Jalaluddin Rumi, dan Abdul Qodir Jaelani. Pendidikan: SMPN 1 Surabaya, SMAN 2 Surabaya. Situsweb: maia.blogdetik.com.
Diskografi – Ratu: Bersama (2003), Ratu & Friends (2005), No. Satu (2006). Maia: Maia & Friends (2008), Sang Juara (2009)
Filmografi: Lantai 13 (bintang tamu, 2007), Oh My God (pemeran pendukung, 2008), Kata Maaf Terakhir (2009)
Acara Komedi: Extravaganza (2006 - 2007), OB (2007), Happy Sahur (2009)
Iklan TV: Honda Beat (2008), Dove (2009), Toyota Kijang Innova (bersama Chelsea Rezky, 2010)

ED, AN INDONESIAN ARTIST DICTIONARY


Teuku Edwin. presenter, Penyanyi. Edwin mengawali karier sebagai presenter. Dari sana pula ia bahkan juga terjun sebagai pemain film. Untuk urusan menyanyi, berkolaborasi dengan Jody Sumantri, Edwin membentuk grup Super Bedjo. Selain mengeluarkan album, duet ini juga kerap tampil baik dalam acara on air maupun off air. Karier seninya dilatari oleh pendidikannya di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) jurusan teater. Ia mendapatkan kesempatan dari Radio Prambors untuk berkreasi dalam kegiatan off air seperti Tenda Mangkal dan Pro Kamu. Edwin mendapat bantuan Jody, adik angkatannya di IKJ,  yang bertugas mengoordinasi artis untuk acara-acara off air. Berdua mereka juga mencetuskan ide-ide dan menggarap acara. Salah satunya adalah acara Pesta di Indosiar yang berjalan sukses karena didukung gaya mereka yang unik, kompak dan selalu ngocol. Itu sebabnya Harry ‘Boim’ de Fretes juga mengajak mereka memeriahkan serial komedi Hari Harimau. Edwin dan Jody juga merambah dunia nyanyi. Gue Ingin menjadi lagu mereka yang cukup terkenal. Di luar kebersamaannya dengan Jody, Edwin juga memandu acara Go Show berpasangan dengan Tamara Geraldine dan kuis Gol, Gol, Gol (3G). Teranyar, Edwin juga terlibat dalam film Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (2010). Edwin menikah dengan seorang model, Lia Novita, pada 3 Juni 2000 dan dikaruniai 2 orang anak, Cut Mala dan Cut Audrey.
BIOGRAFI – Nama lengkap: Teuku Edwin. Nama populer: Edwin. Kelahiran: Banda Aceh, 14 Juli 1970. Istri: Lia Novita. Anak: Cut Mala, Cut Audrey. Aktif: Sejak 1994.
FILMOGRAFI: Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (2010)

Sunday, December 12, 2010

AR - AN INDONESIAN FILM STAR DICTIOARY


A. Hamid Arief, AKTOR. Bagi generasi kelahiran 1960-an hingga 1980-an, boleh jadi sangat tak asing dengan sosok dan peran-peran pria kelahiran Jakarta pada tanggal 25 November 1924 ini. Peran-perannya sebagai orang Belanda seperti dapat disaksikan pada film Matjan Kemajoran (baca: Macan Kemayoran, 1965) dan Si Pitung (1970) bisa disebut sangat mengesankan para penonton saat itu. Berlatar belakang pendidikan Mulo, Hamid Arief dengan talenta alamnya mulai meramaikan panggung hiburan sebagai penyanyi di Orkes Lief Souvenier di Jakarta pada tahun 1940-an. Di orkes inilah, pertama kali ia mengenal Mak Uwok (Wolly Sutinah) yang juga tergabung sebagai penyanyi. Persahabatan keduanya berlangsung hingga hari tua mereka.Di tahun 1939 Hamid Arief  mulai menyanyi di Radio NIROM hingga ke RRI dengan nama samaran Kelana Jaya. Di tahun lima puluhan, bersama Bing Slamet, Toto Mugiarto, Benno Tatuhay dan lain-lain, ia pernah menjadi finalis Pemilihan Bintang Radio Jakarta. Kariernya di panggung sandiwara dimulai tahun 1942 dan tergabung dalam sandiwara Terang Bulan pimpinan The Teng Chun. Setahun kemudian ia pindah ke Bintang Surabaya pimpinan Fred Young dan selama tiga tahun pernah pula tergabung dalam Pantja Warna pimpinan Djamaluddin Malik (1945-1948).Aktor yang seangkatan dengan, antara lain, Sofia W.D, Fifi Young, dan Wolly Sutinah (Mak Wok), ini terjun ke dunia layar lebar kali pertama pada tahun 1948 lewat film ’Anggrek Boelan’. Setelah beberapa kali bermain sebagai pemeran pembantu, pada dekade 1952-1955, ia dipercaya menjadi pemain utama dalam beberapa film setelah dikontrak Golden Arrow (Panah Emas). Ia bahkan dianggap the golden boy Panah Emas. Film-film yang dibintanginya, kerap disutradarai Hu, Tan Sing Hwat, Lilik Sudjio, Lie Soen Bok, Nawi Ismail, dan Wim Umboh.
Hingga tahun 1980-an, Hamid Arief sudah membintangi sekitar dua ratus film –jumlah yang hampir pasti sulit disaingi bintang manapun, terutama bintang-bintang masa kini. Itu sebabnya Hamid Arief memperoleh penghargaan Surjosoemanto pada tahun 1988 dari Dewan Film Nasional. Selain bermain di layar lebar, Hamid Arief juga tetap menggeluti panggung sandiwara. Pada tahun 1971 ia membentuk dan memimpin grup sandiwara Komedia Jakarta dengan anggotanya antara lain terdiri atas Wolly Sutinah, Aminah Banowati, Syamsu, Ramelan, Alex A.S., Tetty S., D. Gunari dan Asep Suparman. Selain sebagai nama sebuah grup sandiwara, Komedia Jakarta juga dijadikannya nama perusahaan film, yakni, PT Komedia Jakarta Film, dan memproduksi tiga film, masing-masing Diana, Kembalilah Mama dan Dewi Malam. Ia kemudian juga dikenal orang lewat sinetron Rumah Masa Depan, berperan sebagai kakek (1984-1986 dan 1989).         Seperti juga kebanyakan aktor yang memulai kariernya lewat peran-peran kecil, Hamid Arief pun masih pendatang baru di masa keemasan Rd. Mochtar dan Rd. Soekarno alias Rendra Karno, dua orang bintang film tenar di era 1940 dan 1950-an. Setelah tampil sebagai aktor utama dalam film Menanti Kasih (1949), nama Hamid Arief baru diperhitungkan. Namun, fase itu tak berlangsung lama karena dia kembali bergumul dengan peran-peran yang kurang berarti. Itu sebabnya Hamid Arief akhirnya banting setir dan menemukan jatidirinya lewat genre komedi dan bergabung dengan bintang-bintang seperti S. Bagio dan Benyamin S.Sosok Hamid Arief yang ceplas-ceplos dapat dilihat, misalnya, pada film-film seperti Benyamin Biang Kerok (1972). Meski kerap mengeluarkan umpatan-umpatan seperti: “Bang***, Muke Gile, Setan Betul kepada Benyamin S atau Mansyur Syah, Hamid Arief mampu mengungkapkannya tanpa kesan vulgar. Selain itu, beberapa umpatan yang keluar dari bibir tipis berhiaskan kumis rapi itu, tanpa disadarinya sendiri, Hamid Arief ikut memopulerkan diksi-diksi khas Betawi yang kini banyak digunakan dalam serial televisi maupun layar lebar. Meskipun berjaya sebagai aktor tenar, kehidupan Hamid Arief jauh dari kesan glamor, terutama menjelang masa tuanya. Ia bahkan disebut-sebut tak memiliki rumah sendiri saat meninggal dunia pada tahun 1992, sama seperti juga bintang legendaris Tan Tjeng Bok yang wafat pada 1979. Sosok Hamid Arief layak menjadi panutan tak cuma bagi penonton, tapi juga bagi aktor-aktor film dan pemain sinetron masa kini serta siapa pun yang masih menghargai nilai-nilai moral dalam sebuah tayangan dan pertunjukan seni. Sayangnya, tv-tv Indonesia saat ini lebih suka menayangkan sinetron-sinetron yang kurang mendidik pemirsanya lewat perlawanan-perlawanan seorang anak kepada orangtuanya dan sejenisnya. Akan bagus juga untuk mengenang kepergian aktor sekaliber Hamid Arief, kita menyaksikan beberapa film yang pernah dibintanginya.Hamid Arief wafat pada 20 Desember 1992.

BIOGRAFI – Nama lengkap: Abdul Hamid Arif. Kelahiran: 15 November 1924. Wafat: Jakarta, 20 Desember 1992. Pekerjaan: Aktor. Masa aktif: 1948-1992. Pendidikan: MULO.
FILMOGRAFI: 1948 - Anggrek Bulan; 1949 - Aneka Warna, Harta Karun, Tjitra, Menanti Kasih; 1950 - Inspektur Rachman; 1951 - Bintang Surabaya, Di Tepi Bengawan Solo, Mirah Delimah, Surjani Mulia, Selamat Berdjuang, Masku!; 1952 - Tiga Benda Adjaib, Siapa Dia, Kekal Abadi, Si Mientje, Bermain Dengan Api; 1953 - Bawang Merah Bawang Putih, Harimau dan Merpati, Ratna Kumal, Empat Sekawan, Tiga Saudari, Pangeran Hamid, Burung Bitjara; 1954 - Bawang Merah Tersiksa, Klenting Kuning; 1955 - Dibalik Dinding, Rewel, Kasih Ibu; 1956 – Rini; 1957 - Konsepsi Ajah, Biola, Bintang Peladjar, Bermain Api; 1958 - Bunga dan Samurai, Wanita Indonesia; 1959 - Sekedjap Mata, Mutiara Jang Kembali, Habis Gelap Terbitlah Terang; 1960 - Ke Kota; 1961 - Limapuluh Megaton, Kamar 13, Notaris Sulami; 1962 - DKN 901; 1965 - Matjan Kemajoran; 1966 – Terpesona; 1969 - Nji Ronggeng, Matt Dower; 1970 - Samiun dan Dasima, Si Pitung; 1971 - Penunggang Kuda Dari Tjimande, Banteng Betawi, Pendekar Sumur Tudjuh, Ratna, Lisa, Kisah Fanny Tan, Djembatan Emas; 1972 - Samtidar, Romusha, Merintis Djalan Ke Sorga, Mereka Kembali, Pengantin Tiga Kali, Tiada Jalan Lain, Benyamin Biang Kerok, Desa di Kaki Bukit; 1973 - Patgulipat, Bapak Kawin Lagi, Biang Kerok Beruntung, Cukong Blo'on, Tendangan Maut, Benyamin Brengsek; 1974 - Kosong-Kosong Tiga Belas, Tetesan Air Mata Ibu, Bandung Lautan Api, Musuh Bebuyutan, Paul Sontoloyo, Ali Baba, Buaye Gile, Pilih Menantu, Dasar Rezeki, Pacar. Bajingan Tengik, Honour; 1975 - Traktor Benyamin, Samson Betawi, Benyamin Raja Lenong, Benyamin Koboi Ngungsi, Benyamin Tukang Ngibul; 1976 - Mustika Ibu, Hippies Lokal, Zorro Kemayoran, Gadis Simpanan, Oma Irama Penasaran, Tiga Janggo; 1977 - Cakar Maut, Raja Copet, Kembalilah Mama, Sorga, Diana, Akulah Vivian, Pembalasan Si Pitung, Gitar Tua Oma Irama, Saritem Penjual Jamu,  Sembilan Janda Genit, Penasaran; 1978 - Jurus Maut, Dewi Malam, Begadang, Tuyul; 1979 - Tuyul Eee Ketemu Lagi; 1980 - Goyang Dangdut, Begadang Karena Penasaran, Abizars, Darna Ajaib; 1981 - Manusia Berilmu Gaib, Manusia 6.000.000 Dollar, Gundala Putra Petir, Si Pitung Beraksi Kembali, Dukun Lintah; 1982 – Pengorbanan, Gadis Bionik, Sentuhan Kasih.

Saturday, December 11, 2010

AK - AN INDONESIAN FILM STAR DICTIONARY


Nya' Abbas Akup, SUTRADARA Nya Abbas Akup Lahir di Malang, Jawa Timur, 22 April 1932 dan wafat pada 14 Februari 1991 di umur 58 tahun. Ia seorang sutradara senior Indonesia yang terkenal akan karya-karyanya yang tidak sembarangan.Dalam perfilman nasional nama Nya Abbas Akup tak bisa dilupakan walaupun sineas kelahiran Malang berdarah Aceh ini tak pernah mendapatkan Piala Citra. Satu-satunya penghargaan yang pernah diraihnya adalah Piala Antemas untuk film terlaris 1978, Inem Pelayan Sexy dan Piala Bing Slamet untuk film komedi terbaik 1991, Boneka dari Indiana. Meski piala untuk Akup adalah penghargaan khusus--mirip sineas Alfred Hitchcock yang sepanjang kariernya juga tak pernah mendapat Piala Oscar--anak didik Usmar Ismail yang mengawali kariernya sebagai asisten sutradara dalam film Kafedo (1953) ini seperti kurang diakui juri Piala Citra lantaran penghargaan ini kebanyakan diraih oleh film-film drama. Walau filmnya berbobot dan sukses menghasilkan laba, sosok pendiam yang jauh dari kesan lucu ini seperti tenggelam dibandingkan nama besar Usmar Ismail, Syuman Djaya, Teguh Karya, Wim Umboh, Arifin C. Noer dan Asrul Sani. Salim Said, pengamat politik yang juga kritikus film, menjulukinya ‘tukang ejek nomor wahid’ atas kiprahnya ‘menampilkan sesuatu yang baru di tengah sejumlah komedi konyol gaya sandiwara’ (Pantulan Layar Putih, Pustaka Sinar Harapan, 1991). Bila untuk "Bapak Film Nasional" kita dapat menyebut Usmar Ismail, maka Nya Abbas Akup, layak disebut ‘Bapak Film Komedi Indonesia’. Ia memang pantas menyandangnya, lantaran generasi film komedi yang dipelopori pelawak kondang Bing Slamet, Benyamin S., Jalal, Ateng, sampai duet Kadir-Doyok--yang pertama kali dipertemukan dalam film Cintaku di Rumah Susun (1987)--lahir dari tangannya. Akup juga dinilai menyegarkan aspek bertutur film komedi di tengah komedi konyol slapstick. Hampir semua sub genre film komedi juga disentuh Akup. Sebutlah Drakula Mantu (1974, a.ka. Benyamin Kontra Drakula) yang menyajikan horor komedi. Dalam Tiga Buronan (1957) ada black comedy dan komedi aksi. Sedangkan di Bing Slamet Koboi Cengeng (1974) ada parodi ketika di masa itu Indonesia sedang tergila-gila pada popularitas film koboi Django, Lone Ranger dan Bonanza. Lalu ada komedi musikal Dunia Belum Kiamat (1971) sampai kritik sosial dalam Inem Pelayan Sexy (1976) yang menjadi masterpiece-nya. Tak hanya itu, Akup pun punya penerus. Ia adalah Ucik Supra, sutradara film Rebo dan Roby dan Badut-Badut Kota yang dapat disebut sebagai penerus film komedi kritik sosial. Sayang Ucik muncul di zaman terpuruknya perfilman nasional sehingga ia kurang produktif. Film terbarunya, Panggung Pinggir Kali (2004), yang meski bukan komedi, masih sedikit menyimpan gereget dengan kritiknya. Karier Akup dimulai sebagai asisten sutradara di Perfini pada 1952, kemudian penulis skenario film 1954 dan menjadi sutradara film sejak 1954 hingga 1991.
Filmografi: Heboh (1954), Djuara 1960 (1956), Tiga Buronan (1957), Jendral Kancil (1958), Langkah-Langkah di Persimpangan (1965), Tikungan Maut (1966), Nenny (1968), Mat Dower (1969), Dunia Belum Kiamat (1971), Catatan Harian Seorang Gadis (1972), Ambisi (1973), Bing Slamet Koboi Cengeng (1974), Ateng Minta Kawin (1974), Drakula Mantu (1974), Tiga Cewek Badung (1975), Inem Pelayan Sexy (1976), Karminem, Inem Pelayan Sexy II, Inem Pelayan Sexy III (1977), Kisah Cinta Rojali dan Zuleha (1979), Gadis (1980), Koboi Sutra Ungu (1981), Apanya Dong (1983), Semua Karena Ginah (1985), Cintaku di Rumah Susun (1987), Kipas-Kipas Cari Angin (1989), Boneka Dari Indiana (1990).

Friday, December 10, 2010

AF - AN INDONESIAN ARTIST DICTIONARY

Farouk AFERO, AKTOR Nama lengkapnya Farouk Achmad bin Asgar Ali. Ia kelahiran Pandori Bali, Pakistan, 4 Juli 1939, mengenyam pendidikan di Islamic High School di Lahore, Pakistan (tidak lulus). Nama Afero diperoleh Farouk saat dia aktif sebagai petinju amatir. Sebagai aktor film-film layar lebar Indonesia, masa aktif Farouk adalah 1964 hingga 2003. Karier Farouk di film layar lebar Indonesia dimulai dengan bermain dalam film Ekspedisi Terakhir yang dibintangi Ratno Timoer, Dicky Zulkarnaen, dan Soekarno M. Noer pada 1964. Nama Farouk mulai tenar ketika dia tampil dalam film Bernafas Dalam Lumpur (1970), di mana dia memainkan tokoh jahat lewat peran germo Rais yang begitu kejam menganiaya watunas (WTS) molek yan diperankan Suzanna. Hampir sepanjang kariernya Farouk memang memainkan peran-peran antagonis. Aktor pembantu Terbaik diraih Farouk pada FFI 1976 dalam Laila Majenun (1975)arahan sutradara Sjumandajaya. Setelah bermain dalam hampir 100 film belakangan, Farouk juga tampil dalam banyak sinetron, antara lain dalam Ujang & Aceng (1996). Duren-Duren, Abunawas, Biang Kerok dan terakhir masih ikut mendukung Melodi Cinta 2 (sebagai ayah Denny Malik).
Farouk wafat pada 13 April 2003) karena kanker paru-paru yang diderita selama setahun. “Lepas dari kepribadiannya yang eksentrik, dia adalah pemain yang baik, disiplin, dan enggak hanya memikirkan perannya. Dia juga berpikir agar film yang dimainkannya bisa sukses,” ungkap Dedi ketika melayat.
BIOGRAFI – Nama lengkap: Farouk Achmad bin Asgar Ali. Kelahiran: Pandora Bali, Pakistan, 4 Juli 1939 (wafat 13 April 2003). Istri: Bibi Maryam (almh). Uke Octarina (istri kedua). Anak: Lima laki-laki dan satu perempuan antara lain Farid Achmad dan Facrio.
FILMOGRAFI: Ekspedisi Terakhir (1964), Segenggam Tanah Perbatasan (1965), Madju Tak Gentar (1965), Hantjurnya Petualang (1966), Sendja Di Djakarta (1967), Kasih Diambang Maut (1967, Sembilan (1967), Djakarta-Hongkong-Macao (1968), Laki-Laki Tak Bernama (1969), Orang-orang Liar (1969), Noda Tak Berampun (1970), Bernafas Dalam Lumpur (1970), Tuan Tanah Kedawung (1970), Dibalik Pintu Dosa (1970), Matinja Seorang Bidadari (1971), Tjinta Di Batas Peron (1971), Biarkan Musim Berganti (1971), Kekasihku Ibuku (1971), Air Mata Kekasih (1971), Si Gondrong (1971), Tiada Maaf Bagimu (1971), Matinja Seorang Bidadari (1971), Lorong Hitam (1971), Intan Berduri (1972), Ratu Ular (1972), Mutiara dalam Lumpur (1972), Lingkaran Setan (1972), Takkan Kulepaskan (1972), Tjintaku Djauh Di Pulau (1972), Kabut Bulan Madu (1972), Ibu Sejati (1973), Si Manis Jempatan Ancol (1973), Akhir Sebuah Impian (1973), Percintaan (1973), Kutukan Ibu (1973), Jimat Benyamin (1973), Si Rano (1973), Cucu (1973), Perempuan (1973), Setitik Noda (1974), Batas Impian (1974), Atheis (1974), Ratapan dan Rintihan (1974), Pacar (1974), Krisis X (1975), Laila Majenun (1975), Liku-Liku Panasnya Cinta (1976), Si Doel Anak Modern (1976), Ganasnya Nafsu (1976), Pendekar (1976), Liku-Liku Panasnya Cinta (1976), Pengakuan Seorang Perempuan (1976), Bungalo Di Lereng Bukit (1976), Kampus Biru (1976), Selangit Mesra (1977), Si Doel Anak Modern (1977), Rahasia Perkawinan (1978), Bulu-Bulu Cendrawasih (1978), Kuda-Kuda Binal (1978), Kabut Sutra Ungu (1979), Milikku (1979) Karena Dia (1979), Ach Yang Benerrr... (1979), Cantik (1980), Fajar yang Kelabu (1981), Gadis Marathon (1981). Tapak-Tapak Kaki Wolter Monginsidi (1982), Bernafas Dalam Lumpur (1991).
SINETRON: Ujang & Aceng (1996), Duren-Duren, Abunawas, Biang Kerok dan Melodi Cinta 2.

Monday, November 22, 2010

PAHALA DI SEKITAR KITA


BISMILAH
  • UCAPKAN Bismillahirrohmanirrohim (dengan nama Allah Sang Pengasih dan Sang Penyayang) dalam hampir semua awal kegiatan Anda, niscaya apa pun perbuatan (baik) Anda memiliki kandungan nilai ibadah. Ketika Anda menenggak air putih di gelas Anda, memulai berdandan (mengenakan pakaian), dan melangkahkan kaki (kanan) Anda keluar dari rumah untuk bekerja.
KEHIDUPAN RUMAH TANGGA
  • Buat para ibu rumah tangga, atau bahkan para pembantu, baca Bismillah ketika Anda mulai memasukkan air ke dalam ceret untuk memanaskan air, baca lagi Bismillah ketika Anda menghidupkan kompor (gas), baca juga Bismillah ketika Anda mengangkat ceret dari kompor.
  • Bagi para ibu rumah tangga, jika Anda ikhlas melakukannya, ada nilai-nilai pahala ketika Anda membikinkan kopi untuk suami Anda. Pahala ketika Anda mengambil gelas, mengambil sendok, mengambil kopi dan gula, menuangkan air panas ke dalam gelas, mengaduknya, dan menyuguhkannya dengan senyuman manis Anda.
  • Ada nilai pahala pada saat Anda membuat masakan untuk keluarga Anda. Beras yang Anda masak, lauk pauk yang Anda suguhkan, sayur mayur yang Anda racik, akan menjadi saksi Anda. Ada nilai pahala ketika Anda mencuci beras untuk dimasak, mengiris bawang dan cabai untuk bumbu masakan Anda, pada kecap yang Anda tuangkan, pada minyak goreng yang Anda tuangkan, pada adukan-adukan yang Anda lakukan saat Anda memasak, pada keikhlasan Anda menyuguhkannya di atas meja makan bagi keluarga Anda.
  • Bagi seorang istri, ada nilai pahala ketika Anda menyambut kedatangan suami Anda (dari kantor) dengan seulas senyum manis (walaupun misalnya dia belum juga gajian), nilai pahala ketika Anda menyodorkan segelas minuman segar (cukup air putih, misalnya) ke hadapannya, membukakan jaketnya (kalau dia naik sepeda motor), mengambil tas yang dibawanya. Dan dalam hati, ucapkan Alhamdulillah karena suami Anda sudah dengan selamat tiba di rumah. Apalagi jika kemudian Anda juga memanaskan air untuk suami Anda mandi jika suami Anda terbiasa mandi dengan air hangat.
TIDUR
  • Di tempat tidur, ada nilai pahala jika Anda melayani ajakan suami untuk berhubungan badan. Jangan pernah menolak kecuali Anda sedang menstruasi. Katakan jika Anda memang sedang sangat lelah, namun tetap bersiap diri untuk melayaninya. Suami yang baik bisa saja membatalkan keinginannya jika tahu Anda memang sedang sangat lelah. Malaikat mengutuk tidur Anda hingga pagi hari jika Anda menolak ajakan suami Anda tanpa alasan yang dapat dipertanggung jawabkan.
  • Berhubungan badan, selain Anda bisa melampiaskan kebutuhan biologis, juga mengandung nilai pahala jika Anda melakukannya sesuai dengan tata cara agama.
  • Berpakaian rapi, memberi wewangian pada tubuh, bagi para ibu rumah tangga, juga mengandung nilai pahala jika Anda meniatkan hal itu untuk menyenangkan suami Anda (bukan suami tetangga).
BERPAKAIAN
  • Ketika Anda mengenakan pakaian Anda, kenakan yang kanan lebih dulu, belakangkan yang kiri.
TOLONG MENOLONG
  • KETIKA Anda menemukan benda tajam seperti duri, paku, beling, dan sejenisnya di jalanan yang biasa dilalui manusia, maka Tuhan menyediakan pahala bagi Anda karena berarti Anda ikut melindungi makhluk Tuhan lainnya.
  • ULURKAN tangan Anda bagi seseorang yang mungkin terjatuh di jalan karena licin atau terpeleset. Jangan cuma menertawakannya.
  • BILA Anda berada dalam sebuah kendaraan dan akan melintasi jalanan berair karena hujan atau sejenisnya, hindari sedapat mungkin atau setidaknya kurangi kecepatan agar air yang Anda lindas tak menimbulkan dampak cipratan air yang bisa mengenai orang lain yang berada di sekitarnya.
  • ADA nilai pahala jika Anda mendatangi teman atau saudara Anda yang sedang sakit. Pahala pada senyuman Anda, kata-kata Anda yang menghiburnya, dan mungkin bantuan materi jika Anda memilikinya.
  • BERPAHALA jika Anda menemukan uang atau barang berharga lainnya di jalan umum dan mengembalikannya kepada pihak-pihak yang berwenang. Jika kemudian pihak bersangkutan mengambil untuk kepentingannya sendiri, itu bukan lagi urusan Anda, tapi urusan dia dengan Tuhan.
  •  
INTERAKSI
  • LEMPARKAN senyuman kepada seseorang yang Anda temui di jalan dan kebetulan matanya bersirobok dengan mata Anda. Membuat seseorang merasa bahagia, merasa dihargai, tersedia pahala untuk Anda. Tapi, jangan tersenyum kepada setiap orang yang Anda jumpai. Anda layak disebut sakit jiwa.
  • BERBASA-basilah sekadarnya (bukan menyelidik) jika Anda bertemu dengan seseorang yang mungkin Anda kenal. Tanyakan keadaannya, keluarganya.
AIR
  • SEKALI waktu Anda mungkin menyisakan air dalam sebuah botol atau gelas kemasan. Daripada Anda buang begitu saja, ada pahala jika Anda membuang air itu pada tetumbuhan yang ada di sekitar Anda. Tapi, jangan buang-buang waktu Anda untuk mencari-cari tumbuhan jika memang tak ada di sekitar Anda.
  • JANGAN buka kran air secara penuh jika Anda sedang berwudlu sekalipun. Hemat air berarti Anda juga ikut memikirkan masa depan generasi berikutnya. Dan ada juga pahala untuk itu.
MAKAN DAN MINUM
  • Standing party bukanlah cara-cara Islam. So, jika Anda kebetulan hadir dalam pesta perkawinan dan Anda makan, cari kursi dan makan sambil duduk dan Anda pun mendapatkan nilai pahala. Jangan lupa, baca Bismillah ketika memulai makan dan tutup dengan Alhamdulillah sesudahnya.
  • Minumlah air dengan tangan kanan dan sambil duduk. Jika tangan kanan Anda kotor dan Anda tak ingin mengotori gelas Anda, tumpu belakang tangan kanan Anda pada tangan kiri yang sedang memegang gelas minuman.
BUANG AIR KECIL DAN BESAR


 Catatan: Ini naskah rintisan saya. Yang ingin menambahkan, dipersilakan. Terima kasih.







Wednesday, November 17, 2010

Obor Mulain Mati - Cerita Betawi


“BANG lebaran pan udah besok,” Yuyun nowel lakinya nyang lagi baca koran.
Marjuki mangkreng. Terus baca berita soal perampokan nyang kayak jamur di musin ujan saban deket-deket lebaran sembari gerendengan dalem ati ‘mau punya duit kok ngerampok?’.
“Bang!” Yuyun naekin nada suaranya.
“Iye, gue tau. Lebaran makin deket, anak-anak belon beli baju baru, elu belon bikin rengginang, kue biji ketapang, ngaduk dodol, rumah belon dicat.”
“Terus?”
“Nyang lu mau tanya pan kapan gue gajian? Kapan gue dapet THR. Pasti kagak jauh-jauh dari ntu pan?”
“Na iye, Bang,” bibir Yuyun rada mesem bahna lakinya nauin apa nyang dia maksud. “Jadi kapan, Bang?”
Marjuki jadi keilangan gairah ngebaca. Biar kata matanya melototin koran, pikirannya ngelantur kagak keruanan. Ke toko furnitur tempat dia kerja di Kebayoran Lama. Dia tau taokenya saat ini lagi pusing karena pembeli taun ini kagak serame taun-taun nyang udah. Banyak orang kelas menengah ke bawah nyang jadi target pembelinya lebih suka nggak ganti perabotan rumah tangga dan lebih mentingin perut.
Taun-taun sebelonnya, saban deket-deket lebaran, pembeli biasanya datang ngegerojog kayak ujan. Taun ini, dapat dua sampe tiga pembeli aja saban harinya udah bisa dibilang sukur. Itu pun barang-barang nyang dibeli nyang harganya di bawah satu jutaan. Ntu sebabnya taokenya, Ngkoh Lim, belon bisa bayar gaji bulan Agustus biar kata bulan September udah masup.  
Keruan aja Yuyun jadi uring-uringan saban hari. Soalnya, sementara segala harga belanjaan makin mahal, duit makin kagak gableg. Marjuki sendiri kagak kalah uring-uringan. Soalnya, saban gajian telat, bininya selalu tidur make pakean lengkap atawa ngasih Marjuki punggung sembari pasang muka angker kayak kucing garong. Dicolek sedikit langsung ngejentil.
“Pokoknya nih Bang, kalu gajian ame THR kagak turun....”
“Gampang,” Marjuki motong kalimat bininya. “Lu beli aja koyo, tempelin dah di jidat lu. Kalu ada nyang nanya, lu bilang kagak bisa ke mane-mane bahne lagi sakit. Beres!”
Yuyun cemberut kayak topo dapur.
“Atawa beli aje kipas. Lu buka baju bagian atas dikit, ngipas-ngipas dah lu. Kalu ada nyang nanya, bilang dah abis jalan-jalan.”
“Ngomong sih enak, Bang,” Yuyun makin nekuk muka. “Usaha dong, Bang. Apa kek. Pokoknya nyang kire-kire bisa jadi duit. Jangan pasrah aja kayak kucing sakit.”
Untungnya, pas Marjuki masuk kerja ari Senen, gajian Agustus turun tambah THR separo gaji. Yuyun nerima duit dari lakinya sembari cemberat-cemberut bahna udah yakin duit ntu bakal kagak nyukupin ke mane-mane. Serba cekak. Ibarat celana cekak, ditarik ke atas dengkul keliatan, diturunin puser nyang ngintip.
“Udah, lu syukurin aja dulu. Mungkin taun ini rejeki kite emang segitu. Nggak baek kalu udah dapet rejeki lu masi gerendengan. Man la yasykuril qolil, la yasykuril kasir, ntu kata Pak Ustaz,” Marjuki nasehatin bininya rada panjang lebar.
“Kerne duit cuman segitu, kan tinggal lu pas-pasin. Beli baju jangan di departemen stor. Beli aja di emperan. Kue-kue jangan nyang mahal-mahal. Buat sudare-sudare bikin aja uli, wajik, atawa geplak.”
“Bikin kue geplak juga kagak murah, Bang!” Yuyun nyamber.
Setelah dipiret-piret, lumayan banyak juga Yuyun bisa beli kue labaran buat nganter ke rumah Ncang-Ncing baik dari baris dia maupun dari baris lakinya. “Nyang penting bukan kuenye atawa harganya, Yun. Nyang penting kite dateng, silaturahmi.”
“Udah deh, Bang. Aye bosen denger nasehat abang. Intinya kite pan emang lagi nggak pedaksa, kagak mampu. Jadi terime aja. Itu pan maksud abang?”
Punya baju baru atawa kagak, ngaduk dodol atawa kagak, Lebaran datang juga. Buat semua orang muslim yang ngejalanin puasa sebulan penuh,” Marjuki nambahin.
Seperti lebaran-lebaran sebelumnya, lebaran kali ini pun Juki dan Yuyun disibukkan ame kewajiban kunjungan ke rumah Ncang-Ncingnya. Jumlahnya belasan nyang kudu didatengin Juki dan keluarganya. Kagak lupa Juki juga nyiapin lembar duit ribuan buat ngasih ke keponakan-keponakannya.
“Bang,” Yuyun nowel lakinya setelah ampir semua sudara dikunjungin.
“Ape lagi, Neng?”
“Perasaan kite belon ke rumahnya Nyak Jubedah.”
Juki mandangin bininya. “Pan Nyak Bedah udah meninggal tiga bulan lalu.”
“Jadi, kalo Nyak Bedah ame Ncang Saiman udah pada meninggal, kita kagak perlu nganter ke sono lagi, Bang? Pan ada anak-anaknya Nyak Bedah.”
“Ya udah kagak perlulah, Yun. Paling-paling nanti kite ketemu kalu pas ada acara arisan keluarga. Biasanya Ncang Rasid pan bikin acara halal bihalal.”
“Kalu gitu, lama-lama kite bakal makin mati obor ye, Bang. Atu-atu Ncang-Ncing kita pada meninggal. Nyang ada anak-anaknya doang.”
“Ya, begitulah idup, Yun,” kata Juki. Tapi, dadanya nyesek juga karena lebaran kali ini dia udah kagak bisa ketemu Ncang Bedah. Bener kata bininya, banyak obor keluarga nyang mati. Diem-diem, Juki nahan aer matanya.* Aba Mardjani, 2010

Optimisme dalam Prosa Betawi


Kompas, Sabtu, 18 Juli 2009 (Oleh Damhuri Muhammad)

Khazanah Betawi yang terhidang dalam prosa tidak lepas dari peran kepengarangan SM Ardan (1932- 2006) sebagaimana terlihat dalam bukunya Terang Bulan Terang di Kali (1955, cetak ulang oleh Masup Jakarta, 2007). HB Jassin mencatat, karya-karya Ardan sangat membantu ahli ilmu bahasa, ilmu bangsa-bangsa dan kemasyarakatan dalam penelitian tentang Jakarta.Dialek lahir, tumbuh, dan mati. Adat dan kebiasaan muncul, berubah, dan hilang. Begitu pula permainan anak-anak Betawi yang lahir, tumbuh, sirna. Amat besar jasa Ardan dalam mendokumentasikannya.Menurut Ajip Rosidi (2007), istilah ”cerita” pada antologi cerita pendek SM Ardan itu kurang tepat karena (kecuali satu-dua cerpen) tidak ada ceritanya sama sekali. Periksalah ”Pulang Pesta”, ”Pulang Siang”, atau ”Bang Senan Mau ke Mekah”, tak menjalin cerita sehingga yang terasa hanya ”suasana”.Gambang Jakarte karya Firman MuntacoKalaupun ada cerpennya yang mengandung ”cerita”, bagi Ajip, cerita itu tidak seru, menyehari, gampang dijumpai dalam keseharian orang-orang kecil Jakarta masa itu. Tapi, justru di sinilah keistimewaan Ardan. Boejoeng Saleh (1955), dikutip JJ Rizal (2007), mencatat, ibarat seorang kameramen, Ardan punya lensa tajam. Ia tak hanya memotret realitas eksotik-romantik, tapi juga realistik; kenyataan yang sepahit-pahitnya.
Betawi masa kiniApabila pengalaman baca terhadap karya-karya Aman Dt Majoindo (1896-1969), M Balfas (1921-1975), Firman Muntaco, hingga SM Ardan menimbulkan kesan: ”Ternyata orang Betawi seperti itu ya”, prosa-prosa berlatar Betawi garapan para pengarang masa kini mendedahkan sebentuk keheranan: ”Ternyata orang Betawi udah nggak kayak gitu ya…”.
Tengoklah Rumah Kawin (2004) dalam antologi cerpen Zen Hae, Sebelas Colen di Malam Lebaran (2008) karya Chairil Gibran Ramadhan, Rosid dan Delia (2008) novel karya Ben Sohib, dan yang paling mutakhir, Kronik Betawi (2009) karya Ratih Kumala. Resistensi masyarakat Betawi terhadap modernisasi Jakarta yang semakin mengaburkan identitas dan kejatidirian mereka ditampakkan karya-karya pengarang muda itu.Zen Hae dalam ”Kelewang Batu”, misalnya, melakukan demitologisasi kisah usang tentang para pemburu mestika api milik naga raksasa. Maka, pertarungan hebat tak terhindarkan, hingga naga itu tumbang. Selepas pertarungan itu, danau kering, tanah tempat matinya naga itu menjadi sebuah kampung yang kelak disebut Kampung Naga.Bekas-bekas jejak naga menjelma sungai yang kelak dikenal ”Kali Bangkai”. Penduduk setempat menyebutnya Kali Bangke, dan keturunan berikutnya melafalkannya Kali Angke. Begitu salah satu versi riwayat Kali Angke yang kini telah dilupakan.Para pendatang hanya tahu ”Menteng” sebagai kawasan gedongan, hunian orang-orang tajir dan berada , padahal ”menteng” sejatinya adalah nama buah. Begitu pula ”bintaro” yang sesungguhnya adalah nama pohon. Seiring dengan semakin menterengnya wajah Jakarta, tak hanya khazanah tanaman itu yang terlupakan, tetapi sejarah, kearifan, dan memori kolektif tentang Jakarta juga tenggelam dalam ingar-bingar panggung kosmopolitanisme.Suasana nostalgik—sekaligus ironik—semacam ini tergambar dalam novel Kronik Betawi (2009), karya Ratih Kumala, yang memperlihatkan wajah Jakarta sebagai ironi.Kronik Betawi mengisahkan sebuah keluarga Betawi, pewaris usaha peternakan sapi perah. Setelah berkali-kali mengelak dari bujuk goda dan iming-iming untuk jangan melepas tanahnya di daerah Kuningan, Jaelani—kepala keluaga itu—akhirnya takluk juga, menyusul sejawat dan kerabat yang telah lebih dahulu angkat kaki.Keluarga Jaelani pindah ke Ciganjur, sementara sapi-sapi perah itu diboyongnya ke Pondok Rangon. Meski telah tersingkir, Jaelani tidak tertarik membangun rumah-rumah kontrakan seperti sejawat-sejawatnya yang ujuk-ujuk telah menjadi juragan. Tapi, bertahan dengan etos kemandirian orang Betawi ternyata tidak gampang. Japri dan Juned, dua anak laki-lakinya, lebih tergiur menjadi tukang ojek ketimbang mengurus sapi sehingga usahanya itu nyaris bangkrut. Optimisme BetawiSetiap tokoh dalam Kronik Betawi memikul beban persoalan orang Betawi masa kini. Jika Jaelani harus menerima kenyataan tentang anak-anak yang tidak punya etos mandiri, Jarkasi (adik Jaelani) berhadapan dengan betapa sulitnya mempertahankan kesenian tradisional Betawi pada kurun R & B dan Jazz ini. Ia mendedikasikan hidupnya demi kelestarian gambang keromong, semacam orkes, perpaduan antara gamelan, musik Barat, dan corak kesenian China.Jarkasi jatuh bangun sebagai seniman Betawi. Baginya, tanah kelahiran bolehlah lenyap ditelan gemuruh perubahan Jakarta, tetapi Betawi masih punya lenong dan gambang keromong, yang sedapat-dapat harus tetap hidup. Seni satu-satunya milik mereka yang belum terbeli. Optimisme dalam menyongsong masa depan Betawi yang gemilang tampak kentara pada kerja keras Salomah guna melanjutkan pendidikan anaknya (Fauzan) hingga jenjang universitas, bahkan mendapat beasiswa ke Amerika Serikat.Bagian ujung Kronik Betawi menampilkan Salomah-Jaelani sebagai manusia Betawi yang terobsesi hendak mencetak kaum intelek agar orang Betawi tidak sekadar menjadi juragan kontrakan, calo tanah, atau tukang ojek. Sebagaimana dibuktikan oleh sejarah terkini, Jaelani ingin kaumnya menjadi orang-orang yang diperhitungkan, disegani, dan bukan kuli di kampung sendiri.
*Penulis adalah cerpenis, editor, buku terbarunya Juru Masak (2009)

Monday, October 18, 2010

Short Story: LOVE ELENA AND PEDRO

Short Story by Aba Mardjani
Published in Kompas Daily on 18 April 2004

THAT old lady sitting alone in a chair in Las Ramblas pedestrian. Breeze were blowing her golden hair. Occasionally she nodded or throw a smile to people passing in front of her and happened to look at her. It's almost nine o'clock, apparently. Sunlight still visible on the western horizon there. Musician-singer from Puerto Rico were sang their traditional songs. Songs about people's morale farmers. El Cantar de un Campesino (A Farmer's Song), Mi Jaragual (My Little Farm), gliding lilting with a vet beautiful dance. Some people gathered to listen. Some of them bought their haid-made tape for ten pesetas.
"Como Estas, Hoy, Elena?"
"Bien. Muy bien, Pedro."
A man sitting next to her. A stick of wood from oak trees in his hands. He is as old as the lady. His head was bald. The old lady smelled the fragrance of the man's body. Freshness coursed through her entire body.
“Do they have a Canadole a lo Nuestro?” The old man asked. "I've always liked that song."
The lady smiled. "Not yet. You can give them a few pesetas and asked them to sing it for you."
"To us."
Smiling, the lady’s hand holding the hand of the old man. Embers of love erupted in her chest.
"Yes, for us, Pedro," she said.
For a moment she was silent.
"I just got the third grandchild," she said moments later. Her voice was flat. Her eyes stared into the fire torch singers who insert and remove a flaming torch in his mouth. "Una hija. Muy bonita." She ended the sentence with a smile.
The old man turne his head.
"Who are her parents?" he asked. Her voice was soft. There is a poignant tone. As there is an override that burden.
"The youngest. Julia."
Then the old man took a breath. Saying nothing.
"You do not want to say anything else, Pedro? Por que?" the old woman turned, looked at the old man. He is still handsome as ever, she thought. He hid the joy in his heart. Turbulent flame of love in his chest.
"You want me to say what? I'm so happy with all the gifts that you receive? Is that so?"
          "At least you could comment on anything, Pedro. You could pretend to be happy. For my sake."
The night continued to crawl. The sun is about to disappear swallowed by the Earth. That's always in Spain. In summer, the sun seemed reluctant to rush to stop shining on the Earth.
"How's Raul? Is he happy with Bettina?" then the old man asked. In his face glowing happiness trajectory. He waited for an answer the woman with chest thumping. Can not wait.
"Raul is often asking for you. He always miss you."
Suddenly the man smiled bitterly. In his mind, Raul faces scrolling. A big man who almost died because of ramming a bull in a matador stadium in La Monumental de Barcelona. That's what made him stop as a torero, although it was his goal since childhood. He wanted to be like Pedro Romero, a very famous legendary matador, who always hailed the audience in each performance.
The old man glanced at the old woman. His hands still in her hand. Love fire burning.
"I really wanted him to be a football player," he said with a restrained smile. "If he had obeyed my words, maybe this time he was playing in La Liga with Raul Gonzalez. There will be two Raul there. El Merengues always be a team pride even though I was a Basque. I do not want him to be at the Nou Camp. I just wish he was in the Santiago Bernabeu. "
The lady smiled. Her hand still holding the hand of the man. She knew Pedro did not want Raul to be at the Nou Camp. That stadium knew everything about them. It was there that she and Pedro had first met when Barcelona defeated Liverpool in a match European levels 26 years ago. Pedro comes with all the attributes of Barca. So did Elena. In one glance, they love knit. In their chest grown love flowers. Their heart beat seemed more rapid.
Two years of Elena and Pedro shoulder to shoulder as a supporter of Barcelona until then love them separated by fate, just like Barca who two years previously set aside football club from the British soil. Love is not always be united despite their soul would not be separated by anything.
"I thought it was too late," said the man later. His voice slightly hoarse. "It is time we parted. I say good-bye." The man got up. Kiss on her forehead. "Buenas noches, Elena. Hasta luego."
The old lady smiled. "Pedro," she said, the man stopped. "Te amo."
"Mi, tambien."
*
NOTHING changed in Las Ramblas. Pedestrians still milling about from morning to morning. There is a relaxed, there are in hurry. The singers stood on the side of the road with unlimited patience. Everyone demonstrate the advantages of each pedestrian as they wished there who are willing to set aside a few pesetas. They do not stretch out their hands. They sell cleverness. There are behaving like a living mannequin with body wrapping with kind of white paint and change the position when someone threw a dime in a boxes in front of them. Puerto Rican singing group also remained faithful to their songs in front of a store that sells a variety of magazines and newspapers.
Elena, the golden-haired woman, it also remains faithful sat in the chair occupied yesterday. Whether this day how she was there. He was not senile to calculate the period. But, she did not want to count. She worried the count stopped at a certain number. She wanted to enjoy times as he wanted on her old. Without bound anything.
          As with previous days, Pedro, the old man, came later. With stick in hand. Which he knocks slowly as he walked. Without the stick he was actually still able to survive. Sticks of oak was more than a friend. What makes the stride feel lighter.
          "Buenos dias, Elena," he said upon arrival. Without waiting for an answer, he sat beside the woman.
          "Buenos dias," Elena smiled widely. Coolness loaded her heart. In her chest, sense of comfort penetrated. The remains of the fire of love in her eyes glowing bright.
          "Are you OK?"  The man asked, like try to find the subject to talk in the bright of afternoon.
          "As you can see. Since first your eyes are always good, right?" The woman replied. Without turning her head.
          A young couple then sat in the front seat across from them. With ice cream in their hands. The young woman handed an ice cream in her hand into the mouth of the man. The young man handed an ice cream in his hand into the mouth of the girl. Then, both of them together a bite of ice cream at the same time. Then they laugh hardly. They just seemed to exist alone. They do not care about pedestrians milling about.
          The old woman smiled. The old man smiled. Both were reminded of the good old days at the Plaza Montjuic under the fountain splashed jumping up and down along the boom drums from classical symphonies-Beethoven symphony God knows how long ago. When love is making them drunk. When giving and receiving pervasive.
          "You remember when it I winced, is not it?" The lady turned.
          "Yes, you said your teeth are sore. Are not you a toothache that time?"
          "It's not a toothache. Sprue make my gums are sensitive."
Great memories popping up one after another meeting of their minds when they were sitting together like this. In addition to the Nou Camp, the corners of Plaza Montjuic be a witness of their love eternal immortality. Love is timeless and change. When they peck each other in love with the strains of an increasingly intertwined. When the wanderer love dancing in the dim light mercury. At that time they were sure there would not be able to cut the rope and fabric of their love, after a drop of seed also happened in an unrequited romance.

But, destiny had then come to separate them. Elena had to marry another man her father's choice. Never imagined it could happen. For the sake of a family business, Elena, the woman beloved, putted down to men who never she knew and loved. And both were then separated in a tearful with folded arms in an old hotel room in Las Ramblas pedestrian side of this. Their faces were wet with tears and drops of love.
          Almost twenty-eight years of the incident passed. And now nature bring them back. In the body of old, their love remains vibrant. In their old body, the fire of love still burning hot. Time could not wipe and diminish their desire to stay together. The fire of them love are buried. But it never goes out. Their love is fettered. But their love is do not reduced by change and time.
"You love your wife, Pedro?" The woman asked.
          The man turned his head. This is the first time such a question slide. After so long they often meet and express themselves ever destroyed. Should I answer it honestly? The man wondered. If I tell the truth, if her heart would not be destroyed? He again tapped his heart with full of questions of doubt.
          "Deceased wife?"  He tried to stall. While trying to find the best answer. That would not hurt the woman by his side. Women who had always been present in his dreams.
          The lady turned. Smile softly. With lips still looked ripe. At least in the eyes of the man who increasingly myopic. But the smile that once made him nervous. Making his heart restless. And he felt the sweat has made his palms wet. A gust of wind made her more upset. Clot in his chest feeling worried. Prick-puncture pain like a million knives.
          "At least I have children from Evita," his voice hoarse. "I love my children. Pablo and Javier." He paused. Something like making a throat to choke. When he glanced at the woman, he saw the wind makes her hair parted. And he like to wait. "Do, do you love your husband?" He asked after gathering all the courage.
          The woman chuckled. Her voice slightly trembling.
          "Why are you laughing, Elena?" The man asked.
          "Just like you, from Enrique I've got Julia."
          "And Raul."
          "You do not want to say Raul as your son?"
          The man did not immediately respond. As if to let the question evaporates.
          "You're still listening to me, Pedro?"
          "Si," the man's throat was getting choked. "Raul has my blood. But he was your son and Enrique."
          Night creeping up. The cold air feels increasingly piercing their old bodies.
          "I go home first, Elena," said the man ahead after a young man drove in front of it with roller skates on his feet.

Elena rose. Pedro also risen. He kissed her forehead. Then move to the north. The woman went to the south, to the Plaza de Catalunia.
*
FOLLOWING day, the two met at the Plaza de Toros La Monumental de Barcelona, an old building that still maintained very well. Both had always liked the action of the torero and the matador kills the bull.
I hear more and more opposed to a show like this," said the man when both are sitting on an old wooden chair in Barreras. "It seems inhumane. But nature created by God to man. The others are complementary. They must be part to make man happy."
"That you always say," the woman smiled when the paseillo entered the arena and they waved to the audience. Since childhood, she was always amazed by the colorful of the torero’s clothes. "They, the environment and animal lover, wants all living beings, living peacefully."
"But this is our tradition," the man protested.
"I know. And we are not here to dispute, is not it? We're here to watch."
          The man startled by the sound of the woman who sounded brittle. She is still as before, the man thought. He remembers when they first entered La Monumental de Barcelona as lovers. Elena refused to sit in Barreras because ticket prices expensive. She would rather sit in gradas. The most expensive tickets. "If you want to sit there, please you sit alone. I want us in gradas," he said at the time. Hastily the man grabbed the woman's right hand with his left hand. Held it tightly. Like do not want to be separated.

A novilladas entered the arena. Ready to start the show. A small applause sounded. That's always the fate of the matador beginners. They had to show their skill to master a bull before then recognized as a torero and finally after its ability tested, be a real matador.
"Who was your favorite bullfighter now?" The man cleared his throat after a moment.
"Like I love you, till now I still prefer the Pedro Romero."
"But he was dead."
          "Therefore, today I want to see action of Enrique Ponce."
"Enrique?"
The lady turned. Smiled knowingly.
          "Do not be like a child, Querido mio. Had nothing to do with Enrique my late husband. I like him because of his greatness, not because of his name. There is no Enrique inside me anymore."
Enrique Ponce entered the arena. He will be climaxing the show that afternoon. Formations applause when he came out from puerta grande. Applause increasingly large formations when a bull weighing 360 kgs confronted him. And, he did not need to linger to stick his estoque through the top of the bull's neck and then slowly as prostrate before the matador.
"It's like having eyes of an angel," the woman said, like a sigh.
"He was remarkable. One day he might be like Pedro Romero, the legendary," continued the man.
          Now both are sitting on a couch made of iron on the side of the road not far from Plaza de Toros. The sun was shining very brightly. The sky looks blue.
"I do not want all this to an end," the man said, his voice accompanying hoopoe birds from a distance.
"But life has its limits," said the woman along the palm tree leaves rustling in the wind.
          "You want us to finish everything, Elena?"
          No audible reply. Her eyes stared into the distance. The four old men playing petanque, the game threw the iron ball is round like a palm hammer.
          "You want me to marry you?" Tthe man asked again.
          That old woman grimaced.
          "It would be an interesting marriage," he sighed after a while. "But Raul does not want that to happen."
          The man looked startled.
          "Did you tell him who I am?" The man asked. . Guessing. A sense of confusion jumping on his chest.
          "Not like that maybe you would have thought. To him, you're my first love. He knows what it means."
"But, why he did not agree we're married?"
No audible reply soon.

"I do not want to know why. I just know he did not agree."
          Both silent for long.
*
SILENT cover the room. The old man sat looking at the woman. There is a surge of love. Pounding their both chest.
"You're still pretty as you were," he said, more like a sigh. His voice was somewhat muffled. "My love never tarnished by the times."
A drop of clear water dripping in the eyes of the woman. There's no word glide. He remained silent without a sound, for some time. But in his chest struck happiness.
The old man stood up. Stepping and approached slowly. The old woman sat quietly waiting. Relentless pounding his chest.
In several moments the old man and the woman sat in silence. But the roar of love on both chest pounding.
Then, the room was dark. In the dark, the man stared at the barren hills, but gave him the passion overflowed. The woman stammered. In a stutter he found a growing shoots. Passion in his chest had popped. His heart was beating fast growing.
In the submission she let the old man go. Ascend. Climbing and hiking. Until then everything stops. In the eternal silence.
*
Raul Julia, Pablo, and Javier lined. With the dress all in black. In front of them two bodies lined up in silence. In the crate wrapped in black cloth. Very soon the funeral procession made.
"I'm sorry for everything that has happened," said Pablo. He aimed his sentence for Raul and Julia.
"There's nothing to forgive. No one is to blame," said Raul with his face still down.
"They left with their eternal love," said Julia softly.
No one responded again.
February 2004


1) Barcelona lost 0-1 to Liverpool in the UEFA Cup semifinal second leg on March 30, 1976.